RSS

Arsip Bulanan: Februari 2009

Kiamat 2012?

Ramalan Bencana: Meresahkan namun Tak Berdasar


Catatan: Ahad, 22 Februari 2009, SCTV menayangkan acara "Kasak-Kusuk" tentang Kiamat 21 Desember 2012. Ada aspek sains yang diisi wawancara dengan Kapus Sains Antariksa dan Peneliti antariksa dari LAPAN, namun isinya terpenggal dan diambil sisi sensasinya saja tentang potensi dampak aktivitas matahari maksimum 2011 – 2012 dan dampak kepadatan sampah antariksa yang meningkatkan potensi tabrakan satelit. Gambar-gambar ilustrasi cuaca antariksa dan tabrakan satelit dijadikan ilustrasi bencana antariksa. Lalu bagian dominan adalah ramalan Ki Gendeng Pamungkas dan Mama Lorent tentang bencana 2012. Kata Ki Gendeng, akan ada beberapa gunung meletus dan dan beberapa kejadian tsunami dalam waktu satu tahun itu. Mama Lorent mengatakan tidak dapat menerawang melebihi tahun 2012 yang menggiring kesan pemirsa seolah dunia berakhir 2012. Salah seorang anak indigo (dengan ramalannya yang tak kalah bikin resah) ditampilkan dan dikaitkan dengan manusia super yang mungkin akan menggantikan generasi manusia sekarang. Dua ulama yang ditampilkan tampaknya juga hanya diambil bagian komentarnya yang sejalan dengan tema kasak-kusuk: kiamat. Para artis ditampilkan sebagai bumbu dengan beragam komentar khas artis.

Lalu, bagaimana sains memandang ramalan tentang bencana atau kiamat 2012? Sejauh prakiraan saintifik, tidak ada fenomena alam yang mengkhawatirkan. Tidak ada tumbukan Planet Nibiru (Nama yang tidak dikenal dalam dunia astronomi) dengan Bumi. Tidak ada konfigurasi planet atau matahari – pusat galaksi yang berdampak pada terjadinya bencana di bumi. Tidak ada badai matahari yang merusakkan bumi. Badai matahari adalah kejadian biasa yang sering terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan saat matahari puncak (sebelumnya 1979, 1989, 2000 dan diperkirakan berikutnya 2012-2013).

Ramalan bencana yang mengkhawatirkan semacam itu sempat juga beredar menjelang tahun 2005. Bahkan ada ramalan bahwa 5 Mei 2000 (05-05-00) adalah saat terjadinya kiamat. Kini ada juga yang menyebut angka istimewa 21-12-12 sebagai hari kiamat. Terkait dengan ramalan yang meresahkan itu, berikut ini tulisan lama saya menjelang 05-05-00 yang lalu. Sebelumnya saya juga menulis di Republika 9 April 1995, "Astronomi Membantah Astrologi".

======================================================================================================================

Bedakan
Astronomi dan Astrologi

 

T.
Djamaluddin

Peneliti  Antariksa, LAPAN Bandung

            Orang awam kadang tidak bisa
membedakan antara astronomi dan astrologi. Secara mudah kadang keduanya
difahami sebagai ilmu bintang. Padahal jelas sekali bedanya, terutama dalam hal
tafsir atas suatu fenomena langit. Nah, soal tafsir inilah yang sangat rawan
dalam menimbulkan keresahan. Orang awam kadang tidak bisa membedakan mana
tafsir astrologi dan mana tafsir astronomi.

            Astrologi adalah ilmu yang mempelajari
pergerakan planet, bulan, matahari, dan bintang-bintang yang diyakini berkaitan
dengan nasib manusia, baik secara individu maupun masyarakat. Sedangkan
astronomi adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisik, kimiawi, dan evolusi
benda-benda langit tanpa kaitan dengan nasib manusia saat ini. Pokoknya bila
fenomena alam dikaitkan dengan nasib, itu pasti bukan tafsir astronomi, mungkin
tafsir astrologi. Mitos tentang kaitan kemunculan komet dengan pergantian raja
atau bencana atau kaitan gerhana dengan nasib calon bayi di kandungan bukanlah
tafsir astronomi. Kepercayaan itu terkait dengan astrologi.

            Masih ingat geger ramalan bencana 5
Mei 2000 lalu? Fenomena astronomi pengelompokan matahari, bulan, dan lima
planet terang pada 5 Mei 2000 telah menghangatkan berita media massa dengan
ramalan adanya bencana. Bencana tidak terjadi. Tetapi, ada satu hal penting
yang luput dari perhatian awam: berita media massa telah mencampuradukkan
fenomena astronomi dengan ramalan astrologi.

            Istilah superkonjungsi tidak dikenal
astronomi, tetapi hanya ada dalam terminologi astrologi. Konjungsi dalam
pengertian astronomi adalah posisi dua benda langit yang segaris bujur dalam
penampakannya di langit. Dalam bahasa hisab, dikenal ijtimak untuk konjungsi
bulan dan matahari. Pada saat itu terjadi bulan baru dan mungkin juga terjadi
gerhana matahari. Secara astronomi mustahil terjadi konjungsi yang melibatkan
lebih dari dua benda langit.

            Namun dalam pengertian astrologi,
konjungsi tidak harus segaris bujur. Ada toleransi (disebut "orb")
antara 8-9 derajat, mungkin juga lebih. Karenanya pengelompokan dua planet atau
lebih dalam sektor geosentik yang sempit sering dianggap konjungsi. Bila
melibatkan banyak planet disebut superkonjungsi.

 

Tafsir Astrologi


            Secara astrologi, pengaruh paling
kuat benda-benda langit pada kehidupan manusia di bumi adalah pada saat terjadi
konjungsi tersebut. Ramalan bencana 5 Mei 2000 akibat superkonjungsi sepenuhnya
hasil tafsiran astrologi, bukan astronomi. Ramalan bencana alam atau bencana
sosial, dilakukan oleh cabang astrologi yang disebut astrologi duniawi
(mundane). Cabang astrologi ini memfokuskan perhatian pada pengaruh benda-benda
langit pada kondisi bangsa, partai politik, serta aset-aset tak hidup
(bangunan, kendaraan). Astrologi populer yang berkaitan dengan watak seseorang
dan ramalan nasibnya (disebut astrologi natal), juga memperhatikan masalah
konjungsi tersebut.

            Di Indonesia pada tahun 1995 seorang
tokoh paranormal risau dengan perhitungan astrologinya yang menyatakan posisi
planet Uranus dan Neptunus dalam keadaan segaris. Katanya, keadaan ini bisa
menyebabkan adanya chaos, kekacauan di alam dan masyarakat. Ramalan tentang
chaos pada tahun 1995 didasarkan pada informasi astrologi bahwa  planet Saturnus-Uranus (pada bagian lain
berita disebutkan Uranus-Neptunus) berada pada posisi segaris yang berlangsung
selama lima tahun. Menurut data astronomi pernyataan itu tidak benar. Tahun
1995 ketiga planet itu tidak berada pada posisi segaris. Hanya planet Uranus
dan Neptunus yang berdekatan, tetapi tidak segaris (berbeda sekitar 5 derajat).
Planet Saturnus dan Uranus berada pada posisi segaris dengan matahari pada
tanggal 9 Juni 1988 pada bujur 268o55′. Dan planet Uranus dan Neptunus berada
pada  posisi segaris dengan matahari pada
tanggal 21 April 1993 pada bujur 289o16′. Namun nalar astrologi berbeda dari
argumentasi astronomi.

            Tahun 1974 John R. Gribbin and
Stephen H. Plagemann menerbitkan buku "The Jupiter Effect" yang
meramalkan bakal terjadinya bencana pada tahun 1982 akibat berkelompoknya semua
planet pada satu sektor yang sama. Memang pada saat itu semua planet dari
Merkurius sampai Pluto berkumpul pada sektor dengan rentang 95 derajat, sektor
paling sempit selama abad 20. Kemudian sekitar tahun 1997-an Richard Noone mempublikasikan
buku "5/5/2000 Ice: the Ultimate Disaster" yang bercerita tentang
ramalan bencana pada 5 Mei 2000. Tulisan Noone inilah yang tampaknya mewarnai
cerita-cerita di media massa tahun lalu.

            Ramalan astrologi mundane yang
paling terkenal adalah karya Nostradamus. Dengan nama asli Michel de Nostradame
(1503-1566), Nostradamus yang pernah menjadi dokter istana Raja Perancis
Charles IX mempublikasikan bukunya "Les Centuries" pada 1555. Banyak
peristiwa besar dikaitkan orang dengan ramalan Nostradamus, seperti perang
dunia I dan II serta perang teluk Irak-Kuwait yang diduga bisa memicu perang
dunia III.

            Kepanikan massa akibat berita yang
menyesatkan tentang segarisnya planet-planet pernah terjadi pada tahun 1962.
Pada superkonjungsi 4 Februari 1962 (5 Februari waktu Indonesia) orang-orang
berkumpul di Observatorium Griffith (Los Angeles) menunggu informasi apa yang
akan terjadi. Mobil berderet hampir satu kilometer. Berita sensasional juga
berkembang di Amerika pada tahun 1982. Superkonjungsi 1982 dikabarkan akan
menghancurkan pantai barat Amerika dan memusnahkan jutaan orang. Bencana itu
tidak terjadi, tetapi sekian banyak orang dibuatnya ketakutan dengan ramalan
itu. Bahkan ada yang meminta nasihat astronom perlu tidaknya pindah ke daerah
lain. Planetarium Denver menerima 130 telepon dalam lima jam dari orang-orang
yang ketakutan.

Pada 1998 ramalan
Nostradamus juga sempat merepotkan para astronom di Observatorium Griffith.
Setelah penayangan  film "The Man
Who Saw Tomorrow" yang bercerita tentang Nostradamus, banyak orang
menelpon observatorium menanyakan kapan terjadinya planet-planet segaris yang
akan menyebabkan gempa. Ternyata gempa memang tidak terbukti terjadi.

Tafsir astrologi
tentang fenomena astronomi sering mengundang sensasi. Dengan makin mudahnya
penyebaran informasi bila tanpa disertai rasionalitas berfikir, di negara maju
sekali pun ramalan-ramalan bencana seperti itu cukup membuat panik banyak
orang. Tidak tampaknya dampak sosial di Indonesia terhadap ramalan-ramalan
bencana tersebut belum tentu berarti masyarakat telah berfikir rasional, tetapi
mungkin karena penyebaran informasinya tidak seluas di negara-negara maju.

 

Tafsir Astronomi


            Superkonjungsi dalam terminologi
astronomi lebih tepat disebut pengelompokan planet-planet dalam suatu sektor
tertentu. Pengelompokan planet-planet pada 5 Mei 2000 lalu telah dihitung oleh
Jean Meeus, pakar matematika astronomi dari Belgia,  yang menuliskannya dalam majalah astronomi Sky and Teleskop
(1961). Berkelompoknya matahari, bulan, dan 5 planet utama lainnya (dalam
konsep lama semuanya dianggap planet) dalam rentang 100 tahun sebenarnya telah
terjadi pada  5 Februari 1962 dan 5 Mei
2000, kemudian akan terjadi lagi pada 9 September 2040.

            Dari segi astronomi, tidak ada hal
yang istimewa dengan berkelompoknya planet-planet tersebut.  Mungkin satu-satunya hal yang menarik adalah
bila kejadiannya malam hari. Pengelompokan banyak planet dalam satu wilayah
langit yang sempit sangat menarik bagi penggemar astrofotografi. Selain hal
itu, sama sekali tidak ada alasan logis yang bisa menjelaskan mekanisme kaitan
antara susunan planet tersebut dengan bencana di bumi.

            Ada tiga hal yang perlu dikaji
sebelum menyimpulkan dampak benda langit pada bumi: efek pasang surutnya,
radiasinya, dan pancaran partikelnya. Efek pasang surut (pasut) sudah kita
kenal akibat gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan air laut pasang dan
surut secara periodik. Radiasi matahari berdampak besar pada bumi, baik dalam
kaitannya dengan komunikasi radio maupun fenomena cuaca dan iklim. Bila ada
peningkatan radiasi energi tinggi dari matahari, komunikasi radio gelombang
pendek bisa terputus. Pancaran partikel dari matahari berupa angin matahari
atau debu komet berdampak pada satelit-satelit yang mengorbit bumi.

            Adakah tiga hal tersebut terjadi
bila planet-planet berkelompok? Efek pasut planet-planet amat sangat kecil
dibandingkan dengan efek pasut bulan dan matahari.  Dengan memperhitungkan massa planet dan jaraknya pada suatu waktu,
dapat dihitung gaya pasutnya di permukaan bumi. Matahari saja yang sekitar 27
juta kali massa bulan, gaya pasutnya pada 5 Mei 2000 hanya sepertiga gaya pasut
bulan. Efek pasut matahari baru terasa pada saat bulan baru atau bulan purnama,
ketika gaya pasut bulan dan matahari saling memperkuat yang menyebabkan pasang
air laut menjadi lebih tinggi daripada biasanya.

Sedangkan efek pasut
planet-planet sangat kecil. Gaya pasut yang terbesar saja dari planet Jupiter,
hanya dua-per-sejuta kali gaya pasut bulan. Jadi efek pasut planet-planet
tersebut sama sekali tidak berdampak pada bumi.

            Planet-planet pun tidak memancarkan
radiasinya sendiri. Radiasi dari planet-planet tergantung pancaran radiasi
matahari. Demikian juga tidak ada pancaran partikel dari planet-planet yang
mencapai bumi. Jadi, sama sekali tidak beralasan untuk mengaitkan pengelompokan
planet-planet dengan bencana di bumi. Sama halnya tidak beralasan mengaitkan
penampakan komet dan gerhana dengan nasib manusia.

 

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 26, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Komet Lulin

Kau Datang untuk Pergi
T. Djamaluddin
Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sengaja judul saya buat puitis untuk menggambarkan komet Lulin, komet yang ditemukan oleh astronom Ye Quanzhi and Lin Chi-Sheng dari Obsevatorium Lu Lin di Taiwan pada 11 Juli 2007. Kode astronominya adalah C/2007 N3, artinya komet baru (C) yang ditemukan pada tahun 2007 pada tengah-bulanan ke-14 (dalam urutan abjad berarti N, yaitu akhir Juli), pada urutan ke-3. Semula objek tersebut dikira asteroid. Namun dalam pengamatan lanjutan ketika makin mendekati matahari mulai terlihat adanya koma, kepala komet yang terbentuk dari debu dan ion hasil penguapan dan ionisasi inti komet yang terdiri dari debu dan es. Semakin lama ekornya yang pendek mulai tampak dalam pengamatan dengan teleskop.

Hal yang menarik dari komet ini adalah orbitnya. Eksentrisitasnya 1,0002, artinya lengkungan orbitnya berbentuk hiperbola, yang mendekati parabola. Orbit hiperbola pada gerak benda langit dapat digambarkan secara puitis "kau datang untuk pergi", karena ini kedatangan yang pertama dan yang terakhir. Kemungkinan ia datang dari awan Oort yang sangat jauh (sekitar 50.000 Satuan Astronomi-SA, kira-kira 1 tahun cahaya, dari matahari/bumi) dan akan kembali ke dunianya yang amat dingin nu jauh di sana, mungkin juga terus melanglang buana keluar tata surya. Hal menarik kedua tentang orbitnya adalah inklinasinya 178 derajat. Artinya, orbitnya memang mendekati bidang orbit rata-rata planet di tata surya. Karenanya orbitnya tidak jauh dari ekliptika, posisi rasi-rasi yang kita kenal sebagai zodiak. Inklinasi lebih dari 90 derajat, artinya arahnya berkebalikan dari arah gerak planet-planet pada umumnya. Akibatnya, komet ini tampak bergerak relatif cepat di antara bintang-bintang, tidak seperti komet pada umumnya.

Komet Lulin mencapai titik terdekat dengan matahari (disebut perihelion) pada 10 Januari 2009 lalu pada jarak 1,2 SA (182 juta km). Diperkirakan akan melintas bumi pada jarak terdekat 0,41 SA (61 juta km) pada 24 Februari. Karena ini komet baru, sifat-sifatnya belum banyak diketahui, termasuk perkiraan kecerlangannya belum bisa dipastikan jauh-jauh hari sebelumnya. Perkiraan awal, pada saat mendekat bumi, kecerlangannya mencapai sekitar 4 – 5 magnitudo, artinya dapat terlihat dengan mata telanjang, seperti bintang yang agak redup. Tetapi prakiraan terakhir, tampaknya akan mengecewakan para pengamat, karena diprakirakan magnitudonya hanya 6 – 7 magnitodo, artinya di luar kemampuan mata manusia untuk melihat yang batasnya sekitar 6 magnitudo.

Kalau akan mengamat dengan alat bantu (binokuler atau teleskop), posisinya pada malam  23 Februari – 2 Maret berada sekitar rasi Leo. Pada malam 24 Februari posisinya dekat planet Saturnus. Dengan teleskop, komet Lu Lin tampak berwarna kehijauan karena kandungan ion-ionnya. Rasi Leo dan komet Lu Lin mulai tampak di langit timur sekitar pukul 21.00 WIB dan mencapai titik tertinggi sekitar pukul 01.00 dini hari, dan akan terbenam menjelang shubuh. Selanjutnya komet Lu Lin akan makin menjauh dan makin redup, menuju rasi Cancer dan Gemini.

Secara astrologi, dulu dan sekarang, kehadiran komet sering diinterpretasikan dengan naik tahta atau jatuhnya penguasa atau dengan kemungkinan bencana. Kini sudah ada situs yang sudah memuat ramalan astrologi kehadiran komet Lulin ini. Boleh percaya boleh tidak, tetapi secara ilmiah dan landasan keimanan, ramalan itu sama sekali tidak berdasar. Kita ambil yang pasti-pasti saja, kajian astronomi. Secara astronomi, kehadiran komet memang selalu menarik. Dengan mempelajari perilaku ekor kometnya, astronom dapat mempelajari angin matahari. Kemudian dengan mempelajari spektrumnya para astronom dapat mempelajari komposisinya, yang berarti juga mendapatkan informasi tentang komposisi bahan penyusun tata surya. Komet adalah fosil tata surya yang paling asli, yang bisa bercerita tentang asal usul tata surya kita.
 


 
Leave a comment

Posted by pada Februari 23, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tabrakan Satelit

Kekhawatiran Menjadi Kenyataan: Dua Satelit Bertabrakan

T. Djamaluddin

Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Space.com
http://www.space.com/news/090211-satellite-collision.html
memberitakan 
adanya tabrakan satelit aktif milik AS, satelit komunikasi Iridium
33 yang melayani telepon satelit, dengan sampah antariksa, satelit Cosmos 2251
milik Rusia pada 11 Februari 2009 pukul 23.55 WIB di atas Siberia. tabrak terjadi pada
ketinggian sekitar 790 km. Jaringan radar pemantau antariksa milik Departemen
Pertahanan AS mengkonfirmasi terjadinya tabrakan itu yang menghasilkan lebih dari 700 keping pecahan satelit. Deteksi radar pada setelah tabrakan menemukan adanya
505 keping pecahan Cosmos 2251 dan 194 keping pecahan Iridium 33. Pecahan yang lebih kecil yang tak terdeteksi radar jumlahnya jauh lebih banyak.Tabrakan ini makin menambah padatnya sampah antariksa. Ya, sampah antariksa
memang makin padat sehingga potensi tabrakan akan semakin besar (lihat "Sampah Anatriksa Makin Padat",
http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!132.entry). Sampai bulan Februari 2009 jumlah objek buatan manusia yang terdeteksi radar mencapai 13.157, hanya sekitar 3.340 berupa satelit aktif atau satelit sampah, selebihnya pecahan sampah roket atau satelit.

Kejadian tabrakan satelit ini sebenarnya tidak terpantau secara langsung. Awalnya,
operator Iridium 33 melaporkan hilang kontak dengan salah satu dari 66 jaringan satelit komunikasinya.. Setelah dianalisis dari data
radar ternyata Iridium 33 sudah tidak ada, diganti dengan pecahan-pecahan yang
banyak. Analisis orbit dan data radar menyimpulkan bahwa Iridium 33 bertabrakan
dengan COSMOS 2251.

Kejadian tabrakan dua satelit besar ini adalah peristiwa pertama kali.
Sebelumnya hanya dilaporkan tabrakan satelit mikro dengan sampah antariksa.
Dengan makin padatnya sampah antariksa, diperkirakan akan menambah potensi
tabrakan antariksa seperti itu. Ini tentu mengkhawatirkan para pemilik satelit,
karena investasi besar bisa saja hancur karena tabrakan oleh sampah di antariksa.

Satelit Iridium 33 yang bertabrakan itu
diluncurkan pada 1997 dengan bobot 560 kg. Sedangkan satelit Rusia yang
diluncurkan pada 16 Juni 1993 itu berbobot 900 kg. Sebelum tabrakan, satelit Cosmos
memang sudah tidak berfungsi, alias telah menjadi sampah, yang mengorbit dengan orbit polar berinklinasi 74,04 derajat. Satelit Iridium mempunyai
orbit polar (melintasi daerah sekitar kutub) dengan inklinasi 86,4 derajat setiap 100,6  menit dengan kecepatan
27.088 km/jam. Data orbit menunjukan bahwa Iridium 33 mengorbit pada ketinggian antara 776 – 779 km,
sedangkan orbit COSMOS 2251 antara 776 – 799 km, jadi kemungkinan tabrakan
terjadi pada ketinggian sekitar 776 – 779  km.
Pada saat kejadian Iridium sedang mengorbit dari arah India ke Siberia. Sementara COSMOS sedang mengorbit dari arah Eropa menuju Siberia. Lihat

http://www.obsat.com/images/Ir33coll_top.gif

http://www.obsat.com/images/Ir33coll_side.gif

Animasi tabrakan dan sebaran pecahan satelit bisa dilihat di

http://www.agi.com/corporate/mediaCenter/news/iridium-cosmos/

Adanya pecahan baru lebih dari 700 keping itu tidak mengkhawatirkan berdampak pada ISS (International Space Station) yang sedang dihuni beberapa orang astronot.
ISS mengorbit pada ketinggian 354 km, sedangkan pecahan satelit mengorbit pada
ketinggian 778 km. Satelit LAPAN-TUBSAT, milik Indonesia, yang mengorbit pada
ketinggian 630 km juga aman. Beberapa satelit penginderaan jauh yang mengorbit
sekitar 705 km mengkhawatirkan terkena dampak. Tetapi menurut saya,
kemungkinannya kecil. Pecahan satelit itu masih mengorbit di sekitar orbit asalnya,tetapi dalam formasi yang menyebar membentuk orbit baru karena inpuls tabrakan. Satelit yang terancam adalah yang orbitnya sekitar 778 km dan orbitnya berlintasan dengan orbit COSMOS 2251 atau Iridium 33.

