RSS

Fenomema Matahari

05 Sep

Merenungi
Fenomena Matahari

(Dimuat
Hikmah, Repubika, 23 Januari 1999)

T.
Djamaluddin

 

Demi
matahari dan cahayanya di pagi hari

Demi
bulan ketika mengiringinya

Demi
siang ketika menampakkannya

Demi
malam ketika menutupinya

Demi
langit dan (Allah) yang membangunnya

Demi
bumi dan (Allah) yang menghamparkannya

Demi
jiwa dan (Allah) yang menyempurnaannya

Maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa kefasikan dan ketakwaan

Sungguh
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa

dan
sungguh merugilah orang yang mengotorinya

(QS
Asy Syams:1-10)

 

Bila kita baca dan renungkan ayat-ayat pendek surat Asy-Syams tersebut,
terasa ada nuansa ‘psiko-astronomis’ (kalau boleh saya sebut demikian) yang
sangat kuat. Allah bersumpah untuk menjadi perhatian hamba-hamba-Nya dengan
menyebut fenomena-fenomena astronomis yang diakhiri dengan fenomena kejiwaan.

Banyak makna bisa diungkap dari fenomena astronomis
itu yang mungkin jarang kita renungkan untuk menyucikan jiwa kita. Misalnya,
matahari sesaat setelah terbit yang disebut di awal surat.

Matahari di kaki langit tampak lebih besar daripada
ketika berada di atas kepala. Padahal, ukuran piringan matahari itu tidak
berubah, selain efek refraksi atmosfer yang menyebabkannya tampak sedikit
lonjong. Besarnya sekitar setengah derajat atau kira-kira

setengah lebar ujung telunjuk bila direntangkan ke depan
sepanjang lengan.

Pola pikir manusia yang bersifat nisbi menyebabkan
kesan besarnya matahari di kaki langit. Ketika itu matahari tampak besar karena
dibandingkan dengan latar depan pepohonan, bangunan, atau benda lainnya yang
tampak kecil di kejauhan. Demikianlah, jiwa manusia cenderung merasa diri
besar, kuat, kaya, pandai, atau terhormat karena membandingkannya dengan yang
kecil, lemah, miskin, bodoh, atau jelata.

Matahari ketika tengah hari tampak kecil karena
dibandingkan dengan langit yang luas. Demikian pula pola pikir yang nisbi akan
membawa kita sampai pada kesimpulan diri kita kecil, lemah, miskin, bodoh, atau
terhina bila kita menyadari ada yang lebih besar, lebih kuat, lebih kaya, lebih
pandai, dan lebih terpuji.

Itulah ‘psiko-astronomis’ fenomena matahari. Memang,
fenomena alam dengan proses spesifik yang disebut di dalam Surat Asy Syams kaya
akan pelajaran untuk direnungkan. Matahari sebagai objek sentral pada empat
ayat pertama tampaknya dijadikan perlambang untuk perenungan.

Matahari memberikan sinar pada bulan yang
mengiringinya sehingga manusia bisa menentukan penanggalan qamariyah. Matahari
memberikan cahaya terang dan kehangatan pada siang hari sehingga manusia bisa
beraktivitas. Matahari bersembunyi di balik horizon pada malam hari agar
manusia bisa beristirahat.

Perenungan fenomena alam semestinya membimbing kearah
penyucian jiwa, menyadari kenisbian manusia. Sifat dan sikap takabur merupakan
pengotor jiwa yang bisa muncul dalam bentuk sikap otoriter, diskriminatif, dan
menindas.

Imam Ghozali pernah berpesan, jadilah Muslim seperti
matahari. Ia bersinar karena kualitas pribadinya. Dan ia mampu menerangi dan
menghangatkan sekitarnya. Mampu memberi manfaat bagi masyarakatnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 5, 2006 in Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: