RSS

Thawaf Alam dan Manusia

08 Jul

Bukti Ketaatan Makhluk pada Khaliqnya:

ALAM
PUN BERTHAWAF

 (Dimuat di "Pikiran Rakyat", 23 Maret 1998)

 

T.
Djamaluddin

Peneliti
Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa,

LAPAN
Bandung

 

            Thawaf
dalam makna asalnya berarti mengelilingi sesuatu. Dalam pengertian syariat,
thawaf adalah salah satu bentuk ibadah dengan cara mengelilingi ka’bah tujuh
kali. Dalam rangkaian ibadah haji, kedudukan thawaf sangat penting sekali. Dan
selama berhaji sangat dianjurkan untuk memperbanyak thawaf sunnah (tathawu)
karena keutamaannya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap hari Allah
menurunkan 120 rahmat kepada orang yang berhaji ke rumah Allah yang suci: 60
untuk yang berthawaf, 40 untuk yang shalat, dan 20 untuk yang menyaksikannya
(hadits hasan riwayat Baihaqi).

            Apakah
makna dibalik thawaf? Di dalam Alquran dan hadits tidak dijelaskan makna
berkeliling di sekitar ka’bah itu. Tetapi ayat-ayat Allah di alam semesta ini
bisa membantu menjelaskan maknanya. Kalau kita perhatikan alam semesta secara
mendalam, thawaf juga dilakukan oleh semua makhluk-Nya. Hal inilah yang akan
diulas dalam tulisan ini bagaimana alam pun berthawaf sebagai bentuk ketaatan
kepada-Nya.

 

Ketaatan Makhluk

            Pada
awal penciptaan alam semesta, Allah mengambil "janji" langit dan bumi
dalam bahasa-Nya yang diabadikan di dalam Alquran surat Fush-shilat:9-12.

            Katakanlah,
"Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi
dalam dua masa dan kamu adakan sekutu‑sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb
semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung‑gunung yang kokoh,
memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan‑makanan (penghuni-)nya
dalam empat masa. (Itulah jawaban) bagi orang‑orang yang bertanya. Kemudian Dia
menyempurnakan langit, (ketika) itu masih berupa kabut. Dia berkata kepada
langit dan bumi, "Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa".
Keduanya menjawab, "Kami datang dengan taat". Maka Dia menjadikannya
tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap‑tiap langit urusannya.
Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang‑bintang yang cemerlang dan Kami
memeliharanya dengan sebaik‑baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui.

            Untuk
memahami "janji" langit dan bumi tersebut, perlu juga difahami proses
evolusi alam semesta secara keseluruhan. Secara ringkas, kronologi evolusi alam
semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S.
79:27-32) terdiri enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya
manusia. Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S.
21:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12-20 milyar tahun lalu. Langit
(ruang alam semesta) kemudian mengembang (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula
terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi
pertama.

            Masa
yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang dengan bahan dasar dukhan
(debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11). Masa ke tiga dan ke empat dalam
penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi.
Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai
dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam
semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang
menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Masa pemadatan kulit bumi agar
layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat.

            Hadirnya
air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima
proses penciptaan alam. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh
proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau
asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air
(20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio
Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di
bumi, sekitar 0.0002.

            Lahirnya
kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan
merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan
proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai
terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang
menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi
terus berlanjut.

            Semua
proses alami itu yang seolah-olah berjalan dengan sendirinya, sebenarnya
berjalan menurut ketentuan Allah. Tanpa tawar menawar, alam patuh mengikuti
proses itu. Itu "janji" alam ketika Allah menciptakannya.

            Benda-benda
langit ditentukan urusannya masing-masing. Bulan mengelilingi bumi. Bumi dan
planet-planet lainnya serta komet dan asteorid (planet kecil) mengelilingi
matahari. Matahari dan bintang-bintang mengelilingi pusat galaksi. Semua tunduk
pada aturan-Nya.

            Demikian
juga segala proses alami di bumi berjalan sesuai aturan-Nya. Bumi berotasi yang
menghasilkan fenomena malam dan siang. Angin bertiup dari daerah bertekanan
tinggi ke daerah bertekanan rendah. Air mengalir mencari daerah yang lebih
rendah. Semuanya taat mengikuti ketentuan Allah sesuai janji pada saat
penciptaannya.

 

Alam berthawaf

            Thawafnya
alam semesta adalah bentuk ketaatan yang paling nyata. Hal ini akan tampak
jelas mulai dari proses pembentukan bintang dan planet-planet sampai pada skala
galaksi.

            Penelitian
astronomi menunjukkan banyak bintang bermassa kecil (hampir massa matahari)
masih dalam proses pembentukan. Bagian intinya membentuk embrio bintang yang
dikelilingi piringan debu dan gas. Hasil pengamatan itu didukung model teoritik
berdasarkan perhitungan fisika.

            Menurut
telaah teoritik, pembentukan bintang bermula dari kontraksi (pemadatan) debu
dan gas (dukhan) secara lambat akibat gaya gravitasinya sendiri sambil
berotasi. Gas dan debu berthawaf mengelilingi inti pemadatan yang akhirnya
nanti akan menjadi bakal bintang.

            Akibat
rotasi itu, debu dan gas itu tidak semuanya memadat ke intinya, tetapi sebagian
membentuk piringan di sekitar intinya yang juga terus berotasi. Embrio bintang
dan piringan masih diselubungi oleh debu yang amat tebal sehingga tidak
terlihat dari luar. Hanya pancaran sinar inframerah yang dapat diamati.

            Dalam
proses selanjutnya, embrio bintang berkembang menjadi bintang muda yang didalam
intinya mulai terjadi reaksi nuklir. Bintang muda itu kemudian memancarkan
partikel-partikel halusnya yang disebut angin bintang. Ini dimulai dari arah
kutubnya selanjutnya ke arah ekuatornya. Dengan itu pula proses pemadatan
berhenti dan selubung debunya mulai tersibak. Yang tersisa adalah piringan gas
dan debu di sekitar bintang muda tersebut.

            Sisa
piringan gas dan debu itu disebut nebula proto-planet, karena di
piringan itulah kemudian terbentuk planet-planet. Bintang (termasuk matahari)
dan piringan debunya selanjutnya memasuki masa pembentukan planet-planetnya.

            Salah
satu teori menyebutkan bahwa nebula proto-planet mula-mula berdiameter sekitar
20 SA (SA = Satuan Astronomi, jarak bumi-matahari) ketika pemadatan berhenti,
belum seluas tata surya kita sekarang (berdiameter lebih dari 50.000 SA).
Kemudian nebula proto-planet melebar yang disertai dengan proses pendinginan.

            Proses
pendinginan nebula proto-planet menyebabkan terjadinya penggumpalan gas dan debu.
Senyawa yang mula-mula berkondensasi adalah besi dan silikat. Di bagian luar
tata nebula proto-planet yang temperaturnya lebih rendah, es air juga ikut
berkondensasi. Teori yang kini dianggap kuat menyatakan bahwa planet-planet
berasal dari penggumpalan itu yang disebut planetesimal.

            Bumi
dan planet-planet dekat matahari lainnya (Merkurius, Venus, dan Mars) hanya
terbentuk dari materi padat yang terkondensasi, terutama dari senyawa besi dan
silikat. Sedangkan Jupiter dan planet-planet raksasa lainnya terbentuk dari
planetesimal besar, antara lain akibat turut terkondensasinya es air, sehingga
mampu menangkap gas, terutama Hidrogen dan Helium. Planetesimal kecil yang
tidak membentuk planet atau pecah akibat tumbukan sesamanya tersisa sebagai
komet, asteroid, dan meteoroid.

            Thawafnya
dukhan pada penciptaan matahari dan anggotanya masih tampak pada rotasi
matahari yang berperiode 27 hari dan peredaran planet-planet mengitari
matahari.

            Matahari
dan dan bintang-bintang pun tidak diam di tempat. Semua anggota galaksi bima
sakti, yang jumlahnya ratusan milyar bintang juga berthawaf mengitari pusat
galaksi. Matahari dan anggota tata suryanya berthawaf mengitari pusat galaksi
sekali dalam 200 juta tahun dengan kecepatan sekitar 200‑300 km per detik.

            Bagaimana
cara thawaf makhluk-makhluk lainnya di atas bumi? Tumbuhan dan binatang juga
berthawaf mengitari poros bumi sekali dalam 24 jam. Hanya karena gerakannya
dalam skala besar, kita tidak menyadarinya. Malah kita merasakannya seolah-olah
benda-benda langit yang mengelilingi kita, yang tampak dalam proses terbit dan
terbenamnya matahari, bulan, dan bintang-bintang.

 

Thawafnya Manusia

            Secara
jasmani, manusia merupakan bagian dari alam yang pada awal penciptaannya, telah
berjanji akan taat kepada-Nya. Maka manusia pun turut dalam proses alam.
Termasuk berthawaf bersama tumbuhan dan binatang mengitari poros bumi, walau
kadang-kadang tidak menyadarinya.

            Secara
ruhani, pada awal penciptaan di alam rahim, diri manusia pun telah berjanji
untuk taat mengakui Allah sebagai Rabb, Tuhan pencipta dan pemeliharanya.

            Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak‑anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman),
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang‑orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)"
(Q.S.
7:172).

            Pada
hari perhitungan kelak, yang mesti dipertanggungjawabkan manusia bukanlah
dimensi jasmaninya, tetapi dimensi ruhaninya. Karena jasmani manusia sebenarnya
telah taat kepada ketentuan Allah. Ketika terpeleset, jasmani manusia akan
jatuh tertarik gravitasi bumi. Ketika terkena wabah penyakit, jasmani manusia
bisa rusak. Ketika mati, jasmani manusia pun akan hancur dalam proses
pembusukan. Itulah contoh ketaatan jasmani manusia.

            Secara
ruhani manusia berpotensi untuk ingkar janji, karena adanya nafsu. Ketaatan
berdasarkan pengakuan Allah sebagai penciptanya yang pernah dijanjikannya
sering terlupakan.

            Haji
sebagai puncak ibadah mengingatkan akan janji awal manusia untuk taat, sebagai
mana alam semesta memenuhi janjinya untuk taat kepada-Nya. Dalam ibadah haji,
thawaf bisa mengingatkan jiwa manusia untuk taat kepada Allah sebagaimana alam
pun taat pada penciptanya.

            Tujuh
kali mengelilingi ka’bah bisa bermakna proses yang terus menerus tiada henti
sebagaimana thawafnya alam semesta. Di 
dalam Alqur’an ungkapan ‘tujuh’ 
atau  ‘tujuh  puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak
terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al‑Baqarah:261 Allah menjanjikan pahala yang
berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Perumpamaan
yang diberikan Allah seperti menanam sebutir benih menghasilkan tujuh tangkai
berisi masing-masing seratus butir.

        Demikian
juga perumpamaan tak terbatasnya Kalimat Allah yang tak mungkin dapat
dituliskan walaupun semua pohon jadi pena dan lautan jadi tintanya dan di
tambah tujuh lautan lagi (Q.S. Luqman:27). Ungkapan tujuh langit pun bisa
bermakna seluruh benda langit yang tak terhitung jumlahnya.

        Bagi
diri manusia, pelaksanaan thawaf tujuh kali merupakan simbol ketaatan dirinya
seperti taatnya benda-benda langit berthawaf tiada henti. Tetapi, bila dilihat
sebagai kelompok, manusia yang berthawaf silih berganti tiada henti akan tampak
seperti miniatur anggota tata surya yang sedang mengitari matahari. Atau
seperti bintang-bintang yang sedang mengitari pusat galaksi.




 
6 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 8, 2008 in Sains & Quran

 

6 responses to “Thawaf Alam dan Manusia

  1. bawana ok

    September 30, 2011 at 4:43 am

    Maaf Pak T. djamaludin…aq ingin shering sama Bapak…
    Sekarang apa masih dijepang???

     
    • tdjamaluddin

      Oktober 19, 2011 at 4:42 pm

      Saat ini sudah di Indonesia, di LAPAN.

       
  2. herry

    Maret 27, 2012 at 3:17 pm

    Tulisan yang Luar Biasa… Bpk. T.Jamaludin, terima kasih atas pencerahannya…

     
  3. adhi

    Februari 7, 2014 at 4:42 pm

    Aww. Pak Thomas, apakah ada tulisan Bapak yang menjawab tentang penafsiran beberapa ulama terhadap ayat di AlQuran bahwa sebenarnya mataharilah yang mengelilingi bumi ?

     
    • tdjamaluddin

      Februari 8, 2014 at 9:32 pm

      Saya tidak membuat tulisan, tetapi sekadar tanggapan atas pertanyaan. Pendapat bahwa matahari mengelilingi bumi, secara ilmiah tidak tepat alias bathil, karena tidak ada data pendukungnya. Data ilmiah yang kemudian diformulasikan dalam hukum gravitasi (sebagai sunnatullah yang dapat diformulasikan manusia) menyatakan titik pusat suatu sistem (misalnya tata surya) tidak akan mungkin berada di benda yang kecil (bumi) dan benda yang 1,3 juta kali besarnya mengitari benda kecil tersebut. Hukum gravitasi menyatakan pasti pusatnya ada di benda yang paling besar massanya. Kebenaran hukum gravitasi telah kita gunakan untuk meluncurkan satelit-satelit dan wahana antariksa lainnya. Kalau hukum gravitasi itu salah, tidak mungkin ada satelit dan wahana antariksa yang diluncurkan tepat mencapai orbitnya.
      Percakapan Obrolan Berakhir

       
      • adhi

        Februari 12, 2014 at 9:21 am

        Terima kasih Pak Thomas atas tanggapannya. Tapi bolehkan bahwa saya masih tetap mengharap Bapak untuk membuat artikel tentang tema tersebut ?

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: