RSS

Kala Sunda Perlu Direvisi

22 Jan

KALA SUNDA DALAM
TINJAUAN ASTRONOMIS

T. Djamaluddin, 

Peneliti
Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung

            SEBUAH
perayaan Tahun Baru Kala Sunda yang bertepatan tanggal 28 Desember 2006, yakni
pada Respati, 1 Kartika, Saka 1929, akan menjadi momen penting bagi masyarakat
Sunda. Demikian awal berita PR 27/12/2006 tentang ”Nalika Kala Sunda”,
Penyadaran Warisan Leluhur. Pencantuman tahun Saka 1929 mungkin keliru,
seharusnya 1940, tetapi ada aspek lain yang harus diluruskan. Sebelum terlanjur
terlalu jauh melangkah melestarikan budaya Sunda dengan kalender yang
kontroversial, alangkah baiknya Kala Sunda dikaji ulang dari berbagai segi.
Tulisan ini akan meninjaunya dari segi astronomis.

Saya mengenal
Kala Sunda pertama kali saat kolokium Ali Sastramijaya di Observatoarium
Bosscha ITB di Lembang, pada 5 Desember 1987 dengan topik “Kalangider” (sebut
saja “Sumber 1”). Sampai saat ini Kala Sunda yang dipopulerkan kembali kepada
publik pada awal 2005 oleh Ali Sastramijaya masih membawa persoalan. Tulisan
Edi S. Ekadjati “Kala Sunda dan Rekonstruksi Sejarah” (PR, 22/2/2005, “Sumber 2”)
merupakan kritik pertama yang dijawab dengan tulisan Ali Sastramijaya “Revisi
Tahun Masehi tentang Sejarah Jawa Dwipa” (PR, 5/4/2005, “Sumber 3”). Kemudian
kritik tajam disampaikan Irfan Anshory dalam tulisan “Mengenal Kalender
Hijriah” (PR, 28/1/2006) yang kemudian ditanggapi tak kalah tajamnya sekaligus
dengan dua tulisan, “Kala Sunda dan Orang Awam” (Nandang Rusnadar, “Sumber 4”)
dan “Matematika Dalam Kala Sunda” (Roza Rahmadjasa Mintaredja, “Sumber 5”) (PR,
2/2/2006).

            Persoalan
pokok yang harus dijawab terlebih dahulu oleh Tim Kala Sunda adalah mengapa
awal bulan dimulai dari bulan separuh (kira-kira tanggal 7 atau 8 qamariyah –
berdasarkan bulan) dan peristiwa apa yang dijadikan rujukan awal tahunnya.
Tahun baru Kala Sunda 1941 jatuh pada 18 Januari 2005 (7 Dzulhijjah 1425 H),
tahun baru Kala Sunda 1942 jatuh pada 8 Januari 2006 (8 Dzulhijjah 1426 H), dan
tahun baru Kala Sunda 1943 jatuh pada 28 Desember 2006 (7 Dzulhijjah 1427 H). Secara
astronomis penentuan awal bulan pada saat bulan separuh memang janggal, tidak
lazim dalam sistem kalender qamariyah. Pada sistem kalender qamariyah, umumnya
awal bulan ditandai dengan bulan baru atau hilal (sabit pertama) atau bulan
mati (saat sama sekali tidak ada cahaya pada bulan).

            Tulisan
ini mencoba untuk mengkaji Kala Sunda secara astronomis, sebagai pelengkap
tinjauan rekonstruksi sejarah tersebut di atas. Bagaimana pun hal prinsip yang
harus dikaji oleh peneliti kalender adalah konsistensi astronomis dan historis.
Bila kedua hal tersebut terbukti, sistem kalender tersebut dapat dianggap andal
untuk rekonstruksi sejarah atau untuk keperluan keseharian terkait dengan
kegiatan atau ritual tertentu dalam masyarakatnya. Kala Surya (syamsiah,
berbasis matahari) umumnya digunakan untuk kegiatan yang terkait musim, seperti
pertanian, migrasi, dan penangkapan ikan. Kala Candra (qamariyah, berbasis
bulan) yang perubahan tanggalnya mudah dikenali dari bentuk-bentuk bulan dari
sabit – purnama – sabit kembali umumnya digunakan untuk kegiatan ritual
keagamaan yang memerlukan ketepatan tanggal.

Dalam analisis
ini sumber utama kajian Kala Sunda hanya dari Ali Sastramijaya yang dinyatakan
merujuk pada kakek beliau pada tahun 1950-an sebelum meninggal pada 1965.
Memang ada kelemahannya, kita tidak bisa membedakan aturan kalender yang asli
Kala Sunda dan aturan hasil intrepretasi dan pengembangan Ali Sastramijaya
sendiri. Budaya tutur yang lebih dominan daripada budaya tulis dalam masyarakat
kita juga tidak memungkinkan lengkapnya alih pengetahuan yang bersifat
matematis. Ungkapan kakek beliau, “…engke oge kapendak ku anjeun
(“Sumber 3”) menunjukkan tidak lengkapnya alih pengetahuan Kala Sunda. Sehingga
patut diduga sebagian besar aturan Kala Sunda berasal dari interpretasi dan
pengembangan Ali Sastramijaya.

 

 

TIDAK LAZIM

Tidak dapat
dibantah bahwa adanya lingga, tonggak batu panjang, menunjukkan bahwa
masyarakat Sunda dahulu mempunyai cara memperhatikan posisi matahari yang
berkaitan dengan pembuatan kalender matahari (Kala Surya). Mirip dengan
Stonehenge di Inggris, tonggak batu itu berfungsi untuk mengamati perubahan
posisi matahari dari arah bayangan matahari. Dari siklus posisi matahari dapat
didefinisikan satu tahun matahari. Awal tahun menurut Kala Surya Saka Sunda,
menurut Ali Sastramijaya, adalah saat matahari paling selatan pada 23 Desember
yang dapat diketahui dari posisi bayangan lingga. Ini mudah di mengerti karena
titik awal tahun mudah dikenali dari alam, tidak seperti kalender Masehi yang
menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun tanpa ada tanda di alam.

Tiga bulan pertama
(menurut “Sumber 1”) pada Kala Surya Saka Sunda (Kaso, Karo, dan Latiga)
masing-masing berumur 30 hari. Kemudian lima bulan berikutnya (Kapat, Kalima,
Kanem, Kapitu, dan Kawalu) masing-masing berumur 31 hari. Selanjutnya tiga
bulan berikutnya (Kasanga, Kadasa, dan Desta) kembali berumur 30 hari. Bulan
terakhir (Sada) berumur 30 hari untuk tahun pendek dan 31 hari untuk tahun
panjang (kabisat). Tetapi menurut artikel Ali Sastramijaya yang dipublikasi di
internet, aturannya kini berselang-seling 30 dan 31, Kaso 30, Karo 31, dan
seterusnya, kecuali untuk Sada berumur 30 hari untuk tahun pendek dan 31 hari
untuk tahun panjang (kabisat). Perubahan ini menunjukkan bahwa aturannya bukan
digali dari dokumen asli Kala Sunda, tetapi hasil pemikiran  Ali Sastramijaya sendiri.

Aturan tahun
kabisat Kala Surya Saka Sunda sama dengan aturan Julian, angka tahun yang habis
dibagi 4 menjadi tahun kabisat, tetapi ada kekecualiannya yaitu tahun yang
habis dibagi 128 tidak boleh kabisat walau habis dibagi 4. Artinya, setiap 128
dihilangkan satu tahun kabisat. Ini berbeda dari aturan kalender Gregorian yang
menyatakan setiap 400 tahun dihilangkan 3 tahun kabisat dengan cara tahun
ratusan yang tidak habis dibagi 400 (misalnya, 1700, 1800, dan 1900) menjadi
tahun pendek walau angkanya habis dibagi 4. Perbedaan aturan tersebut akan
menyebabkan perbedaan akurasinya.

Di samping Kala
Surya, Saka Sunda juga menggunakan Kala Candra (qamariyah, berbasis bulan) yang
disebut Kala Candra Caka Sunda. “Caka” digunakan untuk membedakan dengan “Saka”
yang digunakan pada Kala Surya. Satu tahun pada Kala Candra berumur 354 hari
(tahun pendek) atau 355 hari (tahun panjang). Umur masing-masing bulan
berselang-seling antara 30 dan 29, seperti umumnya hisab urfi pada kalender
Hijriyah. Dua belas bulan tersebut adalah Kartika (30 hari),  Margasira (29), Posya (30), Maga (29),
Palguna (30), Setra (29), Wesaka (30), Yesta (29), Asada (30), Srawana (29),
Badra (30), dan Asuji (29 hari untuk tahun pendek atau 30 hari untuk tahun
panjang). Satu bulan dibagi dalam dua bagian: Suklapaksa (1 – 15) dan
Kresnapaksa (1 – 14 atau 15).

Namun ada yang
tidak lazim pada Kala Candra Caka Sunda, Suklapaksa didefinisikan sebagai “parocaang
atau bulan separuh terang, dari bulan setengah lingkaran sekitar tanggal 7 atau
8 qamariyah sampai 15 hari kemudian, dengan melewati masa terang purnama. Dan
selanjutnya Kresnapaksa yang didedifisikan bulan gelap selama 14 atau 15 hari
yang melewati bulan mati atau bulan baru. Bagaimana pun, terminologi Suklapaksa
dan Kresnapaksa tidak terlepas dari tradisi Hindu. Suklapaksa (dari Bahasa
Sansekerta, sukla = terang, paksha = setengah bulan) dalam tradisi Hindu
bermakna rentang 15 hari pertama saat bulan makin terang, sejak bulan baru
sampai bulan purnama. Sedangkan Kresnapaksa adalah setengah bulan berikutnya
saat bulan makin gelap, dari purnama sampai bulan mati. Terminologi Suklapaksa
(Shuklapaksha) dan Kresnapaksa (Krishnapaksha) kini masih digunakan pada
kalender Hindu di India yang disebut Pachang.

Informasi adanya
beda pasaran Jawa dan Sunda yang ada di buku peninggalan kakek beliau (“Sumber
3”) tampaknya menjadi awal ketidaklaziman penafsiran Suklapaksa dan
Kresnapaksa. Urutan pasaran menurut Sunda: Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon
dipadankan dengan pasaran menurut Jawa: Wage, Kliwon, Manis/Legi, Pahing, Pon.
Pada “Sumber 3” diungkapkan padanan tanggal peresmian keraton Mataram yang
menjadi awal Kala Saka Jawa, yang menurut Kala Candra Saka Jawa itu terjadi
pada Jumat Legi  1 Muharram 1555
bersesuaian dengan 17 Kapitu 1555 Kala Surya Saka Sunda, 8 Juli 1633 Masehi,
Jumat Pon 8 Kresnapaksa Kartika 1558 Kala Candra Caka Sunda. Dari informasi
tersebut ada hal menarik untuk mengungkap kemungkinan sumber ketidaklazimannya.

Urutan pasaran
yang berselisih beberapa hari antara Saka Jawa dan Caka Sunda, sulit kita bayangkan
asal usulnya. Dari kesamaan nama pasaran, dapat dipastikan baik Saka Jawa
maupun Saka Sunda dulunya bersesuaian. Mengapa terjadi lompatan pasaran? Urutan
hari atau urutan pasaran tidak mungkin melompat. Kalau pun terjadi penyesuaian
kalender, hal yang terjadi hanyalah lompatan tanggal. Misalnya pada kalender
Masehi saat reformasi Gregorius, dari Kamis 4 Oktober 1582 menjadi Jumat 15
Oktober 1582, tanpa mengubah urutan hari. Demikian juga pada Saka Jawa, pernah
terjadi perubahan awal tahun yang menyimpang dari aturan baku tentang windu,
tetapi tanpa mengubah urutan hari. Misalnya, awal tahun seharusnya Rabu Wage
menjadi Selasa Pon (hari sebelumnya), karena tahun yang segera habis dinyatakan
sebagai tahun pendek, bukan tahun panjang seperti seharusnya.

Penyebab yang
mungkin terjadinya lompatan pasaran hanya kesalahan pencatatan. Karena Saka
Jawa adalah kalender yang hidup di masyarakat, tidak mungkin ada kekhilafan
pencatatan urutan pasaran sejak pertama kali dideklarasikan pada tahun 1555
Saka Jawa sampai saat ini 1940 Saka Jawa, walau sempat terjadi penyimpangan
aturan kalender pada penentuan awal tahun Saka Jawa. Hal yang mungkin adalah
kesalahan pencatatan tentang perbedaan pasaran Jawa dan Sunda pada sumber Kala
Sunda yang tunggal, yaitu buku peninggalan kakek beliau.

Perbedaan
pasaran Jawa dan Sunda tersebut kemudian ditafsirkan menjadi definisi
Suklapaksa dan Kresnapaksa, seperti diungkapkan di “Sumber 3”. Saya mencoba
menganalisis bagaimana hubungan perbedaan pasaran Jawa dan Sunda bisa berkaitan
dengan pengertian Suklapaksa dan Kresnapaksa pada Kala Sunda. Pertama, urutan
pasaran dideretkan sampai delapan hari: Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon,
Manis, Pahing, Pon. Kemudian, misalkan tanggal 1 Saka Jawa jatuh pada pasaran
Manis, seperti 1 Muharram (Suro) 1555 yang jatuh pada Jumat Manis, maka Pon
jatuh pada tanggal 3 atau 8 qamariyah. Tanggal 3 tidak ada fenomena apapun.
Tetapi tanggal 8 terkait dengan bulan separuh. Maka Suklapaksa ditafsirkan
sebagai parocaang yang dimulai sejak bulan separuh tersebut. Ini jelas
berbeda dengan sistem kalender Hindu yang menjadi asal-usul terminologi
Suklapaksa dan Kresnapaksa.

Selain hal
tersebut, ada ketidakakuratan perhitungan pada penentuan konversi kalender saat
peresmian Keraton Mataram. Kalau konsisten bahwa awal tahun Kala Surya Saka
Sunda pada 23 Desember, semestinya 8 Juli 1633 M bersesuaian dengan 28 Kanem
1555 Kala Surya Saka Sunda, bukan 17 Kapitu 1555. Tampaknya selisih 9 hari dari
23 Desember ke 1 Januari ditambahkan pada tanggal 8, sehingga muncul tanggal
17, semestinya dikurangkan menjadi tanggal 28 bulan sebelumnya (Kanem). Mungkin
hanya khilaf dalam perhitungan.

 

AKURASI

            Aturan
Kala Surya Saka Sunda Kalender dengan menghilangkan satu tahun kabisat setiap
128 tahun menghasilkan penyimpangan hanya 
0.0000022 hari per tahun atau
penyimpangan 1 hari dalam 454.545 tahun. “Hebat bukan?”, menurut “Sumber 4”.
Bandingkan dengan aturan kalender Masehi Gregorian yang menghilangkan 3 tahun
kabisat setiap 400 tahun. Penyimpangan pada kalender Masehi Gregorian 0.0003
hari per tahun atau penyimpangan 1 hari dalam 3.333 tahun. Sedangkan Kala
Candra Caka Sunda dan Kalender Hijriyah berbasis hisab urfi mempunyai akurasi
sampai 2.420 tahun.

Kita tidak bisa
berbangga dengan akurasi sekian ribu tahun, karena hal itu secara astronomis
tidak bermakna keunggulan. Kalau mau, kalender Masehi pun bisa menggunakan
koreksi setiap 128 tahun. Saya kira astronom penasihat Paus Gregorius memahami
adanya berbagai alternatif. Secara matematis, mudah dihitung koreksi berapa
tahun yang harus dilakukan untuk mendapatkan tingkat akurasi tertentu. Apakah
angka 128 asli aturan Kala Surya Saka Sunda dari dokumen sejarah atau hasil
hitungan matematika abad 20?

Dalam kajian
kalender, hal yang harus diperhatikan juga adalah segi kemudahan sehingga dapat
diterapkan dalam kehidupan keseharian.. Manakah yang lebih mudah diingat
menghilangkan tiga tahun kabisat setiap 400 tahun atau menghilangkan satu tahun
kabisat setiap 128 tahun? Pada tahun Masehi tahun kabisat yang harus
dihilangkan dari aturan Julian adalah tahun kelipatan 100 yang tidak habis
dibagi 400, misalnya 1700, 1800, dan 1900. Bandingkan dengan angka tahun
kelipatan 128 yang dijadikan bukan tahun kabisat, seperti 1664, 1792, 1920, dan
2048. Tentunya angka kelipatan 100 lebih mudah diingat daripada angka kelipatan
128 tersebut. Angka akurasi bukan ukuran keunggulan suatu sistem kalender.

Memang ketika
baru mempelajari sistem kalender penyataan akurasi sekian ribu tahun berkesan
mengagumkan, seperti tulisan saya yang pertama ketika masih mahasiswa astronomi
22 tahun lalu di majalah Kiblat 1984, “Penanggalan Tahun Hijriyah Mempunyai
Ketepatan Tinggi: Hanya berbeda Satu hari Dalam Masa 2419 Tahun”. Khusus untuk
kelender qamariyah, termasuk Kala Candra Caka Sunda dan kalender Hijriyah,
angka akurasi tersebut sesungguhnya tidak bermakna apa-apa bila dibandingkan
dengan realitas bulanan yang bisa menyimpang satu hari dari fenomena bulan
separuh atau bulan sabit. Sistem tahun kabisat, hisab urfi yang berganti 29 dan
30 hari, dan cara koreksi sejenisnya memang memberikan angka akurasi jangka
panjang. Semakin banyak koreksinya akan semakin akurat, namun perlu
dipertanyakan siapa yang berwenang menjaganya untuk jangka panjang.

Menjaga
konsistensi kalender berarti memberikan koreksi yang ditentukan pada aturan
sistem kalender. Kalender Masehi dulu dikoreksi oleh Paus berdasarkan saran
astronom, saat ini dikontrol oleh lembaga-lembaga astronomi. Kalender Saka Jawa
ditentukan oleh Sultan berdasarkan perhitungan para ahli kalender keraton.
Kalender hijriyah dulu dikeluarkan oleh Khalifah, Raja, atau Sultan, kini
banyak ahli hisab dapat membuatnya dengan panduan kriteria yang disepakati
secara internal organisasi Islam, nasional, atau regional. Kalender hijriyah
modern tidak menggunakan aturan hisab urfi, berselang-seling 29 dan 30 hari,
tetapi selalu disesuaikan dengan kriteria hisab rukyat. Perbedaan yang terjadi
bukan disebabkan oleh akurasi yang rendah, tetapi lebih banyak disebabkan belum
diterimanya satu kriteria yang disepakati.

Kala Sunda yang
diklaim mempunyai akurasi sekian ribu tahun pun tidak akan punya makna apa-apa
bila dalam realitasnya tidak ada otoritas yang menjaganya, seperti memberikan
koreksi setiap 128 tahun pada Kala Surya atau setiap 120 tahun pada Kala Candra.
Adanya otoritas yang menjaganya terkait juga dengan kemanfaatan kalender Sunda
pada masyarakatnya. Tanpa ada manfaatnya, seperti untuk keperluan kegiatan atau
ritual tertentu, masyarakat akan melupakannya.

 

SUMBANG SARAN

            Ada
hal menarik dari perbedaan tahun 1555 Kala Surya Saka Sunda dan 1558 Kala
Candra Caka Sunda pada informasi tanggal peresmian Keraton Mataram. Tahun Saka
Jawa dianggap (dalam “Sumber 3”) diambil dari Kala Surya Saka Sunda. Karenanya
selalu ada perbedaan 3 tahun antara Saka Jawa dan Caka Sunda. Sekarang Saka
Jawa 1940, sedangkan Caka Sunda 1943. Perbedaan antara Kala Surya Saka Sunda
dengan Kala Candra Caka Sunda pada tahun 1555 Kala Surya Saka Sunda, telah
mencapai 1.063 hari. Karena perbedaan antara Kala Surya dan Kala Candra rata-rata
10,9 hari, maka dapat dihitung bahwa sekitar 98 (dari 1.063/10.9) tahun candra
sebelumnya, yaitu sekitar tahun 1460 (dari 1558 – 98) Kala Candra Caka Sunda
sama bilangan tahunnya dengan bilangan tahun Kala Surya Saka Sunda.

            Perhitungan
bisa dilakukan dengan lebih rinci dengan program konversi kalender
Hijriyah-Masehi yang saya buat. Mengingat selisih Kala Candra Caka Sunda 1558
dan kalender Hijriyah 1043 adalah 515 tahun dan selisih Kala Surya Saka Sunda
1555 dan Masehi 1633 adalah –78 tahun, maka dapat dihitung beberapa kemungkinan
sehingga bilangan tahun tahun Kala Candra Caka Sunda sama dengan bilangan tahun
Kala Surya Saka Sunda. Hasilnya, tahun 1441 – 1471 berpeluang bilangan tahun
Kala Surya Saka Sunda dan Kala Candra Caka Sunda sama, yang berarti dalam
rentang tahun Masehi 1519 – 1549. Tahun 1441 bila tahun baru Kala Candra jatuh
pada bulan Desember dan tahun 1471 bila tahun baru Kala Candra jatuh pada bulan
Januari.

Bila kasus ini
sama dengan pengadopsian bilangan tahun Kala Surya Saka Sunda  menjadi bilangan tahun pada Kala Candra Saka
Jawa, apakah mungkin pada rentang tahun 1441 – 1471 Saka (1519 – 1549 M) juga
terjadi reformasi Kalender Sunda, yaitu mulai digunakannya dua sistem kalender.
Ada yang berdasarkan kala surya dan ada yang menjadi kala candra. Bila benar
terjadi reformasi Kala Sunda, pertanyaannya siapa tokohya?  Menurut “Sumber 2”, dari kajian sejarah
tafsir mutakhir Prasasti Batutulis terungkap bahwa tahun yang tertera pada
prasasti tersebut menyatakan tahun 1455 Saka = 1533 M. Bisa jadi ada kaitan
peristiwa pembuatan prasasti dengan reformasi kalender Sunda. Bila memang
demikian, Kala Candra Caka Sunda tidaklah berlaku terlalu jauh mundur ke
belakang. Artinya, tidak ada tahun 0 atau 1 seperti halnya pada tahun Saka
Jawa. Analisis hipotetik ini bisa menjadi jawaban atas pertanyaan peristiwa
yang menjadi rujukan awal tahun Kala Candra Caka Sunda.

Mungkinkah Kala
Surya Saka Sunda dan Kala Candra Caka Sunda dirunut jauh ke belakang? Secara
hitungan matematis-astronomis mungkin saja dilakukan. Tahun 0 Kala Candra Caka
Sunda bersesuaian dengan tahun 44 Kala Surya Saka Sunda pada tahun 122 Masehi.
Tetapi harus dapat dibuktikan adanya suatu peristiwa besar yang dijadikan titik
awal tahun Kala Candra Caka Sunda saat itu. Tanpa pembuktian itu, semuanya
hanya spekulasi yang sulit digunakan untuk rekonstruksi sejarah.

Fungsi kajian
kalender selain untuk rekonstruksi sejarah, juga untuk memberi bantuan kepada
masyarakat untuk mengadakan kegiatan atau ritual menurut ketentuan waktu
tertentu. Kalender yang hidup sampai saat ini hanyalah kalender yang digunakan
oleh masyarakatnya secara luas. Kalender Masehi terus digunakan dalam kegiatan
sehari-hari karena sifat globalnya dan keterkaitan dengan musim. Kalender
Hijriyah terpelihara karena diperlukan untuk kegiatan ibadah ummat Islam.
Sedangkan kalender Saka Jawa terlestarikan karena terkait dengan ritual tradisi
Jawa. Lalu, apa peran Kala Sunda di masyarakatnya? Sampai saat ini belum ada
kegiatan atau ritual di masyarakat Sunda yang tergantung pada penentuan tanggal
menurut Kala Sunda, sehingga informasi tahun baru Caka Sunda pun menjadi tidak
bermakna.

Kalau kita akan
menghidupkan kembali Kala Sunda, kita harus menggali kejadian-kejadian penting
dalam sejarah Sunda yang bersifat positif untuk selalu dirayakan. Ulang tahun
kota-kota di Jawa Barat yang terkait dengan sejarah Sunda sudah selayaknya
menggunakan Kala Sunda, seperti yang dilakukan Cirebon yang merayakan ulang
tahun setiap 1 Suro/Muharram, bukan berdasarkan kalender Masehi. Tetapi untuk
menggali sejarah suatu kota, sistem kalender perlu disempurnakan terlebih
dahulu. Konsep Suklapaksa dan Kresnapaksa pada Kala Sunda saat ini perlu
ditinjau ulang karena berbeda dari definisi aslinya pada tradisi Hindu yang
melatarbelakanginya. Selain itu awal bulan Kala Candra dimulai dari bulan
separuh, bukan saat bulan baru, dianggap tidak lazim menurut analisis kalender
astronomis. Tanpa peninjauan ulang, bahkan cenderung membela secara fanatik
buta, tidaklah mungkin menggalang kesepakatan rekonstruksi sejarah dengan alat
analisis yang masih kontroversial. 

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2007 in Hisab-Rukyat

 

3 responses to “Kala Sunda Perlu Direvisi

  1. Hartadi

    Juni 20, 2011 at 11:33 am

    Mengenai penelitian bapak apakah sudah ada diskusi / dikomunikasikan dengan tim penyusun kala sunda, dan bagaimana perkembangannya ? trims.

     
    • tdjamaluddin

      Juni 21, 2011 at 9:16 am

      Sudah pernah disampaikan dalam seminar di ITB yang juga dihadiri Abah Ali (almarhum) sebagai penggagas Kala Sunda.

       
  2. tdjamaluddin

    November 8, 2011 at 4:33 pm

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: