RSS

Berharap Cahaya Allah

03 Des

Cahaya

(Dimuat di Hikmah Repubika, 4 Feb 2000)

 

T. Djamaluddin

 

            Dalam
arti fisis maupun kiasan, cahaya memegang peran penting bagi manusia. Dalam
arti fisis, cahaya adalah bagian dari gelombang elektromagnetik yang sejenis
dengan gelombang radio, infra merah, ultra violet, sinar-X, dan sinar gamma.
Dalam makna kiasan, cahaya adalah petunjuk Allah.

            Cahaya
fisis di alam adalah bahasa universal yang dengan itu manusia bisa membaca
ayat-ayat kauniyah. Dengan itu pula hakikat makluk Allah dapat kita kenal.
Benda-benda langit bercerita hakikat dirinya dengan bahasa cahaya tersebut.
Tentu ada juru bahasanya, astrofisika.

            Matahari
bercerita bahwa dirinya bersuhu permukaan sekitar 6000 derajat dari warna
kuningnya. Bintang berwarna merah mengindikasikan bersuhu lebih rendah dan yang
berwarna biru bersuhu lebih tinggi.

            Galaksi
berkisah bahwa dirinya sedang berlari menjauh dengan pergeseran spektrum
cahayanya ke arah merah. Demikian juga pergeseran spektrum pada bintang-bintang
menceritakan tentang rotasinya.

            Ternyata
90% atau lebih materi di alam semesta tak memancarkan cahaya atau gelombang
elektromagnetik lainnya. Itulah yang dinamakan materi gelap, antara lain Black
Hole, objek "bintang gagal" (kerdil coklat), atau partikel-partikel
subelementer. Hakikat materi gelap itu hanya diketahui dari isyarat-isyarat tak
langsung.

            Dalam
bahasa tauhid, bercahaya atau tidaknya benda-benda langit bukan sekadar
persoalan fisis, tetapi ada peran Allah. Allah adalah pemberi cahaya bagi
langit dan bumi (QS 24:35). Cahaya-Nya berlapis-lapis, cahaya di atas cahaya.

            Pada
sisi lain Allah memberikan perumpamaan tentang kegelapan yang amat sangat
hingga tak ada cahaya sedikit pun yang terpancar atau terpantul. Tanpa cahaya
itu, tak satu benda pun akan tampak, termasuk tangan sendiri (QS 24:40).

            Ungkapan
Allah tentang cahaya alam semesta itu selalu dikaitkan dengan dimensi
kemanusiaan. Dalam dimensi kemanusiaan, "cahaya" bisa bermakna
sebagai "cahaya agama" atau hidayah. Dalam hal ini pun ada peran
Allah. "Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya" (QS
24:35). "Siapa yang tak diberi cahaya oleh Allah tiada baginya
cahaya" (QS 24:40).

            Namun,
manusia dengan kalbunya bukanlah makhluk pasif yang sekadar menanti pemberian
cahaya Allah. Ibarat astronom yang berupaya menangkap cahaya alam dengan
teleskop besar yang sangat peka, manusia pun harus menggunakan kalbunya untuk
menangkap cahaya Allah. Banyak sumber cahaya Allah. Hanya kalbu yang peka yang
mampu menangkap sebanyak mungkin cahaya itu.

            Sumber
utama adalah Alquran yang merupakan cahaya yang diturunkan Allah (QS 64:8) yang
dengan itu dibimbing-Nya hamba-hamba yang dikehendaki-Nya (QS 42:52). Alquran
itu pula yang akan mengeluarkan manusia dari kegelapan aqidah kepada cahaya (QS
57:9).

            Dengan
cahaya itu bukan hanya terbimbing kehidupan kita di dunia, tetapi cahaya itu
juga akan terbawa sampai akhirat. Allah mengungkapkan bahwa orang beriman kelak
pada hari perhitungan akan diliputi dengan cahaya di sekelilingnya (QS 57:12).

            Seperti
halnya benda langit, tidak banyak manusia yang mendapat cahaya Allah. Maka beruntunglah
orang yang mendapat cahaya Allah dengan kalbunya yang peka.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 3, 2007 in Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: