RSS

Arsip Bulanan: Januari 2009

Kalender Syamsiah Masehi

Milenium dalam Perspektif Matematis Astronomis

(Di muat Pikiran Rakyat 30 Desember 1999)

 

T. Djamaluddin

             Peneliti
LAPAN Bandung


Catatan: Sejarah Kalender Syamsiah Masehi perlu juga diketahui, terkait dengan kehidupan sehari-hari saat ini. Arsip tulisan lama ini masih relevan dalam melihat sejarah kalender masehi, jadi saya masukkan di blog dokumentasi saya.

            Memasuki tahun 2000
demam milenium melanda kehidupan kita sehari-hari. Tak terkecuali penamaan
suatu produk yang sering dikaitkan dengan milenium. Ada warna milenium, ada
model milenium, dan lainnya. Istilah milenium secara harfiah berasal dari
bahasa Latin mille (seribu) dan annum (tahun). Jadi itu berarti
seribu tahun. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, kecuali bila dikaitkan dengan
tahun kejadiannya: tahun 2000 atau 2001.

            Ada juga yang
mengaitkan istilah itu dengan sebagian teologi Kristiani (terutama pada masa
lalu), bahwa Yesus Kristus akan kembali ke bumi dan memerintah sebelum kiamat
selama seribu tahun. Tetapi, tampaknya hal itu sama sekali tidak berkaitan
dengan kedatangan tahun 2000. Sebab, tak seorang pun (baik yang mempercayai
teologi itu, apalagi yang tidak) yang mengetahui kapan peristiwa itu akan
terjadi.

            Bila kita perhatikan,
istilah milenium baru populer ketika muncul kekhawatiran masalah komputer millenium
bug
. Makna sebenarnya millenium bug adalah "kegagalan
[mesin/program akibat] milenium", bukan "kutu milenium" seperti
yang banyak ditulis media massa. Kini istilah populer itu beralih sebutan
menjadi masalah Y2K (year 2 kilo, tahun 2000) atau MKT 2000 (masalah komputer
tahun 2000).

            Milenium kini telah
menjadi kosa kata baru yang populer di masyarakat kita. Sebelumnya, ketika kita
menyambut tahun 2000 kita hanya menyebutkan menyambut abad 21. Tidak banyak
yang mempermasalahkan sebutan abad 21 untuk tahun 2000. Setidaknya kita sudah
punya pengalaman ketika mencanangkan tahun 1400 Hijriyah sebagai awal abad
ke-15, abad kebangkitan Islam.

            Saat ini muncul
perbedaan pendapat tentang sebutan milenium. Padahal, bila teliti, masalahnya
sama: tepatkah 1 Januari 2000 sebagai awal abad 21 atau awal milenium ke tiga?
Tampaknya sebutan milemiun yang datangnya seribu tahun sekali lebih menarik
perhatian dan keingintahuan banyak orang.

            Apakah pangkal semua
persoalan perbedaan pendapat ini? Saya berpendapat, pangkal masalah adalah
angka nol (0).

 

Nol

            Para perancang
komputer tidak mengantisipasi angka nol ketika mendefinisikan tahun dengan dua
bilangan terakhir. Pada sistem yang lama tersebut, misalnya tahun 1999 hanya
ditulis 99. Menjelang tahun 2000 baru disadari bahwa sistem lama masih terpakai
dan bisa berakibat fatal salah interpretasi data bila tahun 2000 hanya tertulis
00. Program-program yang menggunakan tanggal dari komputer akan menafsirkan
tahun 00 itu sebagai tahun 1900, bukan tahun 2000. Tentu bisa mengacaukan
data-data dan aktivitas yang terkait dengan tanggal dalam sistem komputer.

            Lain soal dengan
penetapan kelender. Orang dahulu menetapkan tahun untuk kalender, baik syamsiah
(berdasarkan matahari) maupun qamariyah (berdasarkan bulan), bermula dari angka
1. Hari pertama kalender Masehi adalah Sabtu, 1 Januari 1. Kalender Hijriyah
pun demikian, diawali 1 Muharram 1. (tetapi dimaknai berbeda, 1 H bermakna 1 tahun sejak hijrah — secara tidak langsung bermakna saat Nabi hijrah adalah tahun nol menurut definisi  sekarang). Sampai pertengahan abad 9 orang belum
mengenal angka nol. Jadi, bukan karena melupakan angka nol, melainkan karena
memang saat itu belum tahu.

            Tidak diketahui sejak
kapan angka nol ditemukan. Tetapi, dokumen sejarah mencatat naskah tertua yang
menuliskan bilangan nol berasal dari India yang ditulis pada tahun 876. Tetapi
yang berjasa memperkenalkan angka nol dalam makna ilmiah adalah para ilmuwan
Islam Arab yang mewarnai Eropa pada abad 12. Salah satu buktinya adalah
penggunaan sebutan zero dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa
Arab shifr yang berarti kosong.

            Penggunaan angka nol
telah dianggap sebagai salah satu penemuan cemerlang dalam sejarah matematika
yang berpengaruh luas dalam kebudayaan modern. Sebagian pakar berpendapat bahwa
hambatan serius yang dihadapi ahli matematika Yunani dan Romawi kuno dalam
perkembangan ilmiahnya adalah ketiadaan simbol nol.

            Angka Romawi tidak mengenal angka nol. Bilangan dimulai
dengan satu yang dituliskan I. Sepuluh ditulis X, 50 dilambangkan dengan L, 100
dengan C, 500 dengan D, dan 1000 dengan M. Suatu bilangan besar dinyatakan
sebagai penambahan (diletakkan disebelah kanannya) atau pengurangan (diletakkan
disebelah kirinya) lambang-lambang tersebut. Jadi 1999 dituliskan sebagai 1000
+ 900 + 90 + 9 sebagai M+CM+XC+IX menjadi MCMXCIX. Memang tidak praktis,
kecuali untuk bilangan kelipatan sederhana lambang-lambang tersebut, seperti
2000 yang cukup dituliskan MM.

            Kebudayaan Barat yang
belum tersentuh budaya Islam menggunakan angka Romawi tersebut sampai abad 14.
Sedangkan Spanyol dan wilayah Eropa lainnya yang bersinggungan dengan budaya
Islam sejak abad 12 telah secara luas menggunakan sistem angka Arab (seperti
yang kita kenal sekarang: 0, 1, 2,…).

 

Sejarah

            Angka nol menjadi
masalah juga dalam menelusuri sejarah masa lampau. Ada keterputusan ungkapan
tahun sebelum masehi dan sesudah masehi karena tidak dikenalnya tahun nol.
Urutan tahun di sekitar pergantian sistem kalender masehi adalah tahun 2 SM
(sebelum Masehi), 1 SM, 1 M, 2 M, dan seterusnya. Penulis sejarah matematika,
dengan menggunakan notasi matematis menuliskan urutan tahun tersebut sebagai
tahun -2, -1, 1, 2, dan seterusnya.

            Astronomi sebagai ilmu
yang berperan menelusur waktu kejadian di masa lampau tidak menggunakan notasi
metematis seperti itu. Secara astronomi, tahun 1 SM dianggap sebagai tahun 0
untuk memudahkan perhitungan waktu dalam penelusuran balik kejadian masa lampau.

            Kalender Masehi
berakar dari kalender qamariyah Romawi yang semula mempunyai 10 bulan. Kalender
Romawi ini berawal pada Maret dengan bulan ke tujuh, delapan, sembilan, dan
sepuluh disebut September, Oktober, November, dan Desember. Penambahan bulan
Januari dan Februari sebagai bulan ke-11 dan ke-12 terjadi sekitar tahun 700
SM.

            Kemudian terjadi lagi
perubahan dari sistem qamariyah menjadi syamsiah seperti yang kita kenal
sekarang, dengan jumlah hari setiap bulan 30 atau 31 hari, kecuali Februari 28
hari. Hari pertama setiap bulan disebut Kalendae (inilah asal mula sebutan
"kalender"). Belum dikenal nama-nama 7 hari dalam sepekan.

            Perubahan sistem
qamariyah ke syamsiah tidak dilakukan mendadak. Penyesuaiannya menggunakan
sistem campuran dengan penambahan hari untuk penyesuaian dengan musim.
Penambahan itu tidak beraturan. Kadang-kadang Kaisar memperpanjang atau
memperpendek kalender semaunya. Masa itulah yang dikenal sebagai masa yang
membingungkan untuk menelusur sejarah masa lampau.

            Untuk menghilangkan
kebingungan itu, Kaisar Julius melakukan reformasi kalender atas saran
penasihatnya astronom Sosigense pada tahun 46 SM. Reformasi itu menetapkan tiga
hal. Pertama, vernal equinox (awal musim semi, saat malam dan siang sama
panjangnya) ditetapkan 25 Maret dengan menjadikan tahun 46 SM lebih panjang 85
hari. Kedua, awal tahun ditetapkan 1 Januari 45 SM. Ke tiga, menetapkan jumlah
hari dalam satu tahun 365 hari, kecuali setiap tahun ke empat menjadi tahun
kabisat dengan penambahan hari pada bulan Februari.

            Penetapan awal musim
semi 25 Maret ini berdampak juga pada penetapan 25 Desember sebagai titik balik
utara. Pada saat itu posisi matahari berbalik dari titik paling utara menuju
selatan. Maka 25 Desember dirayakan masyarakat Romawi sebagai hari Dies Natalis
Solis Invicti
(hari kelahiran Matahari yang tak terkalahkan). Tanggal
inilah yang kemudian dianggap sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus (hari
Natal), karena memang tak ada catatan sejarah tanggal pastinya kelahiran Nabi
Isa tersebut.            

            Penetapan tahun
Masehi baru dilakukan pada tahun 532 M atas usulan rahib Denys le Petit.
Berdasarkan penelitiannya, dia menyimpulkan tahun kelahiran Nabi Isa bertepatan
dengan tahun Romawi 753. Maka tahun Romawi 753 tersebut ditetapkan sebagai
tahun 1 Masehi. Walaupun belakangan kalangan gereja menemukan bukti lain bahwa
kelahiran Nabi Isa sebenarnya beberapa tahun sebelum itu, berdasarkan
naskah-naskah tentang kematian Herod (penguasa Palestina pada Zaman Nabi Isa).

           

Milenium

            Astronom sebenarnya
tidak peduli dengan istilah milenium. Karena dalam astronomi kronologi kejadian
umumnya dinyatakan dalam hari Julian (Julian day) yang didefinisikan bermula
dari tengah hari 1 Januari 4713 SM. Penetapan awal periode ini pun sebenarnya
tidak punya arti astronomis, tetapi sekadar memenuhi siklus dalam sistem
kalender lama: siklus metonik (19 tahunan) serta siklus dalam kalender Romawi
indiksi (15 tahun) dan dominis (28 tahun).

            Siklus metonic berasal
dari sistem kalender Yunani dan Arab kuno (Babilonia dan sekitarnya) bahwa 19
tahun syamsiah sama dengan 235 bulan qamariyah. Sedangkan siklus dominis 28
tahun, tampaknya berasal dari keberulangan kalender Julian dengan susunan hari
yang sama. Pembagian sepekan menjadi tujuh hari baru masuk Eropa sekitar abad
ke-3, diadopsi dari tradisi Yahudi dan Arab kuno. Jumlah hari dalam 28 tahun
itu (28 x 365,25 hari) sama dengan 1461 pekan. Belum diketahui alasan siklus
indiksi.

            Dengan menggunakan
hari Julian tersebut 1 Januari tahun 1 dinyatakan sebagai hari ke 1.721.423,5.
Sedangkan 1 Januari 2000 adalah hari ke 2.451.544,5. Jadi kalender Masehi
sampai saat tahun baru 2000 telah menjalani 730.121 hari. Itu berarti, andaikan
sejak awal menggunakan sistem kalender Gregorian seperti yang saat ini berlaku,
1 Januari 2000 semestinya baru tanggal 2 Januari 1999.

            Sepanjang sejarah
kalender Masehi telah terjadi dua kali reformasi. Pertama, tahun 325 M ketika
vernal equinox ternyata telah bergeser dari 25 Maret menjadi 21 Maret. Tetapi,
tidak terjadi pergeseran hari, hanya ditetapkan tanggal baru untuk vernal
equinox, yaitu 21 Maret. Ini berpengaruh pada penetapan hari besar Kristiani.
Paskah ditentukan setiap hari Minggu pertama setelah purnama pada atau sesudah
vernal equinox. Itu berarti berpengaruh juga pada penetapan hari Wafat Isa
Almasih dan hari Kenaikan Isa Almasih.

            Reformasi ke dua pada
1582 disebut reformasi Gregorian. Karena satu tahun syamsiah rata-rata 365,2422
hari, sedangkan kalender Julian menetapkan rata-rata 365,25 hari, awal musim
semi saat itu diketahui telah bergeser jauh menjadi tanggal 11 Maret. Maka
dilakukan reformasi dalam dua hal agar awal musim semi kembali menjadi tanggal
21 Maret.

            Reformasi Gregorian
pertama menghapuskan 10 hari dari tahun 1582 dengan menetapkan hari Kamis 4
Oktober langsung menjadi hari Jumat 15 Oktober.  Ke dua, rata-rata satu tahun ditetapkan 365,2425 hari. Caranya,
tahun kabisat didefinisikan sebagai tahun yang bilangannya habis dibagi empat,
kecuali untuk tahun yang angkanya kelipatan 100 harus habis dibagi 400. Dengan
aturan tersebut tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan lagi dianggap sebagai tahun
kabisat. Tahun 2000 adalah tahun kabisat.

            Ketika istilah
milenium yang berawal dari masalah komputer mulai memasyarakat, orang mulai
bertanya, tepatkah 1 Januari 2000 disebut sebagai awal Milenium ke tiga. Para
astronom yang ditanya tentu akan mengacu pada sejarah. Karena milenium berarti
kurun waktu seribu tahun, sedangkan milenium pertama dimulai 1 Januari tahun 1,
maka milenium ke-3 semestinya 1 Januari 2001.

            Tetapi, di masyarakat
terlanjur menggunakan istilah milenium dalam konteks seperti millenium bug,
sekadar melihat angkanya. Kalau demikian lupakan sejarah, lihatlah pada angka
tahunnya. Astronom pun kemudian ditanya, mengapa angka 2000 sudah dianggap
sebagai milenium ke-3 atau abad 21. Secara astronomi hal itu masih dapat
dibenarkan.

            Dalam astronomi suatu
tanggal lazim dituliskan sebagai fraksi tahun. Pukul 00:00 1 Januari 2000 bila
ditulis dengan desimal menjadi tahun 2000,0. Sedangkan pukul 00:00 23 Januari
2000 dapat dinyatakan sebagai tahun 2000,06284 (dari 2000,0 + 23/366, karena
tahun 2000 berjumlah 366 hari). Karenanya setiap tanggal sesudah 1 Januari 2000
dapat dinyatakan dengan angka yang lebih besar dari 2000. Itu berarti tidak
termasuk lagi sebagai abad 20 atau milenium 3. Jadi, mestinya sudah boleh
dinyatakan sebagai bagian dari abad 21 atau milenium 3. Kalau demikian,
beralasan juga untuk menetapkan 1 Januari 2000 sebagai awal abad 21 atau
milenium 3.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 30, 2009 in Hisab-Rukyat

 

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009

Shalat Gerhana

Ketika terjadi gerhana umat Islam disunnahkan shalat gerhana
serta memperbanyak istighfar dan shadaqah. Tentu saja, renungan ayat-ayat
kauniyah juga harus ada, bukan sekadar aspek ibadahnya. Oleh karenannya sangat
disarankan pada saat puncak gerhana, jamaah berkesempatan juga untuk melihat langsung
proses gerhananya, bagaimana bulan menutup piringan matahari sedikit demi
sedikit, lalu keluar lagi dari piringan matahari.

Kapan waktu shalat gerhana? Gerhana matahari waktunya ditentukan oleh gerakan
bayangan bulan melintasi suatu daerah. Jadi, berbeda dengan gerhana bulan, kita
harus melihat data gerhana untuk setiap daerah. Kalau tidak cermat, kita bisa
mengumumkan informasi yang keliru, seperti yang termuat di Harian PR Selasa, 20
Januari 2009 tentang seruan ormas-ormas Islam terkait dengan gerhana. Pada
pengumuman itu waktu gerhana merujuk pada data global gerhana matahari.

Untuk gerhana matahari 26 Januari 2009, seluruh wilayah Indonesia dapat
menyaksikan gerhana menjelang matahari terbenam. Waktu gerhana di Bandung mulai
pukul 15.20 – 17.49 WIB. Untuk daerah-daerah lain di Indonesia, waktu gerhana
sekitar waktu itu plus-minus 10 menit. Jadi, kalau perlu mengumumkan ke semua
cabang ormas Islam di seluruh Indonesia, disarankan rentang waktu shalat
gerhana antara pk 15.40 – 17.30 WIB.

Bagaimana cara shalat gerhana? Shalat gerhana dilakukan berjamaah di masjid dan
sesudahnya ada khutbah, seperti shalat hari raya (Id) dengan bacaan Al-Quran
yang terdengar. Caranya seperti shalat hari raya 2 rakaat, hanya setiap rakaat
ada dua kali ruku. Jadi, setelah ruku pertama yang agak panjang kembali berdiri
lalu membaca Al-Fatihah dan surat lainnya baru ruku lagi dan sujud seperti
biasa. Khutbah berisi anjuran istighfar (mohon ampunan Allah), bershadaqah, dan
menjelaskan tentang fenomena gerhana.

Apa sih maknanya? Gerhana adalah peristiwa alam yang menunjukkan ketundukan
alam pada Khaliqnya (Penciptanya). Maka selayaknya kita juga menunjukkan
ketaatan kepada Allah dengan melakukan shalat gerhana. Matahari dan bulan tak
pernah penyalahi hukum-Nya, sehingga manusia pun dapat memperkirakan secara
tepat waktu terjadinya gerhana. Manusia karena nafsunya sering kali, sengaja
atau tak sengaja, menyalahi hukum Allah, maka sudah selayaknya peristiwa
gerhana mengingatkan kita untuk memperbanyak istighfar.

 

Matahari dan bulan bisa beriringan dan berdampingan
memperlihatkan keharmonisan yang kadang menunjukkan fenomena cincin atau
mahkotanya yang indah (korona) yang biasanya tidak terlihat. Ini mengajarkan
kita untuk juga dapat berjalan beriringan dan berdampingan dengan sesama
manusia, maka sudah selayaknya itu direpresentasikan dalam bentuk anjuran
memperbanyak shadaqah. Lalu khatib pun perlu mengingatkan bahwa gerhana
matahari adalah fenomena alam yang tidak terkait dengan kelahiran atau kematian
seseorang dan tidak terkait dengan nasib manusia atau bencana alam, tetapi
merupakan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya di alam. (Rincian fenomena gerhana
dapat di lihat di http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!553.entry)

 

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 22, 2009 in Hisab-Rukyat

 

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009

Pengamatan Gerhana Mungkin Terganggu Cuaca Buruk

 

T.
Djamaluddin

Peneliti
Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Gerhana matahari cincin akan
terjadi di wilayah Indonesia pada 26 Januari 2009. Provinsi yang terlintasi
adalah Banten, Lampung, Sumatera Selatan, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat,
Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah. Wilayah lain di
Indonesa akan menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan penutupan piringan
matahari lebih dari 50%. Pengamat akan menyaksikan gerhana matahari cincin selama
antara 1 menit di tepi jalur gerhana (misalnya sekitar Serang dan
Samarinda)  sampai 6 menit di pusat
jalur gerhana (misalnya sekitar  Bandar
Lampung). Sayangnya, gerhana ini teramati di Indonesia sore hari menjelang
matahari terbenam dan kejadiannya pada musim hujan sehingga kemungkinan
gangguan mendung atau hujan sangat besar.

 

Apa gerhana matahari cincin itu?
Gerhana matahari adalah fenomena tertutupnya piringan matahari oleh piringan
bulan pada saat bulan berada di antara matahari dan bumi. Secara umum gerhana
matahari dibagi 2: gerhana matahari sentral (gerhana matahari total [GMT] dan
gerhana matahari cincin [GMC]) dan gerhana matahari sebagian. Gerhana matahari
cincin terjadi pada saat piringan matahari tidak tertutup penuh oleh piringan
bulan, sehingga tampak seperti cincin yang melingkari bulan yang tampak gelap.
Jadi pada saat gerhana matahari cincin, tidak akan gelap seperti malam. Pada
gerhana matahari cincin kali ini penutupan bagian tengah piringan matahari
sekitar 93 – 96%.

 

Pada 26 Januari 2009 jarak
matahari dari bumi 0,985 Satuan Astronomi (SA), lebih dekat dari rata-ratanya
sejauh 1 SA = 150 juta km. Akibatnya, diameter sudut matahari lebih besar dari
rata-rata sekitar 0,5 derajat (kira-kira setengah lebar telunjuk kalau lengan
kita rentangkan ke arah langit). Sedangkan bulan berjarak 401.915 km dari bumi,
yang berarti lebih jatuh dari rata-ratanya sejauh 384.000 km. Akibatnya,
diameter sudut bulan menjadi lebih kecil dari rata-ratanya. Saat itu, diameter
matahari 32’ 32” dan diameter sudut bulan 29’ 43”.

 

Adakah bahayanya? Secara umum
tidak berbahaya untuk melihat gerhana, namun disarankan untuk menggunakan
pelindung mata agar tidak terlalu silau saat menjelang dan sesudah gerhana.
Gerhana matahari cincin relatif lebih aman daripada gerhana matahari total,
karena perubahan kecerlangannya tidak sedrastis gerhana matahari total. Pada
gerhana matahari total saat yang dikhawatirkan adalah saat peralihan dari gelap
saat bulan penutupi matahari menuju tersibaknya matahari. Pada saat gelap itu
pupil mata membesar sehingga bila tiba-tiba matahari tersebak dengan cahayanya
yang kuat, cahayanya bisa membakar retina dan berpotensi menimbulkan kebutaan.
Tetapi pada gerhana matahari cincin, kegelapan itu tidak total, sehingga pupil
mata tidak terlalu besar. Dari fase gerhana cincin ke gerhana sebagian
intensitas cahaya yang masuk mata tidak terlalu besar perubahannya. Walau
bagaimana pun kewaspadaan tetap diperlukan. Jangan terlalu asyik melihat
gerhana yang beberapa menit itu. Tetapi juga jangan menghindar melihat fase
cincin, karena itu fase yang indah untuk dilihat dan diabadikan. Bagi penggemar
fotografi, kalau cuaca cerah, cincin melingkar sangat indah diabadikan dengan
latar depan siluet panorama gunung atau pepohonan. Gerhana menjelang matahari terbenam
memungkinkan untuk sekaligus memotret objek latar depannya.

 

Adakah dampaknya pada bumi?
Gerhana adalah peristiwa biasa, seperti halnya 
bulan baru setiap bulan. Dampak yang terasa adalah pasang maksimum di
laut sekitar tengah hari dan tengah malam. Mungkin juga pasang maksimum itu memicu
terjadinya gempa, walau sulit diprakirakan tempatnya. Terjadinya gempa kecil
menjelang gerhana matahari total 1983 di jalur gerhana di Jawa Timur,
mengindikasi kemungkinan efek pasang maksimum saat gerhana matahari bisa juga
memicu terjadinya gempa.

 

Kapan waktu gerhana
dimasing-masing lokasi, terkait dengan perencanaan pengamatan dan shalat
gerhana? Di situs NASA

 http://eclipse.gsfc.nasa.gov/SEgoogle/SEgoogle2001/SE2009Jan26Agoogle.html

dapat diperoleh info rinci untuk lokasi
yang kita pilih. Cukup klik di titik lokasi, kita akan mendapatkan info waktu
mulai gerhana pada setiap tahapnya. Tetapi harus diingat, waktu yang tercantum adalah
Universal Time (UT)/GMT, jadi untuk mendapatkan WIB harus ditambahkan 7.
Contohnya, di Bandar Lampung, gerhana sebagian mulai pukul 08.19 UT atau 15.19
WIB. Gerhana matahari cincin terjadi mulai 16.38 – 16.44 WIB. Proses gerhana
akan selesai pukul 17.51 WIB. Shalat gerhana dilakukan dalam rentang waktu mulai
sampai akhir gerhana sebagian. Disarankan, kalau cuaca cerah, pada saat gerhana
matahari cincin yang hanya berlangsung 6 menit jamaah dapat melihat fenomena
itu dan bertasbih memuji keagungan Allah.

 

Di Jakarta yang teramati adalah gerhana matahari
sebagian dengan penutupan piringan matari 91%. Gerhana mulai 15.20 – 17.50 WIB.
Pada rentang waktu itulah dilakukan shalat gerhana. Di Bandung penutupan
piringan matahari 88%. Gerhana mulai pukul 15.20 – 17.49 WIB.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 20, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Purnama-Bulan Baru Pemicu Gempa?

LAGI, KAJIAN TAMBAHAN

PURNAMA DAN BULAN
BARU SALAH SATU PEMICU GEMPA

 

            Sewaktu
wartawan Kompas bertanya soal prakiraan cuaca umum selama Januari 2009, saya
singgung juga kemungkinan efek penguatan potensi oleh pasang maksimum saat
bulan purnama dan bulan baru. Artinya, bila cuaca buruk yang berpotensi banjir,
dampaknya akan bertambah parah kalau itu terjadi saat bulan purnama (sekitar 11
Januari 2009) atau sekitar bulan baru (sekitar 26 Januari 2009). Pembicaraan
kemudian menyinggung juga dampak lain dari pasang surut bulan-matahari. Saya
ceritakan kemungkinan pengaruhnya sebagai pemicu gempa. [Sebenarnya saya
beralih posisi nara sumber. Ketika berbicara tentang cuaca dan iklim kapasitas
saya adalah Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. Tetapi ketika
bicara soal bulan baru dan purnama, kapasitas saya adalah Peneliti Utama
Astronomi-Astrofisika]  Ini beritanya:

—————————————————————————————————————-

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/06/2153442/bulan.baru.dan.purnama.jadi.alternatif.peringatan.dini

Bulan Baru dan Purnama
Jadi Alternatif Peringatan Dini

 

Selasa, 6 Januari 2009 | 21:53 WIB

BANDUNG, SELASA — Fenomena bulan baru dan bulan purnama
berpotensi dijadikan alternatif lain sistem peringatan dini menjelang kejadian
bencana alam gempa bumi. Fenomena bulan baru dan purnama dikatakan berpotensi
menyebabkan pelepasan energi di lempeng bumi.

Demikian dikatakan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin, Selasa (6/1),
terkait alternatif astronomi dalam sistem peringatan dini gempa bumi.

Menurut Thomas, hal itu disebabkan perbedaan dua arah gaya bumi, menuju dan
menjauhi bulan atau matahari. Hal itu dikatakannya rentan mengganggu atau
melepaskan energi dalam struktur lempeng bumi, khususnya di daerah perbatasan
waktu pagi dan magrib.

"Dengan adanya kejadian ini, sangat mungkin lempengan yang sudah rawan
lantas bergerak," katanya.

Bulan purnama, dikatakan Thomas, terjadi ketika bumi berada di antara bulan
dan matahari. Untuk Januari 2009, bulan purnama pada tanggal 11 Januari. Sementara
itu, bulan baru ketika bulan berada di antara matahari dan bumi dan terjadi
tanggal 26 Januari 2009.

Thomas memberikan beberapa contoh gempa bumi yang terjadi di Indonesia
beberapa waktu terakhir. Beberapa di antaranya bahkan berkekuatan tinggi dan
memakan banyak korban jiwa.

Di antaranya, gempa Alor pada 12 November 2004 terjadi menjelang bulan baru,
28 Ramadhan 1425 dan gempa Nabire pada 26 November 2004 terjadi menjelang
purnama, 13 Syawal 1425.

Selain itu, gempa Aceh pada 26 Desember 2004 terjadi saat purnama, 14
Dzulqaidah 1425; gempa Simeulue pada 26 Februari 2005 terjadi setelah purnama,
16 Muharram 1426; dan gempa Nias pada 28 Maret 2005 terjadi setelah purnama, 17
Safar 1426. Gempa Mentawai pada 10 April 2005 terjadi pada bulan baru, 1 Rabiul
Awal 1426, dan gempa Yogya pada 27 Mei 2006, terjadi menjelang bulan baru, 29
Rabiuts Tsaniah 1427, juga termasuk di dalamnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan agar para ahli dan pakar gempa bumi bisa
menimbang hal ini sebagai salah satu sumbangan peringatan dini gempa bumi.
Diharapkan, dalam bulan baru dan purnama, kewaspadaan bisa ditingkatkan.
Tujuannya, agar kejadian gempa bumi tidak menimbulkan korban.

Bagi masyarakat, hal ini bisa dijadikan pegangan. Bagi mereka yang hidup di
daerah rawan bencana gempa bumi, hal ini merupakan sumbangan peringatan dini
lainnya. Dengan begitu, mereka diharapkan bisa mandiri mempersiapkan sebelumnya
atau menyelamatkan diri ketika terjadi gempa bumi. CHE

————————————————————————————————————–

Sebelumnya, pemaparan saya yang serupa pernah dimuat juga oleh media lain

http://www.detiknews.com/read/2006/09/07/102136/670405/10/antara-gerhana-bulan-gempa-dan-gunung-meletus

http://www.antara.co.id/arc/2007/5/23/bulan-purnama-picu-pelepasan-energi-di-lempeng-bumi/
dan http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=1821

 

Mengapa purnama dan bulan baru bisa menjadi pemicu, secara
sederhana teman geologist memaparkannya dalam dongeng geologinya

http://rovicky.wordpress.com/2007/10/26/mengapa-efek-bulan-menjadi-pemicu-trigger-gempa/

Dukungan kajian ilmiahnya bisa juga dilihat di

http://rovicky.wordpress.com/2006/06/18/efek-bulan/

 

Kemarin saya mengkaji data yang agak panjang, data gempa di
Indonesia selama tahun 2000 sampai 3 Januari 2009 yang magnitudonya lebih dari
6. Ada hal yang menarik (ini juga saya sampaikan kepada wartawan Kompas tadi
pagi), dari 208 kejadian gempa 86 diantaranya bersesuaian dengan kejadian
purnama dan bulan baru (dalam rentang plus minus dua hari, artinya efek pasang
maksimum bulan-matahari masih ada). Kalau dilihat jam kejadiannya, sebagian
besar dari 86 gempa tersebut terjadi sekitar tengah hari atau tengah malam dan
pagi atau maghrib (plus minus 2 jam). Namun frekuensi kejadiannya lebih banyak
sekitar tengah malam atau tengah hari.

 

Contohnya, gempa Aceh 26 Desember 2004 terjadi pada saat
bulan purnama pada pagi hari pukul 07.59 WIB (secara astronomi pukul 07.22
waktu lokal). Gempa Padang-Mentawai 8 April 2005 terjadi saat bulan baru pada
tengah hari pukul 12:48 WIB. Gempa Yogya 26 Mei 2006 terjadi sekitar bulan baru
pada 05:53 WIB.

 

Bagaimana mekanisme kejadian gempa sekitar tengah malam atau
tengah hari dan pagi atau maghrib? Saya menduga itu terkait dengan gaya pasang
surut yang memicu gempa. Kejadian sekitar tengah malam atau tengah hari berarti
gaya pemicunya arahnya vertikal, semacam mengangkat salah satu bagian lempeng
sehingga terjadi pelepasan energi berupa gempa. Kejidian sekitar pagi atau
maghrib arah gaya pasang surutnya relatif mendatar ke arah Barat-Timur. Bisa
jadi, mekanisme pemicu pelepasan energi relatif lebih mudah untuk gaya vertikal
sehingga frekuensi kejadiannya lebih banyak. Ditambah lagi dengan persyaratan
arah patahan. Untuk gaya horizontal, arah patahan yang membentang Utara-Selatan
yang berpotensi terpicu oleh gaya yang arahnya Barat-Timur. Untuk gaya vertikal,
arah patahan tidak menjadi prasyarat.

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 8, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Badai Matahari

Q&A Sekitar Aktivitas Matahari

Terkait isu kiamat 2012 dan puncak
aktivitas matahari 2011-2012, 
http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!475.entry

beberapa wartawan mewawancarai
saya via telepon dan via e-mail. Berikut kutipan wawancara tertulis dan jawaban
saya untuk melengkapi catatan saya tersebut.

 

T: Apa yang dimaksud aktivitas
matahari?

J: Aktivitas matahari adalah
kondisi dinamik di matahari akibat perubahan medan magnetiknya yang terutama
ditunjukkan dengan variasi jumlah bintik matahari (sunspot), termasuk ledakan
matahari (flare), semburan gas matahari (prominensa atau filamen), dan lontaran
materi korona (CME, Coronal mass ejection).

 

T: Apa yang dimaksud dengan
siklus matahari? Bagaimana cara mengamati dan menentukan siklus matahari?

J: Jumlah bintik matahari
diketahui bervariasi dengan periode sekitar 11 tahun (kenyataannya antara 9 -
12 tahun). Variasi periodik ini disebut siklus matahari (solar cycle).
Pengamatan siklus matahari terutama dari bintik matahari dan pancaran gelombang
radio dari matahari (fluks radio matahari).
Bilangan bintik matahari
(sunspot number = R) didefinisikan dengan R=k (10g+s),
k faktor koreksi tergantung teleskop dan pengamatnya — untuk standarisasi
internasional, g jumlah kelompok bintik matahari, s jumlah bintik individual di
seluruh kelompok. R diamati setiap hari di seluruh dunia, termasuk di LAPAN,
kemudian akan digabungkan untuk mendapatkan R internasional.

 

T: Apa yang dimaksud dengan
aktivitas matahari maksimum?

J: Aktivitas matahari maksimum (solar maximum) terjadi saat puncak aktivitas
magnetiknya. Pada saat itu bilangan bintik matahari maksimum. Pada rentang
waktu 1900 – sekarang bilangan bintik matahari saat matahari maksimum sekitar
63 – 190.

 

T: Apa karakteristik matahari
pada titik maksimum?
Misalnya Flare itu apa? Sunspots? coronal mass
ejections (CME’s)?

J: Pada saat matahari maksimum karakteristik utamanya adalah jumlah bilangan
bintik matahari (sunspot) maksimum, radiasi matahari maksimum, fluks radio juga maksimum.
Pada saat itu frekuensi kejadian flare dan CME juga meningkat. Badai matahari
adalah kondisi ketika terjadi flare atau CME tersebut dan pasaa saat itu biasanya medan magnet bumi pun terganggu. Sehingga dapat dikatakan
bahwa saat matahari maksimum itu frekuensi kejadian badai matahari juga
mencapai maksimum. Bintik matahari (sunspot) adalah daerah yang relatif lebih dingin di matahari karena adanya daerah aktif magnet matahari, karena relatif lebih dingin tampaknya seperti bintik hitam di matahari. Flare adalah ledakan di matahari akibat peningkatan kompleksitas medan magnetik matahari, sangat terkait erat dengan keberadaan bintik matahari. CME (Coronal mass ejection) adalah lontaran massa korona matahari (lapisan terluar matahari), sering terkait dengan kejadian flare. Pada saat terjadi CME medan magnet matahari pun terbawa yang bisa menggang medan magnet bumi ketika arahnya berlawanan.

 

T: Adakah partikel yang dihasilkan saat terjadi titik maksimum tersebut?

J: Partikel berenergi yang
dilontarkan dari matahari terutama proton dan elektron.

 

T: Sebelumnya kapan itu terjadi? Diperkirakan akan terjadi kapan lagi?

Tahun-tahun puncak aktivitas matahari 1905, 1917, 1928, 1937, 1947, 1957,
1968, 1979, 1989, dan 2000. Diperkirakan siklus berikutnya (disebut siklus 24)
maksimum tahun 2013.

 

T: Dampak (badai matahari)? Bagi bumi dan ruang antar planet? 

J: Pada saat terjadi badai
matahari dengan lontaran proton dan elektron berenergi tinggi berpotensi
mengganggu satelit dan membahayakan astronot. Operasional satelit bisa
terganggu pada saat itu. Karena lontaran partikel itu juga membawa medan
magnetik matahari, kejadian itu juga bisa mengganggu medan magnetik bumi dan
ionosfer.  Gangguan pada medan magnetik bumi dapat menyebabkan terbukanya
celah medan magnetik bumi sekitar kutub sehingga partikel bermuatan itu (proton
dan elektron) dapat masuk ke atmosfer bumi yang dapat membentuk aurora dan
dapat menginduksi jaringan listrik di negara-negara dekat kutub. Tahun 1989
trafo di Quebec Kanada terkena induksi hingga terbakar dan mematikan listrik di
daerah yang luas. Induksi terhadap jaringan listrik tidak mungkin terjadi di
wilayah ekuator, seperti di Indonesia. Gangguan medan megnetik juga mengganggu
migrasi burung yang menggunakan medan magnetik sebagai pemandu arahnya.
Gangguan ionosfer mengganggu komunikasi radio gelombang pendek yang menggunakan
ionosfer sebagai pemantul, sehingga komunikasi radio bisa terputus.

 

T: Apa yang harus diwaspadai?
J: Pada saat itu
kemungkinan gangguan satelit mungkin saja terjadi sehingga semua fasilitas yang
memanfaatkan satelit bisa saja terganggu. Jadi, harus waspada kemungkinan
terganggunya siaran televisi, komunikasi telepon, dan jaringan ATM.Tetapi jangan dianggap akan terjadinya kekacauan, karena operator pun bisanya sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

 

T: Apa antisipasinya?

J: Untuk mengantisipasi kemungkinan dampak negatif itu, operator satelit
harus mengikuti terus prakiraan badai matahari dan mengambil langkah-langkah
pengamatan. Beberapa satelit sistemnya dimatikan pada saat terjadi badai
matahari untuk mengantisipasi kemungkinan kerusakan instrumennya yang peka
terhadap masuknya partikel bermuatan.

 

T: Mengapa pucak titik maksimum
dari aktivitas matahari yang diperediksi pada 2012 begitu heboh dari
sebelumnya?

J: Bisa jadi karena dikaitkan
dengan ramalan dalam kalender suku Maya bahwa 21 Desember 2012 akan terjadi
kiamat yang banyak dirujuk media massa. Secara saintifik dan akidah agama,
prakiraan kiamat tidak mempunyai dasar.

 

T: Apa yang dimaksud dengan
aktivitas matahari pada titik minimum? Karakteristik dari matahari pada titik
minimum?

J: Aktivitas matahari minimum
(solar minimum) adalah kondisi tenang matahari, yang ditandai dengan sedikitnya
atau tidak adanya bintik matahari di permukaannya. Pada saat itu tidak ada
flare, CME, dan radiasi matahari pun minimum.

 

T: Sebelumnya kapan itu terjadi? Diperkirakan akan terjadi kapan lagi?

J: Tahun-tahun matahari minimum 1901, 1913, 1923, 1933, 1944, 1954, 1964,
1976, 1986, dan 1996. Diperkirakan selanjutnya 2020.

 

T: Manfaatnya (kondisi minimum matahari)?

J: Pada saat matahari minimum
potensi gangguan badai matahari tidak ada. Sehingga aktivitas astronot dan
eksperimen antariksa yang memerlukan kondisi tenang banyak dilakukan. Pada saat
itu kerapatan atmosfer bumi juga minimum sehingga hambatan udara pada satelit
juga minimum, sehingga satelit orbit rendah yang diluncurkan saat matahari minimum
berpotensi lebih lama mengorbit.

 

 
Leave a comment

Posted by pada Januari 4, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.