RSS

Waspadai Potensi Bencana

27 Feb

MARI MEMBACA ALAM UNTUK MEWASPADAI POTENSI BENCANA

 

Thomas Djamaluddin

Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim (Apr 2007 – Maret 2010)

Profesor Riset
Astronomi-Astrofisika,

 LAPAN

 

            Indonesia relatif rentan
terhadap bencana, baik bencana geologi (gempa, gunung meletus, dan semburan
lumpur), oseonologis (banjir pasang), meteorologis (banjir, kekeringan, puting
beliung), maupun gabungannya (tsunami, tanah longsor, dan gelombang tinggi).
Sebagian akibat proses alami yang tidak ada peran manusia, seperti gempa,
gunung meletus, dan tsunami. Sebagian lagi akibat proses alami yang terkait
dengan ulah manusia, baik secara langsung (seperti banjir, kekeringan, dan
tanah longsor), maupun yang tidak langsung (seperti banjir pasang akibat
penurunan permukaan tanah daerah pantai). Untuk mewaspadai potensi bencana, dua
hal harus diperhatikan: perubahan global-lokal dan variabilitas fenomena alam.
Membaca alam adalah memahami perubahan dan varibilitas itu untuk mengantisipasi
kemungkinan adanya potensi bencana.

 

Perubahan Global dan Lokal

Pemanasan global sering disebut-sebut sebagai
biang keladi meningkatnya bencana. Ada benarnya, tetapi faktor lokal juga harus
diwaspadai. Ini perlu ditekankan agar kita tidak terjebak pada generalisasi
yang keliru. Akibat generalisasi keliru seolah-olah faktor penyebab utama
bencana adalah pemanasan global bisa membuat kita tidak sadar bahwa sumber
penyebabnya yang utama ada di sekitar kita sendiri. Kita juga menjadi tidak
sadar dalam merumuskan strategi penanggulangan bencana.

Pemanasan global adalah peningkatan secara gradual
temperatur permukaan global akibat efek emisi gas-gas rumah kaca (terutama CO2)
dari aktivitas manusia (antropogenik). Pemanasan global hanya diketahui dari
data, bukan fenomena sesaat yang dirasakan. Kita tidak dapat mengatakan suhu
akhir-akhir ini terasa panas karena pemanasan global, seperti kita jumpai di
media massa. Fenomena sesaat efeknya lebih kuat, tetapi cepat juga berubah
menjadi ekstrem lainnya, misalnya suhu menjadi lebih dingin. Dampak perubahan
global juga bersifat gradual, sedikit demi sedikit namun konsisten.

Pemanasan global diyakini menyebabkan perubahan
iklim global. Perubahan iklim adalah keadaan iklim yang rata-ratanya atau sifat
lainnya menunjukkan perubahan yang bersifat tetap dalam jangka panjang, baik
karena proses alami maupun dampak dari aktivitas manusia yang mengubah
komposisi atmosfer maupun tataguna lahan. Perubahan Iklim kadang dibedakan
dengan variabilitas iklim. Perubahan iklim menekankan faktor aktivitas manusia
(antropogenik). Variabilitas iklim menekankan pada faktor proses alami.

Atas dasar kecenderungan global yang menunjukkan
adanya pemanasan global dan perubahan iklim global, diproyeksikan di penghujung
milenium ketiga 2090 – 2099 b
umi akan makin panas. Dampaknya, ada wilayah yang
makin tinggi curah hujannya (a.l. Indonesia bagian utara) dan ada wilayah yang
makin rendah curah hujannya (a.l. Indonesia bagian selatan). Data rata-rata
suhu Indonesia
1970 – 2004 menunjukkan kenaikan 0,2 – 1 derajat yang
berdampak pada sistem fisis dan biologis. Puncak Jayawijaya di Papua merupakan
salah satu contoh yang menunjukkan terjadinya perubahan fisik, yaitu
berkurangnya salju abadi. Namun perlu diingat, perubahan suhu tersebut hanyalah
rata-ratanya. Kecenderungan pemanasan lokal di kota, yang disebut fenomena
pulau panas perkotaan, bisa lebih tinggi, sekitar 3 derajat dalam rentang waktu
yang sama.

Perubahan lokal berdampak
jangka pendek, dalam orde tahunan sehingga relatif terasa secara langsung. Kota
terasa semakin panas sehingga tingkat kenyamanan berkurang. Banjir dan tanah
longsor semakin sering terjadi karena menurunnya daya dukung lingkungan.
Pembangunan telah mengubah tataguna lahan yang mengubah kesetimbangan alam.
Penambahan kepadatan penduduk telah memperburuk kondisi lingkungan sehingga
tidak mampu menyerap atau mengalirkan curah hujan yang normal sekali pun yang
berdampak banjir dan tanah longsor.

 

 

Variabilitas

            Potensi bencana perlu
diwaspadai dengan mengkaji periodisitas dan variabilitasnya. Secara umum
kejadian di bumi sering bersifat periodik, berulang. Ada yang keberulangannya
mudah diprakirakan, seperti musim kemarau dan musim hujan. Tetapi ada juga yang
sulit, seperti kejadian gempa. Tetapi, kalau pun bisa diprakirakan,
keberulangannya tidak mungkin tetap karena banyak faktor yang mempengaruhinya.
Keberulangannya bisa bervariasi, lebih panjang atau lebih pendek. Jadi, ada
variabilitas.

            Karena
banyak faktor yang mempengaruhi, datang dan perginya musim hujan dan musim
kemarau menjadi bervariasi. Bisa lebih cepat atau lebih lambat. Kegagalan dalam
memprakirakan sering berdampak pada kerugian. Para peneliti (termasuk di LAPAN)
kini berupaya memahami variabilitas itu dengan memahami banyak faktor yang
mempengaruhinya. Belum semua rahasia alam terkuak, tetapi kini semakin banyak
faktor telah difahami.

            Dulu
kita hanya mengenal dua musim: musim hujan dan kemarau, dengan pancaroba pada
masa peralihannya. Faktor yang berpengaruh adalah perubahan posisi matahari
yang berubah periodik ke utara dan ke selatan, sehingga terjadinya fenomena
monsun, yaitu perubahan angin dari Asia-Pasifik dan Australia.
Desember-Januari-Februari (DJF) adalah musim hujan di sebagian besar wilayah
Indonesia karena adanya angin yang membawa uap air dari Pasifik dan Asia.
Sedangkan Juni-Juli-Agutus (JJA) adalah musim kemarau karena angin dari
Australia bersifat kering. Pada musim hujan dan kemarau udara cenderung lebih
dingin karena angin membawa udara dingin dari daerah yang sedang mengalami
musim dingin.

Maret-April-Mei (MAM)
dan September-Oktober-November (SON) adalah musim peralihan, pancaroba. Pada
musim pancaroba udara cenderung lebih panas karena tidak adanya efek
pendinginan dari pergerakan angin yang relatif bersifat lokal dan berubah-ubah.
Inilah yang menjelaskan suhu di beberapa kota terasa lebih panas pada musim pancaroba,
bukan karena efek pemanasan global seperti dikira sebagian masyarakat. Konveksi
lokal berpotensi terjadi.

            Kini,
pengetahuan kita bertambah. Ternyata faktor pemanasan lautan Pasifik sangat
berpengaruh terhadap pembentukan awan dan hujan di Indonesia. Kita mengenal El
Nino dan La Nina. El Nino adalah fenomena suhu muka laut di Pasifik Timur
(sekitar perairan Peru) lebih tinggi daripada di Pasifik Barat (sekitar
perairan Indonesia). Akibatnya, awan dari wilayah Indonesia bergeser ke Pasifik
yang menyebabkan musim kemarau berkepanjangan di Indonesia. Sebaliknya, ketika
Pasifik Barat lebih hangat daripada Pasifik Timur akan terjadi La Nina yang
menyebabkan awan dari Pasifik berkumpul di wilayah Indonesia. Akibatnya, musim
hujan di Indonesia akan semakin panjang. Awal 2009 kita mengalami La Nina lemah
sehingga hujan masih akan terus mengguyur sampai April-Mei. Lalu akhir 2009
sampai awal 2010 kita mengalami El-Nino moderat. Akibat pemanasan global,
frekuensi kejadian El-Nino dan La Nina menjadi semakin cepat. Dulu rata-rata
kejadiannya setiap 5 – 7 tahun, sekarang rata-rata kejadian antara 3 – 4 tahun.

            Pada
tahun 1990-an para peneliti menemukan fenomena baru yang juga berpengaruh pada
variablitas iklim Indonesia. Ternyata suhu muka laut di lautan Hindia juga
berpengaruh yang dikenal sebagai fenomena moda dipol.
Mirip dengan La Nina dan
El Nino, di lautan Hindia kita mengenal moda dipol negatif dan positif. Pada
saat moda dipol negatif, suhu muka laut lautan Hindia Timur (sekitar perairan
Indonesia)  lebih tinggi dari pada di
lautan Hindia Barat (sekitar perairan Afrika). Akibatnya awan dari lautan
Hindia berkumpul di atas Indonesia. Sebaliknya saat moda dipol positif,
perairan Afrika lebih hangat darpada perairan Indonesia sehingga awan dari
Indonesia cenderung bergeser ke arah lautan Hindia. Juli 2009 – Oktober 2009
kita mengalami moda dipol negatif sehingga dampak El Nino menjadi lemah.
Sedangkan November 2009 – awal 2010 kita mengalami moda dipol positif sehingga
kecenderungannya musim hujan sedikit hujan, memperkuat kondisi El Nino.

            Dua
faktor lautan tersebut (Pasifik dan Hindia) sudah cukup mengeser awal musim
hujan dan musim kemarau di Indonesia. Karena frekuensi kejadian El Nino dan La
Nina semakin cepat akibat dampak pemanasan global, kita merasakan ketidakpastian
musim semakin tinggi. Kita tidak bisa lagi membuat generalisasi bahwa DJF
adalah musim hujan dan JJA adalah musim kemarau.
Bisa saja karena faktor
El Nino-La Nina serta moda dipol positif dan negatif, musim hujan dan musim
kemarau bergeser.

            Kita
sering mendengar ada petani yang terkecoh, dikira sudah masuk musim hujan
karena hujan turun setiap hari, nyatanya kemudian kering kembali. Sebaliknya,
dikira mulai masuk musim kemarau karena hujan tak turun lagi selama beberapa
hari, ternyata kemudian hujan masih turun. Atau kita sering merasakan pada saat
musim hujan ada jeda dengan cuaca cerah selama beberapa hari. Kini diketahui
ada periodisitas jangka pendek antara 1 – 2 bulanan terkait turunnya hujan yang
dikenal osilasi Madden-Julian. Ada masa konveksi pembentukan awan sangat kuat
yang terkait dengan banyaknya turun hujan dan ada masa konveksi pembentukan
awan sangat lemah yang terkait dengan kurangnya turun hujan.

            Ada
periodisitas lain yang juga harus diperhatikan, faktor k
osmogenik yang berasal dari antariksa. Pasang
surut air laut sudah lama diketahui berperiode 12 jam karena efek gravitasi
bulan. Tetapi ada saat-saat tertentu pasang mencapai maksimum karena efek
gabungan gravitasi bulan dan matahari. Itu terjadi sekitar bulan baru (sekitar tanggal
1 kalender Hijriyah/Saka) dan sekitar purnama. Pada saat itu banjir pasang
terjadi paling tinggi di daerah pantai yang menjangkau daratan yang lebih luas.

Faktor kosmogenik lainnya adalah dari aktivitas
matahari yang terkait dengan pancaran partikel energetik dan radiasi matahari
yang periodenya sekitar 11 tahunan. Banyak penelitian yang menunjukkan
pembentukan awan dan curah hujan dipengaruhi juga oleh periodisitas aktivitas
matahari. Ada kecenderungan curah hujan lebih tinggi atau lebih rendah pada
saat aktivitas matahari maksimum, tergantung daerahnya. Musim dingin ekstrem
saat ini di bumi belahan utara terkait erat dengan aktivitas matahari minimum
yang berkepenjangan saat ini.

 

Waspadai Efek Penguatan

            Faktor-faktor yang
pengaruh tersebut perlu terus dipantau untuk mengkaji potensi bencana. Bila
faktor-faktor tersebut terjadi tidak bersamaan, potensi bencananya relatif
rendah.
Tetapi perlu
diwaspadai efek penguatan potensi bencana bila kejadiannya bersamaan. La Nina
yang bersamaan dengan moda dipole negatif disertai dengan osilasi Madden-Julian
yang mengindikasikan penguatan konveksi pembentukan awan perlu diwaspadai
potensi curah hujan yang cukup tinggi.
Potensi banjir akan akan makin parah bila daya dukung lingkungan buruk,
misalnya berkurangnya resapan dan terhambatnya saluran pembuangan air.

Lebih parah lagi kalau kejadiannya bersamaan
dengan pasang maksimum. Pada saat itu air laut meninggi. Curah hujan di laut
juga menambah volume air laut. Akibatnya, luapan air dari daratan tidak dapat
terbuang ke laut. Penurunan permukaan tanah di beberapa kota pantai makin
memperparah dampaknya.

 

            Masa pancaroba yang
diperkuat dengan osilasi Madden-Julian yang mengindikasikan kuatnya konveksi
pembentukan awan, sangat berpotensi memicu pergerakan udara panas yang kaya uap
air ke atas secara cepat. Konveksi lokal ini dapat memicu terjadinya hujan
lebat yang disertai dengan butiran es bila uap air didorong tinggi mencapai
daerah yang sangat dingin atau terjadinya badai lokal berupa puting beliung.
Inilah yang terjadi pada pertengahan Maret 2009 sampai pekan ketiga di beberapa
kota. Fenomena yang mirip kondisi pancaroba (karena adanya tekanan rendah di
Barat Baya Indonesia) terjadi pada pertengahan Februari 2010 baru lalu. Efek
pemanasan lokal karena kurangnya vegetasi menambah potensi bencana hujan es dan
puting beliung.

            Apa yang bisa kita
lakukan? Faktor alam hanya bisa kita waspadai. Faktor antropogenik dari
perilaku manusia harus kita perbaiki agar tidak memperkuat potensi bencana.
Memperbaiki daya dukung lingkungan adalah upaya mutlak yang harus dilakukan
saat ini juga., antara lain dengan memperbanyak resapan air, memperbaiki
saluran air, dan memperbanyak ruang terbuka hijau.

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2010 in Sains Atmosfer dan Lingkungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: