RSS

Arsip Bulanan: Maret 2010

Struktur Alam Semesta

Pancaran Inframerah: Menguak Struktur Alam Semesta

(Dimuat Pikiran Rakyat, 2 Okt 1995)

T. Djamaluddin

Peneliti Bidang Matahari dan
Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung

================================================================
Catatan:

Subhanallah. Bukti baru dari pengamatan teleskop antariksa Hubble mengungkapkan keberadaan “energi gelap” (energi yang belum diketahui hakikatnya) yang mempercepat pengembangan alam semesta. Isi alam semesta ini yang tampak hanya <1%, 73% energi gelap, dan sisanya “materi gelap” (materi tak tampak). http://www.skyandte…lescope.com/community/skyblog/newsblog/89139742.html

Tulisan lama saya ini — cerita tentang menguak struktur alam semesta dari survey kolaborasi bersama teman-teman di Univ. Kyoto tahun 1990-an  — masih relevan saya masukkan dalam dokumentasi blog saya untuk memberikan pemahaman awal tentang struktur alam semesta yang pengembangannya dipelajari dari gerak menjauh galaksi-galaksi. Kerja kolaborasi tsb makalahnya dapat dibaca di

http://articles.adsabs.harvard.edu/cgi-bin/nph-iarticle_query?1993MNRAS.262…79Y&amp;data_type=PDF_HIGH&amp;whole_paper=YES&amp;type=PRINTER&amp;filetype=.pdf

http://articles.adsabs.harvard.edu/cgi-bin/nph-iarticle_query?1993ApJS…89…57Y&amp;data_type=PDF_HIGH&amp;whole_paper=YES&amp;type=PRINTER&amp;filetype=.pdf

==============================================================


Komponen terkecil alam semesta dalam tinjauan skala besar adalah galaksi. Galaksi sendiri sebenarnya adalah kumpulan milyaran bintang. Tetapi dalam skala besar alam semesta, galaksi-galaksi itu hanya dipandang sebagai titik-titik yang tersebar di dalam ruang yang amat besar. Dari pengamatan jarak dan sebaran galaksi-galaksi diketahui bahwa galaksi-galaksi itu berkelompok membentuk gugusan galaksi (Cluster). Daerah kosong yang tidak mengandung galaksi disebut kehampaan (void). Tetapi ternyata tidak semua daerah langit berhasil dipetakan. Ada zona gelap yang masih merupakan wilayah kabur yang belum banyak diketahui struktur sebaran galaksi pada arah itu. Ini menantang astronom untuk berusaha menembusnya, diantaranya dengan mendeteksi pancaran sinar inframerah dari galaksi-galaksi luar.

Gugusan Galaksi


Bila kita melihat foto langit hasil pemotretan dengan teleskop besar, misalnya foto survai langit oleh observatorium Palomar (Palomar Observatory Sky Survey, POSS), yang terlihat adalah titik-titik putih. Itu adalah bintang-bintang yang berada di galaksi kita. Kalau kita teliti lebih cermat dengan menggunakan lup (kaca pembesar), pada daerah-daerah tertentu ada titik-titik yang bentuknya bukan seperti titik biasanya, melainkan berbentuk agak lonjong atau bahkan disertai bentuk “S” yang kabur. Objek-objek seperti itu adalah galaksi yang sangat jauh. Karena jaraknya yang amat jauh, ratusan milyar bintang pada galaksi itu hanya tampak sebagai satu noktah terang. Di beberapa daerah langit kita bisa menjumpai adanya kumpulan galaksi di sela-sela titik-titik bintang.

Dengan mempelajari spektrum cahaya galaksi-galaksi itu, astronom bisa menentukan jaraknya. Ternyata galaksi-galaksi itu berkelompok. Kelompok terkecil menempati ruang dalam skala tiga juta tc (tc : tahun cahaya, jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun dengan kecepatan 300.000 km/detik; 9,5 trilyun km), misalnya yang disebut grup lokal yang berisi 21 galaksi, termasuk galaksi kita (galaksi Bima Sakti). Kelompok-kelompok kecil itu membentuk kelompok yang lebih besar yang disebut gugus raksasa (supercluster). Gugus raksasa itu menempati ruang berskala 60 juta tc atau lebih.

Menurut hasil penelitian dalam dasa warsa terakhir ini, diketahui bahwa struktur alam semesta terdiri dari gugus raksasa yang membentuk seperti pita (filamen) atau bidang dan void (kehampaan) yang besar. Void didefinisikan sebagai ruang alam semesta yang tidak mengandung galaksi dalam rentang 90 juta tc.

Sebagian besar gugus galaksi itu berkumpul dalam gugus raksasa yang berbentuk seperti bidang yang disebut bidang super galaktik. Gugus raksasa lainnya yang telah diketahui berbentuk filamen, misalnya filamen Hydra (melalui rasi Hydra) dan filamen Puppis (melalui rasi Puppis).

Struktur gugus raksasa itu kini terus dipelajari untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang struktur alam semesta kita. Tetapi para astronom mendapat kendala karena ada langit yang tidak transparan, sehinggga di daerah itu sedikit sekali galaksi luar yang terlihat. Daerah itu disebut zona langka galaksi atau zona gelap (zone of avoidance), yang struktur sebaran galaksinya tidak banyak kita ketahui.

Zona Gelap


Galaksi kita, galaksi Bima Sakti, sebenarnya bukan hanya terdiri dari bintang-bintang, tetapi juga awan gas dan debu yang biasanya disebut awan molekul. Seperti halnya awan di angkasa bumi menghalangi pengamatan bintang, awan molekul menghalangi pengamatan galaksi-galaksi luar yang lebih jauh dari bintang-bintang yang biasa kita lihat. Akibat serapan cahaya oleh kumpulan awan molekul di hampir seluruh bidang galaksi kita itu, menyebabkan daerah langit yang dilalui Bima Sakti sebagai zona gelap. Hanya sebagian kecil saja yang sedikit mengandung awan molekul yang dikenal sebagai jendela galaksi, misalnya di sekitar Puppis. Di daerah Puppis ini jumlah galaksi luar yang teramati relatif banyak dibandingkan dengan di daerah bidang galaksi lainnya.

Untuk mengetahui lebih jelas struktur alam semesta dalam skala besar, telaah sebaran galaksi-galaksi di zona gelap ini sangat diperlukan. Tetapi bagaimana? 


Galaksi-galaksi luar itu memancarkan sinar infra merah yang cukup kuat. Sifat sinar infra merah yang utama adalah kemampuannya menembus halangan awan molekul. Sehingga kalau kita menggunakan kamera yang peka menangkap pancaran sinar infra merah dari galaksi-galaksi luar itu, kita akan melihat lebih banyak galaksi luar di zona gelap itu.


Maka pencarian galaksi di zona gelap itu dilakukan terutama dengan memanfaatkan hasil survai langit yang mendeteksi pancaran sinar infra merah. Pencarian ini dapat dilakukan dengan memanfaatklan data IRAS (Infrared Astronomical Satelite) yang dikonfirmasikan secara visual pada foto langit (paper print) POSS (Palomar Observatory Sky Survey) dan atlas inframerah UK Schmidt.


Dari hasil pencarian itu diperoleh ribuan galaksi di zona gelap itu. Setelah dianalisis, struktur sebarannya menunjukkan adanya kesinambungan gugus galaksi raksasa yang membentuk filamen Hydra dan Puppis dan beberapa filamen lainnya. Sebelumnya struktur yang “terpenggal” oleh zona gelap masih merupakan teka-teki, apakah struktur itu bersambung atau memang terpenggal.

Dengan telaah sinar infra merah yang dipancarkan galaksi-galaksi luar teka-teki itu terjawab. Tetapi masih diperlukan telaah lebih mendalam untuk mempelajari struktur alam semesta yang lebih lengkap lagi. Kini dengan teleskop pendeteksi sinar infra merah yang lebih canggih yang berada di satelit di luar angkasa usaha itu masih diteruskan. Semakin jauh kita menembus kedalaman langit menguak struktur alam semesta, kita akan makin tahu kekecilan galaksi kita, apalagi bumi dan diri kita sendiri.

 
1 Comment

Posted by pada Maret 30, 2010 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Sempurnakan Arah Kiblat dengan Benar

Mari Kita Akhiri Kontroversi Arah Kiblat

 

Masalah arah
kiblat yang seolah bergeser akibat gempa perlu segera diluruskan. Karena hal
itu tidak berdasar logika ilmiah dan berpotensi meresahkan masyarakat. Pergeseran
lempeng bumi hanya berpengaruh pada perubahan peta bumi dalam rentang waktu
puluhan atau ratusan juta tahun, karenanya tidak akan berdampak signifikan pada
perubahan arah kiblat di luar Mekkah dalam rentang peradaban manusia saat ini. Jadi,
saat ini tidak ada pergeseran arah kiblat akibat pergeseran lempeng bumi atau
gempa. Semua pihak (terutama Kementerian Agama dan MUI) jangan terbawa pada
opini yang didasari pada informasi yang keliru.

 

Masalah
ketidakakuratan arah kiblat yang terjadi pada banyak masjid, bukanlah masalah
pergeseran arah kiblat, tetapi karena ketidakakuratan pengukuran pada awal
pembangunannya. Itu bukan masalah serius dan mudah dikoreksi. Badan Hisab
Rukyat (BHR) Kementerian Agama dan BHR Daerah serta kelompok-kelompok peminat
hisab rukyat bisa memberikan bantuan penyempurnaan arah kiblat tersebut. Bisa
juga dilakukan koreksi massal dengan panduan bayangan matahari pada saat
matahari berada di atas Mekkah atau dengan panduan arah kiblat berbasis internet Google Earth/Qiblalocator.
Setelah arah kiblat diketahui, tidak harus bangunannya yang diubah, cukup arah
shafnya. Kementerian Agama bersama MUI, BHR, BHRD, dan kelompok-kelompok
peminat hisab rukyat bisa melakukan sosialisasi penyempurnaan arah kiblat
tersebut.

 

Info saat posisi
matahari berada di atas Mekkah dapat dilihat di blog saya:

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!113

 

Panduan langsung arah kiblat berbasis Google Earth pada
dilihat di

http://www.qiblalocator.com/

 

Fatwa MUI tentang arah kiblat yang membolehkan menghadap ke
arah Barat perlu dipertimbangkan lagi karena menghadap arah kiblat yang benar
bukan hal sulit dan penyempurnaan arah kiblat di banyak masjid juga tidak harus
mengubah bangunannya.

 

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 25, 2010 in Hisab-Rukyat

 

Arah Kiblat tak Berubah

Tak Benar Pergeseran Lempeng Bumi Mengubah Arah Kiblat

Ini berita yang membangkitkan cerita awal 2010 seolah gempa mengubah arah kiblat. Berita ini kemudian muncul juga di running text TV One  Jumat malam, 19 Maret, lalu Ketua MUI yang menjadi nara sumber muncul juga di TV One.

========================================================

MUI
Minta Masjid Sesuaikan Arah Kiblat

Kamis, 18 Maret 2010, 17:59 WIB

   

JAKARTA-Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta
masjid di Indonesia menyesuaikan arah kiblat agar tepat mengarah Kabah
di Kota Mekkah, Arab Saudi. Alasannya, akibat pergeseran lempengan bumi,
arah kiblat dari Indonesia ke Mekkah bergeser sekitar 30 centimeter
lebih ke kanan.

Karena itu, arah kiblat masjid perlu
disesuaikan. Jadi, harus disesuaikan dengan penemuan terbaru. Kalau
melenceng 1-2 atau 5 cm tidak begitu masalah. Ini kan bergeser cukup
besar sekitar 30 centimeter lebih, ujar Ketua MUI, KH Amidhan, Kamis
(18/3) di Jakarta.

=====================================================

Beberapa orang segera menelpon saya minta klarifikasi. Bahkan kabarnya ada masjid yang bersiap mengubah arah kiblatnya. Segera saya buat bantahan yang saya kirim ke beberapa media massa, karena khawatir meresahkan, seperti ada masjid yang sudah bersiap mengubah arah kiblatnya tersebut (tetapi bagaimana cara menggeser 30 cm ke kanan?). Okezone memuat bantahan itu pada 20 Maret. Walau seolah judulnya membatasi hanya Gempa Cile, kantor berita "Antara" memberitakan  pada 20 Maret bantahan tersebut yang dikutip pada 21 Maret oleh banyak media lain (antara lain, Republika, Liputan 6, TV One, Berita8, Waspada (Medan), Semangat Pagi (Makassar). Malamnya Elshinta mewawancara saya langsung terkait masalah tersebut.

Techno – Science

Gempa Tidak Sebabkan Pergeseran Kiblat

Sabtu, 20 Maret 2010 – 11:54 wib

 
Rachmatunnisa – Okezone

JAKARTA
– Awal tahun 2010, publik ramai membahas melencengnya arah kiblat.
Gempa bumi yang terjadi bertubi-tubi ditengarai menjadi penyebab
pergeseran arah kiblat di sejumlah masjid di Indonesia. Alasannya,
akibat gempa tanah di Indonesia mengalami pergeseran sekitar tujuh
centimeter per tahun.

Padahal pada kenyataannya, gempa tidak
sampai menyebabkan pergeseran arah kiblat. Profesor Riset Astronomi
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin
memberikan catatan kepada media dan pihak terkait agar jangan sampai
menimbulkan kesalahfahaman terkait hal ini.

"Pernyataan tersebut
mungkin salah kutip atau salah persepsi, tetapi berpotensi meresahkan
masyarakat. Pergeseran lempeng yang mengubah peta bumi lalu mengubah
arah kiblat, perlu waktu puluhan juta tahun. Jadi tidak akan ada
perubahan arah kiblat akibat gempa," kata Thomas kepada Okezone,
Sabtu (20/32010).

Menurutnya, jika kenyataannya banyak mesjid
yang arah kiblatnya kurang tepat, bukan disebabkan perubahan tersebut,
melainkan karena sejak awal menentukan arah kiblat yang memang kurang
akurat.

LAPAN:
Gempa Cile tak Ubah Arah Kiblat

Ahad, 21 Maret 2010, 11:04 WIB

   

JAKARTA–Pakar astronomi Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Prof Dr Thomas Djamaluddin,
membantah pemberitaan bahwa pergeseran lempengan bumi akibat gempa Cile
telah menggeser arah kiblat sekitar 30 centimeter lebih ke kanan.

"Tidak
ada pergeseran arah kiblat oleh pergeseran lempeng atau sebab lain.
Pernyataan tersebut mungkin salah kutip atau salah persepsi, tetapi
berpotensi meresahkan masyarakat," kata Djamal di Jakarta, Minggu
(21/3).

Diakuinya banyak masjid yang arah kiblatnya kurang tepat,
namun bukan karena adanya perubahan arah kiblat, tetapi karena
penentuan awal sebelum pembangunannya yang tidak akurat.

Saat itu
masjid cenderung dibangun dengan arah kiblat yang sekedar mengikuti
arah barat lalu diserongkan sedikit ke kanan atau sekedar mendasarkan
diri pada arah kiblat masjid terdekat yang belum tentu benar, ujarnya.
"Jadi yang tidak benar metode pengukurannya, bukan alat ukurnya,"
katanya.

Menurut dia, hanya dengan bantuan posisi matahari saja
cukup akurat menentukan arah kiblat jika dipandu oleh orang yang
terlatih ilmu falak, selain itu juga peranti lunak Qibla Locator yang
termuat dalam situs web http://www.qiblalocator.com
juga mudah digunakan.

Ditegaskannya, pergeseran lempeng yang
mengubah peta bumi termasuk mengubah arah kiblat, memerlukan waktu
jutaan tahun.

Pergeseran Lempeng

Ia juga
mengatakan tentang NASA yang mengabarkan bahwa gempa Cile berdampak pada
pergeseran poros "gambar bumi" dan percepatan rotasi bumi. "Tapi,
pergeseran lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi itu,
bukan gempanya, karena gempa sekadar indikator pelepasan energi akibat
pergeseran lempeng bumi," katanya.

Akibat pergeseran lempeng,
lanjut Djamal, kesetimbangan "gambar bumi" sedikit berubah karena titik
massa kulit bumi bergeser. Hal itu menyebabkan poros "gambar bumi"
bergeser.

Poros "gambar bumi" (Earth`s figure axis), lanjut dia,
tidak sama dengan poros astronomis (poros utara-selatan) yang
menggambarkan poros rotasi bumi.

"Untuk kasus gempa Cile 2010
pergeserannya sekitar 8 cm di mana sudutnya bergeser 2,7 mili detik
busur =0,00000075 derajat dan terlalu kecil untuk dilihat," katanya.

Demikian
juga gempa Aceh 2004, pergeserannya hanya 7 cm di mana sudutnya
bergeser 2,32 mili detik busur = 0,00000064 derajat, demikian Djamal.

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 22, 2010 in Hisab-Rukyat

 

Percepatan-Perlambatan Rotasi Bumi

ROTASI BUMI
DIPERCEPAT OLEH GEMPA DAN DIPERLAMBAT PASANG SURUT BULAN

 

Beberapa hari setelah gempa Chile 27 Februari
2010 peneliti JPL NASA mengabarkan bahwa gempa Chile berdampak pada percepatan
rotasi bumi dan pergeseran poros ”gambar bumi”. Bagi sebagian orang, berita
tersebut mengejutkan. Tetapi sebenarnya, percepatan dan pelambatan rotasi bumi terus terjadi. Bumi kita secara konstan diperlambat
olah pasang surut bulan dengan efek yang lebih kuat. Apa yang sesungguhnya terjadi?

 

 

http://www.jpl.nasa.gov/news/news.cfm?release=2010-071

Chilean Quake May Have Shortened Earth Days

March 01, 2010

The Feb. 27 magnitude 8.8 earthquake in Chile may have shortened the length
of each Earth day.

JPL research scientist Richard Gross computed how Earth’s rotation should have
changed as a result of the Feb. 27 quake. Using a complex model, he and fellow
scientists came up with a preliminary calculation that the quake should have
shortened the length of an Earth day by about 1.26 microseconds (a microsecond
is one millionth of a second).

Perhaps more impressive is how much the quake shifted Earth’s axis. Gross
calculates the quake should have moved Earth’s figure axis (the axis about
which Earth’s mass is balanced) by 2.7 milliarcseconds (about 8 centimeters, or
3 inches). Earth’s figure axis is not the same as its north-south axis; they
are offset by about 10 meters (about 33 feet).

By comparison, Gross said the same model estimated the 2004 magnitude 9.1
Sumatran earthquake should have shortened the length of day by 6.8 microseconds
and shifted Earth’s axis by 2.32 milliarcseconds (about 7 centimeters, or 2.76
inches).

Gross said that even though the Chilean earthquake is much smaller than the
Sumatran quake, it is predicted to have changed the position of the figure axis
by a bit more for two reasons. First, unlike the 2004 Sumatran earthquake,
which was located near the equator, the 2010 Chilean earthquake was located in
Earth’s mid-latitudes, which makes it more effective in shifting Earth’s figure
axis. Second, the fault responsible for the 2010 Chiliean earthquake dips into
Earth at a slightly steeper angle than does the fault responsible for the 2004
Sumatran earthquake. This makes the Chile fault more effective in
moving Earth’s mass vertically and hence more effective in shifting Earth’s
figure axis.

Gross said the Chile
predictions will likely change as data on the quake are further refined.


Pergeseran
lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi itu, bukan gempanya. Gempa
sekadar indikator pelepasan energi akibat pergeseran lempeng bumi. Karena ada
pergeseran lempeng bumi, maka kesetimbangan "bola" bumi berubah. Sesungguhnya
"bola" bumi bukanlah bola sempurna, tetapi bola pepat di arah kedua kutubnya
(oblate spherical) dengan distribusi massa yang tidak merata. Dalam geodesi,
bentuk bumi yang tak mulus itu menjadi kajian menarik. Poros "gambar
bumi" geodetik itu dirumuskan sebagai poros yang menjadikan massa bumi relatif
setimbang di sekitar poros. Jadi poros "gambar bumi" (Earth’s figure
axis) tidak sama dengan poros astronomis (poros utara selatan) yang
menggambarkan poros rotasi bumi.

 

Apa akibat
pergeseran lempeng? Kesetimbangan "gambar bumi" sedikit berubah karena
titik massa kulit bumi bergesar. Akibatnya, poros "gambar bumi"
bergeser. Untuk kasus gempa Chile 2010 pergeserannya sekitar 8 cm (sudutnya
bergeser 2,7 mili detik busur =0,00000075 derajat, terlalu kecil untuk
dilihat). Dan untuk gempa Aceh 2004 pergeserannya 7 cm (sudutnya bergeser 2,32
mili detik busur = 0,00000064 derajat).

 

Akibat pergesaran
kesetimbangan massa bumi, rotasi bumi dipercepat 1,26 mikro detik =
0,000000126 detik, manusia tidak mungkin merasakannya). Sebenarnya soal percepatan-perlambatan
rotasi bumi, bukan hanya disebabkan oleh pergeseran lempeng. Efek pasang surut bulan
juga menyebabkan rotasi bumi diperlambat 0,00002 detik per tahun, jauh lebih kuat efeknya daripada gempa (lihat blog saya ”Sinkronisasi Bumi-Bulan” di

http://t-djamaluddin.spaces.live.com/default.aspx?_c01_BlogPart=blogentry&_c=BlogPart&handle=cns!D31797DEA6587FD7!136

 

 

 
Leave a comment

Posted by pada Maret 4, 2010 in Sains Antariksa & Astronomi

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.