RSS

Mari Bersatu Berhari Raya

24 Sep
Kita Bisa Bersatu Berhari Raya
T. Djamaluddin, LAPAN Bandung

Muhammadiyah telah mengumumkan Idul Fitri 12 Oktober 2007. Beritanya dan maklumatnya termuat di situs resminnya. Kebetulan situs tersebut juga memuat tanggapan pembacanya, maka saya pun turut menulis tanggapan saya dan saran saya kepada Muhammadiyah khususnya dan semua ormas Islam di Indonesia pada umumnya. Ini bisa dilihat di
http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=588&Itemid=2&lang=en
Agar bisa juga dibaca secara utuh, tanggapan tersebut saya masukan juga di blog saya.

Kini bukan zamannya mempertentangkan hisab atau rukyat. Kita yakin
hasil keduanya bersifat ijtihadiyah. Hitungan astronomi memang akurat,
tetapi memutuskan "masuknya tanggal 1" adalah hasil ijtihad, yang bisa
salah dan bisa benar. Muhammadiyah berijtihad masuknya tanggal 1
didasarkan pada kriteria "wujudul hilal" + prinsip wilyahtul hukmi
untuk menetapkan 1 syawal jatuh pada 12 Oktober. Persis juga
berlandaskan hisab, tetapi berijtihad dengan kriteria "wujdul hilal di
seluruh Indonesia" sehingga memutuskan 1 Syawal 13 Oktober 2007.

Secara
astronomi, keputusan kapan 1 Syawal bisa berbeda-beda tergantung
kriterianya. Sebagai hasil ijtihad, kriteria mestinya bisa berubah.
Mari kita maju selangkah untuk mencari kriteria bersama yang bisa
menyatukan ummat Islam, baik yang berpegang rukyat maupun hisab. Semua
Ormas bisa melakukanya.

Keputusan sudah diambil, masih mungkinkah kita bersatu?
Mungkin. Secara fiqih masih dimungkinkan tidak shaum pada 12 Oktober
(karena dianggap sudah Idul Fitri), tetapi menunda shalat ied 13
Oktober (kalau keputusan sidang itsbat seperti itu). seperti dilakukan
Dewan Syariah PKS Pusat tahun lalu yang membuat edaran bolehnya menunda
shalat Ied demi kemashlahatan ummat. Memang banyak ulama yang
membolehkannya. Salah satu alasannya, para perukyat yang sudah
tahu melihat hilal awal Syawal tidak melaksanakan sendiri, tetapi
melaporkan dulu kepada Nabi lalu Nabi memerintahkan shalat Idul Fitri
hari berikutnya. Analog atau qiyasnya, Muhammadiyah yang berpendapat
Idul Fitri 12 Oktober kemudian melaporkan kepada Sidang Itsbat, dan —
misalkan nanti keputusannya 13 Oktober– mengumumkan shalt Idul Fitri
13 Oktober (walau sudah tidak shaum 12 Oktober).

Ayo bersatu. Jangan buat dikhotomi Pemerintah vs Ormas atau NU vs Muhammadiyah atau rukyat vs hisab.
Penentuan awal Ramadhan dan hari raya, juga awal bulan qamariyah
lainnya adalah masalah ijtihadiyah pada kriteria. Banyak orang terlalu picik
menyebut hisab lebih unggul dari rukyat atau sebaliknya rukyat lebih
unggul dari hisab. Dari segi astronomi, keduanya berkedudukan sama.

Mengapa Idul Fitri sebaiknya bersatu? Karena Idul fitri, bukan hanya
dimensi ibadah, tetapi ada dimensi sosial (ibadah masal) dan punya
nilai syiar yang sangat bagus untuk menunjukkan ukhuwah. Menjaga
ukhuwah adalah wajib dan melaksanakan shalat Idul Fitri adalah sunnah,
maka utamakan yang wajib.

Ayo kita bersatu demi ukhuwah. Malu kita ditertawakan orang non-Islam
dan ditertawakan oleh komunitas astronomi sendiri (banyak loh orang
yang tak faham astronomi bicara banyak soal aspek teknis sekadar untuk
memperkuat argumen fikihnya). Kita bisa bersatu. Pemerintah sudah
beritikad baik mengakomadasi semua kepentingan masyarakat Islam melalui
sidang itsbat, mari kita hargai tanpa curiga.

Mari kita belajar pada kesepatakan jadwal shalat. Jadwal shalat pada
dasarnya sama dengan penentuan awal bulan. Pada awalnya dengan
pengamatan (rukyat) dari keadaan langit (fajar, terbit, zawal,
terbenam, syafak) dan bayangan matahari. Lalu ketika berkembang ilmu
hisab, maka dirumuskan ketinggian matahari sekian derajat untuk
masing-masing waktu shalat. Sebenarnya masih ada perdebatan soal kriteria itu. Lalu
semua ormas bisa bersepakat untuk mengambil kriteria yang ditetapkan
Departemen Agama bahwa shubuh z=110, Dzuhur tengah hari + ikhtiati,
asar= tan(za) = tan(zd) + 1, maghrib = terbenam + ikhtiyati, isya
z=108. Kalau mau rukyat lihat fenomena langit dan bayangan silakan,
kalau percaya pada hisab yang tertera pada jadwal shalat silakan.
Rukyat dan hisab pada penentuan jadwal shalat dianggap sama kedudukannya. Semua ormas sudah sepakat dengan
kriteria yang dibuat pemerintah untuk jadwal shalat dan eksistensi
rukyat dan hisab tetap dihargai. Kita sedang menuju ke sana untuk penentuan awal bulan qamariah. Badan
Hisab Rukyat Depag sedang mengupayakan kesepakatan kriteria untuk
dijadikan kriteria bersama awal bulan semua pihak. Nanti kriteria
Muhammadiyah soal wujudul hilal, krietrai NU yang tingginya 2 derajat,
kriteria Persis wujudul hilal di seluruh Indonesia, semuanya maju
selangkah menuju kriteria bersama. Mari kita dukung untuk bersatu,
hilangkan egoisme ormas demi ukhuwah. Kita bisa bersatu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 24, 2007 in Hisab-Rukyat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: