RSS

Kiamat 2012?

26 Feb
Ramalan Bencana: Meresahkan namun Tak Berdasar


Catatan: Ahad, 22 Februari 2009, SCTV menayangkan acara "Kasak-Kusuk" tentang Kiamat 21 Desember 2012. Ada aspek sains yang diisi wawancara dengan Kapus Sains Antariksa dan Peneliti antariksa dari LAPAN, namun isinya terpenggal dan diambil sisi sensasinya saja tentang potensi dampak aktivitas matahari maksimum 2011 – 2012 dan dampak kepadatan sampah antariksa yang meningkatkan potensi tabrakan satelit. Gambar-gambar ilustrasi cuaca antariksa dan tabrakan satelit dijadikan ilustrasi bencana antariksa. Lalu bagian dominan adalah ramalan Ki Gendeng Pamungkas dan Mama Lorent tentang bencana 2012. Kata Ki Gendeng, akan ada beberapa gunung meletus dan dan beberapa kejadian tsunami dalam waktu satu tahun itu. Mama Lorent mengatakan tidak dapat menerawang melebihi tahun 2012 yang menggiring kesan pemirsa seolah dunia berakhir 2012. Salah seorang anak indigo (dengan ramalannya yang tak kalah bikin resah) ditampilkan dan dikaitkan dengan manusia super yang mungkin akan menggantikan generasi manusia sekarang. Dua ulama yang ditampilkan tampaknya juga hanya diambil bagian komentarnya yang sejalan dengan tema kasak-kusuk: kiamat. Para artis ditampilkan sebagai bumbu dengan beragam komentar khas artis.

Lalu, bagaimana sains memandang ramalan tentang bencana atau kiamat 2012? Sejauh prakiraan saintifik, tidak ada fenomena alam yang mengkhawatirkan. Tidak ada tumbukan Planet Nibiru (Nama yang tidak dikenal dalam dunia astronomi) dengan Bumi. Tidak ada konfigurasi planet atau matahari – pusat galaksi yang berdampak pada terjadinya bencana di bumi. Tidak ada badai matahari yang merusakkan bumi. Badai matahari adalah kejadian biasa yang sering terjadi sepanjang tahun dengan peningkatan saat matahari puncak (sebelumnya 1979, 1989, 2000 dan diperkirakan berikutnya 2012-2013).

Ramalan bencana yang mengkhawatirkan semacam itu sempat juga beredar menjelang tahun 2005. Bahkan ada ramalan bahwa 5 Mei 2000 (05-05-00) adalah saat terjadinya kiamat. Kini ada juga yang menyebut angka istimewa 21-12-12 sebagai hari kiamat. Terkait dengan ramalan yang meresahkan itu, berikut ini tulisan lama saya menjelang 05-05-00 yang lalu. Sebelumnya saya juga menulis di Republika 9 April 1995, "Astronomi Membantah Astrologi".

======================================================================================================================

Bedakan
Astronomi dan Astrologi

 

T.
Djamaluddin

Peneliti  Antariksa, LAPAN Bandung

            Orang awam kadang tidak bisa
membedakan antara astronomi dan astrologi. Secara mudah kadang keduanya
difahami sebagai ilmu bintang. Padahal jelas sekali bedanya, terutama dalam hal
tafsir atas suatu fenomena langit. Nah, soal tafsir inilah yang sangat rawan
dalam menimbulkan keresahan. Orang awam kadang tidak bisa membedakan mana
tafsir astrologi dan mana tafsir astronomi.

            Astrologi adalah ilmu yang mempelajari
pergerakan planet, bulan, matahari, dan bintang-bintang yang diyakini berkaitan
dengan nasib manusia, baik secara individu maupun masyarakat. Sedangkan
astronomi adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisik, kimiawi, dan evolusi
benda-benda langit tanpa kaitan dengan nasib manusia saat ini. Pokoknya bila
fenomena alam dikaitkan dengan nasib, itu pasti bukan tafsir astronomi, mungkin
tafsir astrologi. Mitos tentang kaitan kemunculan komet dengan pergantian raja
atau bencana atau kaitan gerhana dengan nasib calon bayi di kandungan bukanlah
tafsir astronomi. Kepercayaan itu terkait dengan astrologi.

            Masih ingat geger ramalan bencana 5
Mei 2000 lalu? Fenomena astronomi pengelompokan matahari, bulan, dan lima
planet terang pada 5 Mei 2000 telah menghangatkan berita media massa dengan
ramalan adanya bencana. Bencana tidak terjadi. Tetapi, ada satu hal penting
yang luput dari perhatian awam: berita media massa telah mencampuradukkan
fenomena astronomi dengan ramalan astrologi.

            Istilah superkonjungsi tidak dikenal
astronomi, tetapi hanya ada dalam terminologi astrologi. Konjungsi dalam
pengertian astronomi adalah posisi dua benda langit yang segaris bujur dalam
penampakannya di langit. Dalam bahasa hisab, dikenal ijtimak untuk konjungsi
bulan dan matahari. Pada saat itu terjadi bulan baru dan mungkin juga terjadi
gerhana matahari. Secara astronomi mustahil terjadi konjungsi yang melibatkan
lebih dari dua benda langit.

            Namun dalam pengertian astrologi,
konjungsi tidak harus segaris bujur. Ada toleransi (disebut "orb")
antara 8-9 derajat, mungkin juga lebih. Karenanya pengelompokan dua planet atau
lebih dalam sektor geosentik yang sempit sering dianggap konjungsi. Bila
melibatkan banyak planet disebut superkonjungsi.

 

Tafsir Astrologi


            Secara astrologi, pengaruh paling
kuat benda-benda langit pada kehidupan manusia di bumi adalah pada saat terjadi
konjungsi tersebut. Ramalan bencana 5 Mei 2000 akibat superkonjungsi sepenuhnya
hasil tafsiran astrologi, bukan astronomi. Ramalan bencana alam atau bencana
sosial, dilakukan oleh cabang astrologi yang disebut astrologi duniawi
(mundane). Cabang astrologi ini memfokuskan perhatian pada pengaruh benda-benda
langit pada kondisi bangsa, partai politik, serta aset-aset tak hidup
(bangunan, kendaraan). Astrologi populer yang berkaitan dengan watak seseorang
dan ramalan nasibnya (disebut astrologi natal), juga memperhatikan masalah
konjungsi tersebut.

            Di Indonesia pada tahun 1995 seorang
tokoh paranormal risau dengan perhitungan astrologinya yang menyatakan posisi
planet Uranus dan Neptunus dalam keadaan segaris. Katanya, keadaan ini bisa
menyebabkan adanya chaos, kekacauan di alam dan masyarakat. Ramalan tentang
chaos pada tahun 1995 didasarkan pada informasi astrologi bahwa  planet Saturnus-Uranus (pada bagian lain
berita disebutkan Uranus-Neptunus) berada pada posisi segaris yang berlangsung
selama lima tahun. Menurut data astronomi pernyataan itu tidak benar. Tahun
1995 ketiga planet itu tidak berada pada posisi segaris. Hanya planet Uranus
dan Neptunus yang berdekatan, tetapi tidak segaris (berbeda sekitar 5 derajat).
Planet Saturnus dan Uranus berada pada posisi segaris dengan matahari pada
tanggal 9 Juni 1988 pada bujur 268o55′. Dan planet Uranus dan Neptunus berada
pada  posisi segaris dengan matahari pada
tanggal 21 April 1993 pada bujur 289o16′. Namun nalar astrologi berbeda dari
argumentasi astronomi.

            Tahun 1974 John R. Gribbin and
Stephen H. Plagemann menerbitkan buku "The Jupiter Effect" yang
meramalkan bakal terjadinya bencana pada tahun 1982 akibat berkelompoknya semua
planet pada satu sektor yang sama. Memang pada saat itu semua planet dari
Merkurius sampai Pluto berkumpul pada sektor dengan rentang 95 derajat, sektor
paling sempit selama abad 20. Kemudian sekitar tahun 1997-an Richard Noone mempublikasikan
buku "5/5/2000 Ice: the Ultimate Disaster" yang bercerita tentang
ramalan bencana pada 5 Mei 2000. Tulisan Noone inilah yang tampaknya mewarnai
cerita-cerita di media massa tahun lalu.

            Ramalan astrologi mundane yang
paling terkenal adalah karya Nostradamus. Dengan nama asli Michel de Nostradame
(1503-1566), Nostradamus yang pernah menjadi dokter istana Raja Perancis
Charles IX mempublikasikan bukunya "Les Centuries" pada 1555. Banyak
peristiwa besar dikaitkan orang dengan ramalan Nostradamus, seperti perang
dunia I dan II serta perang teluk Irak-Kuwait yang diduga bisa memicu perang
dunia III.

            Kepanikan massa akibat berita yang
menyesatkan tentang segarisnya planet-planet pernah terjadi pada tahun 1962.
Pada superkonjungsi 4 Februari 1962 (5 Februari waktu Indonesia) orang-orang
berkumpul di Observatorium Griffith (Los Angeles) menunggu informasi apa yang
akan terjadi. Mobil berderet hampir satu kilometer. Berita sensasional juga
berkembang di Amerika pada tahun 1982. Superkonjungsi 1982 dikabarkan akan
menghancurkan pantai barat Amerika dan memusnahkan jutaan orang. Bencana itu
tidak terjadi, tetapi sekian banyak orang dibuatnya ketakutan dengan ramalan
itu. Bahkan ada yang meminta nasihat astronom perlu tidaknya pindah ke daerah
lain. Planetarium Denver menerima 130 telepon dalam lima jam dari orang-orang
yang ketakutan.

Pada 1998 ramalan
Nostradamus juga sempat merepotkan para astronom di Observatorium Griffith.
Setelah penayangan  film "The Man
Who Saw Tomorrow" yang bercerita tentang Nostradamus, banyak orang
menelpon observatorium menanyakan kapan terjadinya planet-planet segaris yang
akan menyebabkan gempa. Ternyata gempa memang tidak terbukti terjadi.

Tafsir astrologi
tentang fenomena astronomi sering mengundang sensasi. Dengan makin mudahnya
penyebaran informasi bila tanpa disertai rasionalitas berfikir, di negara maju
sekali pun ramalan-ramalan bencana seperti itu cukup membuat panik banyak
orang. Tidak tampaknya dampak sosial di Indonesia terhadap ramalan-ramalan
bencana tersebut belum tentu berarti masyarakat telah berfikir rasional, tetapi
mungkin karena penyebaran informasinya tidak seluas di negara-negara maju.

 

Tafsir Astronomi


            Superkonjungsi dalam terminologi
astronomi lebih tepat disebut pengelompokan planet-planet dalam suatu sektor
tertentu. Pengelompokan planet-planet pada 5 Mei 2000 lalu telah dihitung oleh
Jean Meeus, pakar matematika astronomi dari Belgia,  yang menuliskannya dalam majalah astronomi Sky and Teleskop
(1961). Berkelompoknya matahari, bulan, dan 5 planet utama lainnya (dalam
konsep lama semuanya dianggap planet) dalam rentang 100 tahun sebenarnya telah
terjadi pada  5 Februari 1962 dan 5 Mei
2000, kemudian akan terjadi lagi pada 9 September 2040.

            Dari segi astronomi, tidak ada hal
yang istimewa dengan berkelompoknya planet-planet tersebut.  Mungkin satu-satunya hal yang menarik adalah
bila kejadiannya malam hari. Pengelompokan banyak planet dalam satu wilayah
langit yang sempit sangat menarik bagi penggemar astrofotografi. Selain hal
itu, sama sekali tidak ada alasan logis yang bisa menjelaskan mekanisme kaitan
antara susunan planet tersebut dengan bencana di bumi.

            Ada tiga hal yang perlu dikaji
sebelum menyimpulkan dampak benda langit pada bumi: efek pasang surutnya,
radiasinya, dan pancaran partikelnya. Efek pasang surut (pasut) sudah kita
kenal akibat gravitasi bulan dan matahari yang menyebabkan air laut pasang dan
surut secara periodik. Radiasi matahari berdampak besar pada bumi, baik dalam
kaitannya dengan komunikasi radio maupun fenomena cuaca dan iklim. Bila ada
peningkatan radiasi energi tinggi dari matahari, komunikasi radio gelombang
pendek bisa terputus. Pancaran partikel dari matahari berupa angin matahari
atau debu komet berdampak pada satelit-satelit yang mengorbit bumi.

            Adakah tiga hal tersebut terjadi
bila planet-planet berkelompok? Efek pasut planet-planet amat sangat kecil
dibandingkan dengan efek pasut bulan dan matahari.  Dengan memperhitungkan massa planet dan jaraknya pada suatu waktu,
dapat dihitung gaya pasutnya di permukaan bumi. Matahari saja yang sekitar 27
juta kali massa bulan, gaya pasutnya pada 5 Mei 2000 hanya sepertiga gaya pasut
bulan. Efek pasut matahari baru terasa pada saat bulan baru atau bulan purnama,
ketika gaya pasut bulan dan matahari saling memperkuat yang menyebabkan pasang
air laut menjadi lebih tinggi daripada biasanya.

Sedangkan efek pasut
planet-planet sangat kecil. Gaya pasut yang terbesar saja dari planet Jupiter,
hanya dua-per-sejuta kali gaya pasut bulan. Jadi efek pasut planet-planet
tersebut sama sekali tidak berdampak pada bumi.

            Planet-planet pun tidak memancarkan
radiasinya sendiri. Radiasi dari planet-planet tergantung pancaran radiasi
matahari. Demikian juga tidak ada pancaran partikel dari planet-planet yang
mencapai bumi. Jadi, sama sekali tidak beralasan untuk mengaitkan pengelompokan
planet-planet dengan bencana di bumi. Sama halnya tidak beralasan mengaitkan
penampakan komet dan gerhana dengan nasib manusia.

 

 

Tentang tdjamaluddin

Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan 1, SMP Negeri 2, dan SMA Negeri 2. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis "UFO, Bagaimana menurut Agama" yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 - 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisik. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung dan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag RI dan Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY – World Assembly of Muslim Youth -- di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
Leave a comment

Posted by pada Februari 26, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.