RSS

Islamisasi Sains?

08 Okt
Tadarus (PR, 8 Oktober 2007)
Kesalahpahaman tentang Islamisasi Sains

Seorang
teman yang terobsesi dengan Islamisasi ilmu pengetahuan pernah bertanya mengapa dalam
makalah-makalah ilmiah saya tidak tercantum ayat Alquran? Ia yakin, mencantumkan ayat
Alquran dalam makalah ilmiah adalah salah satu upaya Islamisasi ilmu pengetahuan.

Dalam makalah ilmiah ilmu sosial mungkin saja tercantum ayat Alquran yang terkait
dengan perilaku atau sistem nilai manusia yang sedang dikaji. Dalam ilmu sosial, merujuk
pada sumber Islami adalah sahih dan merupakan salah satu upaya Islamisasi ilmu sosial yang
telah banyak diwarnai sistem nilai non-Islam. Namun, dalam sains yang mengkaji perilaku
alam, tepatkah ayat Alquran dijadikan rujukan analisis ilmiahnya? Dan secara umum,
perlukah Islamisasi sains?

Ketika saya menulis skripsi untuk memperoleh gelar sarjana astronomi di ITB tentang
gugusan bintang-bintang muda di galaksi Bimasakti yang mengindikasikan bidang galaksi
melengkung, kutipan ayat Alquran (Q.S. 3:190-191 dan Q.S. 85:1) hanya saya cantumkan di
halaman depan, tidak masuk dalam makalah. Alquran menjadi landasan iman dalam mengkaji
ayat-ayat Allah di alam semesta, tapi tidak dapat digunakan untuk memperkuat argumentasi scientific-nya.

Dalam sains, argumentasi ilmiah harus berpijak pada landasan yang dapat diterima setiap
orang, apa pun agamanya. Ketika menyusun desertasi S3 di Jepang yang mengkaji tentang
pembentukan bintang, saya sengaja menuliskan kalimat yang secara tersirat mengandung
pengertian "bintang dibentuk" oleh Allah, bukan terbentuk dengan sendirinya.
Profesor pembimbing saya pun mencoretnya dan mengganti kalimat itu sehingga netral tanpa
nuansa konflik keyakinan akan ada tidaknya Tuhan pencipta alam.

Perlukah Islamisasi sains? Ketika semangat Islamisasi ilmu pengetahuan muncul pada awal
1980-an, Direktur Direktorat Energi Nuklir Pakistan, Bashiruddin Mahmood, bersama
teman-temannya mendirikan Holy Quran Research Foundation. Salah satu hasil
kajiannya adalah buku Mechanics of the Doomsday and Life after Death: The Ultimate Fate
of the Universe as Seen Through the Holy Quran
(1987). Sayang, obsesinya mengislamkan
sains tampaknya tidak mempunyai pijakan. Fenomena penciptaan dan kehancuran alam semesta
yang katanya ditinjau dengan Alquran, dianalisis tanpa menggunakan sains secara utuh.
Hasilnya, banyak kejanggalan dari segi sains.

Upaya Islamisasi sains yang salah arah menimbulkan kritik tajam dari Dr. Pervez
Hoodbhoy, pakar fisika partikel dan nuklir dari Quaid-e-Azam University, Islamabad. Atas
saran Prof. Abdus Salam (Penerima hadiah Nobel Fisika 1979), Hoodbhoy memaparkan kritiknya
dalam buku Islam and Science: Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality (1992).

Baik Hoodbhoy maupun Salam sepakat bahwa upaya Islamisasi sains telah salah langkah.
Secara spesifik, Hoodbhoy mengkritik beberapa kajian yang oleh para pemaparnya –di
beberapa konferensi tentang Alquran dan sains– dianggap sebagai sains Islam.
Kajian-kajian yang dikritik tajam itu antara lain tentang formulasi matematis tingkat
kemunafikan, analisis Isra Miraj dengan teori relativitas, jin yang terbuat dari api
sebagai energi alternatif, dan formula kuantitatif pahala salat berjamaah sebagai fungsi
dari jumlah jamaah.

Sebenarnya, perlukah Islamisasi sains? Untuk menjawabnya, kita kaji lima ayat ini. Bacalah
dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah!
Dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah yang mengajarkan dengan pena. Mengajar manusia hal-hal yang
belum diketahuinya
(Q. S. Al-Alaq:1-5). Lima ayat ini bukan sekadar perintah untuk
membaca ayat quraniyah. Terkandung di dalamnya dorongan untuk membaca ayat-ayat kauniyah
di alam. Manusia pun dianugerahi kemampuan analisis untuk mengurai rahasia di balik
semua fenomena alam. Kompilasi pengetahuan itu kemudian didokumentasi dan disebarkan
melalui tulisan yang disimbolkan dengan pena. Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini
akhirnya melahirkan sains. Ada astronomi, fisika, kimia, biologi, geologi, dan sebagainya.

Maka dari esensinya, sains sudah Islami. Hukum-hukum yang digali dan dirumuskan sains
seluruhnya tunduk pada hukum Allah. Pembuktian teori-teori sains pun dilandasi pencarian
kebenaran, bukan pembenaran nafsu manusia. Dalam sains, kesalahan analisis dimaklumi,
tetapi kebohongan adalah bencana.

Hukum konservasi massa dan energi dinilai menentang tauhid hanya karena sering keliru
disebut sebagai hukum kekekalan massa dan energi. Padahal, hukum ini adalah hukum Allah
yang dirumuskan manusia, bahwa massa dan energi tidak bisa diciptakan dari ketiadaan dan
tidak bisa dimusnahkan, alam dan manusia hanya bisa mengalihkannya menjadi wujud yang
lain. Hanya Allah yang kuasa menciptakan dan memusnahkan. Bukankah itu sangat Islami?

Jadi, Islamisasi sains sungguh keliru. Bukan pada tempatnya menjadikan ayat Alquran
sebagai alat analisis sains. Dalam sains, rujukan yang dipakai mesti dapat dipahami siapa
pun tanpa memandang sistem nilai atau agamanya. (catatan editor PiSQ; contoh tentang sains
sejarah Nabi Nuh a.s., bila dapat dibuktikan keberadaan tokoh ini (kapan dan di mana)
secara metode ilmiah (sains) maka tokoh Nuh a.s. akan menjadi tokoh sejarah penting untuk
seluruh umat manusia walaupun bagi mereka yang tidak mengenal tokoh Nuh dalam kitab suci
dan keyakinannya). Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam, yang ada saintis Muslim dan
saintis non-Muslim. Pada merekalah sistem nilai tidak mungkin dilepaskan. Memang tidak
tampak dalam makalah ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang dianut seorang saintis kadang
tercermin dalam tulisan populer atau semi-ilmiah.

"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan". Maka, riset saintis
Muslim berangkat dari keyakinan bahwa Allah pencipta dan pemelihara alam serta hanya
karena-Nya pangkal segala niat. Atas dasar itu, setiap tahapan riset yang menyingkap mata
rantai rahasia alam disyukuri bukan dengan berbangga diri, melainkan dengan ungkapan "Rabbana
maa khaalaqta haadza baathilaa".
Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini
sia-sia (Q. S. 3:191). (Dr. T. Djamaluddin, peneliti Lapan Bandung, anggota
Dewan PiSQ-ICMI)***

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 8, 2007 in Sains & Quran

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: