RSS

Kalender Syamsiah Masehi

30 Jan

Milenium dalam Perspektif Matematis Astronomis

(Di muat Pikiran Rakyat 30 Desember 1999)

 

T. Djamaluddin

             Peneliti
LAPAN Bandung


Catatan: Sejarah Kalender Syamsiah Masehi perlu juga diketahui, terkait dengan kehidupan sehari-hari saat ini. Arsip tulisan lama ini masih relevan dalam melihat sejarah kalender masehi, jadi saya masukkan di blog dokumentasi saya.

            Memasuki tahun 2000
demam milenium melanda kehidupan kita sehari-hari. Tak terkecuali penamaan
suatu produk yang sering dikaitkan dengan milenium. Ada warna milenium, ada
model milenium, dan lainnya. Istilah milenium secara harfiah berasal dari
bahasa Latin mille (seribu) dan annum (tahun). Jadi itu berarti
seribu tahun. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, kecuali bila dikaitkan dengan
tahun kejadiannya: tahun 2000 atau 2001.

            Ada juga yang
mengaitkan istilah itu dengan sebagian teologi Kristiani (terutama pada masa
lalu), bahwa Yesus Kristus akan kembali ke bumi dan memerintah sebelum kiamat
selama seribu tahun. Tetapi, tampaknya hal itu sama sekali tidak berkaitan
dengan kedatangan tahun 2000. Sebab, tak seorang pun (baik yang mempercayai
teologi itu, apalagi yang tidak) yang mengetahui kapan peristiwa itu akan
terjadi.

            Bila kita perhatikan,
istilah milenium baru populer ketika muncul kekhawatiran masalah komputer millenium
bug
. Makna sebenarnya millenium bug adalah "kegagalan
[mesin/program akibat] milenium", bukan "kutu milenium" seperti
yang banyak ditulis media massa. Kini istilah populer itu beralih sebutan
menjadi masalah Y2K (year 2 kilo, tahun 2000) atau MKT 2000 (masalah komputer
tahun 2000).

            Milenium kini telah
menjadi kosa kata baru yang populer di masyarakat kita. Sebelumnya, ketika kita
menyambut tahun 2000 kita hanya menyebutkan menyambut abad 21. Tidak banyak
yang mempermasalahkan sebutan abad 21 untuk tahun 2000. Setidaknya kita sudah
punya pengalaman ketika mencanangkan tahun 1400 Hijriyah sebagai awal abad
ke-15, abad kebangkitan Islam.

            Saat ini muncul
perbedaan pendapat tentang sebutan milenium. Padahal, bila teliti, masalahnya
sama: tepatkah 1 Januari 2000 sebagai awal abad 21 atau awal milenium ke tiga?
Tampaknya sebutan milemiun yang datangnya seribu tahun sekali lebih menarik
perhatian dan keingintahuan banyak orang.

            Apakah pangkal semua
persoalan perbedaan pendapat ini? Saya berpendapat, pangkal masalah adalah
angka nol (0).

 

Nol

            Para perancang
komputer tidak mengantisipasi angka nol ketika mendefinisikan tahun dengan dua
bilangan terakhir. Pada sistem yang lama tersebut, misalnya tahun 1999 hanya
ditulis 99. Menjelang tahun 2000 baru disadari bahwa sistem lama masih terpakai
dan bisa berakibat fatal salah interpretasi data bila tahun 2000 hanya tertulis
00. Program-program yang menggunakan tanggal dari komputer akan menafsirkan
tahun 00 itu sebagai tahun 1900, bukan tahun 2000. Tentu bisa mengacaukan
data-data dan aktivitas yang terkait dengan tanggal dalam sistem komputer.

            Lain soal dengan
penetapan kelender. Orang dahulu menetapkan tahun untuk kalender, baik syamsiah
(berdasarkan matahari) maupun qamariyah (berdasarkan bulan), bermula dari angka
1. Hari pertama kalender Masehi adalah Sabtu, 1 Januari 1. Kalender Hijriyah
pun demikian, diawali 1 Muharram 1. (tetapi dimaknai berbeda, 1 H bermakna 1 tahun sejak hijrah — secara tidak langsung bermakna saat Nabi hijrah adalah tahun nol menurut definisi  sekarang). Sampai pertengahan abad 9 orang belum
mengenal angka nol. Jadi, bukan karena melupakan angka nol, melainkan karena
memang saat itu belum tahu.

            Tidak diketahui sejak
kapan angka nol ditemukan. Tetapi, dokumen sejarah mencatat naskah tertua yang
menuliskan bilangan nol berasal dari India yang ditulis pada tahun 876. Tetapi
yang berjasa memperkenalkan angka nol dalam makna ilmiah adalah para ilmuwan
Islam Arab yang mewarnai Eropa pada abad 12. Salah satu buktinya adalah
penggunaan sebutan zero dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa
Arab shifr yang berarti kosong.

            Penggunaan angka nol
telah dianggap sebagai salah satu penemuan cemerlang dalam sejarah matematika
yang berpengaruh luas dalam kebudayaan modern. Sebagian pakar berpendapat bahwa
hambatan serius yang dihadapi ahli matematika Yunani dan Romawi kuno dalam
perkembangan ilmiahnya adalah ketiadaan simbol nol.

            Angka Romawi tidak mengenal angka nol. Bilangan dimulai
dengan satu yang dituliskan I. Sepuluh ditulis X, 50 dilambangkan dengan L, 100
dengan C, 500 dengan D, dan 1000 dengan M. Suatu bilangan besar dinyatakan
sebagai penambahan (diletakkan disebelah kanannya) atau pengurangan (diletakkan
disebelah kirinya) lambang-lambang tersebut. Jadi 1999 dituliskan sebagai 1000
+ 900 + 90 + 9 sebagai M+CM+XC+IX menjadi MCMXCIX. Memang tidak praktis,
kecuali untuk bilangan kelipatan sederhana lambang-lambang tersebut, seperti
2000 yang cukup dituliskan MM.

            Kebudayaan Barat yang
belum tersentuh budaya Islam menggunakan angka Romawi tersebut sampai abad 14.
Sedangkan Spanyol dan wilayah Eropa lainnya yang bersinggungan dengan budaya
Islam sejak abad 12 telah secara luas menggunakan sistem angka Arab (seperti
yang kita kenal sekarang: 0, 1, 2,…).

 

Sejarah

            Angka nol menjadi
masalah juga dalam menelusuri sejarah masa lampau. Ada keterputusan ungkapan
tahun sebelum masehi dan sesudah masehi karena tidak dikenalnya tahun nol.
Urutan tahun di sekitar pergantian sistem kalender masehi adalah tahun 2 SM
(sebelum Masehi), 1 SM, 1 M, 2 M, dan seterusnya. Penulis sejarah matematika,
dengan menggunakan notasi matematis menuliskan urutan tahun tersebut sebagai
tahun -2, -1, 1, 2, dan seterusnya.

            Astronomi sebagai ilmu
yang berperan menelusur waktu kejadian di masa lampau tidak menggunakan notasi
metematis seperti itu. Secara astronomi, tahun 1 SM dianggap sebagai tahun 0
untuk memudahkan perhitungan waktu dalam penelusuran balik kejadian masa lampau.

            Kalender Masehi
berakar dari kalender qamariyah Romawi yang semula mempunyai 10 bulan. Kalender
Romawi ini berawal pada Maret dengan bulan ke tujuh, delapan, sembilan, dan
sepuluh disebut September, Oktober, November, dan Desember. Penambahan bulan
Januari dan Februari sebagai bulan ke-11 dan ke-12 terjadi sekitar tahun 700
SM.

            Kemudian terjadi lagi
perubahan dari sistem qamariyah menjadi syamsiah seperti yang kita kenal
sekarang, dengan jumlah hari setiap bulan 30 atau 31 hari, kecuali Februari 28
hari. Hari pertama setiap bulan disebut Kalendae (inilah asal mula sebutan
"kalender"). Belum dikenal nama-nama 7 hari dalam sepekan.

            Perubahan sistem
qamariyah ke syamsiah tidak dilakukan mendadak. Penyesuaiannya menggunakan
sistem campuran dengan penambahan hari untuk penyesuaian dengan musim.
Penambahan itu tidak beraturan. Kadang-kadang Kaisar memperpanjang atau
memperpendek kalender semaunya. Masa itulah yang dikenal sebagai masa yang
membingungkan untuk menelusur sejarah masa lampau.

            Untuk menghilangkan
kebingungan itu, Kaisar Julius melakukan reformasi kalender atas saran
penasihatnya astronom Sosigense pada tahun 46 SM. Reformasi itu menetapkan tiga
hal. Pertama, vernal equinox (awal musim semi, saat malam dan siang sama
panjangnya) ditetapkan 25 Maret dengan menjadikan tahun 46 SM lebih panjang 85
hari. Kedua, awal tahun ditetapkan 1 Januari 45 SM. Ke tiga, menetapkan jumlah
hari dalam satu tahun 365 hari, kecuali setiap tahun ke empat menjadi tahun
kabisat dengan penambahan hari pada bulan Februari.

            Penetapan awal musim
semi 25 Maret ini berdampak juga pada penetapan 25 Desember sebagai titik balik
utara. Pada saat itu posisi matahari berbalik dari titik paling utara menuju
selatan. Maka 25 Desember dirayakan masyarakat Romawi sebagai hari Dies Natalis
Solis Invicti
(hari kelahiran Matahari yang tak terkalahkan). Tanggal
inilah yang kemudian dianggap sebagai tanggal kelahiran Yesus Kristus (hari
Natal), karena memang tak ada catatan sejarah tanggal pastinya kelahiran Nabi
Isa tersebut.            

            Penetapan tahun
Masehi baru dilakukan pada tahun 532 M atas usulan rahib Denys le Petit.
Berdasarkan penelitiannya, dia menyimpulkan tahun kelahiran Nabi Isa bertepatan
dengan tahun Romawi 753. Maka tahun Romawi 753 tersebut ditetapkan sebagai
tahun 1 Masehi. Walaupun belakangan kalangan gereja menemukan bukti lain bahwa
kelahiran Nabi Isa sebenarnya beberapa tahun sebelum itu, berdasarkan
naskah-naskah tentang kematian Herod (penguasa Palestina pada Zaman Nabi Isa).

           

Milenium

            Astronom sebenarnya
tidak peduli dengan istilah milenium. Karena dalam astronomi kronologi kejadian
umumnya dinyatakan dalam hari Julian (Julian day) yang didefinisikan bermula
dari tengah hari 1 Januari 4713 SM. Penetapan awal periode ini pun sebenarnya
tidak punya arti astronomis, tetapi sekadar memenuhi siklus dalam sistem
kalender lama: siklus metonik (19 tahunan) serta siklus dalam kalender Romawi
indiksi (15 tahun) dan dominis (28 tahun).

            Siklus metonic berasal
dari sistem kalender Yunani dan Arab kuno (Babilonia dan sekitarnya) bahwa 19
tahun syamsiah sama dengan 235 bulan qamariyah. Sedangkan siklus dominis 28
tahun, tampaknya berasal dari keberulangan kalender Julian dengan susunan hari
yang sama. Pembagian sepekan menjadi tujuh hari baru masuk Eropa sekitar abad
ke-3, diadopsi dari tradisi Yahudi dan Arab kuno. Jumlah hari dalam 28 tahun
itu (28 x 365,25 hari) sama dengan 1461 pekan. Belum diketahui alasan siklus
indiksi.

            Dengan menggunakan
hari Julian tersebut 1 Januari tahun 1 dinyatakan sebagai hari ke 1.721.423,5.
Sedangkan 1 Januari 2000 adalah hari ke 2.451.544,5. Jadi kalender Masehi
sampai saat tahun baru 2000 telah menjalani 730.121 hari. Itu berarti, andaikan
sejak awal menggunakan sistem kalender Gregorian seperti yang saat ini berlaku,
1 Januari 2000 semestinya baru tanggal 2 Januari 1999.

            Sepanjang sejarah
kalender Masehi telah terjadi dua kali reformasi. Pertama, tahun 325 M ketika
vernal equinox ternyata telah bergeser dari 25 Maret menjadi 21 Maret. Tetapi,
tidak terjadi pergeseran hari, hanya ditetapkan tanggal baru untuk vernal
equinox, yaitu 21 Maret. Ini berpengaruh pada penetapan hari besar Kristiani.
Paskah ditentukan setiap hari Minggu pertama setelah purnama pada atau sesudah
vernal equinox. Itu berarti berpengaruh juga pada penetapan hari Wafat Isa
Almasih dan hari Kenaikan Isa Almasih.

            Reformasi ke dua pada
1582 disebut reformasi Gregorian. Karena satu tahun syamsiah rata-rata 365,2422
hari, sedangkan kalender Julian menetapkan rata-rata 365,25 hari, awal musim
semi saat itu diketahui telah bergeser jauh menjadi tanggal 11 Maret. Maka
dilakukan reformasi dalam dua hal agar awal musim semi kembali menjadi tanggal
21 Maret.

            Reformasi Gregorian
pertama menghapuskan 10 hari dari tahun 1582 dengan menetapkan hari Kamis 4
Oktober langsung menjadi hari Jumat 15 Oktober.  Ke dua, rata-rata satu tahun ditetapkan 365,2425 hari. Caranya,
tahun kabisat didefinisikan sebagai tahun yang bilangannya habis dibagi empat,
kecuali untuk tahun yang angkanya kelipatan 100 harus habis dibagi 400. Dengan
aturan tersebut tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan lagi dianggap sebagai tahun
kabisat. Tahun 2000 adalah tahun kabisat.

            Ketika istilah
milenium yang berawal dari masalah komputer mulai memasyarakat, orang mulai
bertanya, tepatkah 1 Januari 2000 disebut sebagai awal Milenium ke tiga. Para
astronom yang ditanya tentu akan mengacu pada sejarah. Karena milenium berarti
kurun waktu seribu tahun, sedangkan milenium pertama dimulai 1 Januari tahun 1,
maka milenium ke-3 semestinya 1 Januari 2001.

            Tetapi, di masyarakat
terlanjur menggunakan istilah milenium dalam konteks seperti millenium bug,
sekadar melihat angkanya. Kalau demikian lupakan sejarah, lihatlah pada angka
tahunnya. Astronom pun kemudian ditanya, mengapa angka 2000 sudah dianggap
sebagai milenium ke-3 atau abad 21. Secara astronomi hal itu masih dapat
dibenarkan.

            Dalam astronomi suatu
tanggal lazim dituliskan sebagai fraksi tahun. Pukul 00:00 1 Januari 2000 bila
ditulis dengan desimal menjadi tahun 2000,0. Sedangkan pukul 00:00 23 Januari
2000 dapat dinyatakan sebagai tahun 2000,06284 (dari 2000,0 + 23/366, karena
tahun 2000 berjumlah 366 hari). Karenanya setiap tanggal sesudah 1 Januari 2000
dapat dinyatakan dengan angka yang lebih besar dari 2000. Itu berarti tidak
termasuk lagi sebagai abad 20 atau milenium 3. Jadi, mestinya sudah boleh
dinyatakan sebagai bagian dari abad 21 atau milenium 3. Kalau demikian,
beralasan juga untuk menetapkan 1 Januari 2000 sebagai awal abad 21 atau
milenium 3.

 

Tentang tdjamaluddin

Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan 1, SMP Negeri 2, dan SMA Negeri 2. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis "UFO, Bagaimana menurut Agama" yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 - 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisik. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung dan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag RI dan Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY – World Assembly of Muslim Youth -- di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
Leave a comment

Posted by pada Januari 30, 2009 in Hisab-Rukyat

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.