RSS

Netralitas Sains: Saintis vs Pakar Filsafat Ilmu

22 Jun

NETRALITAS SAINS

Perbedaan Cara
Pandang Saintis dan Pakar Filsafat Ilmu

(Dimuat atas
permintaan “Radar Bandung”, Ramadhan 1424, 10 & 11 November 2003)

Di kolom
"Hikmah" Republika 6 Maret 1999 saya mengulas tentang sains (dalam
hal ini sains alami – natural science) yang sering disalahartikan dalam
hal netralitasnya terhadap sistem nilai. Dalam tulisan pendek tersebut saya
menyatakan bahwa dari segi esensinya semua sains sudah Islami. Islamisasi sains
sungguh tidak tepat. Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam. Yang ada
saintis Islam dan saintis non-Islam. Saintisnya yang tidak bebas nilai, tata
nilai yang dianutnya tidak akan lepas dari pikirannya yang mungkin muncul dalam
pemaparan yang bersifat populer, bukan pada makalah teknis ilmiah. Demi kesahihan
argumentasi ilmiahnya, tata nilai harus dilepaskan dalam pemaparan yang
bersifat teknis ilmiah karena saintis harus berpijak pada rujukan yang dapat
diterima semua orang.

Pada
saat yang sama muncul tulisan Freddy P. Zen dan Husin Alatas di IDEA edisi
Maret 1999 berjudul "Islamisasi Sains atau Islamisasi Saintis". Ide
pokoknya sama dengan tulisan saya tersebut, bahwa sains itu bebas nilai. Hal
penting yang perlu dilakukan adalah Islamisasi saintis.

Secara
umum itulah pandangan saintis. Almarhum Prof. Abdus Salam (pemenang Nobel
Fisika 1979, Fisikawan Muslim asal Pakistan — yang dianggap kontroversial
sebagai pengikut Ahmadiyah) menyatakan secara tegas di dalam pengantarnya untuk
buku "Islam and Science : Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality"
(Hoodbhoy, P. 1992) menyatakan "There is only one universal science,
its problems and modalities are international and there is no such thing as
Islamic science just as there is no Hindu science, no Jews science, no
Confucian science, nor Christian science."

Tulisan
Zen dan Alatas tersebut ditanggapi oleh Herman Soewardi, Guru besar sosiologi
dan filsafat ilmu, dalam makalah yang disampaikan di Pusdai. Dengan menggunakan
terminologi dari Tarnas, SBS (Sains Barat Sekuler), tulisan tersebut menilai sains
tidak netral. Pandangan bahwa sains netral dianggapnya "terbelakang"
dan "sudah ketinggalan zaman". Dilandasi pandangan para pakar
filsafat ilmu, pandangan ketidaknetralan sains tampaknya didasarkan pada dampak
buruk SBS yang, katanya, berpokok pangkal pada kesalahan (controverted,
disaproved). Pandangan seperti itu akhirnya sampai pada kesimpulannya Kegley
bahwa sains itu "paradigm-bound phenomenon", yang berarti
tidak mungkin netral.

Saya
menilai perbedaan pendapat tentang netralitas sains tersebut bersumber dari
sudut pandang yang berbeda. Saintis berangkat dari makna fisis didasari
norma-norma profesionalisme yang selalu digelutinya. Para pakar filsafat ilmu
berangkat dari makna filosofis yang belum tentu sesuai dengan makna fisisnya.
Saintis mengambil kesimpulan dari data-data yang ada dengan menyadari
kesalahan-kesalahan (deviasi) yang harus selalu dinyatakan untuk dapat dinilai
akurasinya. Pakar filsafat ilmu menggali lebih dalam, mungkin melibatkan juga
metafisika, yang di luar lingkup tinjauan sains.

Dengan
memodifikasi gambaran komparatif tentang sains oleh Prof. Herman Suwardi, saya
membuat dua klasifikasi: Pertama, Sains versi saintis (yang oleh Prof. Herman
Suwardi disebut SBS) yang berangkat dari premis-premis empiris. Sains tidak
mungkin dibangun dari sumber-sumber non-fisis yang tidak mungkin dikaji ulang
oleh saintis lainnya. Betapa pun rendahnya akurasi data empiris tersebut
(tergantung perkembangan teknologi observasi dan analisisnya) tidak dapat
dikatakan "salah". Nilai kebenaran sains memang relatif, tergantung
bukti-bukti dan argumentasi fisis yang jadi landasannya. Selama belum ada bukti
yang menggugurkan suatu teori sains, maka teori itulah yang dianggap benar.

Ke dua,
"sains" versi filsafat yang, katanya, seharusnya berangkat dari
premis-premis transendental. Karena berangkat dari premis transedental bisa
muncul sebutan "sains" Islam, "sains" Kristen,
"sains" Yahudi, "sains" Hindu, "sains" Shinto,
dan sebagainya. "Sains" seperti ini dibangun dari nilai-nilai
kebenaran yang dipandu wahyu atau sumber transedental yang diakui oleh kelompok
tersebut. Nilai kebenaran sains versi filsafat ini mutlak bagi yang
mengakuinya, tetapi mungkin dianggap salah total bagi yang tidak mengakuinya.

Untuk
memperjelas perbedaan sudut pandang tersebut, saya bahas dua contoh kasus yang
disebut dalam makalah Prof. Herman Suwardi.

Teori Relativitas

Teori
relativitas ada dua: Teori Relativitas Khusus dan Teori Relativitas Umum. Teori
khusus menyatakan bahwa masing-masing pengamat yang bergerak seragam (tanpa
percepatan) akan menyatakan hasil pengukuran yang berbeda, misalnya tentang
panjang, waktu, dan energi. Asumsinya, prinsip relativitas dan kecepatan cahaya
yang konstan. Salah satu bukti kebenaran teori ini yang dikenal masyarakat
adalah teori kesetaraan massa dan energi, E=mc2, bila ada m massa
yang dihilangkan akan muncul energi sebesar E. Teori inilah yang menjadi dasar
penggunaan energi nuklir, baik untuk maksud damai maupun untuk maksud merusak.

Teori
umum memperluas teori khusus dengan meninjau pengamat yang bergerak dipercepat
relatif terhadap lainnya akibat gravitasi. Teori ini memperkenalkan
kelengkungan ruangwaktu. Sumber gravitasi besar menyebabkan kelengkungan
ruangwaktu yang dalam. Karena kesetaraan massa dan energi (antara lain cahaya),
gravitasi bukan hanya mempengaruhi massa tetapi juga cahaya. Cahaya akan
dibelokkan mengikuti geometri ruangwaktu di sekitar sumber gravitasi tersebut.
Misalnya, cahaya galaksi yang jauh yang melintasi galaksi lain sebagai sumber
gravitasi kuat akan dibelokkan sehingga tampak bukan pada posisi sesungguhnya.
Fenomena ini juga dikenal sebagai lensa gravitasi, sehingga satu galaksi yang
berada jauh di belakang galaksi lain, tampak seperti beberapa galaksi sejenis
di sekitar suatu titik sumber gravitasi.

Teori sains
seperti itu, menurut saintis, netral, bebas nilai. Teori tersebut bebas
dibuktikan oleh siapa pun. Teori tersebut makin kuat posisinya karena semakin
banyak bukti yang mendukungnya. Hukum alam yang diformulasi teori tersebut
bukan buatan manusia, tetapi hukum Allah (sunnatullah). Einstein dan
para saintis lainnya hanya memformulasikannya. Hukum Allah itu telah ada
bersama dengan alam yang diciptakan-Nya. Siapa pun yang memformulasikannya
dengan benar akan menghasilkan teori yang sejalan.

Bukti
bebas nilainya sains dapat juga ditunjukkan dari lahirnya teori penyatuan gaya
lemah dan gaya elektromagnetik yang dirumuskan secara independen oleh Abdus
Salam (seorang Muslim) dan Steven Weinberg (seorang ateis). Dua orang yang
berbeda sistem nilainya dapat menghasilkan teori yang sama. Mungkin ada
motivasi ketauhidan pada diri Abdus Salam, bahwa Alam yang diciptakan oleh
Allah yang esa hukum-hukumnya mempunyai keterkaitan yang dapat dipersatukan
dalam satu teori besar (Grand Unified Theories — GUTs). Tetapi motivasi dan
argumentasi ketauhidan seperti itu tidak akan muncul secara formal dalam
publikasi saintifik, karena belum tentu dapat diterima semua orang.

Teori
relativitas pun tersebut juga dapat dikatakan Islami. Artinya, mengikuti hukum
Allah (Islam dalam arti yang umum berarti berserah diri). Teori yang
mengungkapkan bagaimana alam tunduk pada hukum Allah sudah pasti berarti juga
mengikuti hukum Allah.

Hukum
gravitasi Newton telah mengungkapkan hukum Allah yang mengatur gerakan-gerakan
planet mengitari matahari. Orang kemudian melihat suatu keanehan dengan orbit
planet Merkurius yang orbitnya selalu bergesar. Bila orang menganggap hukum
Newton sebagai formulasi hukum Allah yang sempurna, boleh menyatakan bahwa
Merkurius "membangkang" dari hukum Allah. Ternyata kesan
"pembangkangan" planet Merkurius disebabkan karena keterbatasan
formulasi teori Newton. Karena alam semestinya taat pada hukum Allah sesuai
dengan janji ketika diciptakan (Q. S. 41:11), mestinya ada formulasi yang lebih
baik yang bisa menjelaskan bahwa planet Merkurius tidak "membangkang"
hukum Allah. Teori relativitas menjelaskan bahwa karena posisi Merkurius dekat
dengan matahari, ada tambahan gaya dorong yang menyebabkan orbitnya berubah.
(Ini contoh pemaparan saintis Islam tentang teori sains yang bebas nilai itu).

Itulah
esensi teori sains. Menjelaskan hukum Allah sebatas pengetahuan manusia karena
keterbatasan ilmu manusia (Q. S. 17:85). Tidak ada seorang saintis pun yang
dapat mengklaim suatu teori sains yang paling benar secara mutlak. Ungkapan
yang bisa dinyatakan adalah "bukti-bukti pengamatan saat ini membuktikan
teori inilah yang paling kuat", artinya bisa saja suatu saat ada bukti
lain yang menggugurkannya.

Dalam
sains tidak masalah "…create more problems than they solve"
(mengutip ungkapan tentang SBS dalam makalah Prof. Herman Suwardi), tentu dalam
konteks problem saintifik. Karena, saintis selalu merasa tertantang dengan
problem-problem baru. Banyak orang tidak menyangka bahwa sebenarnya sebagian
besar waktu saintis digunakan untuk merencanakan cara memperoleh data baru
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saintifik terbaru.

Dalam
tinjauan filsafat ilmu (mengutip makalah Prof. Herman Suwardi), teori
relativitas dipandang makna filosofisnya bahwa ada banyak alternatif untuk
menampakkan kebenaran dan kita tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar,
atau mana yang mendekati kenyataan. Karena itu orang tidak mungkin tahun
("know") tentang alam. Maka, mengutip Tarnas, realitas atau
"scientific truth" sekarang menjadi kabur. Seseorang tidak mungkin
mempunyai akses rasional pada kebenaran universal. Observasi merupakan titik
lemah dari sains karena obyektivitas observasi tidak mungkin. Karena semua
orang memandang segala hal yang ada di alam empirik ini dengan mata yang
dilapisi oleh "lensa" dan setiap orang memiliki lensanya sendiri.
Sehingga sains dianggapnya sebagai fenomena yang terikat pada paradigma.
Karenanya, beralasan bila dengan cara pandang demikian dan menghendaki
kebenaran hakiki (hal yang lazim dalam filsafat) sampai pada kesimpulan
"sains" tidak tidak netral. Memang, mengkaji secara mendalam mencari
kebenaran universal yang hakiki mau tidak mau akan bersentuhan dengan sistem
nilai yang dianut dalam kajian tersebut.

Sebenarnya,
mencari kebenaran hakiki bukan lagi ruang lingkup kajian sains. Karena sains
tidak mungkin sejauh itu. Sains berkepentingan pada kebenaran saintifik
berdasarkan bukti-bukti yang diakui menurut kaidah-kaidah ilmiah. Diharapkan
kebenaran saitifik tersebut mendekati kebenaran hakiki, tetapi tak seorang
saintis pun berhak mengklaim itulah kebenaran hakiki. Jadi, definisi
"sains" yang disebut tidak netral oleh pakar filsafat ilmu pasti
bukan sains yang dimaksud oleh para saintis.

Kerusakan Lapisan Ozon

Dampak
buruk perkembangan sains dan teknologi sering dijadikan legitimasi bahwa sains
tidak netral dan tidak Islami. Sains yang berdampak buruk itu diasosiasikan
sebagai sains barat sekuler (SBS). Sebagai alternatifnya ditawarkan sains Islam
yang dipandu wahyu yang semestinya tidak akan berdampak buruk. Karena Islam
dijanjikan Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Ada yang
rancu di sini. Antara sains dan dampak dari sains. Dampak dari sains (dan
teknologi) sudah melibatkan penggunanya (manusia) yang di luar lingkup kajian
sains alami. Dalam hal ini, sistem nilai bukan berpengaruh pada sains, tetapi
pada perilaku manusia penggunanya. Sains itu ibarat pisau. Netral. Tidak ada
spesifikasi pisau Islam, pisau Kristen, pisau tukang sayur, atau pisau tukang
daging. Dampak pisau bisa negatif bila digunakan untuk merusak atau membunuh.
Tetapi bisa juga positif.

Sains
dihadapkan pada masalah kerusakan lapisan ozon. Satelit mendeteksi lapisan ozon
di atas antartika yang menipis yang dikenal sebagai lubang ozon. Sains mengkaji
sebab-sebabnya. Ada sebab kosmogenik (bersumber dari alam), antara lain variasi
akibat aktivitas matahari. Ada sebab antropogenik (bersumber dari aktivitas
manusia). Sains juga akhirnya menemukan sumber antropogenik itu salah satunya
CFC (Chlor Fluoro Carbon) atau freon yang banyak digunakan sebagai media
pendingin kulkas dan AC. Kini sains menemukan bahan alternatif yang tidak
merusak ozon.

Dapatkah
sains dipersalahkan dan dijuluki sains barat sekuler yang merusak? Kebetulan
yang menemukan freon adalah saintis non-Muslim. Karena sains bersifat
universal, sebenarnya mungkin juga saintis Muslim yang menemukannya. Bila
demikian yang terjadi, bolehkah pada awal penemuannya bahan yang sangat berguna
dalam proses pendinginan diklaim sebagai bagian dari hasil sains Islam, sains
Barat, atau lainnya? Karena keterbatasan ilmu manusia, tidak semua dampak dapat
diprakirakan. Ketika kini diketahui dampak buruknya, tidaklah adil untuk
melemparkan tuduhan bahwa itu produk sains barat sekuler. Bisa jadi, bila dulu
yang menemukannya seorang Muslim dan diklaim sebagai hasil sains Islam, maka
sains Islam yang akan dihujat.

Mungkinkah Mewujudkan Sains Islam?

Para
saintis segera menjawab pertanyaan seperti itu, "Tidak mungkin mewujudkan
sesuatu yang tidak ada!". Karena sains bersifat universal dan bebas nilai,
tidak ada sains Islam. Tetapi bagaimana bila diujicobakan dengan usulan
menjelmakan ilmu tauhidullah dengan mengganti premis-premis empiris yang
sembarang dengan premis-premis transendental?

Pada
awal 1980-an Pakistan dibawah kepemimpinan Zia ul Haq yang mencanangkan
Islamisasi di segala bidang sudah mencoba mengkaji penciptaan sains Islam.
Berdasarkan premis transendental dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa jin terbuat
dari api tanpa asap, pakar energi ada yang menawarkan energi alternatif:
menangkap jin sebagai sumber energi yang gratis. Ada yang mengkaji secara
kimia, jin kemungkinan besar terbuat dari gas metan dan hidrokarbon jenuh
sehingga bila terbakar tidak mengeluarkan asap. Tetapi tidak dijelaskan
bagaimana merealisasikannya. Itulah contoh upaya menjelmakan sains Islam yang
dinilai para saintis tidak realistis dan memalukan (Hoodbhooy, 1992).

Ada
metode yang ditawarkan dengan menggunakan "hati" sebagai penangkap
keghaiban untuk memperoleh premis-premis transendental. Karena metodenya bukan
metode fisis, maka hasilnya tidak dapat dianggap sebagai sains. Jadi, metode
ini tidak mungkin menghasilkan sains Islam. Lagi pula, siapakah yang dapat
mengklaim bahwa premis-premis yang digunakan benar-benar bersifat transendental
sehingga menjamin "sains" yang dihasilkan bebas dari limbah
berbahaya.

Metode
menggunakan "hati" serupa itu pernah dicoba oleh seorang mahasiswa
ITB aktivis masjid pada awal 1980-an. Dia bercerita kepada saya bahwa ia
berkelana untuk mencari ilmu "laduni" (maknanya ilmu dari sisi-Ku,
sisi Allah) yang dia percayai bisa mengatasi segala persoalan, termasuk masalah
iptek yang rumit. Saya tidak tahu berhasil atau tidak dia mencari ilmu non-fisik itu. Namun, awal 1990-an saya
mendengar dari seorang kerabatnya dia mengalami stres berat. Ini hanya suatu
peringatan bila suatu masalah fisis didekati dengan pendekatan non-fisis dengan
harapan yang terlalu besar untuk mendapatkan problem-solving yang ideal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 22, 2006 in Sains & Quran

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: