RSS

Orasi Profesor Riset (1/2)

10 Des

MEMBUMIKAN ASTRONOMI UNTUK MEMBERI SOLUSI (1/2)

T. Djamaluddin


Pengantar: Alhamdulillah, saya dikukuhkan sebagai Profesor Riset ke -287 nasional (dari 7.816
peneliti secara nasional) dan ke-11 LAPAN (dari 272 peneliti LAPAN)
pada 9 Desember 2009 dengan orasi "Membumikan Astronomi untuk Memberi
Solusi". Ini bagian pertama orasi saya.


Assalamu’alaikum wr. wb.,

 

Majelis Pengukuhan
Profesor Riset dan hadirin yang saya hormati,

 

Alhamdulillah, Allah telah memberikan bimbingan dan kekuatan kepada saya
untuk mencapai jabatan fungsional tertinggi, Peneliti Utama IVe bidang
Astronomi-Astrofisika. Dengan orasi ilmiah ini, insya-allah jabatan profesor
riset akan dikukuhkan. Jabatan profesor riset adalah jabatan tertinggi yang
dicita-citakan oleh seorang peneliti dalam pengembangan karir fungsionalnya.

Orasi ilmiah ini merupakan uraian jejak ilmiah karir fungsional saya di
hadapan Majelis Pengukuhan Profesor Riset dan para hadirin, dengan memaparkan perjalanan
kegiatan kepakaran saya yang berangkat dari astronomi murni, kemudian
membumikan astronomi dalam makna mencari pemanfaatan astronomi bagi kehidupan
di bumi, sampai pemikiran saya dalam memberikan solusi bagi pemerintah dan
masyarakat dengan memanfaatkan pemahaman astronomi. Oleh karenanya orasi ini
saya beri judul :

 

MEMBUMIKAN ASTRONOMI UNTUK

MEMBERI SOLUSI

 

Dalam pemaparannya, orasi ilmiah ini saya bagi dalam lima bab berikut :

I.                   
Pendahuluan

II.                
Berangkat dari
Astronomi Murni

III.              
Membumikan Astronomi

IV.             
Astronomi Memberi
Solusi

V.                
Penutup

 

Bagi seorang Muslim, jabatan adalah amanah yang harus dijaga, bukan
dibanggakan. Oleh karenanya, orasi ini pun sebagai pertanggungjawaban amanah
jabatan fungsional Peneliti Utama saya. Dalam perjalanannya telah banyak
dibantu oleh banyak pihak: keluarga, pimpinan, kolega sesama peneliti, staf
teknisi dan administrasi, serta pihak-pihak lain, baik di LAPAN maupun di luar
LAPAN. Jazaakumullah khairan katsiraa, semoga Allah membalas mereka dengan
kebaikan yang melimpah.

 



I. PENDAHULUAN

 

Majelis dan hadirin
yang saya hormatii,

 

            Suatu
hari di kelas I SMP Negeri 1 Cirebon seorang guru meminta para siswa menuliskan
cita-citanya. Dengan mantap saya tuliskan “Menjadi Peneliti”. Ya, menjadi
peneliti adalah cita-cita saya sejak kecil. Saat SD, saya temukan sebuah kunci
gembok bekas berkarat di kebun belakang rumah lalu saya pecahkan dengan palu
dan berhari-hari saya ulik cara kerja kunci gembok tersebut. Saya juga gemar
mengamati biji-biji yang tumbuh saat awal musim hujan dan tunas pohon pisang
yang mampu menembus lapisan semen. Saya kumpulkan berbagai jenis biji dan batu.
Saya buat eksperimen kimia sendiri dengan bekas lampu neon.

            Saya memang gemar
membaca dan banyak ingin tahu akan segala sesuatu. Dengan segala keterbatasan
fasilitas, saya baca buku-buku IPA dan Ilmu Bumi untuk SMP milik kakak sepupu
saat saya duduk di kelas V SD. Ada manfaatnya juga. Guru saya memuji bahwa soal
tentang asal-usul minyak bumi saat THB (Test Hasil Belajar) hanya saya yang
bisa menjawab, padahal di kelas pun belum pernah diajarkan. Pujian itu pula
yang akhirnya membangkitkan kembali semangat saya setelah nyaris putus sekolah
karena masalah biaya.

            Semula
saya tertarik dengan penelitian tumbuhan. Namun saat kelas III SMP, saya
membaca majalah iptek populer “Mekatronika” dan “Scientiae” yang pada terbitan
waktu itu banyak mengulas soal UFO (Unidentified Flying Objects, “piring
terbang”) dan antariksa. Ketertarikan pada soal antariksa diperkuat saat SMA.
Bermula dari keinginan untuk mengkaji dan menulis tentang “UFO: Bagaimana
menurut Agama”, saya banyak membaca buku-buku dan Encyclopedia Americana yang
membahas astronomi. Alhamdulillah, dengan bantuan teman yang mengetikkan naskah
saya, tulisan itu bisa dimuat di majalah Scientiae, No. 93/1979, saat saya
kelas I SMA. Itulah publikasi hasil kajian 
saya yang pertama, walau baru sebagai karya ilmiah populer. Ada juga
hasil karya penelitian tentang kromatografi kertas yang dikirimkan dalam Lomba
Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI.

            Alhamdulillah,
tawaran PP II (Proyek Perintis II, penerimaan mahasiswa tanpa test berdasarkan
penelusuran minat dan kemampuan) di ITB memberi jalan untuk menjadi peneliti
astronomi-atrofisika. Materi kuliah dan aktivitas lain yang mendukung
pematangan sikap ilmiah selama menjadi mahasiswa astronomi ITB memberi bekal
cukup banyak untuk menjadi peneliti. Motivasi Qur’aniyah juga memperkuat tekad
saya untuk mempelajari alam semesta.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia,
Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS.3:190-191)

 

II. BERANGKAT DARI ASTRONOMI MURNI

 

Majelis dan hadirin yang saya hormati,

 

            Hanya
sempat menjadi “penganggur” selama 2 pekan, seusai wisuda sarjana astronomi di
ITB pada 16 Oktober 1986 dengan tugas akhir “Distribusi Bintang OB2 di Arah
Puppis”, saya memantapkan diri menjadi peneliti antariksa jauh di Bidang
Antariksa LAPAN sejak 1 November 1986. Makalah pertama yang saya hasilkan
sebagai peneliti junior adalah “
Pendekatan Atmosfer Kelabu bagi Fotosfer dan Sunspot
(Djamaluddin, et al., 1987). Disusul menjadi penulis tunggal ”
Koreksi Orientasi Sumbu Polar
Teleskop Ekuatorial” (Djamaluddin, 1987a), ”Analisis Bayangan Gerhana Bulan
Untuk Menafsirkan  Karakteristik Atmosfer
Atas” (Djamaluddin, 1987b), dan “Interpretasi Penyebaran Debu Letusan Gunung
Api dari Bayangan Gerhana Bulan” (Djamaluddin, 1987c). Menjelang tugas belajar
ke Jepang (April 1988) saya penyelesaikan makalah penelitian “Penentuan Posisi
Komet” (Djamaluddin, 1988). Sebagai pegawai LAPAN junior, saya telah menemukan
jalan hidup saya yang telah saya cita-citakan sejak SMP: menjadi peneliti.
Kegemaran saya menulis sejak SMP pun banyak mendukung
profesi saya.

Di Universitas Kyoto, profesionalisme sebagai peneliti
diasah dengan aktif mengikuti kegiatan ilmiah.
Beberapa makalah yang saya presentasikan: Bimodal Star Formation
(Djamaluddin, 1982
), “Interstellar Medium
in the Solar Vicinity
” (Djamaluddin, 1990), “A New H‑Beta and (CaT+P12)
CCD Photometry for Determining Distance of Nearby Interstellar Clouds

(Djamaluddin, 1991) , “Possibility of Using NIR Ca II Triplet + Paschen 12
Lines Photometry in Searching New T‑Tauri Stars
” (Djamaluddin, 1992). Fokus
penelitian saya pada program master adalah mencari metode fotometri baru untuk
penentuan jarak awan antarbintang dan mencari bintang-bintang baru.

Penelitian
lanjutan di program doktor adalah menemukan jejak evolusi bintang baru
(protostar) dari awan antarbintang menjadi bintang muda dengan data satelit
infra merah (IRAS, Infrared Astronomical Satellite). Di samping itu, bersama
grup ekstragalaksi, dengan memanfaatkan data IRAS dan peta bintang, saya turut
melakukan survai untuk menemukan struktur besar alam semesta dari data
inframerah yang sebelumnya tak tampak. Hasil survai tim peneliti tersebut
dipublikasikan menjadi “A Search for IRAS Galaxies Behind the Southern
Milky  Way
” (Yamada et al., 1993)
dan “Connection of Large‑Scale of the Galaxy Distribution  behind the Southern Milky Way” (Yamada,
et al., 1993).

Dalam
disertasi doktor saya, jejak evolusi bintang muda yang baru keluar dari awan
antarbintang berhasil digambarkan dalam diagram serupa diagram Herzprung-Russel
bagi bintang tampak, tetapi dengan panjang gelombang inframerah. Karena
penekanannya pada pembaruan diagram H-R 
inframerah yang menggambarkan jejak evolusi bintang muda, dua
publikasinya menggunakan judul yang sama “A Far‑Infrared H‑R Diagram of
Young Stellar Objects
”,  tetapi
dengan pendalaman yang berbeda. Publikasi pertama (Djamaluddin and Saito, 1995)
memberikan pendalaman pada katalog objek-objek sampel di beberapa awan
antarbintang dekat, sedangkan publikasi berikutnya (Djamaluddin and Saito,
1996) memberikan pendalaman proses fisisnya.

Seusai
program doktor, saya kembali ke LAPAN untuk mengintegrasikan pemahaman
astronomi inframerah, debu dan gas di antariksa, serta astronomi berbasis
antariksa dengan program penelitian antariksa di Bidang Matahari dan Lingkungan
Antariksa.
Saya menyadari tidak mungkin penelitian astronomi murni terkait pembentukan
bintang dikembangkan di LAPAN. Tetapi banyak alat bantu fisis-astronomis yang
saya pelajari bisa saya terapkan untuk mendukung penelitian lingkungan
antariksa di LAPAN. Kajian asal-usul bintang bisa diterapkan pada asal-usul
matahari dengan sisa-sisanya berupa komet dan hujan meteor yang menjadi
fenomena penting di lingkungan antariksa yang secara langsung atau tak langsung
berpengaruh pada lingkungan bumi.
Kajian
tersebut dipublikasi dengan judul “
Telaah Orbit Komet dalam Kaitannya dengan Hujan Meteor” (Djamaluddin, 1995) dan “Variation of Meteors as Detected by
Meteor Wind Radar in Indonesia
” (Djamaluddin, 2002).

Fasilitas kerjasama LAPAN – Universitas Kyoto
berupa Meteor Wind Radar (MWR) di Kototabang (sebelumnya di Serpong dengan
kerjasama bersama BPPT) memungkinkan mengkaji aspek astronomis dari data fluks
meteor.
Beberapa makalah dihasilkan
dari penelitian dengan menggunakan data MWR tersebut, yaitu “Analisis
Lingkungan Antariksa Berdasarkan Influks Meteor dari Meteor Wind Radar Serpong
dan Kototabang” (Djamaluddin, 2006), “Pengembangan Model Fluks Mikrometeoroid
dari Data Meteor Wind Radar” (Djamaluddin, 2006), dan “Micrometeoroid
Affected by Solar Activity
” (Djamaluddin, 
2007). Penelitian kaitan pengaruh aktivitas matahari pada fluks meteor
menghasilkan indikasi yang berbeda dengan hasil penelitian beberapa peneliti
sebelumnya. Saya menyimpulkan bahwa pengaruh aktivitas matahari bukan akibat
perubahan kerapatan atmosfer tempat terjadinya fenomena meteor, tetapi
tampaknya karena variasi kerapatan mikrometeoroid di lingkungan antariksa.

Walaupun fokus penelitian tugas akhir
pendidikan  saya adalah pembentukan
bintang dan struktur galaksi serta struktur besar alam semesta, fisika bintang
dan fisika matahari merupakan mata kuliah utama yang juga harus saya pelajari
selama kuliah astronomi. Karenanya, ketika Bidang Matahari dan Lingkungan
Antariksa (yang kemudian berubah menjadi Bidang Matahari dan Antariksa) juga
menuntut saya masuk pada penelitian matahari, saya tinggal mengintegrasikan
ilmu yang saya pelajari dengan kebutuhan lembaga. Beberapa publikasi penelitian
fisika matahari adalah ”Evolution of Solar Activities Periodicity and
Possible Relation to solar Inertial Motion
” (Djamaluddin, 2002),
Prediktibilitas Cuaca Antariksa" (Djamaluddin,
2003),
Solar
Activity Prediction from Reconstruction of Wavelet Analysis
” (Djamaluddin,
2003), ”Prediction of Solar Cycle 24 Based on Wavelet Analysis of Asymmetric
Hemispheric Sunspot Number
” (Djamaluddin, 2005a), dan ”Metode Baru
Prakiraan Siklus Aktivitas Matahari dari Analisis Periodisitas” (Djamaluddin,
2005b).

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 10, 2009 in Sains Antariksa & Astronomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: