RSS

Usulan Penyatuan Kriteria saat Sidang Itsbat 22 Oktober 2006

21 Nov

MENUJU TITIK TEMU

HISAB
RUKYAT 2007/1428

(Edaran yang saya bagikan sebelum sidang itsbat 22 Oktober 2006)

Kondisi Saat
ini

Ijtima’ awal Syawal 1427 pada
22 Oktober 2006 pukul 12:14 WIB. Pada saat maghrib 22 Oktober 2006 bulan telah wujud di sebagian wilayah Indonesia, tetapi tingginya
kurang dari 2 derajat dan umurnya kurang dari 8 jam. Menurut kriteria ijtima’ qablal ghturub dan wujudul hilal [1]
menggunakan prinsip "wilayatul hukmi" (digunakan Muhammadiyah) , 1
Syawal 1427 jatuh pada 23 Oktober 2006. Namun, kriteria MABIMS [2]
(digunakan dalam Taqwin Standar Indonesia – dasar penetapan hari libur nasional
–, PERSIS, dan sebagian Almanak NU) dan kriteria imkan rukyat LAPAN [3]
menyimpulkan 1 Syawal 1427 jatuh pada 24 Oktober 2006. Rukyatul hilal tidak mungkin terjadi pada
saat maghrib 22 Oktober 2006,
berdasarkan
pengalaman dan data terpercaya rukyatul hilal di Indonesia sejak 1962
, karena posisi hilal sangat rendah (kurang
dari 1 derajat), umurnya terlalu muda (kurang dari 8 jam), jaraknya terlalu
dekat dengan matahari (hanya 3 derajat). Bila ada yang melaporkan kesaksian
hilal, besar kemungkian karena salah lihat objek bukan hilal (Misalnya bintang
Arcturus – bintang ke-4 paling terang– pada ketinggian 0,8 derajat azimut 289
derajat, 34 derajat sebelah kanan posisi bulan, atau awan tipis yang terang)
dan pengaruh hasil hisab taqribi (pendekatan) yang kurang akurat yang
menyatakan tinggi hilal lebih dari 2 derajat.

Kasus Mirip
Sebelumnya

Idul Fitri
1418/1998

Tinggi hilal kurang dari 1
derajat, jarak dari matahari terlalu dekat (hanya 3,5 derajat), umurnya terlalu
muda (kurang dari 8 jam). Waktu itu Muhammadiyah memutuskan Idul Fitri 29
Januari 1998 berdasarkan hisab dengan kriteria wujudul hilal. PERSIS memutuskan
idul fitri 30 Januari 1998 berdasarkan hisab dengan krietria tinggi minimal 2
derajat. PW NU Jatim dan Jateng memutuskan idul fitri 29 Januari berdasarkan
rukyatul hilal di Cakung dan Bawean. PB NU dalam sidang itsbat menolak
kesaksian rukyat karena hilal terlalu rendah dan berdasarkan pengalaman tidak
mungkin terlihat. Sidang Itsbat memutuskan Idul Fitri 30 januari 1998.



Idul Fitri
1423.2002

Ijtima’ awal Syawal 1423 terjadi
pada 4 Desember 2002 pukul 14.36 WIB. Pada saat maghrib 5 Desember bulan telah
berumur lebih dari 8 jam. Menurut kriteria kriteria wujudul hilal (digunakan
Muhammadiyah) atau ijtima’ qablal ghurub Idul Fitri pada 5 Desember. Tetapi
menurut kriteria imkan rukyat LAPAN dan MABIMS semestinya Idul
Fitri 1 Syawal 1423 jatuh pada 6 Desember 2002
. Karena secara hisab
hilal dianggap terlalu rendah dan dari 53 titik pengamatan hilal tidak ada
laporan rukyatul hilal, maka sidang itsbat memutuskan Idul Fitri 6 Desember
2003.

Kasus Mirip
Tahun Depan (2007)

Ijtima’ awal Syawal 1428 pada 11 Oktober
2007 pukul 12.02 WIB. Pada saat
maghrib 11 Oktober 2007 bulan telah wujud di wilayah Barat
Indonesia, sehingga berdasarkan kriteria wujudul hilal dengan prinsip wilayatul
hukmi disimpulkan 1 Syawal 1428 jatuh pada 12 Oktober 2007. Tetapi,
bulan berumur kurang dari 8 jam dan
belum memenuhi kriteria imkanur rukyat LAPAN dan kriteria MABIMS, sehingga
disimpulkan 1 Syawal 1428 jatuh pada 13 Oktober 2007.

MARI KITA UBAH KRITERIA

MENUJU

KRITERIA HISAB RUKYAT
BARU

AGAR TAHUN DEPAN

TIDAK ADA LAGI PERBEDAAN

Rekomendasi
Fatwa MUI Nomor 2/2004

Rekomendasi

Agar Majelis Ularna
Indonesia mengusahakan adanya kriteria penentuan awal. Ramadhan, Syawal, dan
Dzulhijah untuk dijadikan pedoman oleh Menteri Agama dengan membahasnya bersama
ormasormas Islam dan para ahli terkait.



Tindak Lanjut

Pada rapat Badan Hisab Rukyat
Depag RI pada Desember 2005 telah disepakati 3 opsi kriteria baru:

Opsi Kriteria

Keunggulan

Kelemahan

Kriteria hasil penelitian di
LAPAN (kadang disebut sebagai kriteria LAPAN). Kriteria hisab rukyat ini
didasarkan pada hasil analisis ilmiah astronomis atas data rukyat Indonesia yang mendekati kriteria astronomi
internasional, yaitu umur hilal minimum 8 jam dan tinggi bulan minimum
tergantung beda azimut bulan – matahari di suatu wilayah Indonesia. Bila beda
azimutnya nol (bulan tepat berada di atas matahari saat terbenam), maka
tinggi bulan minimum 8,3 derajat. Sedangkan bila beda azimut bulan matahari 6
derajat, tinggi bulan minimumnya 2,3 derajat.

Didasarkan pada data rukyat di
Indonesia 1962 – 1994 sehingga
mempunyai landasan ilmiah dan dapat diterapkan dengan sistem hisab
lama.

Masih terlalu rendah
dibandingkan dengan kriteria astronomi internasional

Kriteria hisab rukyat yang
didasarkan pada analisis empirik kemungkinan terkecil terjadinya perbedaan
awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, bila dibandingkan dengan kriteria
yang berlaku saat ini. Kriteria awal bulan adalah posisi bulan telah berada
di atas ufuk pada saat maghrib di seluruh Indonesia.

Kriteria ini paling sederhana
sehingga sistem hisab lama pun bisa menerapkannya.

Tidak mempunyai landasan
astronomis yang kuat dan sulit dikembangkan untuk tingkat regional da-lam
forum MABIMS

Kriteria hisab rukyat yang
didasarkan pada fraksi luas sabit bulan yang bisa diamati, F(%) = luas
sabit/luas bundaran bulan x 100%. Kriteria ini merupakan salah satu kriteria
astronomis yang memungkinkan terlihatnya hilal. Kriteria awal bulan bila
fraksi luas sabit bulan lebih dari 1%.

Kriteria ini mempunyai landasan
astronomis yang kuat.

Rumit dilakukan dengan sistem
hisab lama, sehingga mungkin banyak ahli hisab yang tidak bisa menerapkannya

Kita berharap semua ormas Islam
bersama Badan Hisab Rukyat mengkaji ketiga opsi tersebut untuk kemudian memilih
salah satunya sebagai kriteria bersama, “Kriteria Hisab Rukyat Indonesia” yang
menjamin kesatuan Idul Fitri dan kalender Islam di Indonesia. Bagaimana pun
keseragaman lebih menentramkan, walau perbedaan membawa rahmat.

Dr.
T. Djamaluddin, Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 21, 2006 in Hisab-Rukyat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: