RSS

Sains Memang Bebas Nilai, Substansinya Islami

22 Jul
SAINS
(Dimuat Republika (Hikmah), 7 Maret 1999)                            
   
Oleh T. Djamaluddin

Bacalah dengan nama Tuhanmu
yang menciptakan

Menciptakan manusia dari
segumpal darah

Bacalah! Dan Tuhanmu Yang
Maha Pemurah

Yang mengajarkan dengan pena

Mengajar manusia hal-hal
yang belum diketahuinya

Q. S. Al-Alaq:1-5)

 

     Dalam makna yang umum, lima ayat yang
turun pertama kali ini tentunya bukan hanya perintah kepada Rasulullah s. a. w.
untuk membaca ayat-ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya makna untuk membaca
ayat-ayat kauniyah yang terdapat di alam. Allah memberikan kemampuan kepada
manusia untuk itu.

     Manusia yang diciptakan dari substansi
serupa gumpalan darah telah dianugerahi Allah dengan kemampuan analisis untuk
mengurai rahasia-rahasia di balik semua fenomena alami. Kompilasi pengetahuan
manusia kemudian didokumentasikan dan disebarkan dalam bentuk tulisan yang
disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini melahirkan sains
dalam upaya menafsirkannya. Ada astronomi, matematika, fisika, kimia, biologi,
geologi, dan sebagainya.

     Dari segi esensinya, semua sains sudah
Islami, sepenuhnya tunduk pada hukum Allah. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan
adalah hukum-hukum alam yang tunduk pada sunnatullah. Pembuktian teori-teori
yang dikembangkan dilandasi pencarian kebenaran, bukan pembenaran nafsu
manusiawi. Secara sederhana, sering dikatakan bahwa dalam sains kesalahan
adalah lumrah karena keterbatasan daya analisis manusiawi, tetapi kebohongan
adalah bencana.

     Hukum konservasi massa dan energi yang
secara keliru sering disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi sering
dikira bertentangan dengan prinsip tauhid. Padahal itu hukum Allah yang dirumuskan
manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan tidak
bisa dimusnahkan. Alam hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang lain. Hanya
Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?

     Demikian juga tetap Islami sains yang menghasilkan teknologi kloning,
rekayasa biologi yang memungkinkan binatang atau manusia memperoleh keturunan
yang benar-benar identik dengan sumber gennya. Teori evolusi dalam konteks
tinjauan aslinya dalam sains, juga Islami bila didukung bukti saintifik. Semua
prosesnya mengikuti sunnatullah, yang tanpa kekuasaan Allah semuanya tak mungkin
terwujud.

     Jadi, Islamisasi sains sungguh tidak
tepat. Menjadikan ayat-ayat Alquran sebagai rujukan, yang sering dianggap salah
satu bentuk Islamisasi sains, juga bukan pada tempatnya. Dalam sains, rujukan
yang digunakan semestinya dapat diterima semua orang, tanpa memandang sistem
nilai yang dianutnya. Tegasnya, tidak ada sains Islam dan sains non-Islam.

     Hal yang pasti ada hanyalah saintis Islam
dan saintis non-Islam. Dalam hal ini sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang
tidak akan tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut
seorang saintis kadang tercermin dalam pemaparan yang bersifat populer atau
semi-ilmiah.

    
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Maka, riset saintis
Islam berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta
hanya karena-Nya pokok pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan
riset yang menyingkapkan satu mata rantai rahasia alam semestinya disyukurinya
dengan ungkapan "Rabbana maa khaalaqta haadza baathilaa, Tuhan kami
tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia" (Q. S. 3:191), bukan ungkapan bangga
diri.    
                      

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 22, 2007 in Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: