RSS

Persatuan Selangkah Lagi

01 Sep

Titik Terang
Penyatuan Kalender Islam di Indonesia

 

T. Djamaluddin

Peneliti Utama Astronomi Astrofisika LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Depag RI

Wakil Ketua Komite Penyatuan Penanggalan Islam, Masjid Salman ITB

 

            Dalam
sidang itsbat (penetapan) awal Ramadhan 1429 di Depag, saya kembali
mengingatkan perlunya menyatukan kriteria hisab rukyat. Alhamdulillah awal
Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha tahun 1429/2008ini dan tahun depan 1430/2009 insya Allah akan seragam karena
posisi bulan dan matahari memungkinkan semua kriteria yang berlaku di Indonesia
saat ini berkesimpulan seragam. Namun, kalau kriterianya tidak diubah, pada tahun 1431/2010 Idul Adha berpotensi
berbeda, 1432/2011 Idul Fitri kembali berpotensi berbeda, dan  1433/2012 Ramadhan berpotensi berbeda. Pada saat itu
posisi bulan positif di atas ufuk, tetapi kurang dari 2 derajat. Kriteria yang
ada sekarang, Muhammadiyah akan memutuskan sudah masuk tanggal baru bila posisi
bulan sudah positif di atas ufuk, walau di sebagian Indonesia. NU dalam
pembuatan kalendernya mendasarkan pada ketinggian minimal 2 derajat. Persis
(Persatuan Islam) mendasarkan pada posisi bulan di atas ufuk di seluruh
Indonesia. Kalau kriteria itu tidak diubah, potensi perbedaan akan selalu
muncul lagi. Karenanya percepatan penyatuan kriteria perlu segera dilakukan.

            Gagasan
penyatuan kriteria telah lama disosialisasikan dalam berbagai seminar dan
pertemuan Badan Hisab Rukyat. Dengan penyatuan kriteria itu, perbedaan metode
hisab dan rukyat tidak perlu dipertentangkan, karena kriteria itu dibuat
berdasarkan rukyat (pengamatan) jangka panjang dan dihitung dengan metode hisab
(perhitungan astronomi) yang akurat. Jadi kriteria akan berlaku bagi kedua
metode itu. Gagasan itu kemudian disepakati menjadi rekomendasi Fatwa MUI No.
2/2004 tentang penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Kemudian makin
menguat dengan prakarsa Wapres Jusuf Kalla untuk mempertemulan Ketua PBNU dan
PP Muhammadiyah yang menghasilkan kesepakatan untuk menyamakan persepsi. Dalam
bahasa teknis, “menyamakan persepsi” berarti “menyamakan kriteria”. Kesepakatan
itu telah ditindaklanjuti dengan pertemuan teknis di kantor PBNU Jakarta dan PP
Muhammadiyah Yogyakarta yang menghasilkan kerangka dasar untuk menyempurnakan
kriteria masing-masing. Sayang pertemuan lanjutan di UIN Jakarta belum
terlaksana untuk merumuskan rancangan kriteria yang akan disepakati.

            Alhamdulillah,
Menteri Agama menanggapinya dengan serius usulan percepatan penyatuan kriteria
tersebut dengan menyatakan bahwa telah direncanakan dibentuk “Lujnah Daimah”,
panitia tetap untuk mempercepat penyatuan kriteria ini. “Lujnah Daimah” akan
terdiri dari utusan ormas-ormas Islam, Badan Hisab Rukyat, dan instansi terkait
lainnya. Berkaitan dengan upaya percepatan itu, sebelumnya di Masjid Salman
ITB, pada Jumat 29 Agustus 2008 telah juga diresmikan berdirinya Komite
Penyatuan Penanggalan Islam (KPPI) oleh staf Ahli Menteri Agama (mewakili
Menteri Agama yang berhalangan hadir). KPPI bukanlah Lujnah Daimah yang akan
dibentuk Menteri Agama, tetapi mempunyai tujuan yang sama sehingga dapat
disenergikan. Kunci utama adalah keterbukaan ormas-ormas Islam untuk bersatu.
Lujnah Daimah atau KPPI akan bertindak membantu merumuskan hal-hal teknis
tentang kriteria hisab rukyat yang dapat diterima oleh semua pihak dengan
berdasarkan pada kajian fikih dan astronomi.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 1, 2008 in Hisab-Rukyat

 

One response to “Persatuan Selangkah Lagi

  1. Dade

    September 3, 2008 at 10:19 am

    Assalammu\’alaikum wr.wbSaya ada artikel tentang penentuan awal ramadhan cara lain.Semoga dapat membantu memecahkan masalah selama ini.Nisfu Sya\’ban: Cara lain menentukan Awal Ramadhan

    Dalam tradisi ada yang disebut Nisfu Sya\’ban, "separuh Sya\’ban" atau
    juga pertengahannya yaitu hari kelima belas Sya\’ban bulan kedelapan,
    yang sesudah 15 hari kemudiannya pasti berlaku tanggal satu Ramadhan.
    Dalam susunan kalender yang berdasarkan orbit Bulan senantiasa Sya\’ban
    memiliki 30 hari. Hal ini telah kita catatkan seperlunya. tampak
    penanggalan Ramadhan saja yang mempunyai jumlah hari berbeda, 29 pada
    tahun biasa dan 30 pada tahun kabisat.

    Dengan pengetahuan tradisional demikian, mungkin juga sudah berlaku
    semenjak zaman Nabi Ibrahim atau juga pernah dilakukan oleh Nabi
    Muhammad, maka setengah orang ada yang sengaja keluar rumah sewaktu
    maghrib pada tanggal 15 Sya\’ban untuk memperhatikan status Bulan yang
    tampak terbit di ufuk timur. Sekiranya Bulan terbit sebelum Surya
    terbenam di ufuk barat maka malam itu dan siang besoknya adalah
    tanggal 14 bulan itu. Tetapi ingatlah bahwa kejadian ini hanya wajar
    dan pernah jadi tradisi bagi penduduk daerah Torrid Zone atau di
    daerah panas sekitar Ekuator. Tetapi ketika terbukti bahwa Bulan
    tampak terbit di ufuk timur sesudah Surya selesai terbenam di barat,
    maka malam itu dan siang besoknya adalah tanggal 15 Sya\’ban dan 16
    malam kemudian tentulah malam tanggal 1 Ramadhan. Itulah Rukyah wajar
    dan logis jika orang tidak memiliki kalender Qamariah jangka panjang.

    Selengkapnya klik di bawah:
    http://myquran.org/forum/index.php/topic,7643.0.html
    Bisa SMS ke no. hp: .21-68379357wassalam Dade Arinto

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: