RSS

Arsip Bulanan: Oktober 2008

Hoax Astronomi Lagi

Hoax: Matahari Bersinar 36 Jam

Kemarin
(16 Okt 2008) wartawan Kompas menelpon saya menanyakan tentang adanya kabar
yang tersebar via milis dan SMS, isinya:
Pada tanggal 17 Oktober 2008, matahari akan terus menyinari kita selama 36
jam (1.5 hari). Dan selama itu Amerika dan tetangga2nya akan gelap 1.5 hari.Ini
akan mengkonversi 3 hari menjadi 2 hari besar.Ini terjadi setiap 2400 tahun
sekali.Kita beruntung dapat menyaksikan dan merasakannya,beri tahu teman2 yah.

——– Ini Beritanya ——–

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/16/05523492/bohong.matahari.terlihat.36.jam

Bohong, Matahari Terlihat 36
Jam

Kamis, 16 Oktober 2008 | 05:52 WIB

 

JAKARTA -
Informasi dari internet yang beredar di kalangan masyarakat akhir-akhir ini
mengenai matahari akan terlihat atau menyinari selama 36 jam pada 17 Oktober
2008 di wilayah Indonesia merupakan kabar bohong. Matahari akan tetap bersinar
selama rata-rata 12 jam di Indonesia.

Demikian dikemukakan peneliti utama bidang
astronomi astrofisika pada Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan),
Thomas Djamaludin, serta Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan pada Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mezak Arnold Ratag secara terpisah,
Rabu (15/10) di Jakarta.

”Pada sistem rotasi bumi sering disebut
memiliki gerak gasing dengan kemiringan sumbu 23,5 derajat, tetapi tetap tidak
memungkinkan wilayah ekuator mendapatkan sinar matahari sampai 36 jam dalam
2.400 tahun sekali seperti dinyatakan di dalam kabar bohong itu,” kata Thomas
Djamaludin.

Mezak menuturkan, penyinaran matahari di
wilayah ekuator termasuk Indonesia yang memiliki batas koordinat 11 derajat
Lintang Selatan (LS) sampai 6 derajat Lintang Utara (LU), rata- rata melihat
sinar matahari hanya selama 12 jam plus atau minus 45 menit. Kemungkinan
matahari dapat terlihat selama 36 jam sangat tidak mungkin.

Thomas menjelaskan, kabar bohong mengenai
astronomi tidak hanya terjadi sekali ini saja. Ia mencontohkan, pada 27 Agustus
2004 juga pernah beredar informasi berupa purnama ganda. ”Ketika itu yang
dimaksudkan purnama pada bulan dan planet Mars secara bersamaan. Tetapi, tetap
saja tidak dapat dikatakan purnama ganda karena keduanya terlihat dari bumi
tampak sama sekali berbeda ukurannya,” kata Thomas.

————————————–

Kemudian saya coba browsing
di internet mencari sumber kabar bohong itu. Menurut museum hoax (kabar bohong)
http://www.museumofhoaxes.com/hoax/weblog/permalink/will_the_sun_rise_for_36_hours_on_october_17_2008/

kabar itu tampaknya berasal
dari India dan telah menyebar sejak pertengahan Agustus 2008 yang tersebar
melalui lebih dari 15.000 posting. Dalam versi bahasa Inggris kabar bohong itu
berbunyi

Coming October 17, 2008 the sun will rise continuously for
36 hrs (1.5 days). During this time the US countries will be dark for 1.5 days.
It will convert 3 days into 2 big days. It will happen once in 2400 yrs. We’re
very lucky to see this. Forward it to all your friends.

 

Sebagai penjelasan tambahan untuk mencerdaskan kita semua,
panjang siang (terlihatnya matahari) ditentukan oleh posisi kemiringan bumi
relatif terhadap matahari akibat kemiringan sumbu rotasi bumi 23,5 derajat
terhadap sumbu tegak bidang ekliptika (bidang edar bumi mengelilingi matahari).
Di wilayah ekuator, seperti Indonesia, variasi siang dan malam tidak terlalu terasa. Wilayah di lintang tinggi (lebih dari 30 derajat, utara atau selatan) akan
merasakan sekali adanya variasi siang dan malam yang terkait dengan musim. Pada
musim panas, siang hari lebih panjang daripada malam hari. Misalnya, di lintang
30 derajat siang 14 jam dan malam 10 jam. Di lintang 45 derajat siang 15,5 jam
dan malam 8,5 jam. Di lintang 65 derajat siang 22 jam dan malam senja bersambung
fajar (tanpa malam gelap) 2 jam.

 

Di atas lintang 65 derajat pada musim panas matahari tidak pernah terbenam,
artinya siang terus. Di lintang 66 derajat utara kejadian siang terus berlangusng
mulai 12 Juni – 30 Juni, artinya 18 hari matahari terus terlihat (tentunya bila
tidak mendung). Di lintang 80 derajat utara siang terus berlangsung mulai 14 April
sampai 29 Oktober (lebih dari 5 bulan).

 

Adakah daerah yang mengalami siang 36 jam pada 17 Oktober? Tidak
ada! Di lintang 83 derajat selatan (di wilayah Antartika) siang terus menerus
memang terjadi mulai 17 Oktober, tetapi berlangung sampai 26 Februari (lebih
dari 4 bulan!).

 

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 16, 2008 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Enam Hari Penciptaan Alam

Al-Quran Merinci Evolusi Alam

T. Djamaluddin

Kita sering membaca ungkapan di dalam Al-Quran
"sittati ayyam" (enam hari) tentang penciptaan alam. Banyak penulis
yang menguraikan enam hari penciptaan alam dengan mengaitkan sains modern hanya
berdasarkan logika teori Big Bang, hanya merinci saat-saat awal pembentukan
alam semesta. Padahal secara tersirat Al-Quran merincinya di QS An-Naziat:27 –
33, bahwa makna enam hari penciptaan alam merentang seluruh proses evolusi alam
sejak penciptaan alam sampai saat ini.

 

Tulisan saya
yang panjang tentang evolusi alam bisa dibaca di http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!143.entry
.

Terkait dengan pembahasan itu,
ada seseorang yang men-share slide presentasi saya tentang kajian ayat-ayat
kauniyah, di http://www.scribd.com/doc/3173556/Kajian-Ayat-Kauniyah-Dr-T-Djamaluddin. Bahasannya mencakup 4 tema: "Menembus Keluasan Langit", "Asal Usul Alam Semesta
& Evolusinya", "Mencari Jejak Kehidupan di Luar Bumi", dan "Skenario Kehancuran
Kehidupan Bumi & Alam Semesta." Tetapi slide itu masih versi awal yang belum
memasukkan kajian “enam hari” penciptaan alam semesta dalam bahasan evolusi alam.

 

Slide kajian
“Ayat-yat Kauniyah” versi baru telah memasukkan bahasan enam hari penciptaan
alam dalam bagian Evolusi Alam Semesta. Salim Rusli (dari LPI, Lembaga
Pengkajian Islam, Masjid Salman ITB) menyarikan presentasi saya tentang tafsir
ilmiah “enam hari” penciptaan alam semesta, termasuk menyertakan beberapa
gambar ilustrasi dari slide saya, di http://misykatulanwar.wordpress.com/2008/06/10/proses-penciptaan-alam-semesta-dalam-enam-masa/

Tetapi ada beberapa bagian yang
perlu saya sempurnakan. Resume tersebut saya tulis ulang di bawah ini.

 

”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah
membinanya [27] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya [28] dan Dia
menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang [29]
Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [30] Ia memancarkan daripadanya mata
airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya [31] Dan gunung-gunung
dipancangkan-Nya dengan teguh [32] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk
binatang-binatang ternakmu [33]”

(Q.S. An-Nazi’at: 27-33)

Dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan enam masa, Surat
An-Nazi’at ayat 27-33 tersebut dapat menjelaskan tahapan enam masa secara kronologis.
Urutan masa tersebut sesuai dengan urutan ayatnya, sehingga dapat diuraikan
sebagai berikut:

  • Masa I (”Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah
    langit? Allah telah membinanya [27]
    ): penciptaan langit pertama kali

Pada Masa I, alam semesta pertama kali terbentuk dari ledakan besar yang
disebut ”big bang”, kira-kira 13,7 milyar tahun lalu. Bukti dari teori
ini ialah adanya radiasi kosmik di langit yang berasal dari semua arah. Bigbang
adalah awal penciptaan runag, waktu, dan materi. Mareti awal awal Hidrogen.
Hidrogen menjadi bahan pembentuk bintang, dalam bahasa Al-Quran disebut dukhan.
Awan hidrogen itu berkondensasi sambil berputar dan memadat. Ketika
temperatur dukhan mencapai 20 juta derajat celcius, mulailah terjadi
reaksi nuklir yang membentuk Helium. Reaksi nuklir inilah yang menjadi sumber
energi bintang dengan mengikuti persamaan E=mc2, besarnya energi
yang dipancarkan sebanding dengan selisih massa (m) Hidrogen dan Helium.

Selanjutnya, angin bintang menyembur dari kedua kutub bakal bintang itu (protostar), menyebar
dan menghilangkan debu yang mengelilinginya. Sehingga, selimut gas yang tersisa berupa piringan,
yang kemudian membentuk planet-planet. Awan Hidrogen dan bintang-bintang
terbentuk dalam kumpulan besar yang disebut galaksi.

Di alam semesta galaksi sangta banyak membentuk struktur filamen
(untaian) dan void (rongga). Jadi, alam semesta yang kita kenal
sekarang bagaikan kapas, terdapat bagian yang kosong dan bagian yang terisi

  • Masa II (Dia meninggikan bangunannya lalu
    menyempurnakannya [28]
    ): pengembangan dan penyempurnaan

Dalam ayat 28 di atas terdapat kata ”meninggikan bangunan” dan
”menyempurnakan”. Kata ”meninggikan bangunan” ditafsirkan dengan alam semesta
yang mengembang, sehingga galaksi-galaksi saling menjauh dan langit terlihat
makin tinggi. Ibaratnya sebuah roti kismis yang semakin mengembang, dengan
kismis tersebut dianggap sebagai galaksi. Jika roti tersebut mengembang maka
kismis tersebut pun akan semakin menjauh satu sama lain.

Mengembangnya alam semesta sebenarnya adalah kelanjutan big bang.
Jadi, pada dasarnya big bang bukanlah ledakan dalam ruang (seperti
meledaknya bom), melainkan proses pengembangan ruang alam semesta secara cepat.

Sedangkan kata ”menyempurnakan”, menunjukkan bahwa alam ini tidak serta
merta terbentuk, melainkan dalam proses evolusi yang terus berlangsung.
Kelahiran dan kematian bintang yang terus terjadi. Penyempurnaan alam terus
berlangsung.

  • Masa III (Dia menjadikan malamnya gelap gulita,
    dan menjadikan siangnya terang benderang [29
    ): pembentukan tata surya termasuk
    Bumi

Surat An-Nazi’ayat 29 menyebutkan bahwa Allah menjadikan malam yang gelap
gulita dan siang yang terang benderang. Ayat tersebut dapat ditafsirkan sebagai
penciptaan matahari sebagai sumber cahaya dan Bumi yang berotasi, sehingga
terjadi siang dan malam. Pembentukan tata surya sama dengan proses pembentukan
bintang umumnya, dari dukhan, walau sudah tidak murni Hidrogen lagi.

  • Masa IV (bumi sesudah itu dihamparkan-Nya [30]): Evolusi Bumi

Penghamparan yang disebutkan dalam ayat 30, dapat diartikan sebagai
pembentukan superkontinen Pangaea di permukaan Bumi yang kemudian
terpisah-pisah menjadi beberapa benua.

Masa III hingga Masa IV ini juga bersesuaian dengan Surat Fushshilat ayat 9
yang artinya, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang
menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya?’
(Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam
”.

  • Masa V (Ia memancarkan daripadanya mata
    airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya [31]
    ): pengiriman air ke Bumi melalui
    komet

Ayat ini menceritakan mulai adanya air di
bumi dan makhluk hidup yang pertama adalah tumbuhan. Air di bumi, berdasarkan
kajian astronomi tidak dihasilkan sendiri oleh bumi, tetapi berasal dari komet
yang menumbuk Bumi. Hal ini dibuktikan dari rasio Deuterium dan Hidrogen pada
air laut yang sama dengan rasio pada komet. Deuterium adalah unsur Hidrogen
yang massanya lebih berat daripada Hidrogen pada umumnya.

  • Masa VI (Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh [32] (semua itu) untuk
    kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu [33]”
    ): proses geologis serta lahirnya hewan dan manusia

Dalam ayat 32 di atas, disebutkan ”…gunung-gunung dipancangkan dengan
teguh.
” Artinya, gunung-gunung terbentuk setelah penciptaan daratan,
pembentukan lautan air, dan munculnya tumbuhan pertama. Gunung-gunung terbentuk
dari interaksi antar lempeng ketika superkontinen Pangaea mulai terpecah. Kemudian,
setelah gunung mulai terbentuk, terciptalah hewan dan akhirnya manusia
sebagaimana dalam suatu. Jadi, usia manusia relatif masih sangat muda dalam
skala waktu geologi.

Jika diurutkan dari Masa III hingga Masa VI, maka empat masa tersebut dapat
dikorelasikan dengan empat masa dalam Surat Fushshilat ayat 10 yang berbunyi, ”Dan
dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia
memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya
dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang
bertanya
”.

Demikianlah penafsiran enam masa penciptaan alam dalam Al-Qur’an, sejak
kemunculan alam semesta hingga terciptanya manusia. Wallahu a’lam bishshowab.

 

 
2 Comments

Posted by pada Oktober 15, 2008 in Sains & Quran

 

Hujan Badai Meteor

Fenomena
Cuaca Antariksa
MENGKAJI
SIFAT BADAI METEOR LEONID

(Dimuat PR 19 Nov 1999)

T.
Djamaluddin
(Peneliti Bidang Matahari dan
Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung)

             Badai
meteor Leonid 18 November bukan hanya dipandang sebagai pertunjukan spektakuler
penampakan ratusan atau ribuan meteor, tetapi yang utama harus dipandang
sebagai fenomena cuaca antariksa yang harus diwaspadai sampai tahun 2002.

            Mirip
dengan cuaca di bumi, di antariksa pun kita mengenal cuaca antariksa. Bila di
bumi kita mengenal musim panas dan musim dingin, di antariksa kita kenal masa
matahari aktif dan masa matahari tenang yang siklusnya sebelas tahun. Bila di
bumi kita mengenal ledakan petir, di antariksa kita mengenal ledakan flare
matahari.

            Di bumi
kita mengenal musim hujan, di antariksa ada musim hujan meteor. Ada sekitar dua
puluh musim hujan meteor, ada yang besar ada yang kecil. Di bumi sewaktu-waktu
terjadi hujan badai atau topan. Di antariksa pun sewaktu waktu bisa terjadi
hujan badai meteor. Badai Leonids adalah badai meteor yang paling hebat.

            Informasi
cuaca antariksa terutama sangat berguna bagi penghuni antariksa, terutama
satelit-satelit dan pesawat antariksa ulang-alik. Saat ini ada sekitar 500
satelit yang masih aktif mengorbit bumi. Jenisnya beragam, antara lain satelit
komunikasi, satelit penginderaan jauh, satelit observatorium angkasa, satelit
militer, dan satelit sistem penentuan posisi (GPS).

            Informasi
cuaca antariksa itu dapat diperoleh di lembaga-lembaga keantariksaan. Di
Indonesia, informasi itu bisa diperoleh antara lain dari Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (LAPAN) atau Observatorium Bosscha dan Jurusan Astronomi
ITB. Indonesia yang kini banyak memanfaatkan jasa satelit komunikasi sudah
semestinya peduli dengan masalah cuaca antariksa ini.

 

Hujan Meteor

            Sama
halnya di bumi, matahari adalah penggerak utama cuaca antariksa. Di bumi energi
matahari menggerakkan air dalam bentuk uap naik ke atas membentuk awan yang aknhirnya
menjatuhkan hujan. Di antariksa pun peran matahari sangat besar dalam membentuk
gugusan meteoroid (sumber meteor) atau boleh juga disebut "awan"
meteor.

            Ketika
komet mendekat matahari, energi matahari menguapkan dan menghamburkan es dan
debu di inti komet membentuk ekor. Debu-debu ekor komet yang tertinggal di
sepanjang lintasan orbitnya merupakan gugusan meteoroid yang bisa menyebabkan
hujan meteor di bumi bila bumi melintasinya.

            Lagi-lagi
mirip dengan cuaca bumi. Awan di bumi ada yang menghasilkan hujan lebat, tetapi
ada juga yang hanya menurunkan gerimis. Gugusan meteoroid itu pun sifatnya
berbeda-beda tergantung umurnya dan peluruhan meteoroidnya.

            Ada
gugusan meteoroid yang masih padat tetapi terkonsentrasi di sekitar inti komet
sehingga hanya akan menyebabkan hujan meteor periodik, sesuai dengan waktu
kehadiran komet mendekat bumi. Golongan ini diwakili oleh hujan meteor
Draconids (pada awal Oktober) tahun 1933, 1946, dan 1985 yang disebabkan oleh
komet Giacobini-Zinner.

            Golongan
ke dua adalah gugusan meteoroid tipis di sepanjang lintasannya, tetapi di dekat
kometnya kerapatannya tinggi. Misalnya, gugusan meteoroid Leonid (penyebab
hujan meteor 14-19 November) yang disebabkan oleh komet Tempel-Tuttle.

            Golongan
ke tiga adalah gugusan meteoroid yang tersebar merata di sepanjang lintasannya
yang menyebabkan hujan meteor yang hampir seragam intensitasnya setiap tahun.
Misalnya, hujan meteor Geminids (11-16 Desember) yang disebabkan oleh komet
yang telah mati, asteroid Phaethon. Makin tua umurnya, gugusan meteoroid itu
makin tipis dan akhirnya tidak menunjukkan lagi gejala hujan meteor.

            Beberapa
hujan meteor telah diidentifikasikan berkaitan dengan komet yang masih aktif.
Hujan meteor Eta Aquarids (3-10  Mei) dan
Perseids (7-15 Agustus) masing-masing disebabkan oleh komet Halley dan
Swift-Tuttle. Beberapa lainnya dikaitkan dengan komet yang telah hancur,
seperti hujan meteor Andromedids (5-23 November) dari debu komet Biela yang
hancur sekitar 1860-an. Ada juga yang berasal dari komet yang telah mati,
seperti hujan meteor Geminids yang diakibatkan oleh komet mati yang tinggal
intinya berupa asteroid Phaethon. Dan beberapa hujan meteor lainnya yang belum
diketahui komet-komet penyebabnya seperti hujan meteor Quadrantids 2 – 5
Januari.

 

Waspadai Leonid

            Hujan
meteor Leonid (tampak berasal dari rasi Leo) berasal dari debu-debu komet
Tempel-Tuttle yang berperiode 33 tahun. Komet Tempel-Tuttlenya telah dikenal
sejak 1366 dan terakhir teramati mendekati bumi tahun 1965 dan awal 1998.
Sedangkan hujan meteornya telah dikenal jauh sebelumnya, sejak tahun 585.

            Hujan
meteor Leonid biasa (beberapa meteor per jam) sebenarnya tampak setiap tahun
sekitar 14-19 November dengan puncaknya pada 17-18 November. Tetapi,
sewaktu-waktu menjadi badai meteor bila komet induknya mendekati bumi. Badai
meteor Leonid terakhir teramati 1965, 1966, dan 1998 lalu. Badai meteor Leonid
1966 merupakan badai meteor terbesar dengan jumlah sekitar 150.000 meteor per
jam.

            Berdasarkan
sifat pertemuan lintasan komet dan orbit bumi, sifat hujan meteor Leonid
1998-2000 tidak sama dengan tahun 1966. Badai meteor 1998 lalu hanya
menampakkan sekitar 300 meteor per jam. Untuk tahun ini, dilaporkan puncak
badai meteor terjadi sekitar pukul 09.15 WIB dengan jumlah 5000 meteor per jam.
Ini berarti badai meteor tahun ini memang lebih hebat daripada tahun lalu.

            Berbeda
dengan hujan meteor umumnya, Leonid merupakan hujan meteor yang paling deras.
Rata-rata kecepatan partikel hujan meteor umumnya hanya sekitar 10.000 km/jam,
sedangkan kecepatan partikel Leonid sekitar 250.000 km/jam. Kecepatan tinggi
itu disebabkan arah orbit partikel Leonid hampir berlawanan dengan arah orbit
bumi dengan sudut inklinasi sekitar 17 derajat dan perihelionnya (titik
terdekat ke matahari dengan kecepatan orbit maksimum) relatif dekat dengan
orbit bumi.

            Walaupun
ukuran debunya kebanyakan hanya sebesar pasir halus, dengan semburan partikel
kecepatan tinggi itu dan dalam jumlah besar, badan satelit yang mengorbit bumi
serta panel surya, detektor, dan perangkat elektronik lainnya dapat mengalami
gangguan.

            Makin
tinggi orbit satelit akan mengalami semburan debu yang makin hebat karena
berarti semakin dekat dengan bagian Leonid berkerapatan tinggi. Ini berarti
satelit yang orbitnya sangat lonjong dengan apogee sangat jauh (sekitar 100.000
km) atau orbit geostasioner (ketinggian 36.000 km) akan lebih terancam daripada
satelit berorbit rendah.

            Walaupun
kemungkinannya hanya sebagian kecil satelit yang terganggu, tetapi gangguan
terhadap satelit akibat meteor pernah terjadi. Ketika terjadi peningkatan hujan
meteor Perseid pada Agustus 1993, satelit komunikasi Olympus mengalami
kerusakan. Gangguan yang mungkin paling sering terjadi adalah timbulnya muatan
listrik (plasma) akibat tumbukan dengan meteor halus yang mengganggu sistem
elektronik satelit.

            Karena
bumi berputar, potensi gangguan debu meteor Leonid berlaku untuk semua satelit
selama masa bumi masuk dalam area gugusan meteoroidnya, 14-19 November. Memang
masa paling kritis terjadi saat puncak badai meteor. Dengan jumlah debu yang
maksimal kemungkinan tumbukan pun menjadi lebih besar.

            Dari
segi risiko harian, saat paling kritis adalah saat dini hari. Karena pada saat
itu gabungan kecepatan partikel meteor, orbit bumi, dan rotasi bumi adalah yang
maksimal.

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 10, 2008 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Dokumentasi Program Konversi Kalender

Program Konversi Kalender Masehi <==> Hijriyah
T. Djamaluddin

Seorang Profesor di South East Asia Research Center (Tonan Ajia Kenkyu Senta), Kyoto University, pernah menanyakan cara mengkonversikan kalender hijriyah ke Masehi untuk kepentingan risetnya. Dengan dasar pengetahuan astronomi, konversi itu mudah dilakukan. Maka saya buatkan program sederhana yang saya selesaikan pada sekitar awal 1991 dengan revisi terakhir Agustus 1991. List program itu saya tawarkan juga via Kontak Pembaca Tempo 31 Agustus 1991. Alhamdulillah, banyak permintaan dari tanah air dengan balasan via pos [walau saya tahu ada juga yang sebenarnya hanya beralasan untuk mendapatkan perangko Jepang :-) ] .

Setelah saya pulang, di surat pembaca PR ada pembaca yang minta bantuan menentukan tanggal lahirnya. Informasi yang diperoleh dari orang tuanya hanya lahir pukul 13.30 tanggal 4 Rajab tahun 1968. Dengan program konversi kalender, dengan mudah tanggal lahirnya dapat ditentukan, yaitu Kamis 26 September 1968, 4 Rajab 1388. Jawaban saya di surat pembaca itu disertai tawaran bantuan untuk menghitungkan penentuan tanggal masa lalu dan masa akan datang hanya dengan menghubungi nomor telepon saya. Maka beberapa hari setelah dimuatnya tawaran saya tersebut, telepon di rumah sering berdering dengan berbagai pertanyaan terkait dengan penentuan tanggal dan hari. Kebanyakan kasus menanyakan tanggal atau hari lahir karena tidak adanya dokumen yang pasti karena lahir di kampung dan orang tuanya hanya memberikan informasi terbatas, seperti kasus tersebut di atas. Ada juga yang menanyakan hari Ahad setelah Idul Fitri tahun depan karena berencana menikahkan putrinya. Namun, kadang ada yang lucu juga. Seorang wanita yang menanyakan hari lahir dirinya dan calon suaminya, lalu menanyakan, "Pak, baik tidak dan nasibnya bagaimana?". Oh, saya dikira tukang ramal. Saya jelaskan, saya hanya menghitungkan berdasarkan hitungan astronomi, bukan berdasarkan ramalan dan sama sekali tidak meramalkan nasib seseorang.

List programnya sebagai berikut [Bila menginginkan program executable, silakan kontak via e-mail. Bila perlu bantuan penentuan tanggal/hari, boleh juga via SMS 0815-7388-8987]:

10  PRINT "*********CALENDAR CONVERSION PROGRAM ********"
20  PRINT " HIJRI(ISLAMIC CALENDAR) <–> SOLAR CALENDAR "
30  PRINT "  (CAUTION:THERE IS THE ISLAMIC DATE LINE    "
40  PRINT "           WHICH CAUSES THIS CALCULATION MAY "
50  PRINT "           DIFFER ABOUT (+/-) 1 DAY)         "
60  PRINT "      [6 AUGUST 1991, 25 MUHARRAM 1412]      "
70  PRINT "        CALCULATED BY T.DJAMALUDDIN          "
80  PRINT "    DEPT. OF ASTRONOMY, KYOTO UNIVERSITY     "
90  PRINT "        SAKYO-KU, KYOTO 606, JAPAN           "
100 PRINT "*********************************************"
110 PRINT
120 PRINT "1. CONVERSION HIJRI(ISLAMIC CALENDAR) TO SOLAR CALENDAR"
130 PRINT "2. CONVERSION SOLAR CALENDAR TO HIJRI(ISLAMIC CALENDAR)"
140 PRINT
150 INPUT "CONVERSION (1 OR 2) OR STOP(0)"; CONV
160 IF CONV=2 GOTO 820
165 IF CONV=0 THEN GOTO 1500
170 PRINT "***CONVERSION HIJRI TO SOLAR CALENDAR***
180 PRINT
190 INPUT " DATE                              ";HD
200 PRINT " 1. MUHARRAM         7. RAJAB      "
210 PRINT " 2. SAFAR            8. SHABAN     "
220 PRINT " 3. RABIUL AWAL      9. RAMADAN    "
230 PRINT " 4. RABIUL AKHIR    10. SHAWAL     "
240 PRINT " 5. JUMADIL AWAL    11. ZULQAIDAH  "
250 PRINT " 6. JUMADIL AKHIR   12. ZULHIJJAH  "
260 INPUT " MONTH                             ";HM
270 INPUT " YEAR                              ";HY
280 NHD1= (HY-1)*354.3671+(HM-1)*29.5306+HD : NHD = INT(NHD1)
290 NSD = NHD1 + 227016!
300 IF NHD > 350721! THEN GC = 10 ELSE GC = 0
310 IF NHD > 393898! THEN GC = 11
320 IF NHD > 430422! THEN GC = 12
330 IF NHD > 466946! THEN GC = 13
340 SY  = INT((NSD+GC)/365.25) + 1
350 MN  = CINT((NSD+GC)-(SY-1)*365.25)
360 MN1 = 0  :  SM = 1
370 IF MN>31 THEN MN1 = 31 : SM = 2
380 IF INT(SY/4) = SY/4 THEN GOSUB 700 ELSE GOSUB 580
390 IF SY = 1700 OR SY = 1800 THEN GOSUB 580
400 IF SY = 1900 THEN GOSUB 580
410 ‘************RESULT************
420 IF SM = 1 THEN SM$ = " JANUARY "
430 IF SM = 2 THEN SM$ = " FEBRUARY "
440 IF SM = 3 THEN SM$ = " MARCH "
450 IF SM = 4 THEN SM$ = " APRIL "
460 IF SM = 5 THEN SM$ = " MAY "
470 IF SM = 6 THEN SM$ = " JUNE "
480 IF SM = 7 THEN SM$ = " JULY "
490 IF SM = 8 THEN SM$ = " AUGUST "
500 IF SM = 9 THEN SM$ = " SEPTEMBER "
510 IF SM =10 THEN SM$ = " OCTOBER "
520 IF SM =11 THEN SM$ = " NOVEMBER "
530 IF SM =12 THEN SM$ = " DECEMBER "
540 SD  = MN – MN1
550 PRINT
560 PRINT HD;".";HM;".";HY;" HIJRI IS ";SD;SM$;SY;"A.D."
570 PRINT : PRINT: GOTO 110
580 ‘*****ORDINARY (BASITAH) YEAR******
590 IF MN > 59 THEN MN1 = 59 : SM = 3
600 IF MN > 90 THEN MN1 = 90 : SM = 4
610 IF MN >120 THEN MN1 =120 : SM = 5
620 IF MN >151 THEN MN1 =151 : SM = 6
630 IF MN >181 THEN MN1 =181 : SM = 7
640 IF MN >212 THEN MN1 =212 : SM = 8
650 IF MN >243 THEN MN1 =243 : SM = 9
660 IF MN >273 THEN MN1 =273 : SM =10
670 IF MN >304 THEN MN1 =304 : SM =11
680 IF MN >334 THEN MN1 =334 : SM =12
690 RETURN
700 ‘*******LEAP (KABISAT) YEAR********
710 IF MN > 60 THEN MN1 = 60 : SM = 3
720 IF MN > 91 THEN MN1 = 91 : SM = 4
730 IF MN >121 THEN MN1 =121 : SM = 5
740 IF MN >152 THEN MN1 =152 : SM = 6
750 IF MN >182 THEN MN1 =182 : SM = 7
760 IF MN >213 THEN MN1 =213 : SM = 8
770 IF MN >244 THEN MN1 =244 : SM = 9
780 IF MN >274 THEN MN1 =274 : SM =10
790 IF MN >305 THEN MN1 =305 : SM =11
800 IF MN >335 THEN MN1 =335 : SM =12
810 RETURN
820 PRINT "***SOLAR CALENDAR TO HIJRI***"
830 PRINT
840 INPUT " DATE                              ";SD
850 PRINT " 1. JANUARY          7. JULY       "
860 PRINT " 2. FEBRUARY         8. AUGUST     "
870 PRINT " 3. MARCH            9. SEPTEMBER  "
880 PRINT " 4. APRIL           10. OCTOBER    "
890 PRINT " 5. MAY             11. NOVEMBER   "
900 PRINT " 6. JUNE            12. DECEMBER   "
910 INPUT " MONTH                             ";SM
920 INPUT " YEAR                              ";SY
930  IF SM = 1 THEN MN =  0
940  IF SM = 2 THEN MN = 31
950  IF SM = 3 THEN MN = 59
960  IF SM = 4 THEN MN = 90
970  IF SM = 5 THEN MN =120
980  IF SM = 6 THEN MN =151
990  IF SM = 7 THEN MN =181
1000 IF SM = 8 THEN MN =212
1010 IF SM = 9 THEN MN =243
1020 IF SM =10 THEN MN =273
1030 IF SM =11 THEN MN =304
1040 IF SM =12 THEN MN =334
1050 Y  = SY + (MN+SD)/365.25
1060 IF Y>1582.76 AND Y<1582.788 THEN PRINT "GREGORIAN : OMITTED": GOTO 110
1070 IF Y>1582.76  THEN GC = 10 ELSE GC = 0
1080 IF Y>1701 THEN GC = 11
1090 IF Y>1801 THEN GC = 12
1100 IF Y>1901 THEN GC = 13
1110 YDN = (SY-1)*365.25
1120 IF SM < 3 THEN GOTO 1160
1130    IF INT(SY/4) = SY/4 THEN MN = MN+1
1140    IF SY = 1700 THEN MN = MN – 1
1150    IF SY = 1800 OR SY = 1900 THEN MN = MN – 1
1160 NSD = YDN + MN + SD – GC
1170 NHD1= NSD – 227016! : NHD = INT(NHD1)
1180 HY  = INT(NHD1/354.3671 + 1)
1190 HM1 = CINT(NHD1 – (HY-1)*354.3671)
1200 HM  = INT(HM1/29.5306) + 1
1210 HD  = CINT(HM1 – (HM-1)*29.5306 ) : GOSUB 1400
1220 IF HD = 0 THEN HM = HM-1 : HD = 30
1230 ‘************RESULT************
1240 IF HM = 0 THEN HM$ = " ZULHIJJAH " : HY = HY – 1
1250 IF HM = 1 THEN HM$ = " MUHARRAM "
1260 IF HM = 2 THEN HM$ = " SAFAR "
1270 IF HM = 3 THEN HM$ = " RABIUL AWAL "
1280 IF HM = 4 THEN HM$ = " RABIUL AKHIR "
1290 IF HM = 5 THEN HM$ = " JUMADIL AWAL "
1300 IF HM = 6 THEN HM$ = " JUMADIL AKHIR"
1310 IF HM = 7 THEN HM$ = " RAJAB "
1320 IF HM = 8 THEN HM$ = " SHABAN "
1330 IF HM = 9 THEN HM$ = " RAMADAN "
1340 IF HM =10 THEN HM$ = " SHAWAL "
1350 IF HM =11 THEN HM$ = " ZULQAIDAH "
1360 IF HM =12 THEN HM$ = " ZULHIJJAH "
1370 PRINT
1380 PRINT SD;".";SM;".";SY;" A.D IS "; HD; HM$; HY; " HIJRI ";"(";DD$;")"
1390 PRINT : PRINT: GOTO 110
1400 ‘************THE DAY************
1410 NHD1 = NHD-7*INT(NHD/7) : DD = NHD1 MOD 7
1420 IF DD = 0 THEN DD$ = " THURSDAY "
1430 IF DD = 1 THEN DD$ = " FRIDAY "
1440 IF DD = 2 THEN DD$ = " SATURDAY "
1450 IF DD = 3 THEN DD$ = " SUNDAY "
1460 IF DD = 4 THEN DD$ = " MONDAY "
1470 IF DD = 5 THEN DD$ = " TUESDAY "
1480 IF DD = 6 THEN DD$ = " WEDNESDAY "
1490 RETURN
1500 SYSTEM

                        CALENDAR CONVERSION PROGRAM
                            PROGRAM KONVERSI KALENDER 
       
                           (Kalender Hijri <—> Kalender Masehi)
       
       
        Penjelasan Umum
       
             Kalender  Islam  (Hijri) ditentukan  berdasarkan  penampakan
        hilal  dengan  siklus  rata-rata 29,5306 hari.  Maka  satu  tahun
        hijriyah  adalah 354,3671 hari. Dan menurut data sejarah  tentang
        hijrah  Rasulullah  s.a.w.,  1 Muharram 1  H.  bertepatan  dengan
        tanggal  16  Juli 622 M. Dengan data ini dapat  dihitung  selisih
        jumlah hari suatu tanggal hijriyah terhadap kalender Masehi untuk
        menentukan konversinya.
       
             Kalender  syamsiah (Masehi) ditentukan  berdasarkan  periode
        kembalinya matahari ke titik musim semi, yaitu 365,2422 hari. Se-
        dangkan  jumlah hari setiap bulannya ditentukan berdasarkan  kon-
        vensi  saja. Sebelum Reformasi Gregorius pada 1582,  jumlah  hari
        rata-rata  per tahun adalah 365,25 hari dengan  menggunkan  tahun
        kabisat  setiap empat tahun. Gregorius memperbarui sistem  Julius
        tersebut  dengan  menggunakan  jumlah hari  rata-rata  per  tahun
        365,2425 hari yang lebih mendekati kenyataan. Reformasi Gregorius
        ini menyebabkan "lompatan" tanggal dari 4 Oktober langsung ke  15
        Oktober 1582, tanpa mengubah urutan harinya.
       
             Dalam  program  ini reformasi  Gregorius  tersebut  dianggap
        segera  diterapkan,  walaupun tidak  semua  negara  melakukannya,
        misalnya  Jepang  masih menggunakan sistem  Julius  sampai  1872.
        Program  ini berlaku untuk mengkonversikan kalender sampai  tahun
        2099, termasuk juga menentukan hari sejak 1 Januari 1 M.
       
             Satu hal yang harus diperhatikan adalah kemungkinan  "perbe-
        daan",  plus atau minus, sekitar satu hari.  Kemungkinan  "perbe-
        daan"  ini  tidak dapat dihindarkan karena  Garis  Tanggal  Islam
        bergeser  setiap bulan, relatif terhadap Garis  Tanggal  Interna-
        sional. Selain itu, perhitungan dengan kriteria penampakan  hilal
        tidak  praktis  untuk  konversi  kalendar.  Karenanya  perbedaan,
        sekitar satu hari,  dengan hasil rukyat (mengamati hilal) mungkin
        juga terjadi. Karenanya untuk konversi kalender hijri ke  masehi,
        hari tidak dihitung.
       
        Penjelasan Program (Explanation of the program)
        ————————————————–
       
             Masukan yang diperlukan (INPUT):
       
        *> Pilihan konversi (Conversion type):
       
                    1. Konversi Kalender Islam (Hijri) ke Masehi
                       (Convert the Islamic Calendar to the Solar one)
                    2. Konversi Kalender Masehi ke Hijri
                       (Convert the Solar calendar to the Islamic one)
       
        *> Tanggal, bulan dan tahun (date, month, year).
       
             Untuk  mencari hari suatu tanggal Masehi sampai tahun  2099, 
        gunakan pilihan 2 (To find any date on the solar calendar up  to
        the year 2099, select the conversion type 2).

        Hasil Konversi (Examples of the result)
        ————————————–
             Untuk  menguji  kebenaran menyalin  program,  termasuk  juga
        memberikan  contoh  hasil program ini,  berikut  ini  ditunjukkan
        beberapa hasil konversi.
       
        Konversi                     Masukan                 Keluaran
        Conversion type          INPUT                   OUTPUT
        —————————————————————–
           1            1 Muharram 1 H             16 Juli 622 M
           2           16 Juli 622 M                  1 Muharram 1 H (Jumat)
       
           1           16 Ramadan 990 H           4 Oktober 1582 M
           2            4 Oktober 1582 M         16 Ramadan 990 H (Kamis)
 
           1           17 Ramadan 990 H          15 Oktober 1582 M
           2           15 Oktober 1582 M         17 Ramadan 990 H (Jumat)
           1            8 Ramadan 1364 H        *18 Agustus 1945 M
           2           17 Agustus 1945 M *        8 Ramadan 1364  (Jumat)
       
           1           13 Sya’ban 1411 H         28 Februari 1991 M
           2           28 Februari 1991 M        13 Sya’ban 1411 (Kamis)
           1           14 Sya’ban 1411 H          1 Maret 1991 M
           2            1 Maret 1991 M           14 Sya’ban 1411 (Jumat)
          
           1           10 Dzulhijjah 1412        23 Juni 1991 M
           2           23 Juni 1991 M            10 Dzulhijjah 1412(Ahad)
       
           1            1 Muharram 1412 H       *14 Juli 1991 M
           2           13 Juli 1991 M *           1 Muharram 1412 (Sabtu)
        —————————————————————–
        *  : "Perbedaan" pada kalender Masehi untuk tanggal hijriah  yang
             sama dijelaskan di atas.
       
NOTE: THIS PROGRAM MAY BE USED TO PREDICT THE BEGINNING OF RAMADAN, EID AL FITR, AND EID AL ADHA. TO  FIND  THE  ACCURATE  DATE, YOU HAVE TO MAKE OBSERVATION OF THE  HILAL  OR  ASTRONOMICAL CALCULATION BASED ON LOCAL DATA OF SUNSET AND MOONSET.
            
       
        Kyoto, Agustus 1991
       
        T. DJAMALUDDIN
       
        Dept. of Astronomy
        Kyoto University
        Sakyo-ku, Kyoto 606
        JAPAN
 (Alamat sekarang: LAPAN, Jl. Dr. Djundjunan 133, Bandung 40173)

 
Leave a comment

Posted by pada Oktober 7, 2008 in Hisab-Rukyat

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.