RSS

Gerhana Matahari Cincin 26 Januari 2009

22 Jan
Shalat Gerhana

Ketika terjadi gerhana umat Islam disunnahkan shalat gerhana
serta memperbanyak istighfar dan shadaqah. Tentu saja, renungan ayat-ayat
kauniyah juga harus ada, bukan sekadar aspek ibadahnya. Oleh karenannya sangat
disarankan pada saat puncak gerhana, jamaah berkesempatan juga untuk melihat langsung
proses gerhananya, bagaimana bulan menutup piringan matahari sedikit demi
sedikit, lalu keluar lagi dari piringan matahari.

Kapan waktu shalat gerhana? Gerhana matahari waktunya ditentukan oleh gerakan
bayangan bulan melintasi suatu daerah. Jadi, berbeda dengan gerhana bulan, kita
harus melihat data gerhana untuk setiap daerah. Kalau tidak cermat, kita bisa
mengumumkan informasi yang keliru, seperti yang termuat di Harian PR Selasa, 20
Januari 2009 tentang seruan ormas-ormas Islam terkait dengan gerhana. Pada
pengumuman itu waktu gerhana merujuk pada data global gerhana matahari.

Untuk gerhana matahari 26 Januari 2009, seluruh wilayah Indonesia dapat
menyaksikan gerhana menjelang matahari terbenam. Waktu gerhana di Bandung mulai
pukul 15.20 – 17.49 WIB. Untuk daerah-daerah lain di Indonesia, waktu gerhana
sekitar waktu itu plus-minus 10 menit. Jadi, kalau perlu mengumumkan ke semua
cabang ormas Islam di seluruh Indonesia, disarankan rentang waktu shalat
gerhana antara pk 15.40 – 17.30 WIB.

Bagaimana cara shalat gerhana? Shalat gerhana dilakukan berjamaah di masjid dan
sesudahnya ada khutbah, seperti shalat hari raya (Id) dengan bacaan Al-Quran
yang terdengar. Caranya seperti shalat hari raya 2 rakaat, hanya setiap rakaat
ada dua kali ruku. Jadi, setelah ruku pertama yang agak panjang kembali berdiri
lalu membaca Al-Fatihah dan surat lainnya baru ruku lagi dan sujud seperti
biasa. Khutbah berisi anjuran istighfar (mohon ampunan Allah), bershadaqah, dan
menjelaskan tentang fenomena gerhana.

Apa sih maknanya? Gerhana adalah peristiwa alam yang menunjukkan ketundukan
alam pada Khaliqnya (Penciptanya). Maka selayaknya kita juga menunjukkan
ketaatan kepada Allah dengan melakukan shalat gerhana. Matahari dan bulan tak
pernah penyalahi hukum-Nya, sehingga manusia pun dapat memperkirakan secara
tepat waktu terjadinya gerhana. Manusia karena nafsunya sering kali, sengaja
atau tak sengaja, menyalahi hukum Allah, maka sudah selayaknya peristiwa
gerhana mengingatkan kita untuk memperbanyak istighfar.

 

Matahari dan bulan bisa beriringan dan berdampingan
memperlihatkan keharmonisan yang kadang menunjukkan fenomena cincin atau
mahkotanya yang indah (korona) yang biasanya tidak terlihat. Ini mengajarkan
kita untuk juga dapat berjalan beriringan dan berdampingan dengan sesama
manusia, maka sudah selayaknya itu direpresentasikan dalam bentuk anjuran
memperbanyak shadaqah. Lalu khatib pun perlu mengingatkan bahwa gerhana
matahari adalah fenomena alam yang tidak terkait dengan kelahiran atau kematian
seseorang dan tidak terkait dengan nasib manusia atau bencana alam, tetapi
merupakan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya di alam. (Rincian fenomena gerhana
dapat di lihat di http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!553.entry)

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2009 in Hisab-Rukyat

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: