RSS

Saudi Bikin Masalah Lagi

12 Des
  Penyatuan Hari Raya dan Masalah Idul Adha

T. Djamaluddin (LAPAN)

Di Indonesia kita sedang mengupayakan penyatuan hari raya. Dua metode, hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), kini harus dipandang setara dan bisa dipersatukan. Kedua metode itu bisa bersatu keputusannya bila kriterianya disepakati sama. Jalan menuju itu mulai terbuka. Kita mengupayakan mencari titik temu kriteria hisab rukyat Indonesia agar awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, serta bulan-bulan hijriyah lainnya bisa seragam. Namun penyatuan kriteria masih akan menyisakan masalah perbedaan terkait dengan Idul Adha.

Masalah perbedaan Idul Adha tidak sepenuhnya terkiat dengan kriteria. Ya, di Indonesia sebagian besar ulama bersepakat untuk mendasarkan pada hasil hisab rukyat Indonesia. Artinya, dengan penyatuan kriteria kita bisa berharap bersatu melaksanakan Idul Adha. Namun masih ada sebagian saudara kita, antara lain dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang berpendapat bahwa Idul Adha sangat terkait dengan pelaksanaan wukuf di Arafah, sehingga Idul Adha selalu tergantung keputusan Arab Saudi.

Mengikut keputusan Arab Saudi potensi perbedaan sangat besar. Selain masalah garis tanggal, masyarakat astronomi sering mengingatkan bahwa keputusan Saudi sering bermasalah. Setidaknya dalam 3 tahun terakhir 1425 (2005), 1427 (2006), dan 1428 (2007) keputusan Majlis Al-Qadha Al-‘Ala (Dewan Mahkamah Tinggi) Arab Saudi sangat kontroversial. Kesaksian rukyat diterima begitu saja, padahal secara astronomi bulan telah terbenam. Ini menimbulkan masalah. Pada hari Ahad, 9 Desember 2007, ada laporan kesaksian rukyatul hilal, padahal ijtima (new moon, bulan baru astronomis) belum terjadi. Tidak tahu apa yang mereka lihat. Dengan kesaksian itu Arab Saudi memutuskan wukuf jatuh pada 18 Desember dan Idul Adha pada 19 Desember 2007.

Sebelumnya kita berharap Idul Adha tahun ini bisa seragam, khususnya di Indonesia. Secara praktek hisab rukyat di Indonesia, seperti juga diputuskan dalam sidang itsbat di Depag RI pada Rabu, 12 Desember 2007, memang semua bersepakat beridul Adha kamis 20 Desember 2007. Namun, adanya pengumuman Arab Saudi, potensi adanya dua kali shalat Idul Adha sangat terbuka. Saudara-saudara kita yang berpendapat Idul Adha tergantung pelaksanaan wukuf, akan melaksanakan shalat Idul Adha pada 19 Desember 2007.

Penyeragaman Idul Adha tidak dapat dilakukan dengan pendekatan astronomis, dengan penyatuan kriteria, kecuali kalau kita bisa mengajak Majlis Al-Qadha Al’Ala yang merupakan otoritas di Arab Saudi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan ukhuwah. Seorang perwakilan dari DDII di Badan Hisab Rukyat, pernah menyatakan bahwa DDII menerima nasihat dari Ulama di Arab saudi agar menjaga ukhuwah diutamakan, daripada mengikuti keputusan Arab Saudi tetapi berbeda dengan saudara-saudara lainnya. Di lain pihak Dewan Syariat Pusat Partai Keadilan Sejahtera memberikan jalan tengah yang baik dalam menjaga ukhuwah, yaitu melaksanakan shaum Arafah sama harinya dengan hari wukuf, tetapi menunda shalat Idul Adha seperti keputusan pemerintah RI yang menjadi acuan sebagian besar saudara-saudara Muslim. Itu artinya, mereka shaum Arafah pada Selasa 18 Desember 2007, tetapi ikut melaksanakan shalat Idul Adha pada Kamis 20 Desember 2007. Mendahulukan ukhuwah ini merupakan titik temu penyeragaman Idul Adha, di samping pendekatan penyatuan kriteria hisab rukyat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 12, 2007 in Hisab-Rukyat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: