RSS

Perkembangan Teknologi yang Dilematis bagi Astronomi

02 Jul

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI YANG DILEMATIS BAGI ASTRONOMI

(Dimuat Pikiran Rakyat,28 Agustus 1999)

            Para
astronom kini sedang berjuang melindungi laboratorium alam terbesar agar tidak
lenyap dari khasanah keilmuan umat manusia. Sebelum konferensi dunia
keantariksaan III (UNISPACE III) di Vienna, Austria, bulan Juli 1999 mereka
menggelar simposium  membahas tiga
ancaman besar bagi penelitian astronomi: polusi cahaya, interferensi radio, dan
sampah antariksa.

            Suatu
dilemma teknologis dihadapi oleh mereka. Tetapi tidak banyak orang peduli
dengan kepentingan umat manusia yang diperjuangkan para astronom. Pernyataan
para astronom mungkin akan dinilai anti modernisasi. Dilemma itu antara lain
dirasakan para astronom yang mengikuti workshop sains antariksa dasar yang
diselenggarakan PBB di Honduras 1997. Ketika itu akan dirumuskan rekomendasi
agar masalah-masalah astronomis tersebut masuk dalam draft UNISPACE III.
Pimpinan sidang (perwakilan dari ESA, badan antariksa Eropa) mengingatkan agar
rumusan jangan terlalu keras karena akan langsung berhadapan dengan kebijakan
pengembangan teknologi yang sedang pesat dilakukan oleh banyak negara.

 

Polusi Cahaya

            Polusi
cahaya adalah contoh yang bisa dirasakan oleh orang awam. Di tengah kota besar
kita tidak akan lagi merasakan keindahan langit dengan jutaan bintang di
galaksi Bimasakti yang tampak seperti sungai perak. Cahaya lampu kota
mengalahkannya. Purnama pun tidak lagi menarik perhatian orang kota.

            Astronom
menginginkan lingkungan malam yang gelap gulita sehingga mampu melihat bintang
dan galaksi yang paling redup. Tetapi mayoritas masyarakat tentu akan
menolaknya bila lampu-lampu luar harus dipadamkan atau dibatasi. Gemerlap lampu
kota telah diidentikkan dengan tingkat kemajuan masyarakatnya.

            Observatorium
Boscha di Lembang merasakan dampak polusi cahaya kota Bandung dan Lembang
sendiri yang mulai berkembang. Gemerlap lampu kota Bandung terlihat jelas dari
lokasi observatorium. Akibatnya, pengamatan untuk objek redup yang biasanya
perlu waktu perekaman lama akan terganggu oleh cahaya latar depan yang cukup
kuat.

            Observatorium
yang letaknya sekitar 150 km dari pusat kota pun masih merasakan dampak polusi
cahaya. Pada 1878 observatorium Universitas Tokyo terletak di tengah kota.
Tahun 1920-an terpaksa harus dipindahkan ke Mitaka, di pinggiran Tokyo. Dan itu
belum berakhir. Akibat perkembangan Tokyo, sejak 1955 lokasi pengamatan pun
satu per satu bagiannya berpindah ke berbagai tempat yang jauh dari kota. Dan
pada tahun 1990-an Jepang memutuskan mendirikan teleskop raksasanya, Subaru
yang berdiameter 8 meter, di Mauna Kea, Hawaii. Mauna Kea saat ini disebut
sebagai tempat paling baik untuk observatorium. Namun, ancaman pengembangan
kawasan wisata di Hawaii juga mulai mengkhawatirkan para astronom.

            Pada
1975 W. Sulliwan mempublikasikan gambar satelit yang diberi judul "Bumi di
waktu malam". Tampak kota-kota di negara-negara maju terang benderang,
sedangkan di negara-negara berkembang masih tampak redup. Dengan analisis citra
satelit tersebut Kosai dan kawan-kawan (1992) menunjukkan bagaimana energi
listrik digunakan secara tidak efisien di negara-negara maju, sekadar untuk
penerangan dan hiasan yang berlebihan. Dapat dipastikan saat ini gemerlap
"Bumi di waktu malam" sudah merambah negera-negara berkembang.

            Menghadapi
bahaya polusi cahaya itu para astronom berupaya keras meningkatkan teknologi
pencitraan yang mampu meningkatkan kontras objek langit dari cahaya latar
depan. Antara lain dengan kamera CCD. Walaupun demikian untuk objek sangat
redup, kamera yang sensitif tidak akan mampu mengatasi polusi cahaya yang
relatif cemerlang.

            Upaya
lain yang mulai diterapkan di beberapa negera adalah menganjurkan pemakaian
lampu natrium untuk pemakaian di jalan, taman, dan ruang terbuka lainnya.
Untungnya lampu natrium tersebut tergolong hemat energi sehingga anjuran
tersebut banyak mendapat sambutan masyarakat. Dengan lampu yang berwarna kuning
tersebut, para astronom kehilangan ruang spektrum 5800 angtrom, tetapi jendela
spektrum lainnya diharapkan relatif aman.

            Tantangan
baru kini muncul. Saat ini sedang dikembangkan dan mulai diujicobakan satelit
yang membawa cermin raksasa yang akan memantulkan cahaya matahari untuk
menerangi beberapa bagian bumi pada waktu malam atau sekadar untuk tujuan
artistik atau reklame. Himpunan Astronomi Dunia (IAU) sangat menentang program
tersebut karena sangat membahayakan pengamatan malam dan pasti akan merusakkan
banyak instrumen yang sangat peka cahaya. IAU memanfaatkan pertemuan UNISPACE
III untuk mencari dukungan kebijakan internasional untuk melestarikan kondisi
pengamatan astronomi sealami mungkin.

 

Interferensi Radio

            Pengamatan
semburan radio matahari dengan spektrograf radio di Stasiun Pengamatan Matahari
dan Ionosfer LAPAN di Tanjungsari, Sumedang, terpaksa difilter pada frekuensi
sekitar 90-100 MHz. Sayang sebenarnya. Informasi tentang aktivitas matahari
menjadi tidak lengkap. Maraknya stasiun pemancar radio FM di wilayah Bandung
dan sekitarnya sangat menggangu penangkapan pancaran radio dari matahari.

            Keluhan semacam itu
semakin banyak.
Para astronom radio kini menghadapi
bahaya menjadi "tuli" untuk mendengarkan isyarat alam semesta yang
sangat sayup-sayup. Satelit komunikasi dengan rentang frekuensi yang makin
bertambah mendesak cakupan pengamatan astronomi. Padahal banyak rahasia alam
yang tak kasat mata digali dari jasa antena parabola astronom radio.

            Ledakan
besar pembentukan alam semesta (big bang) diyakini kebenarannya dari
pembuktian latar bekakang kosmik dengan pengamatan radio. Kisah kelahiran
bintang-bintang dari awan antarbintang juga banyak diceritakan oleh pengamatan
semacam ini. Pancaran radio pada panjang gelombang 11 cm dari atom hidrogen
bercerita banyak tentang struktur galaksi kita yang bukan sekadar dihuni oleh
bintang-bintang, tetapi juga oleh debu dan gas yang menjadi materi pembentukan
bintang-bintang baru. Kini para pemburu peradaban luar bumi pun giat memantau
setiap sinyal radio kosmik, kalau-kalau ada sinyal spesifik yang mengisyaratkan
adanya peradaban lain.

            Dalam
konferensi dunia UNISPACE III yang bertema "Manfaat Antariksa bagi
Kemanusiaan pada Abad ke-21" para astronom menggelar simposium
"Pelestarian Langit Astronomis". Salah satunya, untuk mencari
dukungan dunia agar ada pengendalian frekuensi 
yang lebih ketat demi terselamatkannya "jendela" radio
astronomi untuk menguak rahasia alam.

 

Sampah Antriksa

            Tidak
semua isyarat kosmik dapat dideteksi dari bumi. Objek-objek panas yang
mengindikasikan adanya black hole (materi alam yang luar biasa padatnya
sehingga cahaya pun tertarik gravitasinya) atau korona matahari yang bersuhu
jutaan derajat bercerita tentang eksistensinya dengan pancaran sinar-X.
Sayangnya isyarat itu tidak mungkin terdeteksi dari bumi. Demikian juga isyarat
inframerah, ultraviolet, atau sinar gamma dari objek-objek langit yang sangat
menarik.

            Teknologi
antariksa telah membantu para astronom untuk mengatasi masalah itu. Teleskop
antariksa seperti teleskop Uhuru, IRAS, Hubble, Yohkoh, dan Soho mampu
menangkap isyarat-isyarat itu dan mengirimkannya ke bumi. Dengan Uhuru para
astronom mendeteksi objek Cygnus X-1 yang merupakan bukti pertama adanya black
hole.
IRAS menghasilkan banyak informasi tentang "embrio"
bintang. Hubble bercerita lebih rinci tentang galaksi-galaksi yang paling jauh,
yang berarti juga yang paling muda dalam ukuran umur alam semesta. Yohkoh dan
Soho menggambarkan secara jelas gejolak aktivitas matahari.

            Tetapi,
ada bahanya mengancam di antariksa. Sampah-sampah antariksa dari pecahan dan
sisa-sisa roket dan satelit buatan manusia makin menumpuk. Ini sangat
membahayakan keselamatan observatorium antariksa tersebut. Ketika terjadi badai
Leonids November 1998 teleskop Hubble diubah arahnya untuk menyelamatkan cermin
dan perangkat sensitif lainnya. Hal itu dapat dilakukan karena arah debu-debu
hujan meteor telah dapat diperkirakan. Tetapi, arah datangnya sampah antariksa
tidak diketahui, bisa tiba-tiba menghantam teleskop tanpa diketahui sebelumnya.

            Sampah
antariksa yang paling berbahaya adalah yang berukuran antara 1-10 cm. Hal ini
karena pelindung satelit hanya efektif untuk menahan benturan benda kecil
berukuran kurang dari 1 cm. Benda yang lebih besar dari 10 cm umumnya masih
dapat dideteksi oleh sistem patroli antariksa, sehingga bila mengancam satelit,
stasiun pengendali dapat segera melakukan langkah-langkah penyelamatan.

            Sampah
antariksa bukan hanya mengganggu teleskop antariksa, tetapi juga bisa
mengganggu kualitas hasil pengamatan dari bumi. Saat ini diketahui bahwa jumlah
citra sampah antariksa yang terekam berupa goresan cahaya pada plat foto
astronomi makin bertambah. Dikhawatirkan dengan makin banyaknya sampah
antariksa, foto hasil pengamatan medan luas akan dikotori oleh goresan-goresan
cahaya.

            Gangguan
juga dapat dirasakan pengamat bila pada saat pengukuran fotometrik terlintas cahaya
sampah antariksa yang tepat masuk dalam medan pandang teleskop. Bila hal ini
terjadi, hasil pengukuran menjadi sia-sia. Sampah antariksa berukuran sekitar 1
meter yang berada pada jarak orbit satelit geostasioner (sekitar 36.000 km)
akan tampak seperti sebuah bintang sangat redup bermagnitudo 16.

            Memang
suatu dilemma. Pengembangan teknologi pengamatan astronomi kini harus berpacu
mengatasi ancaman dari pengembangan teknologi lainnya. Bila tidak terkontrol,
kita bagai berada dalam ruang tertutup, karena tidak mampu lagi melihat dan
mendengar isyarat-isyarat alam semesta.

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: