RSS

Purnama-Bulan Baru Pemicu Gempa?

08 Jan

LAGI, KAJIAN TAMBAHAN

PURNAMA DAN BULAN
BARU SALAH SATU PEMICU GEMPA

 

            Sewaktu
wartawan Kompas bertanya soal prakiraan cuaca umum selama Januari 2009, saya
singgung juga kemungkinan efek penguatan potensi oleh pasang maksimum saat
bulan purnama dan bulan baru. Artinya, bila cuaca buruk yang berpotensi banjir,
dampaknya akan bertambah parah kalau itu terjadi saat bulan purnama (sekitar 11
Januari 2009) atau sekitar bulan baru (sekitar 26 Januari 2009). Pembicaraan
kemudian menyinggung juga dampak lain dari pasang surut bulan-matahari. Saya
ceritakan kemungkinan pengaruhnya sebagai pemicu gempa. [Sebenarnya saya
beralih posisi nara sumber. Ketika berbicara tentang cuaca dan iklim kapasitas
saya adalah Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim. Tetapi ketika
bicara soal bulan baru dan purnama, kapasitas saya adalah Peneliti Utama
Astronomi-Astrofisika]  Ini beritanya:

—————————————————————————————————————-

http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/06/2153442/bulan.baru.dan.purnama.jadi.alternatif.peringatan.dini

Bulan Baru dan Purnama
Jadi Alternatif Peringatan Dini

 

Selasa, 6 Januari 2009 | 21:53 WIB

BANDUNG, SELASA — Fenomena bulan baru dan bulan purnama
berpotensi dijadikan alternatif lain sistem peringatan dini menjelang kejadian
bencana alam gempa bumi. Fenomena bulan baru dan purnama dikatakan berpotensi
menyebabkan pelepasan energi di lempeng bumi.

Demikian dikatakan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaludin, Selasa (6/1),
terkait alternatif astronomi dalam sistem peringatan dini gempa bumi.

Menurut Thomas, hal itu disebabkan perbedaan dua arah gaya bumi, menuju dan
menjauhi bulan atau matahari. Hal itu dikatakannya rentan mengganggu atau
melepaskan energi dalam struktur lempeng bumi, khususnya di daerah perbatasan
waktu pagi dan magrib.

"Dengan adanya kejadian ini, sangat mungkin lempengan yang sudah rawan
lantas bergerak," katanya.

Bulan purnama, dikatakan Thomas, terjadi ketika bumi berada di antara bulan
dan matahari. Untuk Januari 2009, bulan purnama pada tanggal 11 Januari. Sementara
itu, bulan baru ketika bulan berada di antara matahari dan bumi dan terjadi
tanggal 26 Januari 2009.

Thomas memberikan beberapa contoh gempa bumi yang terjadi di Indonesia
beberapa waktu terakhir. Beberapa di antaranya bahkan berkekuatan tinggi dan
memakan banyak korban jiwa.

Di antaranya, gempa Alor pada 12 November 2004 terjadi menjelang bulan baru,
28 Ramadhan 1425 dan gempa Nabire pada 26 November 2004 terjadi menjelang
purnama, 13 Syawal 1425.

Selain itu, gempa Aceh pada 26 Desember 2004 terjadi saat purnama, 14
Dzulqaidah 1425; gempa Simeulue pada 26 Februari 2005 terjadi setelah purnama,
16 Muharram 1426; dan gempa Nias pada 28 Maret 2005 terjadi setelah purnama, 17
Safar 1426. Gempa Mentawai pada 10 April 2005 terjadi pada bulan baru, 1 Rabiul
Awal 1426, dan gempa Yogya pada 27 Mei 2006, terjadi menjelang bulan baru, 29
Rabiuts Tsaniah 1427, juga termasuk di dalamnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan agar para ahli dan pakar gempa bumi bisa
menimbang hal ini sebagai salah satu sumbangan peringatan dini gempa bumi.
Diharapkan, dalam bulan baru dan purnama, kewaspadaan bisa ditingkatkan.
Tujuannya, agar kejadian gempa bumi tidak menimbulkan korban.

Bagi masyarakat, hal ini bisa dijadikan pegangan. Bagi mereka yang hidup di
daerah rawan bencana gempa bumi, hal ini merupakan sumbangan peringatan dini
lainnya. Dengan begitu, mereka diharapkan bisa mandiri mempersiapkan sebelumnya
atau menyelamatkan diri ketika terjadi gempa bumi. CHE

————————————————————————————————————–

Sebelumnya, pemaparan saya yang serupa pernah dimuat juga oleh media lain

http://www.detiknews.com/read/2006/09/07/102136/670405/10/antara-gerhana-bulan-gempa-dan-gunung-meletus

http://www.antara.co.id/arc/2007/5/23/bulan-purnama-picu-pelepasan-energi-di-lempeng-bumi/
dan http://www.ristek.go.id/index.php?mod=News&conf=v&id=1821

 

Mengapa purnama dan bulan baru bisa menjadi pemicu, secara
sederhana teman geologist memaparkannya dalam dongeng geologinya

http://rovicky.wordpress.com/2007/10/26/mengapa-efek-bulan-menjadi-pemicu-trigger-gempa/

Dukungan kajian ilmiahnya bisa juga dilihat di

http://rovicky.wordpress.com/2006/06/18/efek-bulan/

 

Kemarin saya mengkaji data yang agak panjang, data gempa di
Indonesia selama tahun 2000 sampai 3 Januari 2009 yang magnitudonya lebih dari
6. Ada hal yang menarik (ini juga saya sampaikan kepada wartawan Kompas tadi
pagi), dari 208 kejadian gempa 86 diantaranya bersesuaian dengan kejadian
purnama dan bulan baru (dalam rentang plus minus dua hari, artinya efek pasang
maksimum bulan-matahari masih ada). Kalau dilihat jam kejadiannya, sebagian
besar dari 86 gempa tersebut terjadi sekitar tengah hari atau tengah malam dan
pagi atau maghrib (plus minus 2 jam). Namun frekuensi kejadiannya lebih banyak
sekitar tengah malam atau tengah hari.

 

Contohnya, gempa Aceh 26 Desember 2004 terjadi pada saat
bulan purnama pada pagi hari pukul 07.59 WIB (secara astronomi pukul 07.22
waktu lokal). Gempa Padang-Mentawai 8 April 2005 terjadi saat bulan baru pada
tengah hari pukul 12:48 WIB. Gempa Yogya 26 Mei 2006 terjadi sekitar bulan baru
pada 05:53 WIB.

 

Bagaimana mekanisme kejadian gempa sekitar tengah malam atau
tengah hari dan pagi atau maghrib? Saya menduga itu terkait dengan gaya pasang
surut yang memicu gempa. Kejadian sekitar tengah malam atau tengah hari berarti
gaya pemicunya arahnya vertikal, semacam mengangkat salah satu bagian lempeng
sehingga terjadi pelepasan energi berupa gempa. Kejidian sekitar pagi atau
maghrib arah gaya pasang surutnya relatif mendatar ke arah Barat-Timur. Bisa
jadi, mekanisme pemicu pelepasan energi relatif lebih mudah untuk gaya vertikal
sehingga frekuensi kejadiannya lebih banyak. Ditambah lagi dengan persyaratan
arah patahan. Untuk gaya horizontal, arah patahan yang membentang Utara-Selatan
yang berpotensi terpicu oleh gaya yang arahnya Barat-Timur. Untuk gaya vertikal,
arah patahan tidak menjadi prasyarat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: