RSS

Hikmah Fenomena SL-9: Ketaatan pada Pemimpin

06 Feb

Komet SL-9

(Dimuat "Hikmah" Republika, 22 Nov 2000)

T. Djamaluddin

Dan janganlah kamu mengikuti hal-hal yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS 17:36).

Peristiwa
pecahnya komet Shoemaker-Levy 9 (SL-9) pada 1994 setelah masuk dalam wilayah
orbit planet raksasa Jupiter, sangat menarik secara astronomis. Namun juga mengandung
pelajaran penting bila merenungkannya. Peristiwa serupa mungkin juga terjadi
dalam dimensi sosial. Dampaknya pun tak kalah hebat: kehancuran.

Ahli matematika
Perancis Edouard Roche menyatakan ada suatu jarak minimum dari planet induk
yang bila dilampaui akan menyebabkan benda yang mengorbitnya akan pecah. Batas
minimum itu dikenal sebagai Limit Roche yang tergantung ukuran dan kekuatan
benda langit menahan gaya gravitasi planet. Bulan yang kelihatan kokoh pun akan
hancur berantakan bila (karena suatu sebab) melewati Limit Roche-nya, masuk
dalam orbit yang jaraknya kurang dari 18.000 km dari bumi. Saat ini bulan masih
berada pada jarak yang aman 384.000 km.

Seperti
kebanyakan komet lainnya, mestinya komet SL-9 ini hanya mengitari matahari.
Tetapi, sekitar tahun 1970-an komet ini masuk dalam pengaruh gravitasi Jupiter
dan mulai mengitari Jupiter. Sekitar 1992, komet SL-9 mencapai titik
terdekatnya dengan Jupiter dan melewati Limit Roche-nya. Pada saat itulah
kekuatan materinya yang rapuh karena hanya terdiri dari debu, gas beku, dan es
tak mampu menahan gravitasi Jupiter. Secara perlahan komet itu pecah, hancur
berkeping-keping, dan jatuh masuk ke Jupiter.

Manusia
berperilaku seperti komet SL-9 banyak. Manuver pribadinya bisa membawanya masuk
ke dalam lingkaran orang yang punya pengaruh besar. Orang berpengaruh itu mungkin
seorang presiden, gubernur, konglomerat, atasan, kyai, atau sekadar dukun. Ibarat
gravitasi yang mengikatnya, pengaruh itu bisa demikian kuatnya, hingga ia tidak
mampu melepaskan diri lagi. Ia mengabdi sepenuhnya, sadar atau tak sadar. Ia
bertaklid buta. Langit biru disebut kuning pun mungkin ia ikuti. Kepribadiannya
yang rapuh tidak bisa mengambil sikap lain, selain taat.

Padahal
Allah mengingatkan dalam hal ketaatan untuk senantiasa menggunakan ilmu dan
akal sehat (QS 17:36). Karena setiap perangkat pengolah informasi pada diri
manusia, pendengaran, mata, dan hati, kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Tidak digunakannya mata, telinga, dan hati bisa membawa ke neraka (QS 7:179).
Allah menjuluki, “Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7:179).

Ketaatan
kepada pemimpin memang diwajibkan Allah (QS 4:59) dan rasul-Nya selama bukan
untuk kemaksiyatan (HR Bukhari Muslim). Sekalipun pemimpin itu mengutamakan
diri sendiri dan menyeleweng, Nabi berpesan “Tunaikan kewajibanmu dan hanya mengharap kepada Allah akan hak kamu”
(HR Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud). Jangan ikuti kesalahannya, apalagi
meminta bagian yang bukan hak kita.

Ketaatan
kepada pemimpin demi kemaslahatan. Tetapi ketaatan yang bukan taklid. Ibarat
bulan yang tetap kokoh mengorbit bumi pada jarak aman. Ada batas syariah dan
rasional yang harus dipertahankan, di
samping harus adanya kepribadian yang kokoh.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2007 in Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: