RSS

Tujuh Langit bisa bermakna Langit ghaib dan bukan tujuh lapis

11 Apr

Tujuh Langit

T.
Djamaluddin (LAPAN Bandung)
(Disarikan dari artikel T. Djamaluddin di PR 10/1/1995 dan Dialog Jumat REPUBLIKA 12/11/99, diedit
dan dilengkapi oleh Salim Rusli sebagai bahan diskusi di Lembaga Pengkajian Islam
Masjid Salman ITB, Maret 2008)

Banyak orang di masa lalu—jauh sebelum
Al-Qur’an diturunkan—percaya bahwa langit berlapis tujuh. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka tentang
adanya tujuh benda langit utama dengan jarak yang berbeda-beda. Kesimpulan ini
lahir dari pengamatan mereka atas gerakan benda-benda tersebut. Benda langit
yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu mereka
menggambarkan seolah-olah benda-benda tersebut berada pada lapisan langit yang
berbeda-beda, mengelilingi Bumi yang berada di tengah-tengah.

Di langit pertama ada Bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga
disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius
(Bintang Utarid). Venus (Bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan
matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (Bintang Marikh).
Di langit ke enam ada Jupiter (Bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati
Saturnus (Bintang Siarah/Zuhal). Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi
sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang
dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit
itu adalah dewa-dewa yang mempengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruhnya
bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut
pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam
00.00, Saturnuslah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena
itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau
Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata, jika kita menghitung mundur hari sampai
tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.

Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikutnya jatuh pada Matahari. Jadilah
hari itu sebagai hari Matahari (Sunday). Setelah Sun’s day  adalah Moon’s day
(Monday). Hari berikutnya adalah Tiw’s day (Tuesday). Tiw adalah nama
Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Berikutnya adalah
Woden’s day (Wednesday). Woden adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Merkurius
(dewa perdagangan Romawi kuno). Berikutnya lagi Thor’s day (Thursday). Thor
adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa petir, raja para dewa Romawi).
Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Freyja adalah nama Anglo-Saxon untuk
Dewi Venus (dewi kecantikan Romawi kuno). 

Jumlah hari yang ada tujuh itu dipakai juga oleh orang-orang Arab. Dalam
bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …,
sampai tujuh, yakni ahad, itsnain, tsalatsah, arba’ah,
khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti
penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at,
dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus: Jum’at, sebab itulah penamaan
yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an, yang menunjukkan adanya kewajiban
shalat Jum’at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo yang berarti hari
Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit.
Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, sehingga lebih menyukai pemakaian
"Ahad" daripada "Minggu".

Tujuh langit dalam Isra’ & Mi’raj

Pemahaman tentang istilah ”tujuh langit” sebagai tujuh lapis langit dalam
Islam, mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga
diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah
perjalanan dari Masjid Aqsha ke sidratul muntaha yang secara harfiah
berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas
yang tak ada manusia atau makhluk lain yang bisa memahaminya lebih jauh lagi.
Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali
penjelasan dalam Al-Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan
seperti sidratul muntaha itu.

Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih sebagai berikut.
Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana Beliau menjumpai Nabi
Adam yang dikanannya berjejer ruh para ahli surga dan di kirinya ruh para ahli
neraka. Perjalanan kemudian Beliau teruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh.
Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya.

Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat.
Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit
ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul
Ma’mur
, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya
sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha
didengarnya kalam-kalam (‘pena’). Dari sana dilihatnya pula empat sungai, dua
sungai non-fisik (batin) di surga, dan dua sungai fisik (dhahir)
di dunia: Sungai Eufrat di Irak dan Sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Hal ini
dijelaskan pula dalam Al-Qur’an Surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu
pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu
adalah diterimanya perintah shalat wajib.

Lapisan Langit:
Dhahir atau Bathin?

Langit (samaa’ atau samawat di dalam Al-Qur’an) secara
astronomis berarti segala sesuatu yang ada di atas kita, yang berarti pula
angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang
bertebaran. Lapisan-lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda-benda
langit, sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.

Ada yang berpendapat bahwa langit itu memang berlapis-lapis dengan berdalil
pada QS Al-Mulk:3 dan Nuh:15 yang menyebutkan sab’a samaawaatin thibaqaa.
Tafsir Depag mengartikan kalimat itu sebagai "tujuh langit
berlapis-lapis" atau "tujuh langit bertingkat-tingkat". Walaupun
demikian, ini tidak berarti langit memang berlapis tujuh. Makna thibaqaa,
bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi dapat bermakna
”bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.” Pengertian ini
berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dll.

"Bertingkat-tingkat" berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita
melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya
jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking,
mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak
sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.

Lalu apa makna ”tujuh langit” bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di
dalam Al-Qur’an ungkapan ”tujuh” atau ”tujuh puluh” sering mengacu pada jumlah
yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah "tak
berhingga" yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya, yang jauh lebih
besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula makna ungkapan
"tujuh" dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, ”Jika seandainya semua pohon
di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan
tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Istilah ”tujuh lautan”
bukanlah menunjukkan jumlah eksak, sebab dengan delapan lautan lagi atau lebih
kalimat Allah tak akan ada habisnya.

Sama halnya dalam Q.S. At-Taubah:80: "…Walaupun kamu mohonkan ampun
bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi
ampun…." Jelas, ungkapan "tujuh puluh" bukan berarti bilangan
eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka meski kita mohonkan ampunan lebih
dari tujuh puluh kali.

Jadi, ”tujuh langit” semestinya dipahami pula sebagai benda-benda langit
yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan-lapisan langit.

Bagaimana dengan makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj
Rasulullah SAW? Muhammad Al-Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli
tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra, yang
berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya,
seperti Muhammad Rasyid Ridha (juga dari Mesir), berpendapat bahwa tujuh langit
dalam kisah Isra’ & Mi’raj adalah langit gaib.

Dalam kisah mi’raj, peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa gaib.
Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua
sungai di bumi, serta melihat Baitul Ma’mur, tempat ibadah para
malaikat. Jadi, saya sependapat dengan Muhammad Rasyid Ridha bahwa pengertian
langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi
bintang-bintang, tetapi langit gaib.

About these ads
 
4 Komentar

Ditulis oleh pada April 11, 2008 in Sains & Quran

 

4 responses to “Tujuh Langit bisa bermakna Langit ghaib dan bukan tujuh lapis

  1. ali lanthoq

    September 2, 2011 at 11:52 pm

    luar biasa

     
    • dida

      Juni 26, 2013 at 7:58 pm

      subhanallah, hanya Allah yang Maha Tahu segala-galanya.

       
  2. adhi

    Juli 25, 2013 at 2:53 pm

    Dalam surat al isra kan disebutkan bahwa Allah memperjalankan Rasulullah dari masjidil haram ke masjidil aqsa yang telah diberkahi sekelilingnya untuk memperlihatkan sebagian tanda2 kebesarannya. Saya berpendapat bahwa isra dan mi’raj terjadi bersamaan. Dimensi jarak dan waktu kan hanya ada di dunia. Selama isra inilah Allah membuka dimensi gaib, yang istilahnya Allah memberkahi sekelilingnya, sehingga Rasulullah dapat bergerak dalam dimensi ghaib untuk melihat tanda2 kebesaran Allah.

     
  3. nurzara damia

    Maret 17, 2014 at 8:10 pm

    subahanallh..hanya org yang dilebihkan pemikaranya dat menyingkap misteri titik mula dan dimana penghujungnya bumi yg diciptakan allah s.w.t allahuallam..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: