RSS

Tabrakan Satelit

12 Feb

Kekhawatiran Menjadi Kenyataan: Dua Satelit Bertabrakan

T. Djamaluddin

Peneliti Utama Astronomi-Astrofisika, LAPAN

 

Space.com
http://www.space.com/news/090211-satellite-collision.html
memberitakan 
adanya tabrakan satelit aktif milik AS, satelit komunikasi Iridium
33 yang melayani telepon satelit, dengan sampah antariksa, satelit Cosmos 2251
milik Rusia pada 11 Februari 2009 pukul 23.55 WIB di atas Siberia. tabrak terjadi pada
ketinggian sekitar 790 km. Jaringan radar pemantau antariksa milik Departemen
Pertahanan AS mengkonfirmasi terjadinya tabrakan itu yang menghasilkan lebih dari 700 keping pecahan satelit. Deteksi radar pada setelah tabrakan menemukan adanya
505 keping pecahan Cosmos 2251 dan 194 keping pecahan Iridium 33. Pecahan yang lebih kecil yang tak terdeteksi radar jumlahnya jauh lebih banyak.Tabrakan ini makin menambah padatnya sampah antariksa. Ya, sampah antariksa
memang makin padat sehingga potensi tabrakan akan semakin besar (lihat "Sampah Anatriksa Makin Padat",
http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!132.entry). Sampai bulan Februari 2009 jumlah objek buatan manusia yang terdeteksi radar mencapai 13.157, hanya sekitar 3.340 berupa satelit aktif atau satelit sampah, selebihnya pecahan sampah roket atau satelit.

Kejadian tabrakan satelit ini sebenarnya tidak terpantau secara langsung. Awalnya,
operator Iridium 33 melaporkan hilang kontak dengan salah satu dari 66 jaringan satelit komunikasinya.. Setelah dianalisis dari data
radar ternyata Iridium 33 sudah tidak ada, diganti dengan pecahan-pecahan yang
banyak. Analisis orbit dan data radar menyimpulkan bahwa Iridium 33 bertabrakan
dengan COSMOS 2251.

Kejadian tabrakan dua satelit besar ini adalah peristiwa pertama kali.
Sebelumnya hanya dilaporkan tabrakan satelit mikro dengan sampah antariksa.
Dengan makin padatnya sampah antariksa, diperkirakan akan menambah potensi
tabrakan antariksa seperti itu. Ini tentu mengkhawatirkan para pemilik satelit,
karena investasi besar bisa saja hancur karena tabrakan oleh sampah di antariksa.

Satelit Iridium 33 yang bertabrakan itu
diluncurkan pada 1997 dengan bobot 560 kg. Sedangkan satelit Rusia yang
diluncurkan pada 16 Juni 1993 itu berbobot 900 kg. Sebelum tabrakan, satelit Cosmos
memang sudah tidak berfungsi, alias telah menjadi sampah, yang mengorbit dengan orbit polar berinklinasi 74,04 derajat. Satelit Iridium mempunyai
orbit polar (melintasi daerah sekitar kutub) dengan inklinasi 86,4 derajat setiap 100,6  menit dengan kecepatan
27.088 km/jam. Data orbit menunjukan bahwa Iridium 33 mengorbit pada ketinggian antara 776 – 779 km,
sedangkan orbit COSMOS 2251 antara 776 – 799 km, jadi kemungkinan tabrakan
terjadi pada ketinggian sekitar 776 – 779  km.
Pada saat kejadian Iridium sedang mengorbit dari arah India ke Siberia. Sementara COSMOS sedang mengorbit dari arah Eropa menuju Siberia. Lihat

http://www.obsat.com/images/Ir33coll_top.gif

http://www.obsat.com/images/Ir33coll_side.gif

Animasi tabrakan dan sebaran pecahan satelit bisa dilihat di

http://www.agi.com/corporate/mediaCenter/news/iridium-cosmos/

Adanya pecahan baru lebih dari 700 keping itu tidak mengkhawatirkan berdampak pada ISS (International Space Station) yang sedang dihuni beberapa orang astronot.
ISS mengorbit pada ketinggian 354 km, sedangkan pecahan satelit mengorbit pada
ketinggian 778 km. Satelit LAPAN-TUBSAT, milik Indonesia, yang mengorbit pada
ketinggian 630 km juga aman. Beberapa satelit penginderaan jauh yang mengorbit
sekitar 705 km mengkhawatirkan terkena dampak. Tetapi menurut saya,
kemungkinannya kecil. Pecahan satelit itu masih mengorbit di sekitar orbit asalnya,tetapi dalam formasi yang menyebar membentuk orbit baru karena inpuls tabrakan. Satelit yang terancam adalah yang orbitnya sekitar 778 km dan orbitnya berlintasan dengan orbit COSMOS 2251 atau Iridium 33.

 

 

Tentang tdjamaluddin

Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan 1, SMP Negeri 2, dan SMA Negeri 2. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis "UFO, Bagaimana menurut Agama" yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 - 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisik. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung dan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag RI dan Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY – World Assembly of Muslim Youth -- di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
Leave a comment

Posted by pada Februari 12, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.