RSS

Hujan Badai Meteor

10 Okt
Fenomena
Cuaca Antariksa
MENGKAJI
SIFAT BADAI METEOR LEONID

(Dimuat PR 19 Nov 1999)

T.
Djamaluddin
(Peneliti Bidang Matahari dan
Lingkungan Antariksa, LAPAN, Bandung)

             Badai
meteor Leonid 18 November bukan hanya dipandang sebagai pertunjukan spektakuler
penampakan ratusan atau ribuan meteor, tetapi yang utama harus dipandang
sebagai fenomena cuaca antariksa yang harus diwaspadai sampai tahun 2002.

            Mirip
dengan cuaca di bumi, di antariksa pun kita mengenal cuaca antariksa. Bila di
bumi kita mengenal musim panas dan musim dingin, di antariksa kita kenal masa
matahari aktif dan masa matahari tenang yang siklusnya sebelas tahun. Bila di
bumi kita mengenal ledakan petir, di antariksa kita mengenal ledakan flare
matahari.

            Di bumi
kita mengenal musim hujan, di antariksa ada musim hujan meteor. Ada sekitar dua
puluh musim hujan meteor, ada yang besar ada yang kecil. Di bumi sewaktu-waktu
terjadi hujan badai atau topan. Di antariksa pun sewaktu waktu bisa terjadi
hujan badai meteor. Badai Leonids adalah badai meteor yang paling hebat.

            Informasi
cuaca antariksa terutama sangat berguna bagi penghuni antariksa, terutama
satelit-satelit dan pesawat antariksa ulang-alik. Saat ini ada sekitar 500
satelit yang masih aktif mengorbit bumi. Jenisnya beragam, antara lain satelit
komunikasi, satelit penginderaan jauh, satelit observatorium angkasa, satelit
militer, dan satelit sistem penentuan posisi (GPS).

            Informasi
cuaca antariksa itu dapat diperoleh di lembaga-lembaga keantariksaan. Di
Indonesia, informasi itu bisa diperoleh antara lain dari Lembaga Penerbangan
dan Antariksa Nasional (LAPAN) atau Observatorium Bosscha dan Jurusan Astronomi
ITB. Indonesia yang kini banyak memanfaatkan jasa satelit komunikasi sudah
semestinya peduli dengan masalah cuaca antariksa ini.

 

Hujan Meteor

            Sama
halnya di bumi, matahari adalah penggerak utama cuaca antariksa. Di bumi energi
matahari menggerakkan air dalam bentuk uap naik ke atas membentuk awan yang aknhirnya
menjatuhkan hujan. Di antariksa pun peran matahari sangat besar dalam membentuk
gugusan meteoroid (sumber meteor) atau boleh juga disebut "awan"
meteor.

            Ketika
komet mendekat matahari, energi matahari menguapkan dan menghamburkan es dan
debu di inti komet membentuk ekor. Debu-debu ekor komet yang tertinggal di
sepanjang lintasan orbitnya merupakan gugusan meteoroid yang bisa menyebabkan
hujan meteor di bumi bila bumi melintasinya.

            Lagi-lagi
mirip dengan cuaca bumi. Awan di bumi ada yang menghasilkan hujan lebat, tetapi
ada juga yang hanya menurunkan gerimis. Gugusan meteoroid itu pun sifatnya
berbeda-beda tergantung umurnya dan peluruhan meteoroidnya.

            Ada
gugusan meteoroid yang masih padat tetapi terkonsentrasi di sekitar inti komet
sehingga hanya akan menyebabkan hujan meteor periodik, sesuai dengan waktu
kehadiran komet mendekat bumi. Golongan ini diwakili oleh hujan meteor
Draconids (pada awal Oktober) tahun 1933, 1946, dan 1985 yang disebabkan oleh
komet Giacobini-Zinner.

            Golongan
ke dua adalah gugusan meteoroid tipis di sepanjang lintasannya, tetapi di dekat
kometnya kerapatannya tinggi. Misalnya, gugusan meteoroid Leonid (penyebab
hujan meteor 14-19 November) yang disebabkan oleh komet Tempel-Tuttle.

            Golongan
ke tiga adalah gugusan meteoroid yang tersebar merata di sepanjang lintasannya
yang menyebabkan hujan meteor yang hampir seragam intensitasnya setiap tahun.
Misalnya, hujan meteor Geminids (11-16 Desember) yang disebabkan oleh komet
yang telah mati, asteroid Phaethon. Makin tua umurnya, gugusan meteoroid itu
makin tipis dan akhirnya tidak menunjukkan lagi gejala hujan meteor.

            Beberapa
hujan meteor telah diidentifikasikan berkaitan dengan komet yang masih aktif.
Hujan meteor Eta Aquarids (3-10  Mei) dan
Perseids (7-15 Agustus) masing-masing disebabkan oleh komet Halley dan
Swift-Tuttle. Beberapa lainnya dikaitkan dengan komet yang telah hancur,
seperti hujan meteor Andromedids (5-23 November) dari debu komet Biela yang
hancur sekitar 1860-an. Ada juga yang berasal dari komet yang telah mati,
seperti hujan meteor Geminids yang diakibatkan oleh komet mati yang tinggal
intinya berupa asteroid Phaethon. Dan beberapa hujan meteor lainnya yang belum
diketahui komet-komet penyebabnya seperti hujan meteor Quadrantids 2 – 5
Januari.

 

Waspadai Leonid

            Hujan
meteor Leonid (tampak berasal dari rasi Leo) berasal dari debu-debu komet
Tempel-Tuttle yang berperiode 33 tahun. Komet Tempel-Tuttlenya telah dikenal
sejak 1366 dan terakhir teramati mendekati bumi tahun 1965 dan awal 1998.
Sedangkan hujan meteornya telah dikenal jauh sebelumnya, sejak tahun 585.

            Hujan
meteor Leonid biasa (beberapa meteor per jam) sebenarnya tampak setiap tahun
sekitar 14-19 November dengan puncaknya pada 17-18 November. Tetapi,
sewaktu-waktu menjadi badai meteor bila komet induknya mendekati bumi. Badai
meteor Leonid terakhir teramati 1965, 1966, dan 1998 lalu. Badai meteor Leonid
1966 merupakan badai meteor terbesar dengan jumlah sekitar 150.000 meteor per
jam.

            Berdasarkan
sifat pertemuan lintasan komet dan orbit bumi, sifat hujan meteor Leonid
1998-2000 tidak sama dengan tahun 1966. Badai meteor 1998 lalu hanya
menampakkan sekitar 300 meteor per jam. Untuk tahun ini, dilaporkan puncak
badai meteor terjadi sekitar pukul 09.15 WIB dengan jumlah 5000 meteor per jam.
Ini berarti badai meteor tahun ini memang lebih hebat daripada tahun lalu.

            Berbeda
dengan hujan meteor umumnya, Leonid merupakan hujan meteor yang paling deras.
Rata-rata kecepatan partikel hujan meteor umumnya hanya sekitar 10.000 km/jam,
sedangkan kecepatan partikel Leonid sekitar 250.000 km/jam. Kecepatan tinggi
itu disebabkan arah orbit partikel Leonid hampir berlawanan dengan arah orbit
bumi dengan sudut inklinasi sekitar 17 derajat dan perihelionnya (titik
terdekat ke matahari dengan kecepatan orbit maksimum) relatif dekat dengan
orbit bumi.

            Walaupun
ukuran debunya kebanyakan hanya sebesar pasir halus, dengan semburan partikel
kecepatan tinggi itu dan dalam jumlah besar, badan satelit yang mengorbit bumi
serta panel surya, detektor, dan perangkat elektronik lainnya dapat mengalami
gangguan.

            Makin
tinggi orbit satelit akan mengalami semburan debu yang makin hebat karena
berarti semakin dekat dengan bagian Leonid berkerapatan tinggi. Ini berarti
satelit yang orbitnya sangat lonjong dengan apogee sangat jauh (sekitar 100.000
km) atau orbit geostasioner (ketinggian 36.000 km) akan lebih terancam daripada
satelit berorbit rendah.

            Walaupun
kemungkinannya hanya sebagian kecil satelit yang terganggu, tetapi gangguan
terhadap satelit akibat meteor pernah terjadi. Ketika terjadi peningkatan hujan
meteor Perseid pada Agustus 1993, satelit komunikasi Olympus mengalami
kerusakan. Gangguan yang mungkin paling sering terjadi adalah timbulnya muatan
listrik (plasma) akibat tumbukan dengan meteor halus yang mengganggu sistem
elektronik satelit.

            Karena
bumi berputar, potensi gangguan debu meteor Leonid berlaku untuk semua satelit
selama masa bumi masuk dalam area gugusan meteoroidnya, 14-19 November. Memang
masa paling kritis terjadi saat puncak badai meteor. Dengan jumlah debu yang
maksimal kemungkinan tumbukan pun menjadi lebih besar.

            Dari
segi risiko harian, saat paling kritis adalah saat dini hari. Karena pada saat
itu gabungan kecepatan partikel meteor, orbit bumi, dan rotasi bumi adalah yang
maksimal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 10, 2008 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: