RSS

Evolusi di Alam dan Eksistensi Manusia

19 Jul
Evolusi di Alam dan Eksistensi Manusia

T.
Djamaluddin

(Dimuat "Pikiran Rakyat", 1 Okt. 1996)

 

            Banyak
orang mengenal teori evolusi sebatas kontroversi evolusi manusia dari kera yang
banyak ditentang kaum agamawan. Evolusi sebenarnya adalah suatu proses alami
dalam waktu sangat panjang yang dipengaruhi banyak faktor lingkungannya.
Berdasarkan bukti-bukti ilmiah, evolusi di alam benar adanya. Tidak terbatas
pada evolusi hewan, tetapi juga pada seluruh alam. Ayat-ayat Al-Qur’an yang
menyatakan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan dalam enam masa menunjukkan
adanya proses kejadian yang tidak sekaligus jadi.

            Masalahnya,
benarkah manusia berasal dari kera? Berdasarkan Al-Quran, kita harus menyatakan
bahwa manusia bukan hasil evolusi hewan melainkan diciptakan secara khusus.
Tulisan ini mencoba memadukan dalil Al-Quran dengan temuan ilmiah tentang
evolusi di alam dan sedikit tentang eksistensi manusia.

 

Evolusi Alam Semesta

            Alam
diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. 41:9-12), dua masa untuk menciptakan
langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk
menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk
memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa
("hari", ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an.

            Belum
ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, bedasarkan kronologi evolusi
alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S.
79:27-32) saya menafsirkan enam masa itu adalah enam tahapan proses sejak
penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Lamanya tiap masa tidak merupakan
fokus perhatian.

            Masa
pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan
bumi asalnya bersatu) sekitar 12 – 20 milyar tahun lalu. Inilah awal terciptanya
materi, energi, dan waktu. "Ledakan" itu pada hakikatnya adalah
pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan
langit (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang
menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara
inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon,
oksigen, sampai besi.

            Masa
yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam
bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas
antarbintang, Q. S. 41:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal
memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir,
maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan
supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya
unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan
hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya,
termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut
sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang
berlanjut.

            Itulah
dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan
pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin
"tinggi" menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan
bintang-bintang baru disebutkan sebagai "Dia meninggikan bangunannya
(langit) lalu menyempurnakannya
" (Q.S. 79:28)

            Masa
ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan
tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun
lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga
penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus
berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang
diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. 79:29, "dan Dia
menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang
.

            Masa
pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat.
Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat
dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari
peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan
endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul
sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan
granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi
leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan
itulah yang nampaknya dimaksudkan "penghamparan bumi" pada Q.S.
79:30, "Dan bumi sesudah itu (sesudah penciptaan langit) dihamparkan‑Nya."

             Menurut analisis
astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan
tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu
gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi
yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring
23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian
dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari
pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi
terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi
bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio
D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai
prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

            Pemanasan
matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya
air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3)
serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik
dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik
yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan
bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil
tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. 21:30 memang disebutkan
semua makhluk hidup berasal dari air.

            Lahirnya
kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan
merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan
proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai
terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang
menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi
terus berlanjut.

            Tersedianya
air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam
itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan
bagi penghuninya (Q.S. 41:10). Di dalam Q.S. 79:31-33 hal ini diungkapkan
sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan, "Ia memancarkan dari
padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung
dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk
binatang‑binatang ternakmu".

 

Evolusi Kehidupan

            Pemikiran
tentang adanya evolusi kehidupan didasarkan pada temuan adanya kemiripan
antarspesies makhluk hidup. Perbedaan yang sifatnya gradual sangat mungkin
disebabkan oleh seleksi alam. Alasannya, hanya keturunan yang mampu beradaptasi
dengan lingkungannya yang akan mampu bertahan. Walaupun demikian, generasi yang
telah beradaptasi dengan segala perubahan fisiknya tetap membawa sifat-sifat
pokok dari induknya.

            Walaupun
diakui masih banyak hal yang sifatnya spekulatif, telah disusun suatu silsilah
evolusi yang berawal dari sejenis bakteri yang bersel satu yang hidup sekitar
3,5 milyar tahun lalu. Dari jenis bakteri lahir generasi ganggang yang masih
hidup di air. Ganggang hijau sekitar 1 – 2 milyar tahun lalu melahirkan generasi
tumbuhan darat. Dari jalur ganggang hijau, sekitar 630 juta tahun lalu, juga
lahir generasi hewan tak bertulang belakang.

            Pada
jalur yang sama dengan kelahiran Echinodermata (a.l. bintang laut) muncul
generasi ikan sekitar 500 juta tahun lalu. Jenis ikan osteolepiform yang
siripnya mempunyai tulang pada sekitar 400 juta tahun kemudian melahirkan
generasi hewan berkaki empat, amfibi dan reptil, termasuk dinosaurus. Kelak
dari keluarga dinosaurus pada masa Jurassic (208 – 144 juta tahun lalu) lahir generasi
burung.

            Jenis
reptil mirip mamalia (Synapsida) melahirkan generasi mamalia sekitar 200
juta tahun lalu. Salah satu generasi mamalia adalah primata yang arti asalnya
adalah "peringkat pertama". Pada jalur primata, sekitar 34 juta tahun
lalu evolusi keluarga kera berekor berpisah dari keluarga hominoid.

            Dalam
keluarga hominoid terdapat gibon dan hominid yang mencakup orangutan, gorila,
dan simpanse. Hominid berpisah dari gibon sekitar 17 juta tahun lalu. Dalam
silsilah evolusi hominid ini makhluk serupa manusia (hominini) dikelompokan
pada asal jalur yang sama dengan gorila dan simpanse. Kesamaan genetik antara
manusia dengan gorila dan simpanse sangat besar, masing-masing 98,6 % dan 98,8
%, sehingga diduga berasal dari satu jalur evolusi yang mulai berpisah sekitar
5 juta tahun lalu.

            Penempatan
manusia pada silsilah evolusi seperti itulah yang memicu penolakan pada teori
evolusi. Dengan menggunakan dalil naqli dari ayat-ayat Al-Quran,
sebenarnya masalah ini mudah diselesaikan tanpa penolakan secara apriori teori
yang mencoba menelusur evolusi kehidupan. Menurut saya, teori evolusi tidak
bertentangan dengan akidah bila disertai keyakinan bahwa proses itu terjadi
menurut sunatullah, bukan proses kebetulan yang meniadakan peran Allah sebagai
Rabbul alamin (pencipta dan pemelihara alam).

 

Eksistensi Manusia

            Dalam
keyakinan Islam, manusia diciptakan secara khusus untuk menjadi khalifah di
bumi (Q.S. 2:29). Proses penciptaan Adam yang berbeda dengan makhluk lainnya
disebutkan di dalam Q.S. 3:59 (penciptaannya serupa Nabi Isa dengan ‘kun
fayakun’ – ‘jadilah, maka jadilah’) dan Q.S. 32:7-8 (Adam dari tanah,
keturunannya dari nuthfah). Kedua ayat itu menunjukkan bahwa Adam tidak
diciptakan dari proses biologis perkawinan makhluk lainnya.

            Menurut
kajian paleoantropologis, setidaknya ada sembilan jenis makhluk serupa manusia:
Australopithecus (A.) aferensis, A. africanus, Paranthropus (P.) aethiopicus,
P. robustus, P. boisei, Homo (H.) habilis kecil, H. habilis besar, H. erektus,
dan H. sapiens. Homo habilis mahir menggunakan alat-alat batu. Homo erektus
(manusia purba) sudah mengenal api untuk penghangat dan memasak. Manusia modern
yang ada sekarang dikelompokkan sebagai Homo sapiens.

            Ada
beberapa hipotesis yang berusaha menjelaskan evolusi mereka. Namun semuanya
tidak ada kepastian dari jalur mana lahirnya Homo erektus. Yang telah
disepakati hanyalah Homo sapiens berasal dari Homo erektus. Ada yang
berpendapat Homo habilis cenderung tidak bisa digolongkan sebagai Homo
("manusia"), mungkin jenis paranthropus berotak besar. Kemampuan
berbicara Homo habilis belum sempurna. Alat-alat batu yang dihasilkannya pun
tidak menunjukkan eksperimen kreatif.

            Kalau
demikian, yang sudah meyakinkan secara ilmiah sebagai manusia adalah sejak
generasi Homo erektus. Ukuran otak yang besar memberikan indikasi kemampuan
berpikir yang lebih kuat. Kemampuan berbicara dan berkomunikasi pun sudah cukup
maju. Interaksi sosial mulai tumbuh dan makin kompleks. Kehadirannya berdampak
pada berbagai spesies. Binatang buas yang mengancam manusia mungkin termasuk
yang diburu demi keselamatan masyarakatnya. Punahnya kucing purba yang buas
yang terjadi pada masa Homo erektus diduga berkaitan dengan ulah mereka, bukan
karena faktor alam.

            Mungkinkah
Homo erektus ini yang sudah tersebar dari Afrika, Jawa, sampai China adalah
anak cucu Adam yang sulit ditelusur pada silsilah evolusi karena diciptakan
Allah secara khusus? Wallahu ‘alam, walaupun kita bisa menduganya ke arah itu.

            Yang
jelas, anak cucu Adam pun berevolusi. Adanya berbagai ras manusia dengan warna
kulit, bentuk dan warna rambut, serta postur tubuh yang berbeda-beda
menunjukkan adanya evolusi manusia. Adaptasi terhadap lingkungan tempat
tinggalnya yang berbeda-beda dalam jangka waktu sangat panjang menghasilkan
generasi yang beraneka ragam.

            Teori
pertama menyatakan manusia purba yang telah menyebar ke berbagai wilayah terus
berevolusi menurunkan generasi manusia modern. Tetapi menurut teori
monogenesis, dari penelusuran perbedaan genetik dan bukti arkeologi, diduga
manusia purba (homo erektus) yang sudah tersebar sampai ke China, Jawa, dan
Eropa punah. Semakin besar kesamaan genetiknya, diduga berasal dari alur
evolusi yang sejalan.

            Manusia
modern yang kini ada berasal dari sisa manusia purba di Afrika sekitar 100.000
tahun lalu. Manusia di Asia timur dan Pasifik mempunyai kesamaan genetik yang
berarti berasal dari alur evolusi yang sama. Secara genetik, sedikit berbeda
dengan "induknya" di Afrika dan generasi dari alur yang menuju Eropa.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 19, 2006 in Sains & Quran

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: