RSS

Penyatuan Idul Adha: Mungkin, perlu basis ukhuwah

02 Des
Pengantar:
Tahun 1429/2008 insya-allah Idul Adha akan seragam. Arab Saudi telah mengumumkan wukuf 7 Desember 2008 sehingga Idul Adha di Arab Saudi 8 Desember. Di Indonesia juga kemungkinan besar Idul Adha 8 Desember 2008. Saat yang baik ini kita gunakan untuk meerenungkan upaya penyeragaman hari raya, termasuk Idul Adha. Berbeda dengan masalah Idul Fitri, upaya penyatuan Idul Adha tidak semata-mata masalah kriteria hisab rukyat, tetapi juga terkait dengan masalah kesamaan dengan Arab Saudi. Terlepas dari kontroversi penentuan hari wukuf di Arab Saudi yang sering bermasalah, perlu kita pikirkan upaya menjaga ukhuwah terkait dengan penyeragaman Idul Adha. Tulisan lama ini (ditulis dan dipublikasi di koran 2005) dimaut di blog saya untuk jadi bahan pemikiran bersama.

Penetapan Wukuf
Kontroversial

MENYIKAPI PERBEDAAN
IDUL ADHA

(Dimuat di Pikiran Rakyat 19 Jan 2005)

T. Djamaluddin

Peneliti Matahari dan
Antariksa LAPAN Bandung

Anggota Badan Hisab
Rukyat Jabar dan Depag

 

            Semula
keputusan Majelis Tinggi Arab Saudi, Majlis Al-Qadla’ Al-‘Ala, yang
menetapkan 1 Dzulhijjah 1425 pada 12 Januari 2005, hari wukuf 9 Dzulhijjah 1425
pada 20 Januari, dan Idul Adha 21 Januari disambut gembira oleh banyak pihak.
Kekhawatiran terjadinya kontroversi, seperti sering terjadi lenyaplah sudah.
Majelis mengumumkan tidak ada kesaksian hilal pada akhir Dzulqaidah. Di
Indonesia, keputusan itu pun disambut dengan lega. Rapat Badan Hisab Rukyat
Departeman Agama pada 22 Desember 2004 lalu sempat mengkhawatirkan terjadinya
kontroversi keputusan Arab Saudi yang menyebabkan perbedaan dengan keputusan
pemerintah RI.

            Ternyata
kelegaan tidak lama, Sabtu 15 Januari tersiar kabar melalui mailing list
pengamat hilal (bulan sabit pertama) dan media massa bahwa Arab Saudi mengubah
keputusannya. Berdasarkan laporan terlihatnya hilal pada 10 Januari 2005, maka
diputuskan awal Dzulhijjah jatuh pada 11 Januari 2005. Akibatnya hari wukuf
berubah menjadi 19 Januari dan Idul Adha di Arab Saudi pada 20 Januari 2005.
Tentu saja perubahan ini menyebabkan perbedaan dengan Idul Adha di Indonesia
dan menimbulkan kebingungan bagi orang awam.

            Kalangan
astronomi jelas menolak kesaksian tersebut karena pada saat maghrib 10 Januari
2005 di wilayah Arab bulan telah berada di bawah ufuk. Di Mekkah bulan terbenam
pukul 18.53 kemudian disusul matahari pukul 18:56. Bagaimana mungkin terlihat
hilal padahal bulan telah terbenam. Arab Union for Astronomy and Space
Sciences
(AUASS) mengeluarkan pernyataan bahwa kesaksian tersebut keliru.

 

Garis Tanggal

            Untuk
melihat kemungkinan rukyatul hilal di seluruh dunia, biasa digunakan hisab
(perhitungan) secara global dan digambarkan sebagai garis tanggal. Pada peta
garis tanggal diketahui di daerah mana bulan dan matahari terbenam bersamaan.
Inilah garis tanggal wujudul hilal (wujudnya hilal di kaki langit). Dengan
garis tersebut diketahui bahwa di wilayah sebelah timur garis tanggal pada saat
maghrib hilal berada di bawah ufuk, sedangkan di wilayah baratnya hilal telag
di atas ufuk.

 Garis tanggal wujudul hilal untuk awal
Dzulhijjah melintasi Amerika Utara, Afrika, Yaman, dan lautan Hindia sebelah
selatan Indonesia. Terlihat bahwa Arab Saudi dan Indonesia berada pada satu
wilayah garis tanggal. Pada tanggal 10 Januari 2005, baik di Arab Saudi maupun
Indonesia bulan telah berada di bawah ufuk saat maghrib. Jadi tidak mungkin ada
kesaksian melihat hilal pada hari itu. Dengan demikian tidak mungkin juga 1
Dzulhijjah 1425 jatuh pada 11 Januari 2005 dan tidak mungkin Idul Adha 20
Januari 2005. Dari gambar garis tanggal beserta beberapa kriteria selain
wujudul hilal, dapat disimpulkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada 12 Januari 2005
dan Idul Adha 21 Januari.

Kriteria
kemungkinan teramatinya hilal di Indonesia yang disepakati MABIMS
(menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura)
adalah tinggi minimal 2 derajat dan umur hilal minimal 8 jam. Garis tanggal
ketinggian bulan 2 derajat juga digambarkan pada peta garis tanggal yang
melintasi Amerika Utara, Afrika, dan Australia. Karena bulan baru atau ijtimak
terjadi pada pukul 19:04 WIB 10 Januari, maka saat maghrib 11 Januari umur
hilal telah lebih dari 8 jam. Karenanya baru pada 11 Januari hilal kemungkinan
dapat terlihat. Maka 1 Dzuhijjah 1425 dapat disimpulkan jatuh pada 12 Januari
2005. Demikian juga dengan kriteria-kriteria lainnya.

Kesaksian hilal
pada 10 Januari 2005 secara astronomi harus ditolak, karena tidak mungkin
terjadi bulan yang telah terbenam dapat dilihat berada di atas ufuk. Dapat
dipastikan ada kekeliruan pengamatan. Dari kalangan pengamat hilal seluruh
dunia yang bergabung dalam ICOP (International Crescent Observation Project),
tidak ada laporan terlihatnya hilal di seluruh dunia pada hari itu. Baru pada
11 Januari dilaporkan pengamatan hilal dari berbagai tempat di dunia. Seperti
ditunjukkan pada peta garis tanggal, pada 11 Januari hampir seluruh dunia
berkesempatan melihat hilal yang cukup tinggi. Salah satu pengamat di Iran
berhasil memotretnya dalam kondisi kaki langit yang berawan.

Dari analisis
garis tanggal dan laporan rukyatul hilal seluruh dunia, semestinya 1 Dzulhijjah
jatuh pada 12 Januari 2005, hari wukuf 9 Dzulhijjah pada 20 Januari, dan Idul Adha
pada 21 Januari 2005. Pemerintah Indonesia telah memutuskan dalam ketetapan
Menteri Agama RI bahwa Idul Adha jatuh pada 21 Januari.

 

Menyikapi Perbedaan

            Dalam
masalah ibadah, pertimbangan syariat lebih diutamakan daripada pertimbangan
lainnya. Walaupun secara astronomi keputusan Arab Saudi dinilai kontroversial
dan keliru, namun secara syariat tetap dianggap sah. Laporan saksi yang
dianggap adil telah cukup dijadikan dasar tanpa perlu konfirmasi apa pun.
Itulah keyakinan Majelis Tinggi Arab Saudi. Karenanya di Arab Saudi dan
negara-negara sekitarnya yang mengikutinya sah bagi mereka untuk beridul adha
20 Januari 2005. 

            Masalahnya
kemudian timbul kebingungan pada sebagian masyarakat di Indonesia yang akan
beridul adha 21 Januari 2004. Sahkah shaum Arafah pada 20 Januari 2005 saat
saudara-saudara kita di Arab Saudi beridul adha? Kita ketahui, shaum pada hari
raya haram hukumnya. Masalah ini sederhana saja. Dalam ibadah kita tidak boleh
ada keraguan, pilih mana yang kita yakini.

            Bila
kita yakin mengikuti Arab Saudi, shaum pada 20 Januari jelas haramnya karena
kita yakin hari itu Idul Adha. Tetapi lain masalahnya kalau kita mengikuti
ketetapan pemerintah Indonesia yang menganggap 20 Januari masih 9 Dzuhijjah,
maka sunnah untuk shaum Arafah pada hari itu. Tidak haram shaum karena yakin
hari itu bukan Idul Adha. Tidak boleh ada keraguan dengan mengikuti Idul Adha
seperti ketetapan di Indonesia, tetapi juga meyakini Idul Adha seperti di Arab
Saudi. Tidak ada dua kali Idul Adha yang diyakini, salah satunya harus
ditinggalkan.

Keyakinan untuk merayakan Idul
Adha berdasarkan penetapan 1 Dzulhijjah di masing-masing tempat telah
dilaksanakan di banyak negara. Dewan Fiqih Islamic Society of North America
(ISNA) akhirnya juga beralih mengikuti rukyatul hilal setempat, walau
sebelumnya selalu mengikuti Arab Saudi dalam penetapan Idul Adha. Keputusan itu
diambilnya, antara lain setelah berkonsultasi dengan ulama Arab Saudi yang
menyatakan tidak ada beda penetapan Idul Fitri dan Idul Adha. Kita harus
konsisten, bila Idul Fitri ditetapkan berdasarkan rukyat setempat, demikian
pula dengan Idul Adha.

Sebagian kalangan masih banyak
yang berpendapat bahwa Idul Adha semestinya mengacu pada hari wuquf di Arafah.
Namun tidak ada dalil yang kuat yang menyatakan Idul Adha mesti sehari sesudah
wukuf., semuanya bersifat ijtihadiyah yang bisa diperdebatkan. Tidak salah juga
Idul Adha dilaksanakan 10 Dzulhijjah, karena wukuf 9 Dzulhijjah. Dan 10
Dzulhijjah dapat berbeda di setiap tempat tergantung saat terlihatnya hilal.
Ada juga yang berpendapat Idul Adha (hari raya qurban), bukanlah Idul Hajj
(hari raya haji) yang terikat dengan ritual di tanah suci dan hanya ada di
tanah suci. Sehingga tidak semestinya Idul Adha selalu mengacu pada hari wukuf.
Bagaimana pun juga tidak mungkin disamakan waktunya dengan waktu di tanah suci.

            Itulah
perbedaan pendapat yang ada di masyarakat. Silakan ikuti mana yang dianggap
paling meyakinkan dan menentramkan dalam beribadah. Kita tidak bisa memaksakan
pendapat dalam hal ini. Persaudaraan tetap harus dijaga. Shalat Idul Adha
hukumnya sunnah, namun menjaga persaudaraan wajib hukumnya.

            Untuk
menentramkan ummat ketika terjadi perbedaan dalam penentuan hari raya, Majelis
Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa nomor 2/2004 tentang Penetapan
Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Fatwa MUI menyatakan bahwa penentuan
awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat
(pengamatan hilal, bulan sabit pertama) dan hisab (perhitungan astronomi) oleh
pemerintah cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional. Ini menegaskan bahwa
kedua metode yang selama ini dipakai di Indonesia berkedudukan sejajar.
Keduanya merupakan komplemen yang tidak terpisahkan. Masing-masing punya
keunggulan, namun juga punya kelemahan kalau berdiri sendiri. Otoritas
diberikan kepada pemerintah sebagai "Ulil Amri" yang wajib ditaati
secara syariat. Fatwa MUI juga menegaskan bahwa seluruh umat Islam Indonesia
wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal,
dan Dzulhijjah.

Otoritas syar’iyah
pemerintah RI (dalam hal ini dilaksanakan oleh Menteri Agama) tentu tidak boleh
dilaksanakan secara sembarang. Karenanya fatwa itu menyatakan wajib bagi
menteri Agama berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam,
dan instansi terkait. Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat
walau pun di luar wilayah Indonesia yang mathla’-nya sama dengan Indonesia
dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. Ini menyatakan bahwa di mana pun
ada kesaksian hilal yang mungkin dirukyat dalam wilayah hukum Indonesia (wilayatul
hukmi
) maka kesaksian tersebut dapat diterima. Juga kesaksian lain di
wilayah sekitar Indonesia yang telah disepakati sebagai satu mathla’, yaitu
negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

            Terkait masih banyaknya kalangan yang mengikuti Arab
Saudi dalam penetapan Idul Adha sehingga berbeda dengan penetapan di Indonesia,
ada yang menarik dari penuturan seorang wakil di Badan Hisab Rukyat dari ormas
Islam yang biasa mengikut Arab Saudi. Seorang mufti Arab Saudi pernah
memberikan tausiyah (nasihat) bahwa menjaga ukhuwah lebih diutamakan daripada
memisahkan diri dalam pelaksanaan Idul Adha demi mengikuti Arab Saudi.
Karenanya ormas Islam tersebut kemudian mengikuti penetapan Idul Adha di
Indonesia, walau belakangan kembali lagi pada sikap semula.

            Upaya penyatuan Idul Adha memerlukan pendekatan ukhuwah,
bukan dengan memperdebatkan dalil dan logika ilmiah yang mungkin tidak
berujung. Shaum arafah dapat dilaksanakan berdasarkan pendapat masing-masing,
mengikuti hari wukuf di Arafah atau tanggal 9 Dzuhijjah di Indonesia. Shaum
bersifat pribadi, sehingga tidak tampak perbedaannya di masyarakat. Namun untuk
pelaksanaan Idul Adha mestinya dapat diseragamkan. Sebagian besar ulama
membolehkan melaksanakan shalat Idul Adha selama hari tasyrik, sehingga ada
toleransi bagi yang mengikuti Arab Saudi untuk menunda shalat Idul Adha untuk
bersama dengan saudara-saudara lainnya di Indonesia. Pelaksanaan qurban juga
bisa dilaksanakan selama hari tasyrik, sehingga tidak bermasalah dalam hal ini.
Alangkah indahnya bila ukhuwah diutamakan dalam menghadapi perbedaan pendapat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2008 in Hisab-Rukyat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: