RSS

Arsip Kategori: Sains & Quran

Ruang-Waktu

IKHLAS:Bersama Ruang danWaktu

(Versi lengkap dimuat Booket Kalender 2005 Percikan Iman)

T. Djamaluddin    
      

             Sejarah ruang dan waktu tidak terlepas dari sejarah
alam semesta. Ruang dan waktu terbentuk bersamaan dengan pembentukan alam
semesta. Tidak ada ruang di luar alam semesta. Dan tidak ada waktu sebelum ada
alam semesta. Namun, dalam kajian fisika definisi waktu telah disederhanakan,
tidak tepat lagi dengan pemahamanan manusiawi. Kadang sulit difahami dengan
nalar awam.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman
manusiawi terbagi dalam dua kelompok: Hal-hal yang objektif yang dapat dikenali
dengan pancaindera tersebar dalam ruang. Sedangkan hal-hal subjektif (ide,
pemikiran, kesadaran diri, emosi, dan sejenisnya) tersebar dalam waktu. Tidak
dapat digambarkan dalam dunia nyata, tetapi mengungkapkan waktu masa lalu,
sekarang, dan akan datang. Dalam fisika, waktu disederhanakan hanya apa yang
tampak pada arloji atau pengukur waktu lainnya (misalnya, detak jantung, jumlah
ayunan bandul, rotasi bumi, atau getaran atom).

Artikel ringkas ini sekilas mengulas sejarah
alam semesta yang juga sejarah raung dan waktu. Dimulai dengan bahasa universal
untuk memahami bagaimana alam bercerita tentang sejarah dirinya. Kemudian
sekilas mengenal posisi kita – manusia – di alam semesta yang sebenarnya secara
fisik tidak ada artinya dibandingkan dengan keluasan alam raya. Upaya memahami
sejarah lahirnya alam semesta beserta evolusinya diulas dengan hasil-hasil
sains terbaru diungkapkan secara ringkas mulai dari alam semesta secara
keseluruhan sampai tata surya dan bumi. Juga diulas evolusi alam semesta dalam
persepsi Al-Quran.

Walau tidak dibahas secara mendalam, ulasan
tentang evolusi alam dimaksudkan juga untuk meluruskan antipati ummat terhadap
sains karena kontroversi yang bersumber dari analisis yang keliru. Evolusi (termasuk
evolusi makhluk hidup) adalah keniscayaan di alam yang sering disalahartikan
dan dirancukan banyak orang hingga banyak ditentang kaum agamawan yang tidak
faham. Analisis sosiologis digunakan untuk membantah teori sains, suatu hal
yang tidak tepat.

Terakhir, untuk memaknai penjelajahan
intelektualitas berbasis sains tersebut, diulas sekilas makna ikhlas dari
pemahaman sejarah ruang dan waktu.

 

Bahasa Universal

            Dalam astronomi, bahasa universal
adalah cahaya atau lebih umumnya gelombang elektromagnetik (EM), termasuk
sinar-X, sinar ultra violet, sinar infra merah, dan gelombang radio. Semua
benda langit bercerita tentang dirinya dengan pancaran gelombang EM. Fisika dan
matematika menjadi juru bahasanya.

            Objek yang sangat panas, seperti
pada peristiwa tumbukan materi yang sangat kuat akibat tarikan Lubang Hitam (Black Hole), bercerita tentang dirinya
dengan pancaran sinar-X. Dengan fisika dapat ditafsirkan bahwa objek itu sangat
panas dan dapat dikaji apa yang mungkin menyebabkannya. Objek-objek yang sangat
dingin, seperti "embrio" bintang (protostar),
bercerita banyak kepada astronom dengan pancaran sinar infra merah dan
gelombang radio. Galaksi-galaksi yang sedang berlari menjauh memberikan pesan
lewat spektrum cahayanya yang bergeser ke arah merah (red shift).

            Sayangnya, sebagian besar materi di
alam semesta tak memancarkan gelombang 
EM  tersebut.  Itulah 
yang  dinamakan  "dark 
matter" (materi  gelap).
‘Materi gelap’ itu mencakup objek raksasa yang runtuh ke dalam intinya
(misalnya Black Hole atau Lubang Hitam yang menyerap semua cahaya), objek  seperti 
bintang  namun bermassa kecil
hingga tak mampu memantik reaksi nuklir di 
dalamnya (yaitu objek katai coklat), atau partikel‑partikel subelementer.
Penemuan di penghujung abad 20 baru lalu bahkan lebih mengagetkan (karena tidak
terduga sebelumnya) para pakar kosmologi sendiri: Ternyata hanya 4% isi alam
semesta yang kita kenali materinya (materi barionik, terbuat dari proton dan
netron). Selebihnya 23% ‘materi gelap’ (non-barionik) dan 73% berupa ‘energi
gelap’ (dark energy, istilah baru dalam kosmologi modern).

            ‘Materi gelap’ ini ibarat orang
bisu. Kita tak  dapat  mendengar 
kisah mereka  tetapi kita yakin
mereka ada dihadapan kita.  Kita  hanya bisa menangkap isyarat‑isyarat yang
diberikannya. Isyarat‑isyarat tak langsung itulah yang ditangkap oleh para
astrofisikawan untuk mendengar  kisah
"materi gelap".  
Isyarat-isyarat itu bisa berupa pancaran 
sinar‑X  dari bintang  yang 
berpasangan  dengan  Black 
Hole  atau  dari 
efek gravitasi  pada  objek 
di dekatnya.

            Sekedar contoh, inilah cara Black
Hole bercerita bahwa dirinya ada. Pancaran sinar-X yang kuat bisa bercerita
bahwa di sana
ada obyek yang sangat panas. Dengan telaah fisika kemudian diketahui bahwa
panas itu terjadi karena ada materi dari suatu bintang yang sedang disedot oleh
benda yang kecil bermassa sangat besar yang menjadi pasangannya. Materi yang
jatuh pada bidang yang sempit di sekitar benda penyedot itulah menimbulkan panas
yang sangat tinggi yang akhirnya memancarkan sinar-X. Dari isyarat-isyarat
lainnya disimpulkan bahwa penyebab perpindahan materi itu adalah sebuah Black
Hole yang sedang menyedot materi dari bintang pasangannya, seperti teramati
pada objek Cygnus X-1.

            Kini di awal abad 21, ‘materi gelap’
makin gelap lagi. Observasi astronomi masih sulit mendeteksi keberadaannya,
karena mulai bergeser ke pengertian yang lebih sempit sebagai materi
non-barionik. Hanya fisika partikel yang kini diharapkan menjadi ‘juru bahasanya’
dari ungkapan-ungkapan abstrak matematis. Dari tiga jenis partikel anggota
‘materi gelap’, baru netrino yang sedikit dikenali. Selebihnya masih dianggap
materi hipotetik: axion dan neutralino.

Evolusi Alam Semesta

            Naluri manusia selalu ingin
mengetahui asal usul sesuatu, termasuk asal-usul alam semesta. Berbagai hasil
pengamatan dianalisis dengan dukungan teori-teori fisika untuk mengungkapkan
asal-usul alam semesta. Teori  yang kini diyakini
bukti-buktinya menyatakan  bahwa  alam semesta ini bermula dari ledakan besar (Big Bang) sekitar  13,7 milyar tahun yang lalu. Semua materi dan
energi yang kini ada  di alam terkumpul
dalam satu titik tak berdimensi yang 
berkerapatan tak berhingga. Tetapi ini jangan dibayangkan  seolah‑olah 
titik itu berada di suatu tempat di alam yang kita kenal sekarang  ini. Yang benar, baik materi, energi, maupun
ruang yang ditempatinya seluruhnya bervolume amat kecil, hanya satu titik tak
berdimensi.

            Tidak  ada 
suatu  titik  pun di 
alam  semesta  yang 
dapat dianggap  sebagai pusat
ledakan. Dengan kata lain  ledakan  besar alam 
semesta  tidak seperti ledakan bom
yang meledak  dari  satu titik ke segenap penjuru. Hal ini karena
pada hakekatnya  seluruh alam turut serta
dalam ledakan itu. Lebih tepatnya, 
seluruh alam semesta mengembang tiba‑tiba secara serentak. Ketika  itulah mulainya  terbentuk materi, ruang, dan waktu.

            Materi alam semesta yang pertama
terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang dan galaksi generasi
pertama. Dari reaksi fusi nuklir di dalam bintang terbentuklah unsur-unsur
berat seperti karbon, oksigen, nitrogen, dan besi. Kandungan unsur-unsur berat
dalam komposisi materi bintang merupakan salah satu "akte" lahir
bintang. Bintang-bintang yang mengandung banyak unsur berat berarti bintang itu
"generasi muda" yang memanfaatkan materi-materi sisa ledakan
bintang-bintang tua. Materi pembentuk bumi pun diyakini berasal dari debu dan
gas antar bintang yang berasal dari ledakan bintang di masa lalu. Jadi, seisi
alam ini memang berasal dari satu kesatuan.

            Bukti-bukti pengamatan menunjukkan
bahwa alam semesta mengembang. Spektrum galaksi‑galaksi  yang 
jauh sebagian besar menunjukkan bergeser 
ke  arah merah  yang dikenal sebagai red shift (panjang gelombangnya bertambah  karena alam mengembang). Ini merupakan
petunjuk bahwa galaksi‑galaksi itu saling 
menjauh. Sebenarnya yang  terjadi
adalah pengembangan ruang. Galaksi‑galaksi 
itu  (dalam ukuran alam
semesta  hanya  dianggap seperti  partikel‑partikel) dapat dikatakan  menempati 
kedudukan yang  tetap  dalam 
ruang,  dan ruang  itu 
sendiri  yang sedang
berekspansi.  Kita tidak mengenal adanya
ruang di luar alam  ini. Oleh karenanya
kita tidak bisa menanyakan ada apa di luar semesta ini.

            Secara   sederhana,  
keadaan   awal   alam  
semesta    dan pengembangannya  itu dapat diilustrasikan dengan
pembuatan  roti. Materi pembentuk roti
itu semula terkumpul dalam gumpalan 
kecil. Kemudian  mulai  mengembang. Dengan kata lain “ruang”  roti 
sedang mengembang. Butir‑butir partikel di dalam roti itu (analog dengan
galaksi   di   alam 
semesta) saling  menjauh   sejalan  
dengan pengembangan roti itu (analog dengan alam).

            Dalam ilustrasi tersebut, kita  berada 
di salah satu partikel di dalam roti itu. Di luar roti, kita tidak
mengenal adanya ruang lain, karena 
pengetahuan kita,  yang berada di
dalam roti itu, terbatas hanya  pada  ruang roti 
itu  sendiri. Demikian pulalah,
kita tidak mengenal alam fisik lain di luar dimensi "ruang‑waktu"  yang 
kita  kenal.

            Bukti lain adanya pengembangan alam
semesta di peroleh dari pengamatan radio astronomi. Radiasi yang terpancar  pada saat awal pembentukan itu masih berupa
cahaya. Namun karena  alam semesta terus
mengembang, panjang gelombang radiasi itu pun makin panjang,  menjadi 
gelombang  radio. Kini radiasi
awal itu dikenal sebagai radiasi latar belakang kosmik  (cosmic  background 
radiation
) yang dapat dideteksi dengan teleskop radio.

Evolusi Alam dalam Perspektif AlQuran

            Setelah menjelajah bukti-bukti
observasi dan teori ilmiah tentang evolusi alam semesta, menarik juga untuk
meninjau aspek religius untuk diperbandingkan dengan aspek ilmiah itu. Walaupun
hal ini masih bersifat interpretasi yang masih dapat diperdebatkan.

            Menurut Al-Qur’an, alam (langit dan
bumi) diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk
menciptakan langit sejak berbentuk dukhan
(campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat
masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi
penghuninya. Ukuran lamanya masa ("hari", ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an.

            Belum ada penafsiran pasti tentang
enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu
isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) dapat ditafsirkan
bahwa enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai
hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan fokus perhatian.

            Masa pertama dimulai dengan ledakan
besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan bumi asalnya
bersatu) sekitar 10 – 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya materi,
energi, dan waktu. "Ledakan" itu pada hakikatnya adalah pengembangan
ruang yang dalam Al-Quran disebut bahwa Allah berkuasa meluaskan langit (Q.S.
51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan
dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti
Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen,
sampai besi.

            Masa yang ke dua adalah pembentukan
bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut
penyempurnaan langit. Dukhan
(debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11) pada proses pembentukan bintang
akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik
reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Bila bintang mati dengan
ledakan supernova unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan.
Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama
dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi
berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit
kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena
prosesnya memang berlanjut.

            Inilah dua masa penciptaan langit.
Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan
pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin
"tinggi" menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan
bintang-bintang baru disebutkan sebagai "Dia meninggikan bangunannya (langit) lalu menyempurnakannya"
(Q.S. 79:28)

            Masa ke tiga dan ke empat dalam
penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi.
Proses pembentukan matahari sekitar 4,5 milyar tahun lalu dan mulai
dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam
semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang
menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulahlah yang diungkapkan
dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. 79:29, "dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang
benderang
.

            Masa pemadatan kulit bumi agar layak
bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu
antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan
pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah
kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi
lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang
menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan
hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi
dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan penghamparan bumi
pada Q.S. 79:30, "Dan bumi sesudah
itu (sesudah penciptaan langit) dihamparkan‑Nya.
"

            Menurut
analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa
pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak
bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan
lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi
menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini
sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya
berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang
komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber
air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan
rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi
sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

            Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi:
awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya
gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen
bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal
kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya
tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar
3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam
Al-Qur’an Q.S. 21:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.

            Lahirnya kehidupan di bumi yang
dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam
dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar
2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas.
Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng
tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

            Tersedianya air, oksigen, tumbuhan,
dan kelak hewan-hewan pada dua masa terakhir itulah yang agaknya dimaksudkan
Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. 41:10). Di
dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa
penciptaan, "Ia memancarkan dari
padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung
dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk
binatang‑binatang ternakmu".

            Bagaimana akhir alam semesta? Kosmologi (cabang
ilmu yang mempelajari struktur dan evolusi alam semesta) masih menyatakan
sebagai pertanyaan yang terbuka, belum ada jawabnya, mungkin terus berkembang
atau mungkin pula kembali mengerut. Namun Al-Quran mengisyaratkan adanya
pengerutan alam semesta, seperti terungkap pada QS 21:104. "
Pada hari kami gulung langit, seperti
menggulung lembaran-lembaran kertas (makin mengecil) seperti Kami telah
menjadikan pada awalnya, begitulah kami mengulanginya."

 

Ikhlas Bersama Ruang dan Waktu

            Teori
relativitas telah menyatukan ruang dan waktu dalam dunia empat dimensi, dunia
ruangwaktu (ditulis bersambung sebagai satu kata). Dan secara matematis
dirumuskan kuadrat selang ruangwaktu = kuadrat selang waktu – kuadrat jarak
ruang. Tanda minus berbeda dengan anggapan awam untuk ruang dan waktu
(menggunakan "dan", ruang dan waktu sebagai hal yang terpisah) yang
terbiasa dengan rumus phytagoras: kuadrat jarak = kuadrat selang sumbu x +
kuadrat selang sumbu y.
 Dalam
dunia ruangwaktu, jarak bintang ke mata kita adalah "nol". Karena,
misalnya, jarak bintang (jarak ruang) 4 tahun cahaya. Cahaya bintang tersebut
mencapai mata kita dalam waktu 4 tahun juga (selang waktu). Jadi, selang/jarak
ruangwaktu bintang tersebut adalah 0.

            Dalam
dunia ruang dan waktu (mengikuti hukum Newton,
non-relativistik) senantiasa kita berjalan ke masadepan secara perlahan dengan
kecepatan satu hari tiap harinya. Tetapi kita juga bisa berjalan ke masa depan
dengan lebih cepat lagi ke tempat yang sangat jauh, misalkan dengan pesawat
antariksa berkecepatan mendekati cahaya. Inilah perjalanan relativistik,
mengikuti hukum relativitas. Dalam perjalanan relativistik, waktu berjalan
relatif lebih lambat daripada waktu dalam keadaan berdiam tidak ikut dalam
perjalanan. Hal ini sudah terbukti pada partikel berenergi tinggi. Waktu luruh
(berubah menjadi partikel lainnya) partikel Muon sebenarnya dalam keadaan diam
hanya sepersejuta detik. Namun dalam perjalanan dengan kecepatan mendekati
kecepatan cahaya, waktu luruhnya teramati oleh detektor yang diam bisa mencapai
50 kali lipat. 

            Apa
makna batiniah dari semua fakta fisik ini? Kita tidak bisa mundur ke masa lalu.
Kita senantiasa maju menuju masa depan. Semakin cepat kita maju, semakin jauh
jarak tempuh kita menuju masa depan. Kita tetap merasa muda pada saat  orang malas merasa tua. Kita senantiasa
berubah, berevolusi dengan kerangka waktu yang jauh lebih pendek dari evolusi
alam. Tentunya, evolusi yang kita harapkan adalah evolusi menuju perbaikan
kualitas dan kuantitas. Kualitas iman yang makin mantap, kualitas pribadi yang
makin mapan, kualitas hidup yang makin sejahtera, dan kualitas keluarga yang
makin bahagia. Kuantitas ilmu yang makin bertambah, kuantitas amal yang makin
meningkat, kuantitas rizki yang makin bermanfaat, dan kuantitas pengikut yang
mendoakannya. Ruang amal kita semestinya berekspansi, meluas, dan makin
variatif. Persahabatan dan jaringan kerja selayaknya terus bertambah. Ruang
gerak kreatif-inovatif seharusnya makin terbuka.

            Lalu
apakah fisik jasmaniah dan batiniah kita dibiarkan berevolusi mengikuti alur
perkembangan ruang dan waktu kita tanpa tuntunan? Semestinya tidak dibiarkan
lepas tanpa kendali. Penyesatan dan pencemaran qalbu bisa mengubah sebagalanya
keluar dari jalan yang diridhai-Nya. Taqarrub, pendekatan diri kepada-Nya
adalah penuntunnya. Kebersihan jiwa yang ikhlas semestinya yang melandasi
perjalanan ruang dan waktu kita. Ikhlas bermakna bersih dari segala pamrih
selain dari mengharap ridha-Nya.

 
1 Komentar

Posted by pada September 5, 2006 in Sains & Quran

 

Evolusi di Alam dan Eksistensi Manusia

Evolusi di Alam dan Eksistensi Manusia

T.
Djamaluddin

(Dimuat "Pikiran Rakyat", 1 Okt. 1996)

 

            Banyak
orang mengenal teori evolusi sebatas kontroversi evolusi manusia dari kera yang
banyak ditentang kaum agamawan. Evolusi sebenarnya adalah suatu proses alami
dalam waktu sangat panjang yang dipengaruhi banyak faktor lingkungannya.
Berdasarkan bukti-bukti ilmiah, evolusi di alam benar adanya. Tidak terbatas
pada evolusi hewan, tetapi juga pada seluruh alam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang
menyatakan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan dalam enam masa menunjukkan
adanya proses kejadian yang tidak sekaligus jadi.

            Masalahnya,
benarkah manusia berasal dari kera? Berdasarkan Al-Quran, kita harus menyatakan
bahwa manusia bukan hasil evolusi hewan melainkan diciptakan secara khusus.
Tulisan ini mencoba memadukan dalil Al-Quran dengan temuan ilmiah tentang
evolusi di alam dan sedikit tentang eksistensi manusia.

 

Evolusi Alam Semesta

            Alam
diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk menciptakan
langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk
menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk
memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa
("hari", ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an.

            Belum
ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi
alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S.
79:27-32) saya menafsirkan enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak
penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan
fokus perhatian.

            Masa
pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan
bumi asalnya bersatu) sekitar 12 – 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya
materi, energi, dan waktu. "Ledakan" itu pada hakikatnya adalah
pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan
langit (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang
menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara
inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon,
oksigen, sampai besi.

            Masa
yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam
bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas
antarbintang, Q. S. 41:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal
memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir,
maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan
supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya
unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan
hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya,
termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut
sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang
berlanjut.

            Itulah
dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan
pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin
"tinggi" menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan
bintang-bintang baru disebutkan sebagai "Dia meninggikan bangunannya
(langit) lalu menyempurnakannya
" (Q.S. 79:28)

            Masa
ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan
tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun
lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga
penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus
berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang
diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. 79:29, "dan Dia
menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang
.

            Masa
pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat.
Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat
dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari
peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan
endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul
sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan
granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi
leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan
itulah yang nampaknya dimaksudkan "penghamparan bumi" pada Q.S.
79:30, "Dan bumi sesudah itu (sesudah penciptaan langit) dihamparkan‑Nya."

             Menurut analisis
astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan
tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu
gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi
yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring
23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian
dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari
pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi
terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi
bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio
D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai
prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

            Pemanasan
matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya
air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3)
serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik
dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik
yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan
bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil
tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. 21:30 memang disebutkan
semua makhluk hidup berasal dari air.

            Lahirnya
kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan
merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan
proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai
terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang
menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi
terus berlanjut.

            Tersedianya
air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam
itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan
bagi penghuninya (Q.S. 41:10). Di dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan
sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, "Ia memancarkan dari
padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung
dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk
binatang‑binatang ternakmu".

 

Evolusi Kehidupan

            Pemikiran
tentang adanya evolusi kehidupan didasarkan pada temuan adanya kemiripan
antarspesies makhluk hidup. Perbedaan yang sifatnya gradual sangat mungkin
disebabkan oleh seleksi alam. Alasannya, hanya keturunan yang mampu beradaptasi
dengan lingkungannya yang akan mampu bertahan. Walaupun demikian, generasi yang
telah beradaptasi dengan segala perubahan fisiknya tetap membawa sifat-sifat
pokok dari induknya.

            Walaupun
diakui masih banyak hal yang sifatnya spekulatif, telah disusun suatu silsilah
evolusi yang berawal dari sejenis bakteri yang bersel satu yang hidup sekitar
3,5 milyar tahun lalu. Dari jenis bakteri lahir generasi ganggang yang masih
hidup di air. Ganggang hijau sekitar 1 – 2 milyar tahun lalu melahirkan generasi
tumbuhan darat. Dari jalur ganggang hijau, sekitar 630 juta tahun lalu, juga
lahir generasi hewan tak bertulang belakang.

            Pada
jalur yang sama dengan kelahiran Echinodermata (a.l. bintang laut) muncul
generasi ikan sekitar 500 juta tahun lalu. Jenis ikan osteolepiform yang
siripnya mempunyai tulang pada sekitar 400 juta tahun kemudian melahirkan
generasi hewan berkaki empat, amfibi dan reptil, termasuk dinosaurus. Kelak
dari keluarga dinosaurus pada masa Jurassic (208 – 144 juta tahun lalu) lahir generasi
burung.

            Jenis
reptil mirip mamalia (Synapsida) melahirkan generasi mamalia sekitar 200
juta tahun lalu. Salah satu generasi mamalia adalah primata yang arti asalnya
adalah "peringkat pertama". Pada jalur primata, sekitar 34 juta tahun
lalu evolusi keluarga kera berekor berpisah dari keluarga hominoid.

            Dalam
keluarga hominoid terdapat gibon dan hominid yang mencakup orangutan, gorila,
dan simpanse. Hominid berpisah dari gibon sekitar 17 juta tahun lalu. Dalam
silsilah evolusi hominid ini makhluk serupa manusia (hominini) dikelompokan
pada asal jalur yang sama dengan gorila dan simpanse. Kesamaan genetik antara
manusia dengan gorila dan simpanse sangat besar, masing-masing 98,6 % dan 98,8
%, sehingga diduga berasal dari satu jalur evolusi yang mulai berpisah sekitar
5 juta tahun lalu.

            Penempatan
manusia pada silsilah evolusi seperti itulah yang memicu penolakan pada teori
evolusi. Dengan menggunakan dalil naqli dari ayat-ayat Al-Quran,
sebenarnya masalah ini mudah diselesaikan tanpa penolakan secara apriori teori
yang mencoba menelusur evolusi kehidupan. Menurut saya, teori evolusi tidak
bertentangan dengan akidah bila disertai keyakinan bahwa proses itu terjadi
menurut sunatullah, bukan proses kebetulan yang meniadakan peran Allah sebagai
Rabbul alamin (pencipta dan pemelihara alam).

 

Eksistensi Manusia

            Dalam
keyakinan Islam, manusia diciptakan secara khusus untuk menjadi khalifah di
bumi (Q.S. 2:29). Proses penciptaan Adam yang berbeda dengan makhluk lainnya
disebutkan di dalam Q.S. 3:59 (penciptaannya serupa Nabi Isa dengan ‘kun
fayakun’ – ‘jadilah, maka jadilah’) dan Q.S. 32:7-8 (Adam dari tanah,
keturunannya dari nuthfah). Kedua ayat itu menunjukkan bahwa Adam tidak
diciptakan dari proses biologis perkawinan makhluk lainnya.

            Menurut
kajian paleoantropologis, setidaknya ada sembilan jenis makhluk serupa manusia:
Australopithecus (A.) aferensis, A. africanus, Paranthropus (P.) aethiopicus,
P. robustus, P. boisei, Homo (H.) habilis kecil, H. habilis besar, H. erektus,
dan H. sapiens. Homo habilis mahir menggunakan alat-alat batu. Homo erektus
(manusia purba) sudah mengenal api untuk penghangat dan memasak. Manusia modern
yang ada sekarang dikelompokkan sebagai Homo sapiens.

            Ada
beberapa hipotesis yang berusaha menjelaskan evolusi mereka. Namun semuanya
tidak ada kepastian dari jalur mana lahirnya Homo erektus. Yang telah
disepakati hanyalah Homo sapiens berasal dari Homo erektus. Ada yang
berpendapat Homo habilis cenderung tidak bisa digolongkan sebagai Homo
("manusia"), mungkin jenis paranthropus berotak besar. Kemampuan
berbicara Homo habilis belum sempurna. Alat-alat batu yang dihasilkannya pun
tidak menunjukkan eksperimen kreatif.

            Kalau
demikian, yang sudah meyakinkan secara ilmiah sebagai manusia adalah sejak
generasi Homo erektus. Ukuran otak yang besar memberikan indikasi kemampuan
berpikir yang lebih kuat. Kemampuan berbicara dan berkomunikasi pun sudah cukup
maju. Interaksi sosial mulai tumbuh dan makin kompleks. Kehadirannya berdampak
pada berbagai spesies. Binatang buas yang mengancam manusia mungkin termasuk
yang diburu demi keselamatan masyarakatnya. Punahnya kucing purba yang buas
yang terjadi pada masa Homo erektus diduga berkaitan dengan ulah mereka, bukan
karena faktor alam.

            Mungkinkah
Homo erektus ini yang sudah tersebar dari Afrika, Jawa, sampai China adalah
anak cucu Adam yang sulit ditelusur pada silsilah evolusi karena diciptakan
Allah secara khusus? Wallahu ‘alam, walaupun kita bisa menduganya ke arah itu.

            Yang
jelas, anak cucu Adam pun berevolusi. Adanya berbagai ras manusia dengan warna
kulit, bentuk dan warna rambut, serta postur tubuh yang berbeda-beda
menunjukkan adanya evolusi manusia. Adaptasi terhadap lingkungan tempat
tinggalnya yang berbeda-beda dalam jangka waktu sangat panjang menghasilkan
generasi yang beraneka ragam.

            Teori
pertama menyatakan manusia purba yang telah menyebar ke berbagai wilayah terus
berevolusi menurunkan generasi manusia modern. Tetapi menurut teori
monogenesis, dari penelusuran perbedaan genetik dan bukti arkeologi, diduga
manusia purba (homo erektus) yang sudah tersebar sampai ke China, Jawa, dan
Eropa punah. Semakin besar kesamaan genetiknya, diduga berasal dari alur
evolusi yang sejalan.

            Manusia
modern yang kini ada berasal dari sisa manusia purba di Afrika sekitar 100.000
tahun lalu. Manusia di Asia timur dan Pasifik mempunyai kesamaan genetik yang
berarti berasal dari alur evolusi yang sama. Secara genetik, sedikit berbeda
dengan "induknya" di Afrika dan generasi dari alur yang menuju Eropa.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Juli 19, 2006 in Sains & Quran

 

Netralitas Sains: Saintis vs Pakar Filsafat Ilmu

NETRALITAS SAINS

Perbedaan Cara
Pandang Saintis dan Pakar Filsafat Ilmu

(Dimuat atas
permintaan “Radar Bandung”, Ramadhan 1424, 10 & 11 November 2003)

Di kolom
"Hikmah" Republika 6 Maret 1999 saya mengulas tentang sains (dalam
hal ini sains alami – natural science) yang sering disalahartikan dalam
hal netralitasnya terhadap sistem nilai. Dalam tulisan pendek tersebut saya
menyatakan bahwa dari segi esensinya semua sains sudah Islami. Islamisasi sains
sungguh tidak tepat. Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam. Yang ada
saintis Islam dan saintis non-Islam. Saintisnya yang tidak bebas nilai, tata
nilai yang dianutnya tidak akan lepas dari pikirannya yang mungkin muncul dalam
pemaparan yang bersifat populer, bukan pada makalah teknis ilmiah. Demi kesahihan
argumentasi ilmiahnya, tata nilai harus dilepaskan dalam pemaparan yang
bersifat teknis ilmiah karena saintis harus berpijak pada rujukan yang dapat
diterima semua orang.

Pada
saat yang sama muncul tulisan Freddy P. Zen dan Husin Alatas di IDEA edisi
Maret 1999 berjudul "Islamisasi Sains atau Islamisasi Saintis". Ide
pokoknya sama dengan tulisan saya tersebut, bahwa sains itu bebas nilai. Hal
penting yang perlu dilakukan adalah Islamisasi saintis.

Secara
umum itulah pandangan saintis. Almarhum Prof. Abdus Salam (pemenang Nobel
Fisika 1979, Fisikawan Muslim asal Pakistan — yang dianggap kontroversial
sebagai pengikut Ahmadiyah) menyatakan secara tegas di dalam pengantarnya untuk
buku "Islam and Science : Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality"
(Hoodbhoy, P. 1992) menyatakan "There is only one universal science,
its problems and modalities are international and there is no such thing as
Islamic science just as there is no Hindu science, no Jews science, no
Confucian science, nor Christian science."

Tulisan
Zen dan Alatas tersebut ditanggapi oleh Herman Soewardi, Guru besar sosiologi
dan filsafat ilmu, dalam makalah yang disampaikan di Pusdai. Dengan menggunakan
terminologi dari Tarnas, SBS (Sains Barat Sekuler), tulisan tersebut menilai sains
tidak netral. Pandangan bahwa sains netral dianggapnya "terbelakang"
dan "sudah ketinggalan zaman". Dilandasi pandangan para pakar
filsafat ilmu, pandangan ketidaknetralan sains tampaknya didasarkan pada dampak
buruk SBS yang, katanya, berpokok pangkal pada kesalahan (controverted,
disaproved). Pandangan seperti itu akhirnya sampai pada kesimpulannya Kegley
bahwa sains itu "paradigm-bound phenomenon", yang berarti
tidak mungkin netral.

Saya
menilai perbedaan pendapat tentang netralitas sains tersebut bersumber dari
sudut pandang yang berbeda. Saintis berangkat dari makna fisis didasari
norma-norma profesionalisme yang selalu digelutinya. Para pakar filsafat ilmu
berangkat dari makna filosofis yang belum tentu sesuai dengan makna fisisnya.
Saintis mengambil kesimpulan dari data-data yang ada dengan menyadari
kesalahan-kesalahan (deviasi) yang harus selalu dinyatakan untuk dapat dinilai
akurasinya. Pakar filsafat ilmu menggali lebih dalam, mungkin melibatkan juga
metafisika, yang di luar lingkup tinjauan sains.

Dengan
memodifikasi gambaran komparatif tentang sains oleh Prof. Herman Suwardi, saya
membuat dua klasifikasi: Pertama, Sains versi saintis (yang oleh Prof. Herman
Suwardi disebut SBS) yang berangkat dari premis-premis empiris. Sains tidak
mungkin dibangun dari sumber-sumber non-fisis yang tidak mungkin dikaji ulang
oleh saintis lainnya. Betapa pun rendahnya akurasi data empiris tersebut
(tergantung perkembangan teknologi observasi dan analisisnya) tidak dapat
dikatakan "salah". Nilai kebenaran sains memang relatif, tergantung
bukti-bukti dan argumentasi fisis yang jadi landasannya. Selama belum ada bukti
yang menggugurkan suatu teori sains, maka teori itulah yang dianggap benar.

Ke dua,
"sains" versi filsafat yang, katanya, seharusnya berangkat dari
premis-premis transendental. Karena berangkat dari premis transedental bisa
muncul sebutan "sains" Islam, "sains" Kristen,
"sains" Yahudi, "sains" Hindu, "sains" Shinto,
dan sebagainya. "Sains" seperti ini dibangun dari nilai-nilai
kebenaran yang dipandu wahyu atau sumber transedental yang diakui oleh kelompok
tersebut. Nilai kebenaran sains versi filsafat ini mutlak bagi yang
mengakuinya, tetapi mungkin dianggap salah total bagi yang tidak mengakuinya.

Untuk
memperjelas perbedaan sudut pandang tersebut, saya bahas dua contoh kasus yang
disebut dalam makalah Prof. Herman Suwardi.

Teori Relativitas

Teori
relativitas ada dua: Teori Relativitas Khusus dan Teori Relativitas Umum. Teori
khusus menyatakan bahwa masing-masing pengamat yang bergerak seragam (tanpa
percepatan) akan menyatakan hasil pengukuran yang berbeda, misalnya tentang
panjang, waktu, dan energi. Asumsinya, prinsip relativitas dan kecepatan cahaya
yang konstan. Salah satu bukti kebenaran teori ini yang dikenal masyarakat
adalah teori kesetaraan massa dan energi, E=mc2, bila ada m massa
yang dihilangkan akan muncul energi sebesar E. Teori inilah yang menjadi dasar
penggunaan energi nuklir, baik untuk maksud damai maupun untuk maksud merusak.

Teori
umum memperluas teori khusus dengan meninjau pengamat yang bergerak dipercepat
relatif terhadap lainnya akibat gravitasi. Teori ini memperkenalkan
kelengkungan ruangwaktu. Sumber gravitasi besar menyebabkan kelengkungan
ruangwaktu yang dalam. Karena kesetaraan massa dan energi (antara lain cahaya),
gravitasi bukan hanya mempengaruhi massa tetapi juga cahaya. Cahaya akan
dibelokkan mengikuti geometri ruangwaktu di sekitar sumber gravitasi tersebut.
Misalnya, cahaya galaksi yang jauh yang melintasi galaksi lain sebagai sumber
gravitasi kuat akan dibelokkan sehingga tampak bukan pada posisi sesungguhnya.
Fenomena ini juga dikenal sebagai lensa gravitasi, sehingga satu galaksi yang
berada jauh di belakang galaksi lain, tampak seperti beberapa galaksi sejenis
di sekitar suatu titik sumber gravitasi.

Teori sains
seperti itu, menurut saintis, netral, bebas nilai. Teori tersebut bebas
dibuktikan oleh siapa pun. Teori tersebut makin kuat posisinya karena semakin
banyak bukti yang mendukungnya. Hukum alam yang diformulasi teori tersebut
bukan buatan manusia, tetapi hukum Allah (sunnatullah). Einstein dan
para saintis lainnya hanya memformulasikannya. Hukum Allah itu telah ada
bersama dengan alam yang diciptakan-Nya. Siapa pun yang memformulasikannya
dengan benar akan menghasilkan teori yang sejalan.

Bukti
bebas nilainya sains dapat juga ditunjukkan dari lahirnya teori penyatuan gaya
lemah dan gaya elektromagnetik yang dirumuskan secara independen oleh Abdus
Salam (seorang Muslim) dan Steven Weinberg (seorang ateis). Dua orang yang
berbeda sistem nilainya dapat menghasilkan teori yang sama. Mungkin ada
motivasi ketauhidan pada diri Abdus Salam, bahwa Alam yang diciptakan oleh
Allah yang esa hukum-hukumnya mempunyai keterkaitan yang dapat dipersatukan
dalam satu teori besar (Grand Unified Theories — GUTs). Tetapi motivasi dan
argumentasi ketauhidan seperti itu tidak akan muncul secara formal dalam
publikasi saintifik, karena belum tentu dapat diterima semua orang.

Teori
relativitas pun tersebut juga dapat dikatakan Islami. Artinya, mengikuti hukum
Allah (Islam dalam arti yang umum berarti berserah diri). Teori yang
mengungkapkan bagaimana alam tunduk pada hukum Allah sudah pasti berarti juga
mengikuti hukum Allah.

Hukum
gravitasi Newton telah mengungkapkan hukum Allah yang mengatur gerakan-gerakan
planet mengitari matahari. Orang kemudian melihat suatu keanehan dengan orbit
planet Merkurius yang orbitnya selalu bergesar. Bila orang menganggap hukum
Newton sebagai formulasi hukum Allah yang sempurna, boleh menyatakan bahwa
Merkurius "membangkang" dari hukum Allah. Ternyata kesan
"pembangkangan" planet Merkurius disebabkan karena keterbatasan
formulasi teori Newton. Karena alam semestinya taat pada hukum Allah sesuai
dengan janji ketika diciptakan (Q. S. 41:11), mestinya ada formulasi yang lebih
baik yang bisa menjelaskan bahwa planet Merkurius tidak "membangkang"
hukum Allah. Teori relativitas menjelaskan bahwa karena posisi Merkurius dekat
dengan matahari, ada tambahan gaya dorong yang menyebabkan orbitnya berubah.
(Ini contoh pemaparan saintis Islam tentang teori sains yang bebas nilai itu).

Itulah
esensi teori sains. Menjelaskan hukum Allah sebatas pengetahuan manusia karena
keterbatasan ilmu manusia (Q. S. 17:85). Tidak ada seorang saintis pun yang
dapat mengklaim suatu teori sains yang paling benar secara mutlak. Ungkapan
yang bisa dinyatakan adalah "bukti-bukti pengamatan saat ini membuktikan
teori inilah yang paling kuat", artinya bisa saja suatu saat ada bukti
lain yang menggugurkannya.

Dalam
sains tidak masalah "…create more problems than they solve"
(mengutip ungkapan tentang SBS dalam makalah Prof. Herman Suwardi), tentu dalam
konteks problem saintifik. Karena, saintis selalu merasa tertantang dengan
problem-problem baru. Banyak orang tidak menyangka bahwa sebenarnya sebagian
besar waktu saintis digunakan untuk merencanakan cara memperoleh data baru
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saintifik terbaru.

Dalam
tinjauan filsafat ilmu (mengutip makalah Prof. Herman Suwardi), teori
relativitas dipandang makna filosofisnya bahwa ada banyak alternatif untuk
menampakkan kebenaran dan kita tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar,
atau mana yang mendekati kenyataan. Karena itu orang tidak mungkin tahun
("know") tentang alam. Maka, mengutip Tarnas, realitas atau
"scientific truth" sekarang menjadi kabur. Seseorang tidak mungkin
mempunyai akses rasional pada kebenaran universal. Observasi merupakan titik
lemah dari sains karena obyektivitas observasi tidak mungkin. Karena semua
orang memandang segala hal yang ada di alam empirik ini dengan mata yang
dilapisi oleh "lensa" dan setiap orang memiliki lensanya sendiri.
Sehingga sains dianggapnya sebagai fenomena yang terikat pada paradigma.
Karenanya, beralasan bila dengan cara pandang demikian dan menghendaki
kebenaran hakiki (hal yang lazim dalam filsafat) sampai pada kesimpulan
"sains" tidak tidak netral. Memang, mengkaji secara mendalam mencari
kebenaran universal yang hakiki mau tidak mau akan bersentuhan dengan sistem
nilai yang dianut dalam kajian tersebut.

Sebenarnya,
mencari kebenaran hakiki bukan lagi ruang lingkup kajian sains. Karena sains
tidak mungkin sejauh itu. Sains berkepentingan pada kebenaran saintifik
berdasarkan bukti-bukti yang diakui menurut kaidah-kaidah ilmiah. Diharapkan
kebenaran saitifik tersebut mendekati kebenaran hakiki, tetapi tak seorang
saintis pun berhak mengklaim itulah kebenaran hakiki. Jadi, definisi
"sains" yang disebut tidak netral oleh pakar filsafat ilmu pasti
bukan sains yang dimaksud oleh para saintis.

Kerusakan Lapisan Ozon

Dampak
buruk perkembangan sains dan teknologi sering dijadikan legitimasi bahwa sains
tidak netral dan tidak Islami. Sains yang berdampak buruk itu diasosiasikan
sebagai sains barat sekuler (SBS). Sebagai alternatifnya ditawarkan sains Islam
yang dipandu wahyu yang semestinya tidak akan berdampak buruk. Karena Islam
dijanjikan Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Ada yang
rancu di sini. Antara sains dan dampak dari sains. Dampak dari sains (dan
teknologi) sudah melibatkan penggunanya (manusia) yang di luar lingkup kajian
sains alami. Dalam hal ini, sistem nilai bukan berpengaruh pada sains, tetapi
pada perilaku manusia penggunanya. Sains itu ibarat pisau. Netral. Tidak ada
spesifikasi pisau Islam, pisau Kristen, pisau tukang sayur, atau pisau tukang
daging. Dampak pisau bisa negatif bila digunakan untuk merusak atau membunuh.
Tetapi bisa juga positif.

Sains
dihadapkan pada masalah kerusakan lapisan ozon. Satelit mendeteksi lapisan ozon
di atas antartika yang menipis yang dikenal sebagai lubang ozon. Sains mengkaji
sebab-sebabnya. Ada sebab kosmogenik (bersumber dari alam), antara lain variasi
akibat aktivitas matahari. Ada sebab antropogenik (bersumber dari aktivitas
manusia). Sains juga akhirnya menemukan sumber antropogenik itu salah satunya
CFC (Chlor Fluoro Carbon) atau freon yang banyak digunakan sebagai media
pendingin kulkas dan AC. Kini sains menemukan bahan alternatif yang tidak
merusak ozon.

Dapatkah
sains dipersalahkan dan dijuluki sains barat sekuler yang merusak? Kebetulan
yang menemukan freon adalah saintis non-Muslim. Karena sains bersifat
universal, sebenarnya mungkin juga saintis Muslim yang menemukannya. Bila
demikian yang terjadi, bolehkah pada awal penemuannya bahan yang sangat berguna
dalam proses pendinginan diklaim sebagai bagian dari hasil sains Islam, sains
Barat, atau lainnya? Karena keterbatasan ilmu manusia, tidak semua dampak dapat
diprakirakan. Ketika kini diketahui dampak buruknya, tidaklah adil untuk
melemparkan tuduhan bahwa itu produk sains barat sekuler. Bisa jadi, bila dulu
yang menemukannya seorang Muslim dan diklaim sebagai hasil sains Islam, maka
sains Islam yang akan dihujat.

Mungkinkah Mewujudkan Sains Islam?

Para
saintis segera menjawab pertanyaan seperti itu, "Tidak mungkin mewujudkan
sesuatu yang tidak ada!". Karena sains bersifat universal dan bebas nilai,
tidak ada sains Islam. Tetapi bagaimana bila diujicobakan dengan usulan
menjelmakan ilmu tauhidullah dengan mengganti premis-premis empiris yang
sembarang dengan premis-premis transendental?

Pada
awal 1980-an Pakistan dibawah kepemimpinan Zia ul Haq yang mencanangkan
Islamisasi di segala bidang sudah mencoba mengkaji penciptaan sains Islam.
Berdasarkan premis transendental dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa jin terbuat
dari api tanpa asap, pakar energi ada yang menawarkan energi alternatif:
menangkap jin sebagai sumber energi yang gratis. Ada yang mengkaji secara
kimia, jin kemungkinan besar terbuat dari gas metan dan hidrokarbon jenuh
sehingga bila terbakar tidak mengeluarkan asap. Tetapi tidak dijelaskan
bagaimana merealisasikannya. Itulah contoh upaya menjelmakan sains Islam yang
dinilai para saintis tidak realistis dan memalukan (Hoodbhooy, 1992).

Ada
metode yang ditawarkan dengan menggunakan "hati" sebagai penangkap
keghaiban untuk memperoleh premis-premis transendental. Karena metodenya bukan
metode fisis, maka hasilnya tidak dapat dianggap sebagai sains. Jadi, metode
ini tidak mungkin menghasilkan sains Islam. Lagi pula, siapakah yang dapat
mengklaim bahwa premis-premis yang digunakan benar-benar bersifat transendental
sehingga menjamin "sains" yang dihasilkan bebas dari limbah
berbahaya.

Metode
menggunakan "hati" serupa itu pernah dicoba oleh seorang mahasiswa
ITB aktivis masjid pada awal 1980-an. Dia bercerita kepada saya bahwa ia
berkelana untuk mencari ilmu "laduni" (maknanya ilmu dari sisi-Ku,
sisi Allah) yang dia percayai bisa mengatasi segala persoalan, termasuk masalah
iptek yang rumit. Saya tidak tahu berhasil atau tidak dia mencari ilmu non-fisik itu. Namun, awal 1990-an saya
mendengar dari seorang kerabatnya dia mengalami stres berat. Ini hanya suatu
peringatan bila suatu masalah fisis didekati dengan pendekatan non-fisis dengan
harapan yang terlalu besar untuk mendapatkan problem-solving yang ideal.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Juni 22, 2006 in Sains & Quran

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.