RSS

Patroli Langit

02 Feb


Mewaspadai
Asteroid dan Komet Pengancam Bumi

(Dimuat Pikiran Rakyat, 16 Maret 1997)

T. Djamaluddin

Peneliti Bidang
Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN Bandung


Catatan: Januari 2009 lalu astronom menemukan asteroid 2009 BD berdiameter  10 meter yang  melintas dekat bumi berjarak 644.000 km, hampir 2 kali jarak bumi-bulan. Asteroid ini tidak membahayakan bumi, namun ancaman asteroid yang orbitnya dekat bumi, tetap ada. Karenanya patroli langit terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi bencananya. Tulisan lama saya masih relavan dalam bahasan patroli langit tersebut.

           

            Akhir Januari 1997, NASA (badan
antariksa Amerika Serikat) mengumumkan ditemukannya dua anggota tata surya
baru: sebuah asteroid (planet kecil) yang diberi kode 1997 AC11 dan sebuah
komet yang diberi kode 1997 A1.

            Asteroid 1997 AC11 adalah keluarga
asteorid Aten yang orbitnya dekat dengan orbit bumi. Sedangkan komet 1997 A1
diperkirakan mencapai titik terdekat dengan bumi pada 6 Februari 1997 pada
jarak sekitar 350 juta km (2,3 kali jarak bumi-matahari).

            Penemuan itu dilaporkan oleh empat
astronom pengamat tata surya dari JPL (Jet Propulsion Laboratory):
Eleanor Helin, Steve Pravdo, David Rabinovitz, dan Ken Lawrence. Pengamatan
yang mereka lakukan sebenarnya merupakan bagian dari program patroli langit,
mencari asteroid dan komet yang mungkin akan mengancam bumi. Sistem pengamatan
otomatik terkomputerisasi yang digunakan diberi nama sistem penjejak asteroid
dekat bumi (The Near-Earth Asteroid Tracking – NEAT).

            Komponen utama sistem NEAT yang
berada di puncak Haleakala (Hawaii) itu terdiri atas sebuah teleskop
berdiameter 98 cm yang dilengkapi dengan kamera CCD (kamera elektronik yang
citranya diolah dengan komputer) yang sangat peka. Ukuran CCD-nya relatif
sangat besar, 4096 x 4096 piksel, jauh lebih besar daripada CCD yang dimiliki
kebanyakan observatorium saat ini.

            Dengan sistem otomatik yang sangat
peka dan mampu merekam medan langit yang luas, pengamatan itu sangat efektif
mencari asteroid dan komet baru, terutama untuk mendeteksi kalau-kalau ada yang
akan menghantam bumi. Selama bulan Januari 1997 saja berhasil teramati sekitar
700 asteroid. Sedangkan jumlah total objek tata surya yang berhasil diidentifikasi
sejak pengoperasiannya pada akhir 1995 lebih dari 9000 objek, setengahnya
merupakan objek baru.             Asteroid
1997 AC11 tergolong kelompok asteroid keluarga asteroid Aten yang jarang. Ini
adalah asteroid ke-24 dalam keluarga Aten selama 21 tahun pencarian. Asteroid
ini tampak sangat redup dengan magnitudo 21, seribu triliun kali lebih redup
daripada bintang paling redup yang dapat terlihat mata telanjang. Diameternya
diperkirakan sekitar 180 meter. Kemiringan bidang orbitnya terhadap bidang orbit
bumi sekitar 31 derajat. Waktu orbitnya mengitari matahari lebih cepat daripada
bumi, yaitu hanya 9,5 bulan.

            Komet 1997 A1 juga sangat redup,
bermagnitudo 19 (sepuluh triliun kali lebih redup dari pada bintang paling
redup yang teramati mata telanjang) ketika ditemukan. Komet ini bukan komet
periodik seperti komet Halley, karena orbitnya parabolik. Jadi hanya sekali ini
komet ini melintas mendekati matahari kemudian menjauh lagi ke luar tata surya.

 

Asteroid Pengancam
Bumi

            Asteroid keluarga Aten, seperti asteroid
1997 AC11, perlu diwaspadai karena setengah sumbu panjang orbitnya dekat dengan
bumi. Karena kesempatan untuk mendekati orbit bumi paling sering, asteroid
keluarga ini mempunyai kemungkinan terbesar untuk menabrak bumi daripada
keluarga asteroid lain di dekat bumi.

            Selain keluarga asteroid Aten,
asteroid yang orbitnya dekat bumi atau melintas orbit bumi adalah keluarga
Apollo dan keluarga Amor. Keluarga asteroid Apollo orbitnya melintasi orbit
bumi dengan setengah sumbu panjang orbitnya lebih jauh daripada orbit bumi.
Sedangkan keluarga asteorid Amor juga melintasi orbit bumi dengan orbit yang
lebih jauh dari pada asteroid Apollo. Jarak terdekat dengan matahari berada
dekat bumi tetapi jarak terjauhnya berada di dekat orbit planet Mars.

            Menurut perkiraan Eugene Shoemaker,
asteroid yang orbitnya mendekati orbit bumi ditaksir ada sekitar 1000-2000 buah
yang ukurannya lebih dari 500 meter. Setengahnya adalah keluarga asteroid
Apollo, hampir setengahnya keluarga asteroid Amor, dan hanya beberapa yang termasuk
keluarga asteroid Aten.

            Asal usul asteroid dekat orbit bumi
ini bisa berasal dari sabuk asteroid (kumpulan asteroid di antara orbit Mars
dan Jupiter), tetapi bisa pula dari inti komet yang telah mati. Menurut
perhitungan, kemungkinan tumbukan benda langit pada bumi sekitar setengahnya
berasal dari asteorid dan setengahnya berasal dari komet. Karena itu kedua
benda langit yang melintas dekat bumi itu tetap harus diwaspadai. Sejarah telah
memberikan pelajaran betapa hebatnya dampak tumbukan asteroid dan komet pada
bumi.

 

Asteroid Menabrak
Bumi

            Sebuah asteroid pernah menabrak Bumi
dan jatuh di Semenanjung Yukatan di tepi teluk Meksiko 65 juta tahun lalu.
Asteroid itu ditaksir berukuran sekitar 10 kilometer seberat setriliun ton. Ini
menyebabkan terbentuknya kawah raksasa berdiameter 180 km (hampir seluas Jawa
Barat), menyebabkan gelombang raksasa di laut Karibia, dan menghamburkan debu
ke atmosfer. Asteroid langsung menembus bumi sehingga sisa-sisanya tidak tampak
lagi.

            Energi ledakannya setara dengan
ledakan 5 miliar bom atom Hiroshima. Debu yang dihamburkan ke atmosfer ditaksir
sekitar 100 triliun ton berdasarkan ketebalan endapan debu bercampur Iridium di
seluruh dunia. Adanya logam Iridium yang jarang terdapat di Bumi, tetapi
melimpah pada asteroid menjadi kunci pembuka tabir rahasia bahwa benda langit
yang jatuh adalah asteorid.

            Debu-debu yang dihamburkan ke
atmosfer sedemikian tebalnya sehingga menghambat masuknya cahaya Matahari.
Hilangnya pemanasan Matahari menyebabkan Bumi dilanda musim dingin panjang yang
dikenal sebagai "musim dingin tumbukan" (impact winter).
Inilah yang diduga penyebab musnahnya hampir setengah makhluk hidup di Bumi,
termasuk Dinosaurus.

 

Komet Menabrak Bumi

            Pagi 30 Juni 1908 terjadi ledakan
besar di sekitar sungai Tunguska, Siberia Tengah, Rusia. Pukul 07:17 sebuah
bola api raksasa meluncur dari langit sangat cepat. Nampaknya jauh lebih besar
dari matahari tetapi lebih redup. Jejak di belakangnya tampak seperti ekor
berwarna biru. Belum sempat mencapai bumi, pada ketinggian sekitar 8 km
terjadilah ledakan dahsyat. Bumi terasa bergetar.

            Saksi mata pada jarak 80 km dari
pusat ledakan merasakan embusan angin panas dan terlempar dari kursinya. Suara
ledakannya terdengar dari jarak 800 km (kira-kira jarak lurus Serang – Surabaya).
Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar dan sekitar 2000 km persegi hutan
diratakan oleh hempasan gelombang kejut.

            Bukti-bukti yang ada menyatakan
bahwa terjadi ledakan hebat, gelombang kejutnya mampu merobohkan pepohonan pada
areal yang luas, hutan di daerah pusat ledakan terbakar, tetapi tidak ada kawah
yang terjadi di pusat ledakan itu. Bukti terbaru menunjukkan ditemukannya
butiran-butiran intan halus tersebar di sekitar pusat ledakan. Bukti-bukti itu
menunjukkan bahwa penyebab ledakan yang sangat mungkin adalah pecahan komet
yang menabrak Bumi.

            Komet sebagian besar terdiri dari es
(campuran air, metana, dan amoniak) dan sedikit butiran batuan halus. Karena
itu komet sering disebut sebagai tersusun dari es berdebu. Butiran batuan itu
mungkin juga mengadung intan seperti yang dijumpai pada meteorit. Ketika komet
menembus atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menimbulkan panas dan terlihat
seperti bola api raksasa. Es akan menguap. Uap dan debu akan tampak seperti
ekor pada bola api itu. Pengereman oleh atmosfer bumi dan pelepasan energi oleh
komet menyebabkan timbulnya ledakan hebat di atmosfer. Energi dari bola api itu
mampu membakar hutan di bawahnya dan gelombang kejut ledakkannya mampu
menumbangkan pepohonan pada area yang sangat luas. Sisa-sisa butiran intan pada
inti komet tidak terbakar dan jatuh ke bumi.

            Ditaksir komet itu berukuran 100
meter dengan berat sejuta ton dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik
(108.000 km/jam). Diduga pecahan itu berasal dari komet Encke. Menurut
perhitungan orbitnya, Bumi setiap tahun melintasi orbit komet Encke dua kali:
sekitar 2 Juli dan sekitar 1 November. Pada saat perjumpaan sekitar 2 Juli,
lintasan komet Encke berada di selatan Bumi dan komet datang dari arah
Matahari. Itulah yang menyebabkan pecahan komet yang jatuh di Tunguska pada 30
Juni 1908 nampak berasal dari arah tenggara karena pengaruh rotasi Bumi dan
tumbukan terjadi bukan pada malam hari.

 

Komet Swift-Tuttle

            Kabar tentang kemungkinan komet
Swift-Tuttle menabrak bumi bermula dari edaran IAU (International
Astronomical Union
) bernomor 5636, 15 Oktober 1992. Brian G. Marsden,
pemimpin biro pusat telegram astronomi di Cambridge, Massachusetts, mengumumkan
hasil perhitungannya bahwa komet Swift-Tuttle akan kembali lagi mencapai
perihelion pada 11 Juli 2126 dengan ketidakpastian 15 hari. Adanya
ketidakpastian itu karena selain gaya-gaya gravitasi, pergerakan komet juga
dipengaruhi oleh gaya-gaya lainnya yang merupakan dinamika mikronya yang tidak
diketahui dengan pasti.

            Andaikan prakiraan Marsden hanya
meleset kurang dari satu hari, seperti pada kehadiran Swift-Tuttle 1992, maka
tidak perlu khawatir terjadi tumbukan. Komet Swift-Tuttle akan melintas orbit
Bumi sebelum bumi sampai pada titik lintasan itu. Tetapi bila komet
Swift-Tuttle mencapai perihelion pada batas rentang prakiraannya, 26 Juli 2126,
hampir dipastikan komet itu akan bertemu bumi 19 hari kemudian. Pada tanggal 14
Agustus 2126 bumi tepat sampai pada titik persimpangan dengan orbit komet
Swift-Tuttle.

            Perjumpaan pada titik persimpangan
itu, yang dikhawatirkan merupakan tabrakan yang sangat dahsyat yang akan
membahayakan kehidupan di bumi. Tetapi, melihat rentang ketidakpastiannya yang
besar itu, manusia bisa bernafas lega karena kecil kemungkinannya terjadinya
tabrakan komet Swift-Tuttle dengan bumi.

            Lagi
pula, menurut perhitungan orbitnya, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak tepat
memotong orbit bumi. Menurut perhitungan saya, komet hanya melintas dekat bumi
pada jarak sekitar 1,8 juta km atau sekitar lima kali jarak bumi-bulan. Yang
terjadi bukan tabrakan. Manusia di bumi pada saat itu mungkin akan menyaksikan
pemandangan yang luar biasa. Komet dapat terlihat siang hari pada awal Agustus
dan hujan meteor Perseid (fenomena seperti bintang berjatuhan di langit utara)
yang luar biasa akan terlihat sepanjang malam.

            Jadi, komet Swift-Tuttle sebenarnya
tidak mengancam bumi. Bahaya dari langit yang sesunguhnya mungkin datang dari
asteroid dan komet yang sama sekali belum pernah terdeteksi sehingga belum
diketahui perilaku gerakan pada orbitnya. Dalam hal inilah pentingnya usulan
para astronom untuk melakukan patroli langit dengan teleskop besar. Bila semua
benda langit yang mungkin mengancam bumi berhasil diidentifikasikan, maka
langkah-langkah antisipasi bisa disiapkan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 2, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: