RSS

Hujan Es (Q/A)

26 Mar
Hujan Es Turun Saat Pancaroba

Beberapa waktu lalu wartawan
"Kontan" mewawancarai saya secara tertulis dan laporannya telah
dimuat di "Kontan"(http://www.kontan.co.id/index.php/Epaper)
edisi Sabtu, 21 Maret 2009, halaman 22 (Iptek) berjudul "Kawasan Hijau
Lenyap, Turun Hujan ES". Berikut tanya jawab seputar hujan es di musim
pancaroba yang dieditulang dan dilengkapi, untuk menambah wawasan kita:

Tanya (T) Bagaimana proses terjadinya hujan es? Apa
yang menyebabkan terjadinya fenomena ini?

Jawab (J): Hujan es secara ilmiah
disebut "hail stone". Terjadinya dari proses updraft (gerakan udara
ke atas) pembentukan awan cumulonimbus yang menjulang tinggi seperti jamur.
Proses updraft disertai dengan udara basah dari bawah ketika mencapai ketiggian
dengan suhu di bawah nol derajat (sekitar ketinggian lebih dari 5.000 m) uap
air yang sangat dingin bertemu dengan inti kondensasi pembentuk awam yang
kemudian membentuk gumpalan es. Butiran es kemudian jatuh bersamaan dengan
hujan lebat yang kadang disertai dengan angin kencang atau puting beliung.
Kejadian ini potensial terjadi pada masim pancaroba saat ini karena angin
cenderung lemah dan berubah-ubah arah, sehingga pemanasan optimum yang
menyebabkan suhu relatif tinggi. Penguapan yang intensif diperkuat dengan
kondisi MJO (Madden-Julian Oscilation) yang mengindikasikan konveksi kuat.
Akibatnya udara hangat yang mengandung uap air didorong cepat ke atas mencapai
daerah yang sangat dingin.

T: Apakah dampak negatif/positif yg disebabkan oleh
fenomena in?

J:
Dampak negatifnya, tentu saja batu es tersebut dapat merusakkan genen
g
rumah, kendaraan, dan fasilitas lain, seperti pernah terjadi di Bandung yang
merusakkan beberapa rumah dan kaca mobil.


T: Setahu saya, fenomena ini jarang terjadi di
Indonesia atau negara-negara tropis lainnya. Benarkah itu?

J: Hujan es (hail stone) dapat
terjadi di mana pun, termasuk di daerah tropis selama ada proses updraft yang
aktif yang membawa udara basah mencapai daerah dingin yang memungkinkan
pembentukan es.

T: Belahan dunia mana saja yang seharusnya sering
mengalami hujan es? Kalau di Indonesia, selain Bandung, daerah mana saja yang
sudah dan sering mengalami fenomena ini?

J: Fenomena ini di wilayah lain
(di luar daerah tropis) biasanya terkait dengan kejadian badai. Tetapi di
Indonesia, kecenderungan akhir-akhir ini kejadiannya adalah di daerah yang
mengalami pemanasan intens dan lembat disertai dengan ketidakstabilan dinamika
atmosfer yang memicu updraft. Fenomena pemanasan kota menjadi salah satu
kemungkinan pemicu kejadian hujan es pada masa pancaroba Maret-April-Mei di
Bandung dan Jakarta akhir-akhir ini.

T: Dengan adanya hujan es, bagaimana hubungannya
dngan perubahan iklim di Indonesia, apakah semakin mengkhawatirkan?

J: Fenomena hujan es adalah
fenomena biasa yang biasa terjadi pada masa pancaroba. Fenomena sejenis adalah
fenomena puting beliung yang lebih terfokus pada pola sirkulasi udara lokal
yang menyebabkan putaran dan embusan angin cepat reaksi dari proses updraft.
Hal itu tidak perlu dikhawatirkan, tetapi perlu diwaspadai.

T: Gejala ap saja yang biasany mendahului sebelum
terjadinya fenomena in?

J: Fenomena hujan es dan puting
beliung adalah fenomena lokal dan prosesnya cepat, sehingga sulit diketahui
tanda-tandanya. Gejala pendahuluan kadang tidak disadari. Misalnya, siang yang
sangat terik dan lembab. Proses updraft (naiknya udara secara cepat ke atas)
tidak tampak, tetapi kita bisa segera melihat adanya awan yang tiba-tiba
membumbung tinggi dan gelap karena tebal menjulang tinggi. Pada saat itulah uap
air yang didorong cepat naik ke atas dan mencapai titik beku membentuk gumpalan
es. Bila beratnya sudah tak tertahan oleh gerak udara, maka batu-batu es
berjatuhan disertai dengan hujan deras dan angin.

T: Apakah hujan es ini ada hubungannya dengan
pemanasan global?

J: Hujan es saat ini tidak terkait dengan
pemanasan global (global warming),
kemungkinannya lebih terkait dengan pemanasan lokal, khususnya fenomena urban
heat island (pulau panas perkotaan). Tetapi, untuk masa depan potensi pengaruh pemanasan global semakin kuat. Frekuensi kejadian hujan es di daerah tropis kemungkinan meningkat. Dengan pemanasan global beberapa mekanisme hujan es akan diperkuat, antara lain dasar awan akan semakin rendah, sementara puncak awan semakin tinggi. Akibatnya ketebalan awan akan meningkat , updraft , dan pemompaan Ekman semakin cepat., yang berarti  intensitas hujan es, petir, dan puting beliung akan meningkat.

T: Kalau memang hujan es lebih banyak mengandung
kerugian, maka langkah-langkah pencegahan apa yang harus dilakukan?

J: Pencegahannya belum diketahui.
Tetapi meminimalisasi pemanasan kota dengan penghijauan diduga dapat mengurangi
proses konveksi (pergolakan udara) lokal yang memicu updraft intensif.

T: Batu esnya itu sebenernya layak dikonsumsi tidak
Pak?

J: Esnya karena terbuat dari uap
yang terkondensasi pada partikel-partikel yang umumnya bersifat polutan udara,
tentu tidak layak dikonsumsi.

 

Tentang tdjamaluddin

Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal Cirebon. Tradisi Jawa untuk mengganti nama anak yang sakit-sakitan, menyebabkan namanya diganti menjadi Thomas ketika umurnya sekitar 3 tahun, nama tersebut digunakannya sampai SMP. Menyadari adanya perbedaan data kelahiran dan dokumen lainnya, atas inisiatif sendiri nama di STTB SMP digabungkan menjadi Thomas Djamaluddin. Sejak SMA namanya lebih suka disingkat menjadi T. Djamaluddin. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Cirebon sejak 1965. Sekolah di SD Negeri Kejaksan 1, SMP Negeri 2, dan SMA Negeri 2. Baru meninggalkan Cirebon pada 1981 setelah diterima tanpa test di ITB melalui PP II, sejenis PMDK. Sesuai dengan minatnya sejak SMP, di ITB dia memilih jurusan Astronomi. Minatnya diawali dari banyak membaca cerita tentang UFO, sehingga dia menggali lebih banyak pengetahuan tentang alam semesta dari Encyclopedia Americana dan buku-buku lainnya yang tersedia di perpustakaan SMA. Dari kajian itu yang digabungkan dengan kajian dari Al Quran dan hadits, saat kelas I SMA (1979) dia menulis "UFO, Bagaimana menurut Agama" yang dimuat di majalah ilmiah populer Scientae. Itulah awal publikasi tulisannya, walaupun kegemarannya menulis dimulai sejak SMP. Ilmu Islam lebih banyak dipelajari secara otodidak dari membaca buku. Pengetahuan dasar Islamnya diperoleh dari sekolah agama setingkat ibtidaiyah dan dari aktivitas di masjid. Pengalaman berkhutbah dimulai di SMA dengan bimbingan guru agama. Kemudian menjadi mentor di Karisma (Keluarga Remaja Islam masjid Salman ITB) sejak tahun pertama di ITB (September 1981) sampai menjelang meninggalkan Bandung menuju Jepang (Maret 1988). Kegiatan utamanya semasa mahasiswa hanyalah kuliah dan aktif di masjid Salman ITB. Kegemarannya membaca dan menulis. Semasa mahasiswa telah ditulisnya 10 tulisan di koran tentang astronomi dan Islam serta beberapa buku kecil materi mentoring, antara lain Ibadah Shalat, Membina Masjid, dan Masyarakat Islam. Lulus dari ITB (1986) kemudian masuk LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung menjadi peneliti antariksa. Dan tahun 1988 - 1994 mendapat kesempatan tugas belajar program S2 dan S3 ke Jepang di Department of Astronomy, Kyoto University, dengan beasiswa Monbusho. Tesis master dan doktornya berkaitan dengan materi antar bintang dan pembentukan bintang. Namun aplikasi astronomi dalam bidang hisab dan rukyat terus ditekuninya. Atas permintaan teman-teman mahasiswa Muslim di Jepang dibuatlah program jadwal salat, arah kiblat, dan konversi kalender. Upaya menjelaskan rumitnya masalah globalisasi dan penyeragaman awal Ramadhan dan hari raya dilakukannya sejak menjadi mahasiswa di Jepang. Menjelang awal Ramadhan, idul fitri, dan idul adha adalah saat paling sibuk menjawab pertanyaan melalui telepon maupun via internet dalam mailing list ISNET. Amanat sebagai Secretary for Culture and Publication di Muslim Students Association of Japan (MSA-J), sekretaris di Kyoto Muslims Association, dan Ketua Divisi Pembinaan Ummat ICMI Orwil Jepang memaksanya juga menjadi tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Muslim di Jepang. Masalah-masalah riskan terkait dengan astronomi dan syariah harus dijawab, seperti shalat id dilakukan dua hari berturut-turut oleh kelompok masyarakat Arab dan Asia Tenggara di tempat yang sama, adanya kabar idul fitri di Arab padahal di Jepang baru berpuasa 27 hari, atau adanya laporan kesaksian hilal oleh mahasiswa Mesir yang mengamati dari apartemen di tengah kota padahal secara astronomi hilal telah terbenam. Kelangkaan ulama agama di Jepang juga menuntutnya harus bisa menjelaskan masalah halal-haramnya berbagai jenis makanan di Jepang serta mengurus jenazah, antara lain jenazah pelaut Indonesia. Saat ini bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) Bandung sebagai Peneliti Utama (Profesor Riset) Astronomi dan Astrofisik. Sebelumnya pernah menjadi Kepala Unit Komputer Induk LAPAN Bandung dan Kepala Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN dan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. Juga mengajar di Program Magister dan Doktor Ilmu Falak di IAIN Semarang. Terkait dengan kegiatan penelitiannya, saat ini ia menjadi anggota Himpunan Astronomi Indonesia (HAI), International Astronomical Union (IAU), dan National Committee di Committee on Space Research (COSPAR), serta anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Depag RI dan Provinsi Jawa Barat. Lebih dari 50 makalah ilmiah, lebih dari 100 tulisan populer, dan 5 buku tentang astronomi dan keislaman telah dipublikasikannya. Alhamdulillah, beberapa kegiatan internasional juga telah diikuti dalam bidang kedirgantaraan (di Australia, RR China, Honduras, Iran, Brazil, Jordan, Jepang, Amerika Serikat, Slovakia, Uni Emirat Arab, India, Vietnam, Swiss, dan Thailand) dan dalam bidang keislaman (konferensi WAMY – World Assembly of Muslim Youth -- di Malaysia). Beristrikan Erni Riz Susilawati, saat ini dikaruniai tiga putra: Vega Isma Zakiah (lahir 1992), Gingga Ismu Muttaqin Hadiko (lahir 1996), dan Venus Hikaru Aisyah (lahir 1999).
 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.