 

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 12, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Patroli Langit


Mewaspadai
Asteroid dan Komet Pengancam Bumi

(Dimuat Pikiran Rakyat, 16 Maret 1997)

T. Djamaluddin

Peneliti Bidang
Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung


Catatan: Januari 2009 lalu astronom menemukan asteroid 2009 BD berdiameter  10 meter yang  melintas dekat bumi berjarak 644.000 km, hampir 2 kali jarak bumi-bulan. Asteroid ini tidak membahayakan bumi, namun ancaman asteroid yang orbitnya dekat bumi, tetap ada. Karenanya patroli langit terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi bencananya. Tulisan lama saya masih relavan dalam bahasan patroli langit tersebut.

           

            Akhir Januari 1997, NASA (badan
antariksa Amerika Serikat) mengumumkan ditemukannya dua anggota tata surya
baru: sebuah asteroid (planet kecil) yang diberi kode 1997 AC11 dan sebuah
komet yang diberi kode 1997 A1.

            Asteroid 1997 AC11 adalah keluarga
asteorid Aten yang orbitnya dekat dengan orbit bumi. Sedangkan komet 1997 A1
diperkirakan mencapai titik terdekat dengan bumi pada 6 Februari 1997 pada
jarak sekitar 350 juta km (2,3 kali jarak bumi-matahari).

            Penemuan itu dilaporkan oleh empat
astronom pengamat tata surya dari JPL (Jet Propulsion Laboratory):
Eleanor Helin, Steve Pravdo, David Rabinovitz, dan Ken Lawrence. Pengamatan
yang mereka lakukan sebenarnya merupakan bagian dari program patroli langit,
mencari asteroid dan komet yang mungkin akan mengancam bumi. Sistem pengamatan
otomatik terkomputerisasi yang digunakan diberi nama sistem penjejak asteroid
dekat bumi (The Near-Earth Asteroid Tracking – NEAT).

            Komponen utama sistem NEAT yang
berada di puncak Haleakala (Hawaii) itu terdiri atas sebuah teleskop
berdiameter 98 cm yang dilengkapi dengan kamera CCD (kamera elektronik yang
citranya diolah dengan komputer) yang sangat peka. Ukuran CCD-nya relatif
sangat besar, 4096 x 4096 piksel, jauh lebih besar daripada CCD yang dimiliki
kebanyakan observatorium saat ini.

            Dengan sistem otomatik yang sangat
peka dan mampu merekam medan langit yang luas, pengamatan itu sangat efektif
mencari asteroid dan komet baru, terutama untuk mendeteksi kalau-kalau ada yang
akan menghantam bumi. Selama bulan Januari 1997 saja berhasil teramati sekitar
700 asteroid. Sedangkan jumlah total objek tata surya yang berhasil diidentifikasi
sejak pengoperasiannya pada akhir 1995 lebih dari 9000 objek, setengahnya
merupakan objek baru.             Asteroid
1997 AC11 tergolong kelompok asteroid keluarga asteroid Aten yang jarang. Ini
adalah asteroid ke-24 dalam keluarga Aten selama 21 tahun pencarian. Asteroid
ini tampak sangat redup dengan magnitudo 21, seribu triliun kali lebih redup
daripada bintang paling redup yang dapat terlihat mata telanjang. Diameternya
diperkirakan sekitar 180 meter. Kemiringan bidang orbitnya terhadap bidang orbit
bumi sekitar 31 derajat. Waktu orbitnya mengitari matahari lebih cepat daripada
bumi, yaitu hanya 9,5 bulan.

            Komet 1997 A1 juga sangat redup,
bermagnitudo 19 (sepuluh triliun kali lebih redup dari pada bintang paling
redup yang teramati mata telanjang) ketika ditemukan. Komet ini bukan komet
periodik seperti komet Halley, karena orbitnya parabolik. Jadi hanya sekali ini
komet ini melintas mendekati matahari kemudian menjauh lagi ke luar tata surya.

 

Asteroid Pengancam
Bumi

            Asteroid keluarga Aten, seperti asteroid
1997 AC11, perlu diwaspadai karena setengah sumbu panjang orbitnya dekat dengan
bumi. Karena kesempatan untuk mendekati orbit bumi paling sering, asteroid
keluarga ini mempunyai kemungkinan terbesar untuk menabrak bumi daripada
keluarga asteroid lain di dekat bumi.

            Selain keluarga asteroid Aten,
asteroid yang orbitnya dekat bumi atau melintas orbit bumi adalah keluarga
Apollo dan keluarga Amor. Keluarga asteroid Apollo orbitnya melintasi orbit
bumi dengan setengah sumbu panjang orbitnya lebih jauh daripada orbit bumi.
Sedangkan keluarga asteorid Amor juga melintasi orbit bumi dengan orbit yang
lebih jauh dari pada asteroid Apollo. Jarak terdekat dengan matahari berada
dekat bumi tetapi jarak terjauhnya berada di dekat orbit planet Mars.

            Menurut perkiraan Eugene Shoemaker,
asteroid yang orbitnya mendekati orbit bumi ditaksir ada sekitar 1000-2000 buah
yang ukurannya lebih dari 500 meter. Setengahnya adalah keluarga asteroid
Apollo, hampir setengahnya keluarga asteroid Amor, dan hanya beberapa yang termasuk
keluarga asteroid Aten.

            Asal usul asteroid dekat orbit bumi
ini bisa berasal dari sabuk asteroid (kumpulan asteroid di antara orbit Mars
dan Jupiter), tetapi bisa pula dari inti komet yang telah mati. Menurut
perhitungan, kemungkinan tumbukan benda langit pada bumi sekitar setengahnya
berasal dari asteorid dan setengahnya berasal dari komet. Karena itu kedua
benda langit yang melintas dekat bumi itu tetap harus diwaspadai. Sejarah telah
memberikan pelajaran betapa hebatnya dampak tumbukan asteroid dan komet pada
bumi.

 

Asteroid Menabrak
Bumi

            Sebuah asteroid pernah menabrak Bumi
dan jatuh di Semenanjung Yukatan di tepi teluk Meksiko 65 juta tahun lalu.
Asteroid itu ditaksir berukuran sekitar 10 kilometer seberat setriliun ton. Ini
menyebabkan terbentuknya kawah raksasa berdiameter 180 km (hampir seluas Jawa
Barat), menyebabkan gelombang raksasa di laut Karibia, dan menghamburkan debu
ke atmosfer. Asteroid langsung menembus bumi sehingga sisa-sisanya tidak tampak
lagi.

            Energi ledakannya setara dengan
ledakan 5 miliar bom atom Hiroshima. Debu yang dihamburkan ke atmosfer ditaksir
sekitar 100 triliun ton berdasarkan ketebalan endapan debu bercampur Iridium di
seluruh dunia. Adanya logam Iridium yang jarang terdapat di Bumi, tetapi
melimpah pada asteroid menjadi kunci pembuka tabir rahasia bahwa benda langit
yang jatuh adalah asteorid.

            Debu-debu yang dihamburkan ke
atmosfer sedemikian tebalnya sehingga menghambat masuknya cahaya Matahari.
Hilangnya pemanasan Matahari menyebabkan Bumi dilanda musim dingin panjang yang
dikenal sebagai "musim dingin tumbukan" (impact winter).
Inilah yang diduga penyebab musnahnya hampir setengah makhluk hidup di Bumi,
termasuk Dinosaurus.

 

Komet Menabrak Bumi

            Pagi 30 Juni 1908 terjadi ledakan
besar di sekitar sungai Tunguska, Siberia Tengah, Rusia. Pukul 07:17 sebuah
bola api raksasa meluncur dari langit sangat cepat. Nampaknya jauh lebih besar
dari matahari tetapi lebih redup. Jejak di belakangnya tampak seperti ekor
berwarna biru. Belum sempat mencapai bumi, pada ketinggian sekitar 8 km
terjadilah ledakan dahsyat. Bumi terasa bergetar.

            Saksi mata pada jarak 80 km dari
pusat ledakan merasakan embusan angin panas dan terlempar dari kursinya. Suara
ledakannya terdengar dari jarak 800 km (kira-kira jarak lurus Serang – Surabaya).
Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar dan sekitar 2000 km persegi hutan
diratakan oleh hempasan gelombang kejut.

            Bukti-bukti yang ada menyatakan
bahwa terjadi ledakan hebat, gelombang kejutnya mampu merobohkan pepohonan pada
areal yang luas, hutan di daerah pusat ledakan terbakar, tetapi tidak ada kawah
yang terjadi di pusat ledakan itu. Bukti terbaru menunjukkan ditemukannya
butiran-butiran intan halus tersebar di sekitar pusat ledakan. Bukti-bukti itu
menunjukkan bahwa penyebab ledakan yang sangat mungkin adalah pecahan komet
yang menabrak Bumi.

            Komet sebagian besar terdiri dari es
(campuran air, metana, dan amoniak) dan sedikit butiran batuan halus. Karena
itu komet sering disebut sebagai tersusun dari es berdebu. Butiran batuan itu
mungkin juga mengadung intan seperti yang dijumpai pada meteorit. Ketika komet
menembus atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menimbulkan panas dan terlihat
seperti bola api raksasa. Es akan menguap. Uap dan debu akan tampak seperti
ekor pada bola api itu. Pengereman oleh atmosfer bumi dan pelepasan energi oleh
komet menyebabkan timbulnya ledakan hebat di atmosfer. Energi dari bola api itu
mampu membakar hutan di bawahnya dan gelombang kejut ledakkannya mampu
menumbangkan pepohonan pada area yang sangat luas. Sisa-sisa butiran intan pada
inti komet tidak terbakar dan jatuh ke bumi.

            Ditaksir komet itu berukuran 100
meter dengan berat sejuta ton dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik
(108.000 km/jam). Diduga pecahan itu berasal dari komet Encke. Menurut
perhitungan orbitnya, Bumi setiap tahun melintasi orbit komet Encke dua kali:
sekitar 2 Juli dan sekitar 1 November. Pada saat perjumpaan sekitar 2 Juli,
lintasan komet Encke berada di selatan Bumi dan komet datang dari arah
Matahari. Itulah yang menyebabkan pecahan komet yang jatuh di Tunguska pada 30
Juni 1908 nampak berasal dari arah tenggara karena pengaruh rotasi Bumi dan
tumbukan terjadi bukan pada malam hari.

 

Komet Swift-Tuttle

            Kabar tentang kemungkinan komet
Swift-Tuttle menabrak bumi bermula dari edaran IAU (International
Astronomical Union
) bernomor 5636, 15 Oktober 1992. Brian G. Marsden,
pemimpin biro pusat telegram astronomi di Cambridge, Massachusetts, mengumumkan
hasil perhitungannya bahwa komet Swift-Tuttle akan kembali lagi mencapai
perihelion pada 11 Juli 2126 dengan ketidakpastian 15 hari. Adanya
ketidakpastian itu karena selain gaya-gaya gravitasi, pergerakan komet juga
dipengaruhi oleh gaya-gaya lainnya yang merupakan dinamika mikronya yang tidak
diketahui dengan pasti.

            Andaikan prakiraan Marsden hanya
meleset kurang dari satu hari, seperti pada kehadiran Swift-Tuttle 1992, maka
tidak perlu khawatir terjadi tumbukan. Komet Swift-Tuttle akan melintas orbit
Bumi sebelum bumi sampai pada titik lintasan itu. Tetapi bila komet
Swift-Tuttle mencapai perihelion pada batas rentang prakiraannya, 26 Juli 2126,
hampir dipastikan komet itu akan bertemu bumi 19 hari kemudian. Pada tanggal 14
Agustus 2126 bumi tepat sampai pada titik persimpangan dengan orbit komet
Swift-Tuttle.

            Perjumpaan pada titik persimpangan
itu, yang dikhawatirkan merupakan tabrakan yang sangat dahsyat yang akan
membahayakan kehidupan di bumi. Tetapi, melihat rentang ketidakpastiannya yang
besar itu, manusia bisa bernafas lega karena kecil kemungkinannya terjadinya
tabrakan komet Swift-Tuttle dengan bumi.

            Lagi
pula, menurut perhitungan orbitnya, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak tepat
memotong orbit bumi. Menurut perhitungan saya, komet hanya melintas dekat bumi
pada jarak sekitar 1,8 juta km atau sekitar lima kali jarak bumi-bulan. Yang
terjadi bukan tabrakan. Manusia di bumi pada saat itu mungkin akan menyaksikan
pemandangan yang luar biasa. Komet dapat terlihat siang hari pada awal Agustus
dan hujan meteor Perseid (fenomena seperti bintang berjatuhan di langit utara)
yang luar biasa akan terlihat sepanjang malam.

            Jadi, komet Swift-Tuttle sebenarnya
tidak mengancam bumi. Bahaya dari langit yang sesunguhnya mungkin datang dari
asteroid dan komet yang sama sekali belum pernah terdeteksi sehingga belum
diketahui perilaku gerakan pada orbitnya. Dalam hal inilah pentingnya usulan
para astronom untuk melakukan patroli langit dengan teleskop besar. Bila semua
benda langit yang mungkin mengancam bumi berhasil diidentifikasikan, maka
langkah-langkah antisipasi bisa disiapkan.

 
Leave a comment

Posted by pada Februari 2, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.