RSS

Ketika Pluto Digugat

04 Sep

Ketika Pluto Digugat

(Dimuat "Pikiran-Rakyat", 31 Agustus 2006, Cakrawala)


T.
Djamaluddin

Peneliti
Utama Astronomi dan Sains Antariksa, LAPAN
Bandung

 

            Setelah
76 tahun menyandang predikat planet, kini Pluto dianggap sebagai bukan planet,
walau punya sebutan planet kerdil atau planet katai (dwarf planet). Perhimpunan
Astronomi Internasional (International Astronomical Union, IAU) melalui
mekanisme voting pada akhir sidang umumnya di Praha, Ceko, pada 24 Agustus 2006
membuat definisi baru tentang planet yang akhirnya mengeluarkan Pluto dari
kelompok planet. Jadi, kini keluarga tata surya dikelompokkan menjadi tiga
kelompok:  planet (8), planet kerdil
(kini ada 3, mungkin terus bertambah menjadi puluhan), dan benda kecil tata
surya (komet, asteroid, dan benda kecil lainnya yang jumlahnya sangat banyak).
Terminologi planet minor untuk asteroid kini dihapuskan.

            Mengapa
status pluto mesti digugat? Pendefinisian ulang tentang planet diperlukan agar
tidak membingungkan masyarakat astronomi dan masyarakat umum. Sejak tahun
1990-an perkembangan astronomi sistem planet demikian pesat yang telah
mengaburkan definisi awal tentang planet. Penemuan planet-planet di luar tata
surya yang mempunyai beberapa kesamaan sifat dengan objek katai coklat (bakal
bintang yang gagal bersinar) menambah rumitnya mendefinisikan planet.

            Perdebatan
tentang status Pluto dipicu oleh penemuan objek yang diklasifikasikan sebagai
"objek lintas Neptunus" (Trans-Neptunian Objects, TNO), yaitu
objek tata surya yang mengorbit melintasi atau di luar orbit planet Neptunus.
Sampai akhir 1990-an telah ditemukan hampir 100 TNO, kini jumlahnya terus
bertambah.

            Penemuan
TNO diawali oleh D. Jewitt dan J. Luu. Pada 1992 mereka menemukan objek yang
dinamakan QB1. Objek itu diklasifikasikan bukan planet, bukan asteroid, juga
bukan komet. Objek itu mempunyai kemiripan dengan sifat-sifat dinamika
Pluto.  Pluto kurang cocok dianggap
sebagai planet, seperti delapan planet lainnya. Tetapi, terlalu besar bila
digolongkan sebagai TNO. Namun, divisi III IAU yang membidangi sains sistem
planet cenderung menggolongkannya sebagai TNO, berdasarkan kedekatan ciri-ciri
dinamikanya.
Namun sejak
2002 ditemukan objek-objek yang cukup besar sehingga diusulkan sebagai planet
baru, yaitu Quaoar, Sedna, and Xena (nama informal bagi objek 2003 UB313).
Diskusi panjang sejak 1990-an tentang status Pluto dan objek-objek baru
serupa planet lainnya akhirnya diputuskan dalam voting  IAU dalam 2006 lalu, pluto bukan planet.

 

Pluto Memang Aneh

            Wajar
Pluto digugat. Aneh kalau Pluto dipertahankan sebagai planet. Pluto berbeda
dengan kedelapan planet lainnya. Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter,
Saturnus, Uranus, dan Neptunus mempunyai ciri-ciri yang mirip dan
sifat-sifatnya bisa dijelaskan dari proses pembentukan tata surya. Empat planet
pertama disebut planet keluarga bumi karena komposisinya mirip bumi, terutama
terdiri dari batuan silikat dan logam. Empat planet berikutnya disebut planet
keluarga Jupiter yang merupakan planet raksasa dengan komposisi utamanya adalah
unsur-unsur ringan (Hidrogen, Helium, Argon, Karbon, Oksigen, dan Nitrogen)
berbentuk gas atau cair.

            Planet-planet
keluarga bumi hanya terbentuk dari materi padat yang terkondensasi, terutama
dari senyawa besi dan silikat. Sedangkan Jupiter dan planet-planet raksasa
lainnya terbentuk dari planetesimal (bakal planet) besar, antara lain akibat
turut terkondensasinya es air, sehingga mampu menangkap gas, terutama Hidrogen
dan Helium.

            Pluto
terdiri dari batuan dan es. Diperkirakan komposisinya terdiri dari 70% batuan
dan 30% es air. Atmosfernya sangat tipis terdiri dari nitrogen, karbon
monoksida, dan metan yang hampir selalu berupa gas beku. Kondisi ini aneh bila
dibandingkan dengan proses pembentukan planet keluarga Jupiter. Semestinya
semakin jauh dari matahari, bila proses pembentukannya sama, akan terbentuk planet
gas juga yang tergolong besar ukurannya.

            Keanehan
lainnya, pluto berukuran sangat kecil dibandingkan planet-planet lainnya.
Diameternya hanya setengah diameter Merkurius atau dua pertiga diameter bulan.
Bidang orbitnya juga sangat menyimpang (inklinasinya 17 derajat) dari bidang
orbit rata-rata planet (inklinasi rata-rata 2 derajat). Lintasan orbitnya pun
yang paling lonjong.

            Pluto
ditemukan dari keberuntungan yang bersumber dari kesalahan perhitungan Percival
Lowell tentang gangguan orbit planet Uranus dan Neptunus pada awal 1900-an.
Menurut dia, mestinya ada planet pengganggu di luar orbit Neptunus. Tidak
menyadari adanya kesalahan perhitungan Lowell, Clyde Tombaugh dengan gigih
mencari planet pengganggu di sekitar posisi yang disebutkan oleh Lowell.

            Pencarian Tombaugh
tak sia-sia.
Februari 1930, dia menemukan objek
yang akhirnya dikenal sebagai planet Pluto. Walaupun belakangan diketahui bahwa
Pluto terlalu kecil untuk dapat disebut pengganggu planet raksasa Uranus dan
Neptunus. Kenyataan ini yang kemudian membangkitkan minat astronom mencari
planet ke-10, planet-X. Hasilnya nihil.

            Memang,
hasil pengamatan akurat pesawat Voyager tahun 1980-an tentang massa Neptunus
akhirnya menunjukkan bahwa tidak ada yang aneh dengan orbit planet Neptunus.
Pluto atau Planet-X tak perlu ada untuk menjelaskan gangguan orbitnya. Tetapi
Pluto terlanjur ditemukan dan telah diakui sebagai planet selama 76 tahun.

 

Definisi Planet

            Dengan
pengamatan mata, benda terang di langit terbagi menjadi dua: bintang tetap yang
umumnya diasosiasikan dengan rasi-rasi bintang dan ”bintang” yang berpindah.
Bintang yang berpindah bisa berupa bintang berekor (komet), bintang jatuh
(meteor), atau bintang berjalan di sekitar rasi-rasi bintang. Dahulu orang
menyebut bintang yang berjalan itu sebagai ”pengembara” yang dalam bahasa
Yunani disebut planet. Sekarang diketahui bahwa "bintang" pengembara
itu sebenarnya adalah benda tata surya yang mengelilingi matahari, sehingga
tampak bergerak relatif terhadap bintang-bintang yang diam.

            Dari
fisik hasil pengamatan, kemudian planet didefinisikan sebagai benda langit yang
mendapatkan cahayanya dari matahari. Definisi ini untuk membedakannya dari
bintang yang cahayanya bersumber dari reaksi nuklir di intinya. Definisi
sederhana ini yang kini banyak digunakan di buku-buku pelajaran. Tidak salah,
hanya tidak tepat, karena masih banyak objek langit lainnya yang bersifat
seperti itu.

            Dengan
definisi seperti itu, semua objek tata surya bisa dianggap sebagai planet.
Komet, sebagai "bintang berekor" juga memenuhi definisi tersebut,
karena sumber cahayanya hanya berasal dari cahaya matahari. Asteroid yang
mengorbit di antara Mars dan Jupiter juga memenuhi definisi ini. Dengan bentuk
yang beraneka ragam, semua asteroid hanya memantulkan cahaya matahari. Ceres
sebagai salah satu asteroid terbesar yang ditemukan 1801 memang sempat
menikmati status planet selama tujuh tahun, tetapi kemudian dianggap bukan
planet.

            Kisah
pencoretan Ceres sebagai planet setelah 7 tujuh tahun pun mirip dengan kisah
pencoretan Pluto sebagai planet setelah 76 tahun. Dulu Ceres dianggap sebagai
planet yang "hilang" menurut hukum Bode yang terletak di antara Mars
dan Jupiter. Tetapi kemudian dipertanyakan karena  ternyata Ceres bukanlah sebuah planet yang besar. Apalagi setelah
ditemukan banyak objek sejenis, yang kemudian dikenal sebagai asteroid. Maka
Ceres kemudian dinyatakan bukan planet, tetapi asteroid.

            Sejarah
memang berulang. Dulu Ceres dicoret sebagai planet lalu dikelompokan dalam
planet minor (minor planet), mirip dengan Pluto yang dicoret sebagai
planet lalu masuk kelompok planet kerdil (dwarf planet).  Selama seratus tahun lebih hanya  dikenal dua kelompok: planet (yang berukuran
besar) dan planet minor (asteroid, yang berukuran kecil). Ketika ditanyakan
batasan besarnya antara planet dan planet minor, tidak ada kejelasan. Batasan
besarnya  untuk membedakan klasifikasi
planet dan asteroid tidak didasarkan pada pertimbangan fisika, tetapi tampaknya
berdasarkan pertimbangan praktis untuk tetap menganggap Ceres sebagai asteroid
dan Pluto sebagai planet. Selama puluhan tahun digunakan diameter sekitar 1000
– 2000 km sebagai batasannya.

            Dengan
ditemukannya objek-objek baru yang diusulkan sebagai planet, masyarakat
astronomi dituntut untuk memberi batasan atau definisi hakikat planet. Selama
tujuh tahun sejak 1999 diskusi resmi di IAU tentang definisi planet belum
mencapai kata sepakat, termasuk pada saat terakhir sudang umum IAU baru lalu.
Ada usulan untuk menunda lagi pendifinisiannya. Ada banyak usulan. Definisi.
Ada definisi berdasarkan batasan massanya, ada yang berdasarkan batasan
gravitasinya yang dapat mempertahankan struktur bulatnya, atau berdasarkan
dinamika massa total dominan di sekitar orbitnya.          

            Kini
IAU telah membuat definisi baru tentang planet. Planet adalah benda langit yang
(1)  mengorbit matahari, (2) mempunyai
massa yang cukup bagi gaya gravitasinya untuk mengatasi gaya-gaya luar lainnya
sehingga dengan kesetimbangan hidrostatiknya mempunyai bentuk hampir bulat, dan
(3) telah menyingkirkan objek-objek lain di sekitar orbitnya. Rumusannya dapat
juga disederhanakan menjadi, planet adalah benda langit yang mengitari
matahari, bentuknya bulat, dan merupakan satu-satunya objek dominan di
orbitnya.

            Dengan
definisi itu Pluto tersingkir, karena di sekitar orbitnya banyak juga objek
sejenis berupa TNO. Ceres pun yang sempat diusulkan lagi jadi planet bersama
Charon dan Xena jadi tersingkir karena di sekitar orbitnya banyak terdapat
asteroid. Jupiter walau pun di orbitnya ada asteroid Troyan, tetapi massa
Jupiter masih dominan. Demikian juga bumi yang di orbitnya masih ada objek
dekat bumi (Near Earth Objects, NEO), massanya masih dominan. Tidak seperti
Ceres dan Pluto yang massanya kecil.

            Planet
kerdil walau pun mengandung nama ”planet” bukanlah planet, sama halnya dengan
penamaan asteoroid sebagai planet minor. Planet kerdil didefinisikan sebagai
benda langit yang (1) mengorbit matahari, (2) mempunyai massa yang cukup bagi
gaya gravitasinya untuk mengatasi gaya-gaya luar lainnya sehingga dengan
kesetimbangan hidrostatiknya mempunyai bentuk hampir bulat, (3) belum
menyingkirkan objek-objek lain di sekitar orbitnya, dan (4) bukan satelit.

            Dengan
definisi itu baru Pluto, Ceres, dan Xena yang masuk dalam kelompok planet
kerdil. Charon yang sebelumnya diusulkan sebagai planet ganda berpasangan
dengan Pluto, tidak dimasukkan sebagai planet kerdil karena berstatus sebagai
satelit Pluto. Di luar planet dan planet kerdil, objek tata surya lainnya
seperti komet, asteroid, TNO, NEO, dan lainnya dikelompokan sebagai ”benda
kecil tata surya” (Small
Solar
System Bodies).

 

 

Implikasi

            Pencoretan
nama Pluto yang secara klasik sudah dianggap sebagai planet tentu mempunyai
implikasi, terutama pada dunia pendidikan, baik formal di sekolah-sekolah
maupun pendidikan publik semacam planetarium. Setidaknya buku-buku terkait
dengan tata surya perlu direvisi. Demikian juga dengan alat peraga model planet
dan poster-poster. Dengan alasan itu ada juga penerbit ensiklopedia yang
menunda penerbitannya sampai adanya keputusan sidang umum IAU agar dapat
menyajikan informasi terbarunya. Nantinya, buku-buku yang masih mencantumkan
pluto sebagai planet akan dengan mudah dianggap sebagai buku kadaluwarsa.
Banyak planetarium mulai bersiap merevisi alat peraga dan poster-posternya.
Pembuat perangkat lunak astronomi, seperti Space Update, paling cepat melakukan
revisi dan mulai menyebarkannya kepada para langganannya.

            Selain
kerumitan revisi, ada juga sisi positifnya, yaitu menyederhanakan pemahaman
tentang planet dan memberikan kepastian. Tampaknya jumlah 8 planet bisa
dianggap sebagai jumlah final, tidak akan bertambah lagi. Ini memberi
kepastian, tidak dihinggapi kekhawatiran akan munculnya nama-nama planet baru
yang memaksa revisi buku dan alat-alat peraga. Mungkin juga baru berubah 700
tahun lagi, kalau merujuk pada angka istimewa perubahan status Ceres setelah 7
tahun dan Pluto setelah 70 tahun (kalau dihitung sejak diskusi intensif pada
awal tahun 2000). Perburuan planet baru bukan lagi tujuan para astronom
pengamat langit. Kini peluang terbesar adalah menemukan planet kerdil yang
diduga jumlahnya sangat banyak. TNO akan menjadi tantangan untuk menemukan
planet kerdil, ukurannya kecil tetapi jumlahnya banyak.

             Sebelumnya TNO
secara umum digolongkan sebagai planet minor, seperti halnya asteroid.
Keberadaan TNO mulanya diusulkan oleh G. P. Kuiper pada 1951 berdasarkan
argumentasi bahwa semestinya materi-materi dari piringan nebula pembentuk tata
surya berkurang secara gradual ke arah tepi piringan. Usulan ini kemudian
diperkuat oleh analisis dinamika komet-komet periode pendek yang menunjukkan
bahwa komet-komet itu berasal dari "sarang" komet yang terletak di
luar orbit Neptunus. Kawasan "sarang" komet yang diduga berisi
sekitar 35.000 objek batuan mengandung es itu kini dikenal sebagai sabuk
Kuiper.

            TNO menjadi
nama umum untuk objek dari sabuk Kuiper dan 
objek berorbit lonjong yang melintasi orbit Neptunus. Para astronom
membagi TNO dalam dua kelompok besar: objek berorbit lingkaran (objek sabuk
Kuiper) dan objek berorbit lonjong berperiode 1,5 kali periode orbit Neptunus
yang disebut objek Plutinos atau Plutonian, dengan Pluto sebagai contohnya. Ya,
Pluto si bungsu yang aneh dalam kelompok planet, kini telah telah ditempatkan
pada posisi seharusnya menjadi pemimpin kelompok baru, planet kerdil.   

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 4, 2006 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: