RSS

Istiqamah

01 Jan
Jalan Lurus
(Dimuat Hikmah, Republika, 20 Apr 2000)

T. Djamaluddin

 

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan
kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada
ketakutan bagi  mereka dan mereka tiada
(pula) berduka cita.
(QS
46:13).

Fenomena
fisika, bagian dari sunnatullah, bisa menjadi teladan yang baik bagi manusia.
Contohnya laser, yang kini mulai banyak dikenal, mulai dari pertunjukan sinar
laser sampai pointer mungil yang dijual di kaki lima.
Laser
(light amplification by stimulated emission of radiation) adalah
penguatan cahaya dengan pancaran radiasi yang distimulasi. Di alam kita kenal
maser (microwave amplification by stimulated emission of radiation),
penguatan gelombang mikro dengan pancaran radiasi yang distimulasi, yang
dipancarkan oleh awan antarbintang.

Garis kehidupan seorang Muslim idealnya ibarat mengikuti
garis penjalaran sinar laser yang lurus tersebut. Titik awalnya adalah niat
yang ikhlas dan titik sasarannya adalah mardlatillah, keridlaan Allah. Proses di titik awal amat menentukan
sampai tidaknya sinar mencapai sasaran yang dituju. Niat yang lemah bisa
menyebabkan tidak sampainya pada tujuan. Sedikit saja hambatan yang dihadapi,
sasaran tidak tercapai.

Pada
laser atau maser, cahaya atau gelombang mikro itu diproses dan diperkuat sehingga
dapat terpancar sangat kuat, lurus tidak menyebar, dan dapat menempuh jarak
yang sangat jauh. Seperti itu pula hendaknya niat diproses dan diperkuat agar
tetap lurus dalam bertindak dan mampu menembus hambatan-hambatan yang dihadapi.

Untuk
mendapatkan penguatan tersebut, ada proses pemompaan energi pada titik awal
tersebut. Pada perangkat laser, pemompaan energi dilakukan dengan penyinaran
atau pemberian medan listrik. Pada fenomena maser dari awan antarbintang,
pemompaan energi dilakukan oleh radiasi inframerah dari bintang-bintang di
dekatnya..

Pada
diri manusia "pemompaan energi" untuk penguatan niat dilakukan dengan
tempaan iman dan doa yang terus menerus. Allah menyerukan, "Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman”
(QS 3:139). Rasullullah SAW berpesan, "Doa itu senjatanya
orang mu’min
" (HR Hakim dan Abu Ya’la)

Jalan
mencapai tujuan mardlatillah tentu tidak mulus. Ada saja hambatan dan
godaan. Sedangkan manusia tidak luput dari kelalaian dan dosa. Kemalasan
menyebabkan amal terhenti. Riya (pamer) dan bangga diri menghanguskan
nilai amal. Penyelewengan menyeret kita keluar dari jalur yang lurus. Tetapi,
Allah memberikan mekanisme untuk meluruskan kembali perjalanan kita: segera
ingat Allah dan mohon ampunan (QS 3:135).

Hal
yang terpenting adalah menjaga konsistensi diri, beristiqamah (QS 46:13),
setelah memantapkan iman berbekal doa (QS 3:8) yang memperkuati niat. Istiqamah
memang mudah diucapkan, tetapi berat melaksanakannya. Idealisme yang bergelora
pada masa muda atau semasa mahasiswa, kerap tak bisa dipertahankan ketika
berhadapan dengan realitas dalam perjuangan profesi sesungguhnya.

Tuntutan
keluarga, silaunya iming-iming harta, dorongan mendapatkan dan mempertahankan
jabatan, serta upaya meningkatkan status sosial tidak jarang menggoyah jiwa.
Awalnya menggunakan pembenaran-pembenaran, selanjutnya hilang rasa malu.

Sebelum
tersesat jauh, luruskan kembali perjalanan hidup kita. Memang beristiqamah
terasa pahit secara lahiriyah, tetapi tentram secara batiniyah.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 1, 2008 in Hikmah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: