RSS

Matahari dan Jadwal Shalat

01 Jul

                           POSISI
MATAHARI DAN PENENTUAN JADWAL SALAT

(Dimuat di "Hikmah", Minggu III Juli 1995)

           
Dalam penentuan jadwal
salat, data astronomi terpenting adalah posisi matahari dalam koordinat
horizon, terutama ketinggian atau jarak zenit. Fenomena yang dicari kaitannya
dengan posisi matahari adalah fajar (morning twilight), terbit,
melintasi meridian, terbenam, dan senja (evening twilight). Dalam hal
ini astronomi berperan menafsirkan fenomena yang disebutkan dalam dalil agama
(Al-Qur’an dan hadits Nabi) menjadi posisi matahari. Sebenarnya penafsiran itu
belum seragam, tetapi karena masyarakat telah sepakat menerima data astronomi
sebagai acuan, kriterianya relatif mudah disatukan.

            Di dalam hadits disebutkan
bahwa waktu shubuh adalah sejak terbit fajar shidiq (sebenarnya) sampai
terbitnya matahari. Di dalam Al-Quran secara tak langsung disebutkan sejak
meredupnya bintang-bintang (Q.S. 52:49). Maka secara astronomi fajar shidiq
difahami sebagai awal astronomical twilight (fajar astronomi), mulai
munculnya cahaya di ufuk timur menjelang terbit matahari pada saat matahari
berada pada  kira‑kira 18 derajat di
bawah horizon (jarak zenit z = 108o). Saaduddin Djambek mengambil
pendapat bahwa fajar shidiq bila z = 110o, yang juga digunakan oleh
Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Agama RI. Fajar shidiq itu disebabkan oleh
hamburan cahaya matahari di atmosfer atas. Ini berbeda dengan apa yang disebut
fajar kidzib (semu) — dalam istilah astronomi disebut cahaya zodiak —
yang disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet.

            Waktu dzhuhur adalah sejak
matahari meninggalkan meridian, biasanya diambil sekitar 2 menit setelah tengah
hari. Untuk keperluan praktis, waktu tengah hari cukup diambil waktu tengah
antara matahari terbit dan terbenam.

            Dalam penentuan waktu
asar, tidak ada kesepakatan karena fenomena yang dijadikan dasar pun tidak
jelas. Dasar yang disebutkan di dalam hadits, Nabi SAW diajak shalat asar oleh
malaikat Jibril ketika panjang bayangan sama dengan tinggi benda sebenarnya dan
pada keesokan harinya Nabi diajak pada saat panjang bayangan dua kali tinggi
benda sebenarnya. Walaupun dari dalil itu dapat disimpulkan bahwa awal waktu
asar adalah sejak bayangan sama dengan tinggi benda sebenarnya, ini menimbulkan
beberapa penafsiran karena fenomena seperti itu tidak bisa digeneralilasi sebab
pada musim dingin hal itu  bisa dicapai
pada waktu dhuhur, bahkan mungkin tidak pernah terjadi karena bayangan selalu lebih
panjang daripada tongkatnya. Ada yang berpendapat tanda masuk waktu asar bila
bayang-bayang tongkat panjangnya sama dengan panjang bayangan waktu tengah hari
ditambah satu kali panjang tongkat sebenarnya dan pendapat lain menyatakan
harus ditambah dua kali panjang tongkat sebenarnya. Pendapat yang
memperhitungkan panjang bayangan pada waktu dzhuhur atau mengambil dasar
tambahannya dua kali panjang tongkat (di beberapa negara Eropa) dimaksudkan
untuk mengatasi masalah panjang bayangan pada musim dingin. Badan Hisab dan
Ru’yat Departemen Agama RI menggunakan rumusan: panjang bayangan waktu asar =
bayangan waktu dzhuhur + tinggi bendanya; tan(za) = tan(zd)
+ 1. Saya berpendapat bahwa makna hadits itu dapat difahami sebagai waktu
pertengahan antara dhuhur dan maghrib, tanpa perlu memperhitungkan jarak zenit
matahari. Hal ini diperkuat dengan ungkapan ‘salat pertengahan’ dalam Al-Qur’an
S. 2:238 yang ditafsirkan oleh banyak mufassir sebagai salat asar. Kalau
pendapat ini yang digunakan, waktu salat asar akan lebih cepat sekitar 10 menit
dari jadwal salat yang dibuat Departemen Agama.

            Waktu maghrib berarti saat
terbenamnya matahari. Matahari terbit atau berbenam didefinisikan secara
astronomi bila jarak zenith z = 90o50′ (the Astronomical almanac)
atau z = 91o bila memasukkan koreksi kerendahan ufuk akibat
ketinggian pengamat 30 meter dari permukaan tanah. Untuk penentuan waktu salat
maghrib, saat matahari terbenam biasanya ditambah 2 menit karena ada larangan
melakukan salat tepat saat matahari terbit, terbenam, atau kulminasi atas.

            Waktu isya ditandai dengan
mulai memudarnya cahaya merah di ufuk barat, yaitu tanda masuknya gelap malam
(Al-Qur’an S. 17:78). Dalam astronomi itu dikenal sebagai akhir senja astronomi
(astronomical twilight) bila jarak zenit matahari z = 108o).

            Posisi matahari telah dapat
diformulasikan dalam algoritma sederhana dengan kecermatan plus-minus 2 menit
untuk daerah lintang antara 65 derajat LU dan 65 derajat LS. Algoritma itu
telah saya ubah menjadi program komputer sederhana penentuan jadwal salat. Untuk
daerah dengan lintang lebih  dari 48
derajat pada musim panas senja dan fajar bersambung (continous twilight)
sehingga dalam program saya itu waktu isya dan shubuh diqiyaskan (disamakan)
pada waktu normal sebelumnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 1, 2006 in Hisab-Rukyat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: