RSS

Analisis Bencana

22 Mei

WASPADAI  POTENSI BENCANA SAAT BULAN BARU DAN PURNAMA

T. Djamaluddin

Peneliti Utama Astronomi Astrofisika/Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN Bandung

Gelombang pasang yang menghantam
pantai barat Sumatra serta pantai selatan Jawa dan Bali pada 17 – 18 Mei 2007
dianggap misterius atau aneh. Tanpa ada gejala gempa-tsunami atau angin
kencang, gelombang yang menghantam pantai ada yang mencapai ketinggian 7 meter.
Beberapa laporan menyebutkan gelombang meninggi pada malam hari. Fenomena lain
adalah banjir tak biasa yang terjadi Surabaya, tanpa hujan tetapi air meninggi
karena pasang air laut pada 18 Mei 2007.

Peristiwa gelombang besar di
pantai yang menghadap Samudra Hindia dan banjir di Surabaya tersebut bukan
peristiwa yang terpisah. Fenomena pasang air laut maksimum saat bulan baru
menjadi penyebab utama. Gelombang pasang merupakan efek penguatan antara
fenomena pasang maksimum dan angin, sehingga menimbulkan gelombang besar yang
merusakkan daerah pantai. Kombinasi efek penguatan tersebut memang jarang,
tetapi harus diwaspadai.

Pada saat bulan baru atau bulan
purnama, pasang akibat gravitasi bulan diperkuat oleh gravitasi matahari yang
berada hampir satu garis. Akibatnya air laut naik lebih tinggi dari pasang
biasa. Air pasang akan makin tinggi bila posisi bulan dan matahari segaris dan
jaraknya dari bumi pada posisi terdekat. Pada bulan Mei 2007 potensinya cukup
membuat menguatnya efek pasang bulan-matahari. Deklinasi bulan dan matahari
hanya beda sedikit dan jarak bulan – bumi hampir pada posisi terdekat, hanya
362.307 km dari rata-rata 384.401 km. Ini berpotensi menyebabkan pasang tinggi.
Bila efek pasang ini diperkuat oleh efek meteorologis akibat angin, maka
gelombang besar berpotensi terjadi. Sesuai dengan konfigurasi
bumi-bulan-matahari, pasang maksimum di laut terjadi sekitar tengah malam atau
sekitar tengah hari.

Di Indonesia, potensi bencana
saat bulan baru atau bulan purnama juga perlu diwaspadai di daerah rawan gempa.
Efek pasang maksimum bulan-matahari bisa juga memicu pelepasan energi di
lempeng bumi berupa gempa. Gaya difrensial dua arah, menuju atau menjauhi
bulan-matahari berpotensi menggangu struktur lempeng bumi di daerah perbatasan
malam dan siang. Hal ini dapat difahami, pelepasan energi saat gempa Aceh pada
pagi hari sekitar pukul 08.00 dan saat gempa Yogya sekitar pukul 06.00.

Beberapa kejadian gempa besar di
Indonesia yang sangat merusakkan terjadi sekitar bulan baru atau purnama.
Gempa
Alor pada 12 November 2004 terjadi menjelang bulan baru, 28 Ramadhan 1425.
Gempa Nabire pada  26 November 2004
terjadi menjelang purnama, 13 Syawal 1425. Gempa Aceh pada 26 Desember 2004
terjadi saat purnama, 14 Dzulqaidah 1425. Gempa Simeulue pada 26 Februari 2005
terjadi setelah purnama, 16 Muharram 1426. Gempa Nias pada 28 Maret 2005
terjadi setelah purnama, 17 Safar 1426. Gempa Mentawai pada 10 April 2005
terjadi pada bulan baru, 1 Rabiul Awal 1426. Dan gempa Yogya pada 27 Mei
2006,  terjadi menjelang bulan baru, 29
Rabiuts Tsaniah 1427.

Pengalaman
ini menyarankan untuk memasukkan faktor astronomis efek pasang bulan-matahari
pada analisis peringatan dini meteorologis-geofisis. Indonesia yang merupakan
kepulauan dan secara geologis sangat aktif perlu menambah kewaspadaan pada
plus-minus tiga hari sekitar bulan baru dan purnama.

 

 

About these ads
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 22, 2007 in Sains Antariksa & Astronomi

 

One response to “Analisis Bencana

  1. ragil

    Maret 28, 2012 at 6:14 am

    Alor pada 12 November 2004 terjadi menjelang bulan baru, 28 Ramadhan 1425.
    Gempa Nabire pada 26 November 2004
    terjadi menjelang purnama, 13 Syawal 1425. Gempa Aceh pada 26 Desember 2004
    terjadi saat purnama, 14 Dzulqaidah 1425. Gempa Simeulue pada 26 Februari 2005
    terjadi setelah purnama, 16 Muharram 1426. Gempa Nias pada 28 Maret 2005
    terjadi setelah purnama, 17 Safar 1426. Gempa Mentawai pada 10 April 2005
    terjadi pada bulan baru, 1 Rabiul Awal 1426. Dan gempa Yogya pada 27 Mei
    2006, terjadi menjelang bulan baru, 29
    Rabiuts Tsaniah 1427.

    kalo dilihat kebanyakannya adalah terjadi pada 4 bulan qurum, maka Allah mengisyaratkan kita untuk hati-hati berdasar ilmu, bumi terletak pada titik aphelion orbit atau perihelion orbit ( muharam, rajab, dulkokdah, dzulhijah )
    dan bila dicek lagi terjadi pada shubuh/dhuha, disaat masih terlelap tidur atau bermain-main ( kisah nuh dan luth )
    bahkan batu asteroid disediakan untuk orang-orang dzalim ( pasukan gajah yg mau menyerang ka’bah=Al-Fill/hijarotil sijjil=batu yg dipancarkan=hujan batu meteor)
    siksaan dunia dari atasmu =angin topan, petir, hujan batu, dll
    dari bawah kakimu = banjir, tanah longsor, dll
    Allah mengetahui tempat tinggal kita dan tempat usaha kita

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: