RSS

Selamatkan Bumi

27 Apr

Bumi dan Peran Kita

(Dimuat Pikiran Rakyat 22 April 2008)
http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=19831


Oleh T. Djamaluddin

BANJIR kini telah menjadi hal yang
hampir selalu terjadi setiap hujan dalam skala kecil maupun besar.
Walau kecil, banjir cileuncang telah menyusahkan banyak orang,
setidaknya memacetkan lalu lintas dan menyusahkan penghuni di
sekitarnya. Jalan dan gang banyak yang berubah menjadi sungai deras
saat hujan lebat. Kadang kita menyalahkan pihak lain, tanpa mau
menyadari bahwa bisa jadi kitalah salah satu pihak yang menyebabkannya.
Sampah yang kita buang sembarang telah menyumbat saluran air dan
resapan di halaman kita telah tertutup lapisan semen.

Kota juga semakin terasa panas dan
pengap. Kicau burung semakin langka. Pendingin udara semakin menjadi
kebutuhan vital di kota-kota besar. Lagi-lagi kita sering menyalahkan
pihak lain sebagai penyebabnya, tanpa mau menyadari bahwa bisa jadi
kita salah satu penyebabnya. Pohon sering dianggap pengganggu sehingga
dibiarkan mati di pinggir jalan atau ditebang saat membangun rumah,
tanpa menggantikannya. Halaman rumah dibiarkan gersang sekadar karena
alasan lahan sempit dan sibuk.

Sering kita berpikir terlalu global
dan mengabaikan hal kecil yang ada di sekitar kita. Padahal, kita bisa
berbuat banyak sesuai peran masing-masing untuk menyelamatkan
lingkungan bumi kita. Ketika sampah menggunung, kita hanya berharap
pemerintah yang menyelesaikan, padahal kita bisa juga membantu
menyelesaikannya, setidaknya dengan mengurangi sampah yang dibuang.

Tiga contoh kecil itu sekadar pembuka
kesadaran pentingnya kepedulian kita pada lingkungan untuk tujuan yang
lebih besar, penyelamatan planet bumi. Bukan untuk kepentingan planet
bumi tentunya, melainkan untuk kita sendiri dan anak-anak kita.

Setidaknya, peringatan Hari Bumi 22
April dan pencanangan Tahun Internasional Planet Bumi sebagai momentum
yang tepat untuk kembali merenungkan posisi kita masing-masing. Tidak
sekadar berharap pihak lain yang berbuat untuk kita, tetapi kembalikan
tanyakan apa yang bisa kita perbuat.

Menyelamatkan bumi

Hari Bumi 22 April diperingati oleh
banyak negara untuk mengingatkan pentingnya penyelamatan bumi. Ini
diawali dengan keprihatinan makin meluasnya kerusakan lingkungan di
Amerika Serikat. Kemudian, aktivis lingkungan, Senator Gaylord Nelson,
menggalang Hari Bumi di Amerika Serikat pada 22 April 1970 yang diikuti
lebih dari 20 juta orang. Siswa SD sampai mahasiswa serta masyarakat
umum bersatu dalam demonstrasi menuntut pembenahan lingkungan. Gerakan
berhasil membangun kesadaran masyarakat dan mendobrak tradisi proses
politik yang terkait dengan penyelamatan lingkungan.

Hasilnya luar biasa. Banyak
undang-undang tentang lingkungan hidup kemudian berhasil dikeluarkan.
Badan perlindungan lingkungan AS didirikan. Keberhasilan itu kemudian
diikuti oleh banyak negara.

Hari Bumi 2008 punya arti lebih
penting karena tahun 2008 telah dicanangkan oleh Majelis Umum PBB
(Perserikatan Bangsa-Bangsa) sebagai Tahun Internasional Planet Bumi.
Dengan pencanangan itu diharapkan adanya upaya peningkatan kesadaran
akan peran ilmu-ilmu kebumian dalam mencapai pembangunan berkelanjutan
dan mendukung langkah-langkah lokal, nasional, regional, dan
internasional.

Bumi makin rusak

Secara kasat mata kita merasakan
betapa bumi kita makin rusak. Sekadar contoh, hasil-hasil kajian
peneliti di Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan (Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional) memberikan gambaran kerusakan yang
perlu diwaspadai semua pihak. Pemerintah, lembaga legislatif, dan
masyarakat perlu merenungkannya untuk mengambil langkah yang tepat.

Kajian perubahan suhu di Jakarta
menunjukkan bahwa dalam 100 tahun (tahun 1901-2002) suhu cenderung
terus naik. Pada awal 1900-an suhu rata-rata di Jakarta sekitar 260 C,
pada awal 2000-an mencapai sekitar 280 C. Penelitian lebih rinci dengan
data satelit di beberapa kota besar menunjukkan kecenderungan pemanasan
kota yang disebut urban heat island (pulau panas perkotaan). Disebut
pulau panas karena pemanasan hanya bersifat lokal di tengah kota dengan
daerah sekitarnya relatif lebih dingin. Pemanasan kota lebih disebabkan
berkurangnya tanaman dan bertambahnya bangunan serta jalan beraspal.

Di Bandung, daerah panas dengan suhu
tinggi 30-350 C yang umumnya terletak di sekitar pusat kota bertambah
dengan laju per tahun 4,47% atau kira-kira 12.606 ha. Laju
pertambahannya di Semarang 8,4% (12.174 ha) dan di Surabaya 4,8% (1.512
ha). Hal ini terkait dengan laju pertumbuhan per tahun kawasan
terbangun di Bandung 0,36% (1.029 ha), di Semarang 0,83% (1.200 ha),
dan di Surabaya 1,69% (531 ha).

Perkembangan pembangunan yang
berdampak pada peningkatan polusi udara juga berpotensi meningkatkan
keasaman air hujan. Fenomena hujan asam perlu diwaspadai karena terkait
dengan potensi kerusakan pada bangunan dan usaha pertanian. Pengukuran
keasaman hujan asam di Bandung mulai memberi sinyal lampu kuning. Sejak
1996 air hujan di Bandung cenderung berada di bawah batas keasaman dan
mulai mengindikasikan fenomena hujan asam. Bahkan, pada tahun 1999-2000
mencapai batas terendah dengan keasaman (pH) sekitar 4 yang mungkin
juga sebagian disebabkan oleh sumber-sumber dari gunung berapi. Sulfur
dioksida dan nitrogen dioksida dari polusi udara dari kendaraan
bermotor dan industri menjadi faktor yang perlu diwaspadai dari
fenomena hujan asam.

Curah hujan rata-rata di Jawa Barat
dan Banten ada kecenderungan berkurang, dari 2.596 mm pada 1901-1930
menjadi 2.215 mm pada 1973-2002. Secara spasial, daerah yang mengalami
penurunan curah hujan terutama di daerah Jawa Barat bagian selatan.
Banyak faktor yang berpengaruh, selain faktor lokal dan regional,
sangat mungkin juga dipengaruhi faktor global.

Secara global diyakini perubahan
iklim telah terjadi akibat pemanasan global yang terkait peningkatan
gas rumah kaca (terutama CO2) akibat aktivitas manusia. Suhu rata-rata
global makin panas, naik sekitar 0,70 C dalam 50 tahun. Tampaknya
kenaikannya kecil, tetapi diduga kuat berperan pada peningkatan tinggi
permukaan air laut dan mencairnya es di kutub. Bila emisi CO2 dari
industri, transportasi, dan aktivitas manusia lainnya terus bertambah,
sedangkan hutan sebagai penyerap CO2 makin berkurang, bumi akan makin
panas dan curah hujan juga berubah.

Bila itu terjadi, Indonesia bagian
utara cenderung akan makin tinggi curah hujannya, sedangkan Indonesia
bagian selatan (termasuk Jawa) cenderung berkurang curah hujannya.
Dengan suhu makin tinggi produksi padi dan jagung juga cenderung
menurun, kecuali bila ditemukan bibit unggul baru.

Mari berbuat

Kecenderungan makin rusaknya bumi,
baik dalam skala lokal maupun global, bukan sekadar wacana ilmiah.
Perlu langkah konkret untuk mengatasinya. Langkah-langkahnya mulai dari
lingkup global, nasional, regional, sampai lokal, bahkan personal.
Kalau kita biarkan, potensi bencana mengancam kita, manusia saat ini
maupun generasi anak-anak kita.

Di tingkat global telah diupayakan
perjanjian-perjanjian internasional untuk penyelamatan bumi. Misalnya,
Protokol Montreal untuk perlindungan lapisan ozon dan Protokol Kyoto
untuk pengendalian pemanasan global walau masih ada kendala
pelaksanaannya. Di tingkat nasional perlu terus diupayakan adanya
peraturan perundangan yang menjamin kelestarian hutan, tata guna lahan
yang ramah lingkungan, pengendalian pencemaran, dan segala aspek
lainnya yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan demi
penyelamatan bumi dan kehidupannya.

Menjelang Hari Bumi 22 April ada
berita menggembirakan dengan disahkannya Undang-Undang tentang
Pengelolaan Sampah. Beberapa aspek mendasar serta strategis yang
ditekankan dalam UU ini antara lain adanya kewajiban pengelola kawasan
permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, tempat
umum, tempat sosial juga bagi tempat-tempat lainnya untuk menyediakan
fasilitas pemilahan sampah. Ada juga larangan bagi masyarakat membuang
sampah tidak pada tempatnya atau membakar sampah yang tidak sesuai
dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.

Pembuat kebijakan tentu berperan pada
langkah-langkah strategis pada lingkup global, nasional, dan lokal
kota/kabupaten. Akan tetapi, aksi penyelamatan bumi bisa juga pada
lingkup personal. Setidaknya perilaku individual itu dapat mengurangi
kerusakan lingkungan secara langsung atau tidak langsung dari perubahan
perilaku masyarakat secara kolektif.

Perubahan perilaku individu dan
masyarakat terkait dengan sampah sangat penting ditekankan. Sikap egois
dan tidak peka terhadap masalah lingkungan masih sering dijumpai
sehingga seenaknya membuang sampah di mana saja. Perilaku untuk memilah
sampah dalam konteks 3R (reduce, reuse, recycle atau kurangi, pakai
ulang, daur ulang) perlu terus diupayakan. Pemilahan mulai tingkat
rumah tangga bukanlah hal yang rumit bila dibiasakan. Menyediakan tiga
tempat sampah di rumah dapat mengurangi masalah sampah. Sampah organik
bisa sekadar ditimbun di halaman dengan lubang bergilir untuk
menyuburkan tanah. Sampah yang bisa didaur ulang (misalnya kertas,
karton, dan botol) bisa diserahkan kepada pemulung atau pengumpul
sampah daur ulang. Tempat sampah ketiga untuk sampah lainnya. Dengan
pembiasaan kita pasti bisa berdisiplin agar saluran air tak tersumbat
sampah dan gunung sampah tak pernah terjadi lagi.

Tanam dan pelihara pohon harus
diintensifkan untuk mengurangi dampak pemanasan karena efek gas rumah
kaca lokal maupun global. Pohon akan menyerap CO2 di udara untuk diubah
menjadi batang, daun, dan buah. Dengan berkurangnya CO2, udara panas
dari permukaan bumi dapat langsung dilepaskan ke angkasa tanpa
hambatan. Semakin besar dan semakin banyak pohon dipelihara, semakin
baik pengurangan pemanasan kota dan global. Namun, dalam skala kecil
pun, tanaman dalam pot yang ditempatkan di dalam dan sekitar rumah dan
gedung perkantoran dapat menciptakan efek pendinginan selain menambah
unsur keindahan.

Penghematan listrik bukan hanya
faktor ekonomi, melainkan juga faktor penting dalam penyelamatan
lingkungan bumi. Saat ini pembangkit listrik banyak yang bergantung
pada bahan bakar minyak dan batu bara. Pembakaran bahan bakar minyak
dan batu bara berpotensi memperbanyak emisi CO2 yang menambah pemanasan
bumi. Pada lingkup individu, kita bisa berbuat dengan menggunakan
listrik secara bijak. Lampu dan AC hanya digunakan bila diperlukan.
Gunakan sebanyak mungkin cahaya alami dan upayakan sistem pendinginan
sirkulasi udara alami.

Di perkantoran selain mengupayakan
penanaman pohon, pemilahan sampah, dan penghematan listrik, upaya
penyelamatan bumi bisa dengan penghematan penggunaan kertas. Secara
umum, semakin banyak kertas digunakan akan semakin banyak pohon
ditebang sebagai bahan baku kertas. Jadi jika tidak diperlukan, jangan
membuat cetakan dokumen. Gunakan transfer informasi tertulis secara
digital.

Contoh-contoh itu hanyalah sebagian
kecil langkah yang bisa kita lakukan dalam menyelamatkan planet bumi.
Bencana atau ketidaknyamanan yang kita alami dan saksikan akibat
kerusakan lingkungan bumi tentunya tidak kita inginkan makin parah.
Kasih sayang kita pada anak-anak harus kita wujudkan dengan mewariskan
lingkungan bumi yang lebih baik. Kota yang semakin hijau dan sejuk.
Sungai yang semakin bersih dan tertata. Udara yang semakin segar dan
langit semakin biru.***

Penulis, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, Lapan Bandung.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2008 in Sains Atmosfer dan Lingkungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: