RSS

Pelajaran Dari Tunguska 30 Juni 1908

12 Jun

Tunguska
30 Juni 1908: PECAHAN KOMET MENABRAK BUMI

 (Dimuat "Pikiran Rakyat" 2 Juli 1996)

 T.
Djamaluddin

(Peneliti
Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung)

 

            Hampir seratus tahun lalu,
30 Juni 1908 terjadi ledakan besar di sekitar sungai Tunguska, Siberia Tengah,
Rusia. Pukul 07:17 pagi sebuah bola api raksasa meluncur dari langit sangat
cepat. Belum sempat mencapai bumi, pada ketinggian sekitar 8 km terjadilah
ledakan dahsyat. Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar dan sekitar 2000 km
persegi hutan diratakan oleh hempasan gelombang kejut. Selama dua hari setelah
itu debu-debu halus masih tersisa di angkasa yang menyebabkan langit malam
tampak terang. Dikabarkan pada malam sesudah ledakan orang-orang di London
masih bisa membaca koran di luar rumah karena terangnya langit akibat hamburan
cahaya di atmosfer atas.

            Ledakan itu diakibatkan
oleh pecahan komet yang menabrak Bumi.
Peristiwa itu
terjadi 88 tahun lalu.
Tetapi itu memberikan pelajaran betapa
hebatnya dampak yang diakibatkan oleh komet bila menabrak Bumi. Mungkin situasi
serupa atau yang lebih hebat akan terjadi di Bumi bila komet Swift-Tuttle benar
akan menabrak Bumi 14 Agustus 2126.

            Pagi pukul tujuh lebih
terdengar suara desingan keras. Terlihat di langit sebuah bola api meluncur
cepat. Nampaknya jauh lebih besar dari matahari tetapi lebih redup. Jejak di
belakangnya tampak seperti debu berwarna biru. Segera setelah bola api lenyap
terdengar ledakan keras, sangat keras. Bumi terasa bergetar.

            Saksi mata pada jarak 80
km dari pusat ledakan merasakan embusan angin panas dan terlempar dari
kursinya. Saksi mata lainnya menyatakan orang-orang ketakutan berkumpul di
jalanan tidak mengerti apa yang terjadi. Sebagian ada yang pingsan. Kuda-kuda
berlarian tak tentu arah.

            Hutan di sekitar pusat
ledakan terbakar. Embusan anginnya sangat kuat seperti topan hebat yang
menyebabkan pepohonan pada radius sekitar 25 km tumbang. Suara ledakannya
terdengar dari jarak 800 km (kira-kira jarak lurus Serang – Surabaya). Umat
manusia masih beruntung karena pusat ledakan berada di daerah tak berpenduduk.

 

Pecahan Komet

            Peristiwa itu tidak segera
diselidiki oleh pihak Rusia. Baru setelah sepuluh tahun kemudian ada tim
ekspedisi yang mengumpulkan berbagai bukti di lokasi itu dan kesaksian para
saksi mata di berbagai daerah sekitarnya.

            Ada yang menduga ledakan
itu disebabkan oleh pertemuan antimateri dan materi yang berakibat keduanya
lenyap tetapi memancarkan sinar gamma. Tetapi tidak adanya bukti radioaktivitas
di lokasi ledakan menggugurkan dugaan tersebut.

            Dugaan lain menyatakan
bahwa mungkin itu disebabkan blackhole mini yang menembus bumi di wilayah
Tunguska dari arah tenggara dan keluar lagi di lautan Atlantik utara. Blackhole
("lubang hitam") adalah benda alam semesta yang paling padat yang
berasal dari sisa ledakan bintang (disebut supernova). Inti bintang yang
tersisa akan memadat dan terus memadat karena tidak ada energi di inti bintang
yang mampu menahan keruntuhan akibat gravitasinya sendiri. Karena luar biasa
padatnya sehingga gravitasinya sangat besar. Cahaya pun ditariknya yang
menyebabkannya benda itu tidak tampak sama sekali sehingga disebut "lubang
hitam". Namun jika benar ledakan di Tunguska itu disebabkan oleh blackhole
mini, mestinya ada gelombang kejut yang hampir mirip terjadi di lautan Atlantik
utara ketika blackhole itu keluar lagi dari bumi. Tanda-tanda gelombang kejut
seperti itu tidak terdeteksi sehingga dugaan itu pun tertolak.

            Ada dugaan yang lebih
bersifat spekulatif, bahwa mungkin saja ledakan itu berasal dari pesawat luar
angkasa dari planet lain yang meledak karena sesuatu sebab. Dugaan ini
dilontarkan oleh orang-orang yang mempercayai UFO sebagai piring terbang
berpenumpang makhluk cerdas dari luar angkasa. Namun tidak adanya bukti
reruntuhan benda semacam pesawat atau sejenisnya mematahkan dugaan spekulatif
tersebut.

            Bukti-bukti yang ada
menyatakan bahwa terjadi ledakan hebat, gelombang kejutnya mampu merobahkan
pepohonan pada areal yang luas, hutang di daerah pusat ledakan terbakar, tetapi
tidak ada kawah yang terjadi di pusat ledakan itu. Bukti-bukti terbaru
menunjukkan ditemukannya butiran-butiran intan halus tersebar di sekitar pusat
ledakan. Bukti-bukti itu menunjukkan bahwa penyebab ledakan yang sangat mungkin
adalah pecahan komet yang menabrak Bumi.

            Komet sebagian besar
terdiri dari es (campuran air, metana, dan amoniak) dan sedikit butiran batuan
halus. Karena itu komet sering disebut sebagai tersusun dari es berdebu. Butiran
batuan itu mungkin juga mengadung intan seperti yang dijumpai pada meteorit. Ketika
komet menembus atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menimbulkan panas dan
terlihat seperti bola api raksasa. Es akan menguap. Uap dan debu membentuk ekor
pada bola api itu. Pengereman oleh atmosfer bumi dan pelepasan energi oleh
komet menyebabkan timbulnya ledakan hebat di atmosfer. Sisa-sisa butiran intan
pada inti komet tidak terbakar dan jatuh ke bumi. Energi dari bola api itu
mampu membakar hutan di bawahnya dan gelombang kejut ledakkannya mampu
menumbangkan pepohonan pada area yang sangat luas.

            Ditaksir komet itu
berukuran 100 meter dengan berat sejuta ton dan bergerak dengan kecepatan 30
km/detik (108.000 km/jam). Diduga pecahan itu berasal dari komet Encke. Menurut
perhitungan orbitnya, Bumi setiap tahun melintasi orbit komet Encke dua kali:
sekitar 2 Juli dan sekitar 1 November. Pada saat perjumpaan sekitar 2 Juli,
lintasan komet Encke berada di selatan Bumi dan komet datang dari arah
Matahari. Itulah yang menyebabkan pecahan komet yang jatuh di Tunguska nampak
berasal dari arah tenggara karena pengaruh rotasi Bumi dan tumbukan terjadi
bukan pada malam hari.

            Komet
Encke pertama kali ditemukan oleh Jean Louis Pons di Merseille 26 November
1918.
Johann Franz Encke, astronom Jerman menghitung periode
orbit komet tersebut dan mendapatkan periodenya 3,3 tahun, periode komet
terpendek. Berdasarkan perhitungan tersebut, J. F. Encke memprakirakan dengan
tepat kemunculan komet tersebut 1822, 1825, dam seterusnya. Keberhasilan itu
yang menjadikan namanya diabadikan sebagai nama komet tersebut. Hasil
perhitungan yang lebih teliti dari berbagai penampakan disimpulkan bahwa
periode komet semakin singkat sekitar 2,5 jam setiap kali mendekati Matahari.

            Walaupun belum ada
informasi pasti tentang pecahnya komet ini menjelang peristiwa Tunguska 1908,
namun berdasarkan analisis orbitnya diduga kuat pecahan komet yang menyebabkan
ledakan Tunguska memang berasal dari komet Encke. Komet Encke sendiri sampai
sekarang masih mengorbit. Komet itu terakhir kali teramati pada 1994.

 

Punahnya Kehidupan

            Bila yang menabrak Bumi
1908 bukan sekedar pecahan komet, tetapi asteroid (planet kecil) atau komet
yang ukurannya lebih besar, dampak tumbukannya akan lebih fatal. Mungkin
sebagian makhluk hidup akan punah, termasuk sebagian besar manusia akan tewas. Kepunahan
makhluk hidup akibat komet atau asteroid menabrak bumi pernah terjadi. Sebuah
asteoroid atau komet yang jatuh di Semanjung Yukatan, Meksiko, 65 juta tahun
lalu diduga menyebabkan punahnya Dinosaurus.

            Sebuah asteroid yang
ditaksir berukuran sekitar 10 kilometer seberat setriliun ton menabrak Bumi
jatuh di Semenanjung Yukatan di tepi teluk Meksiko. Ini menyebabkan
terbentuknya kawah raksasa berdiameter 180 km (hampir sebesar Jawa Barat),
menyebabkan gelombang raksasa di laut Karibia, dan menghamburkan debu ke
atmosfer seluruh dunia. Asteroid langsung menembus bumi sehingga sisa-sisanya
tidak tampak lagi.

            Energi ledakannya setara
dengan ledakan 5 miliar bom atom Hiroshima. Debu yang dihamburkan ke atmosfer ditaksir
sekitar 100 triliun ton berdasarkan ketebalan endapan debu bercampur Iridium di
seluruh dunia. Adanya logam Iridium yang jarang terdapat di Bumi, tetapi
melimpah pada asteroid menjadi kunci pembuka tabir rahasia bahwa benda langit
yang jatuh adalah asteorid.

            Debu-debu yang dihamburkan
ke atmosfer sedemikian tebalnya sehingga menghambat masuknya cahaya Matahari. Hilangnya
pemanasan Matahari menyebabkan Bumi dilanda musim dingin panjang yang dikenal
sebagai "musim dingin tumbukan" (impact winter). Inilah penyebab
musnahnya hampir setengah makhluk hidup di Bumi, termasuk Dinosaurus.

 

Nuklir dan Komet

            Ambisi manusia pun bisa
menyebabkan kepunahan seperti pada peristiwa Yukatan itu itu. Belajar dari
peristiwa di Semenanjung Yukatan tersebut (atau biasa disebut peristiwa K/T,
batas masa Kretaseus dan Tertiari dalam sejarah geologi) para ilmuwan telah
pula menaksir dampak perang nuklir. Energi ledakannya bila terjadi perang
nuklir memang jauh lebih kecil daripada energi ledakan akibat asteroid atau komet
menabrak bumi. Tetapi asap dan jelaga yang ditimbulkan dari kebakaran seratus
kota dan hutan akan setara dengan dampak debu pada peristiwa K/T dalam
menghambat cahaya Matahari. Bila itu terjadi, akan timbullah "musim dingin
nuklir" (nuclear winter) yang mungkin memusnahkan sebagian besar kehidupan
di Bumi.

            Kini perang nuklir
nampaknya mulai bisa diredam. Namun ada ancaman komet Swift-Tuttle yang
diperhitungkan akan menabrak Bumi pada 2126. Walaupun itu masih lama, para
astronom berusaha memantaunya pergerakannya. Perhitungan orbit yang lebih
teliti diperlukan sebelum memastikan benar tidaknya komet Swift-Tuttle
mengancam Bumi. Bila benar akan menabrak Bumi, mungkin manusia generasi
mendatang mesti menyiapkan penangkal yang ampuh. Barangkali senjata nuklir akan
digunakan untuk menghancurkan komet itu di angkasa luar sebelum menabrak Bumi. Manusia
harus lebih arif memanfaatkan nuklir untuk mencegah nuclear winter dan
sekaligus impact winter.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2007 in Sains Antariksa & Astronomi

 

One response to “Pelajaran Dari Tunguska 30 Juni 1908

  1. ragil

    Maret 28, 2012 at 5:45 am

    tulisannya menarik pak jamal, apalagi kalo analisa digeser dalam sudut pandang Al_Qur’an pandangan saya begini pak, nama ragil pak.
    konsep alam semesta telah mengkungkung kita, yang kita unggulkan hanyalah bumi saja, bumi adalah debu kecil apabila kita melihat dalam galaxy, apalagi bila digeser pada tataran jagad raya.
    dalam beberapa ayat Qur’an memberikan informasi:
    17/55: Allah lebih tau siapa yg di samawat dan di bumi, dan kami karuniakan setengah nabi-nabi atasnsetengahnya ( brarti ada nabi disamawat )
    12/105: dan berapa banyak ayat di samawat dan di bumi yg mereka berlalu ( brarti ayat Allah/Qur’an disampaikan juga disamawat- hukum Al-Qur’an bersifat universal untuk jagad raya )
    24/35 merupakan informasi ilmu antariksa
    3/83 telah islam orang-orang disamawat dan bumi secara patuh dan terpaksa

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: