RSS

Bumi akan Menjadi Seperti Venus?

25 Mei

Pelajaran bagi Bumi: 

Pemacuan
Efek Rumah Kaca di Venus

(Dimuat di PR 3 Mei 1996, direvisi sesuai kondisi 2009)


T. Djamaluddin

Peneliti  Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

 

            Pada senja hari kita sering melihat
sebuah "bintang" terang di langit Barat. Orang menyebutnya itu
Bintang Kejora. Bila muncul di timur pada dini hari orang menyebutnya Bintang
Timur. Sebenarnya itu bukan bintang, tetapi sebuah planet. Karena sangat terangnya, planet ini
sangat mudah dikenali. Sesaat setelah Matahari terbenam, sebelum
bintang-bintang lain terlihat, planet itu tampak terang. Semakin malam semakin
cemerlang. Bila dilihat dengan teleskop, yang tampak adalah benda terang
berbentuk sabit, seperti bulan sabit. Sama seperti bulan sabit, cahaya Venus
sabit pun berasal dari cahaya Matahari.

            Karena ukuran dan sifatnya yang
hampir sama dengan Bumi, planet ini sering disebut saudara kembar Bumi. Namun,
saudara Bumi ini jauh lebih panas daripada Bumi. Bukan hanya karena jaraknya ke
Matahari lebih dekat daripada Bumi, tetapi juga karena efek rumah kaca (green
house effect
). Bumi bisa belajar banyak tentang akibat efek rumah kaca pada
saudara kembarnya, Venus.

 

Efek Rumah Kaca

            Global warming (pemanasan global)
belakangan ini menjadi topik pembicaraan hangat. Dunia makin menghangat
suhunya. Penyebabnya adalah efek rumah kaca. Namun banyak yang salah
menafsirkanya. Seolah-olah efek rumah kaca adalah efek pemanasan akibat
banyaknya gedung-gedung berkaca di kota-kota besar yang memantulkan cahaya
Matahari ke lingkungan sekitarnya. Tetapi pengertian sebenarnya bukan itu,
walaupun tampaknya secara logika efek pemanasan terjadi juga pada lingkungan
terbatas di sekitarnya. Efek rumah kaca bersifat global, seluruh tempat di
permukaan bumi merasakannya.

            Efek rumah kaca adalah efek
pemanasan akibat terperangkapnya panas yang tidak dapat dilepaskan ke luar
angkasa. Penamaan itu untuk memberikan gambaran prosesnya seperti yang terjadi
pada rumah kaca yang biasa digunakan untuk melindungi tanaman (bunga-bungaan
atau sayur-sayuran) di daerah pegunungan atau negara bermusim dingin agar tetap
hangat. Cahaya Matahari masuk menembus kaca dan menghangatkan tanah dan udara
di dalamnya. Namun panas itu tidak bisa ke luar karena terperangkap oleh kaca
itu. Makin lama suhu di dalam rumah kaca itu akan makin panas.

            Venus kini mengalami efek seperti
itu. Bumi juga merasakannya. Bukan kaca yang menyebabkan panas di Venus atau di
Bumi itu terperangkap tetapi awan, uap air, dan gas-gas penyerap panas yang
disebut "gas rumah kaca" (GRK) seperti CO2 (karbon dioksida), CH4
(metan), CFC (klorofluorkarbon), dan NOx (oksida Nitrogen).

 

 

Planet terpanas

            Venus letaknya lebih dekat ke
Matahari daripada Bumi. Jaraknya ke Matahari sekitar 105 juta km. Sedangkan
jarak Bumi dari Matahari sekitar 150 juta km. Karena itu Venus lebih panas
daripada Bumi. Tetapi yang menjadikan Venus sangat panas bukan karena jaraknya
relatif dekat dengan Matahari. Planet Merkurius yang paling dekat dengan
Matahari panasnya hanya sekitar 430 derajat C. Sedangkan Venus panasnya
mencapai 460 derajat C.

            Carl Sagan dalam desertasi doktornya
tahun 1960-an menjelaskan bahwa ada proses efek rumah kaca yang sangat hebat di
Venus yang menyebabkan planet ini makin lama makin panas. Hasil pengamatan
pesawat antariksa yang dikirim meneliti Venus, Venera dan Pioneer, menunjukkan
bahwa atmosfer Venus hampir seluruhnya terdiri dari CO2 (96,5 %). Bandingkan
dengan CO2 di atmosfer Bumi yang hanya sekitar 0,05 %. Awan tebal yang selalu
menyelimuti Venus berada pada ketinggian 30-60 km dan terdiri dari awan asam
sulfat (H2SO4, sejenis dengan air keras pada aki).

            Kandungan CO2 yang sangat tinggi
menyebabkan hebatnya efek rumah kaca. Cahaya Matahari yang menerobos sela-sela
awan tebal kemudian memanaskan permukaan Venus. Panasnya yang dipantulkan lagi
tidak bisa ke luar ke angkasa tetapi segera diserap oleh CO2 yang menyebabkan
suhu atmosfernya makin panas.

            Dari berbagai penelitian disimpulkan
bahwa Venus pada awalnya mungkin mempunyai air seperti halnya bumi. Efek rumah
kaca akibat kandungan uap air dan CO2 menyebabkan suhu atmosfer Venus makin
panas. Akibatnya, uap air makin banyak di udara. Tambahan uap air menyebabkan
penyerapan panas lebih banyak lagi sehingga suhunya atmosfer makin panas.
Karena pemanasan yang makin hebat batuan kapur (CaCO3) pun mengalami perubahan
menjadi CaO dan melepaskan CO2. Semakin banyak CO2 dan uap air di udara
pemanasan oleh efek rumah kaca semakin hebat. Dan seterusnya pemanasan
menyebabkan semakin banyak uap air dan CO2. Terjadilah pemacuan efek rumah kaca
(runaway greenhouse effect) yang menyebabkan pemanasan makin cepat.

            Uap air bereaksi dengan gas SO2 yang
mungkin dilepaskan oleh gunung berapi di Venus. Akibatnya terjadilah awan asam
sulfat. Sementara itu uap air (H2O) dengan pengaruh sinar ultra violet Matahari
akan pecah menjadi atom Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Atom Hidrogen akan lepas
ke luar angkasa, kecuali yang bermassa besar yang disebut Deutorium. Sedangkan
oksigen bereaksi dengan batuan di permukaan Venus. Karena uap air tidak
berproses lagi menjadi awan dan hujan, air di Venus makin hilang.

 

Pelajaran bagi Bumi

            Bumi menerima panas dari Matahari.
Tetapi hanya sekitar 45 % yang mencapai permukaan Bumi. Sebanyak 40 %
dipantulkan lagi ke angkasa luar oleh awan dan debu-debu di atmosfer atas,
terutama debu-debu dari letusan gunung berapi. Dan 15 % lainnya diserap oleh
atmosfer. Sinar ultra violet diserap oleh lapisan ozon. Sinar infra merah
terutama diserap oleh uap air dan CO2.

            Bumi yang terpanasi kemudian akan
memancarkan lagi panas (dalam bentuk sinar infra merah) ke atas. Panas itu
sebagian diserap oleh uap air, gas-gas GRK (terutama CO2), dan awan. Sebagian
sisanya dilepaskan ke luar angkasa. Awan yang menghangat juga kemudian akan
memancarkan lagi panasnya ke bawah. Inilah proses efek rumah kaca yang
menyebabkan pada malam hari pun atmosfer Bumi terasa masih cukup hangat. Tanpa
efek rumah kaca, panas Matahari tidak tersimpan yang bisa mengakibatkan perubahan
suhu yang drastis antara siang dan malam.

            Masalahnya bila efek rumah kaca
terjadi peningkatan. Bila panas yang diserap oleh uap air dan GRK meningkat,
suhu atmosfer akan meningkat. Ini akan mengakibatkan melelehnya gunung es di
kutub yang akan menaikkan ketinggian air laut. Kalau itu terjadi, banyak pulau
dan daerah pantai yang tenggelam.

            Di samping itu, peningkatan efek
rumah kaca bisa mengubah iklim secara global. Bukan hanya suhu atmosfer yang
meningkat, pola curah hujan pun akan berubah. Karena itu pemantauan dan
penelitian tentang efek rumah kaca serta dampaknya pada perubahan iklim kini
makin digiatkan. Di Indonesia, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional) Bandung sangat peduli dengan penelitian GRK dan pengaruhnya pada
perubahan iklim. Pemantauan GRK dan penelitian model iklim yang dipengaruhinya,
khususnya di Indonesia, merupakan salah satu bagian penelitiannya.

            Berbagai hasil penelitian
menunjukkan bahwa perubahan suhu di permukaan Bumi selama ribuan tahun sangat
dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan metan dalam kurun waktu itu. Sementara itu
penelitian lain menunjukkan bahwa peningkatan 15% CO2 selama seabad ini telah
meningkatkan suhu rata-rata atmosfer di permukaan Bumi sekitar 0,25 – 0,50
derajat C.

            Perkembangan industri dan pemakaian
kendaraan bermotor memacu peningkatan jumlah CO2 di atmosfer. Penelitian di
Mauna Loa, Hawaii, dalam waktu lebih dari 30 tahun menunjukkan bahwa
konsentrasi CO2 terus mengingkat dengan laju peningkatan 0,4 persen per tahun.
Jika keadaan ini terus berlangsung, pada awal abad 21 mendatang konsentrasi CO2
di atmosfer akan menjadi dua kali lipat dari konsentrasinya sebelum zaman
industri.

            Di Indonesia peningkatan GRK juga
terjadi sebagai hasil dampak perkembangan indistri dan pemakaian kendaraan bermotor.
Salah satu hasil pemantauan yang dilakukan LAPAN Bandung sejak 1989 menunjukkan
kecenderungan peningkatan konsentrasi CO2 di kota Bandung. baik pada musim
kemarau (Juni) maupun musim hujan (Desember). Walaupun pengaruhnya pada
peningkatan suhu kota Bandung belum terlihat untuk jangka pendek ini, namun
dalam jangka panjang perubahan suhu itu akan terasa. Bandung yang terkenal
sejuk, makin lama akan makin panas bila efek rumah kaca terus meningkat (Catatan: tulisan ini dibuat 1996, saat ini data satelit yang dianalisis peneliti LAPAN menunjukkan ada efek "urban heat island", yaitu efek pemanasan kota di Bandung).

            Dari berbagai skenario perubahan
iklim yang mungkin terjadi akibat pelepasan GRK oleh aktivitas manusia,
disimpulkan bahwa suhu global pada abad mendatang akan naik sekitar 0,1 – 0,3
derajat per dekade. Suhu di negara-negara industri di Eropa dan Amerika Utara
mungkin akan meningkat lebih tinggi dari rata-rata itu yang diikuti dengan
penurunan curah hujan dan tanah relatif lebih kering.

            Untuk Indonesia, termasuk juga
daerah tropik dan negara-negara di belahan Bumi selatan, belum banyak diketahui
skenario perubahannya. Peneliti-peneliti di LAPAN Bandung, dengan menggunakan
model iklim yang ada dan yang akan dikembangkan, berusaha mengetahui skenario
perubahan iklim di Indonesia akibat peningkatan efek rumah kaca dan
faktor-faktor lainnya. Pengaruh variabilitas Matahari pada perubahan iklim
merupakan faktor lain yang turut diperhitungkan.

            Peningkatan suhu global pada abad 21
mendatang, diperkirakan akan meningkatkan tinggi pemukaan air laut sekitar 6 cm
per dekade, terutama akibat pengembangan air laut dan pencairan lapisan es di
kutub. Menjelang tahun 2030 tinggi air laut rata-rata dunia meningkat sekitar
20 cm dibandingkan saat ini. Di beberapa wilayah mungkin lebih dari itu dan di
wilayah lain mungkin kurang dari itu. Namun itu cukup mengkhawatirkan. Dalam
jangka panjang beberapa pulau akan hilang dan laut menggenangi daerah pinggiran
pantai.

            Hal yang dikhawatirkan adalah
terjadinya pemacuan efek rumah kaca di Bumi. Kenaikan suhu atmosfer bukan hanya
menaikkan ketinggian air laut, tetapi juga menyebabkan makin cepatnya penguapan
dan kekeringan. Uap air di atmosfer merupakan penyerap panas yang baik seperti
GRK lainnya. Bila itu ditambah dengan pelepasan CO2 yang tak terkendali dari
kendaraan bermotor, industri, dan kebakaran hutan, efek rumah kaca akan dipacu
makin cepat. Akibatnya, suhu akan makin cepat meningkat.

            Belajar pada Venus, saudara kembar Bumi, pemacuan efek
rumah kaca berdampak sangat hebat. Dengan pemacuan efek rumah kaca, bukan tidak
mungkin Bumi kita bisa menjadi seperti Venus.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 25, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

One response to “Bumi akan Menjadi Seperti Venus?

  1. vsint shendy

    Mei 28, 2011 at 4:57 pm

    makasi buat infonya

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: